NovelToon NovelToon
Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Supernatural / Contest / Cinta Beda Dunia / Dunia Lain / Mengubah Takdir / Barat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Pangeran Buluk

Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.

Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.

Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedahsyatan Pusaka Cambuk Raja Naga

Sementara itu Argadana yang mendengar kata - kata Danuswara juga jadi ikut - ikutan merasa geram. Entah kenapa belakangan ini dia selalu merasa cepat marah jika ada yang berusaha menggoda Ningrum.

"Kakek Barnawi, terimakasih sebelumnya atas bantuan kakek" kata Argadana pelan.

"Masalah ini, tolong serahkan pada saya" Argadana menoleh pada Ningrum

"Kemari, dinda"

Ningrum hanya menurut saja setelah melihat kemarahan terpancar jelas di wajah Argadana.

Argadana menatap tajam Ki Waringin yang baru saja muncul menapak serangan Ningrum.

"Aku sudah cukup bersabar dengan kelakuan kalian yang mengabdi di kadipaten ini. Tapi lagi dan lagi tuan muda kalian itu memaksaku memeras seluruh kemarahan ini"

Seiring dengan kata - katanya, kembali sebuah cahaya panas berwarna merah samar tampak menyelimuti tubuh Argadana dalam jarak satu tombak.

'Jurus Sembilan Matahari' digunakan Argadana. Dia tidak dapat menahan kemarahannya, kali ini diserangnya Ki Waringin dengan jurus - jurus matahari.

Ki Waringin yang melakukan perlawanan merasa cukup kerepotan meladeni serangan bertubi - tubi Argadana. Pasalnya cahaya merah yang menyebar melapisi tubuh Argadana terasa sangat panas menyengat tubuhnya sehingga Ki Waringin harus membagi tenaga dalamnya untuk menahan hawa panas yang menyerangnya juga untuk melawan setiap serangan yang dilancarkan Argadana.

"Ilmu iblis apa yang digunakan pemuda ini? Selaput merah samar ini terasa sangat panas menyengat membuatnya sulit didekati" keluh hati Ki Waringin.

Ki Waringin melompat mundur beberapa tombak untuk mengambil nafas. Argadana tidak berusaha mencegahnya. Setelah dirasa gejolak tenaga dalamnya berhenti Ki Waringin merubah pola pergerakannya yang semula bertahan kini jadi menyerang.

Argadana dicecar dengan serangan - serangan mematikan dari Ki Waringin.

'Jurus Macan Menerkam Tikus'

Ki Waringin melompat ke udara lalu menukik tajam dengan kedua tangan terkembang membentuk cakar

Argadana sedikit terlambat untuk menghindar sehingga serangan berupa cakaran itu merobek baju hingga menggores lengannya. Darah keluar dari luka cakar tersebut.

Ki Waringin tersenyum melihat serangannya berhasil mengenai sasaran. Pendekar berjuluk Dewa Sesat itu mengira bahwa cakar beracun miliknya akan mampu menghabisi lawannya. Tetapi sesaat kemudian senyumnya lenyap berganti tatapan tidak percaya. Luka di lengan Argadana tiba - tiba menutup secara misterius setelah darah keluar dari luka tersebut.

Hal itu memang tidak mengherankan mengingat Argadana memiliki garis keturunan ras Siluman Darah. Sesuai dengan namanya, ras Siluman Darah memiliki keunikan tersendiri pada darah mereka. Salah satunya adalah efek penyembuhan, sehingga ketika serangan musuh mendarat di tubuhnya luka sebesar apapun akan tetap sembuh seketika selagi luka itu mengalirkan darah.

Ki Barnawi, Ki Waringin dan semua orang di situ menatap tidak percaya akan keanehan tersebut. Tidak terkecuali Ningrum. Dia yang paling terkejut dengan hal tersebut karena meskipun sudah sepuluh tahunan dia berlatih bersama sang pemuda dia baru menyadari kalau pria yang dicintainya itu memang memiliki banyak rahasia yang belum terungkap.

"Kakang Argadana, kau tak pernah berhenti memberiku kejutan" kata Ningrum dalam hati.

Wardana diam terpaku. Terlihat raut kemarahan di wajahnya, namun bukan karena luka cakaran Ki Waringin melainkan karena bajunya robek.

Baju itu adalah baju pemberian Dyah Ayu Pitaloka sebelum menjelang ajalnya yang sengaja dibuat khusus untuk Argadana setelah tumbuh dewasa. Dan Argadana sangat menyayangi baju pemberian ibunya tersebut. Jadi wajar saja dia marah ketika ada orang yang merusak pemberian sang ibu tersebut

"Aku tidak masalah kau melukai tubuhku. Tapi. . . " desis Argadana gemetar menahan marah.

"Aku tidak bisa memaafkanmu, karena kau merusak bajuku" lanjutnya kemudian menyerang lagi Ki Waringin dengan ganas

Kali ini tidak tanggung - tanggung 'Jurus Bulan Darah' juga dikerahkan oleh Argadana. Suasana dalam kancah pertarungan keduanya berubah warna merah darah membatasi penglihatan Ki Waringin.

Dewa sesat ini baru menyadari keanehan tersebut setelah merasa semua gerakannya menjadi kaku dan sangat lambat untuk digerakkan. Ki Waringin jadi kelabakan menerima serangan demi serangan bertubi - tubi dari Argadana.

Ki Waringin segera mengangkat tangan untuk menangkap kaki Argadana yang melakukan gerakan tendangan melengkung tetapi serangan itu hanyalah tipuan. Begitu tangan Ki Waringin terangkat membuka celah kecil dalam pertahanannya Argadana segera menarik kembali kaki untuk membatalkan serangan dan sebagai gantinya tangan Argadana yang entah sejak kapan berubah warna menjadi putih keperakan berhasil menggedor dada Ki Waringin.

Dess. . .

"Aaghhkk. . ." terdengar pekik kesakitan Ki Waringin yang terlempar muntah darah pertanda dia telah terkena luka dalam cukup oarah. Tubuhnya yang melayang baru berhenti setelah menabrak sebuah pohon.

"Kuakui aku meremehkanmu, anak muda. Kau ternyata memang sangat kuat. Tapi aku belum kalah. Coba kau terima ilmu andalanku ini"

Tubuh Ki Waringin diselimuti warna merah terang. Kedua bola matanya pun juga berubah warna merah. Ki Barnawi yang mengenal ilmu andalan Ki Waringin melotot lebar dan segera berteriak memperingati Argadana.

"Hindari kontak fisik dengannya, anak muda. Ki Waringin akan menggunakan 'Ajiaj Waringin Sungsang"

"Aku justru penasaran apa yang akan terjadi jika aku terlibat kontak fisik dengannya. Mari kita lihat, apakah 'ilmu serat darah' ataukah 'ajian Waringin sungsang' yang unggul" kata Argadana.

"Baiklah. Kau harusnya merasa terhormat bisa mati di tangan si Dewa Sesat"

Ki Waringin lalu melesat ke depan, sedangkan Argadana hanya diam menunggu serangan datang padanya.

"Kakang, apa yang kau lakukan? Cepat menghindar" teriak Ningrum cemas.

"Bocah goblok, mencari mati juga tidak begitu caranya" gerutu Ki Barnawi kemudian bergegas hendak menyelamatkan Argadana. Tetapi kejadian selanjutnya membuat tokoh tua itu hampir menjatuhkan rahangnya.

Ki Waringin tersenyum licik. Dia sudah membayangkan kemenangan berada di depan matanya. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Ketika serangan Ki Waringin dengan pengerahan 'ajian Waringin sungsang' ditahan oleh telapak tangan Argadana Ki Waringin terkejut setengah mati. Tenaga dalamnya serasa tersedot keluar melalui telapak tangannya yang menempel dengan tangan Argadana.

"Apa - apaan ilmu iblis ini? Lepaskan tanganku. Aghkk. . . "

Ki Waringin berusaha menarik kembali tangannya, tetapi tangan tersebut seolah menempel di tangan Argadana. Ki Waringin mulai berkeringat dingin. Semakin dia mengerahkan tenaga untuk menarik tangannya semakin banyak tenaga dalamnya tersedot keluar.

Lambat laun tenaga dalam Ki Waringin semakin menipis hingga tak lama kemudian dia jatuh berlutut setelah Argadana menghentikan pengerahan 'ilmu serat darah'

"Pergilah selagi ada kesempatan. Aku tidak ingin membunuh orang" kata Argadana seraya membelakangi Ki Waringin berlalu dari tempat itu.

Ki Waringin merasa terhina dikalahkan oleh seorang pemuda yang pantas menjadi cucunya. Si Dewa Sesat itu lalu memboking Argadana dari belakang.

'Pukulan Bara Neraka'

"Wuss. . ."

Seberkas cahaya berwarna merah kehitaman melesat cepat ke arah Argadana.

"Kakang, awas di belakangmu"

"Awas, bocah. . ."

Ningrum dan Ki Barnawi yang melihat tindakan pengecut Ki Waringin terlambat bereaksi sehingga hanya dapat berteriak memberi peringatan pada Argadana.

Argadana segera menoleh ke belakang begitu mendengar teriakan Ningrum dan Ki Barnawi. Mulut Argadana berkemak - kemik memanggil 'Pusaka Cambuk Raja Naga'. Sekejap kemudian tiba - tiba muncullah sebuah senjata berupa cambuk yang menyala keemasan tergenggam di tangan Argadana lagi - lagi mengejutkan semua orang yang menyaksikan pertarungannya tadi.

Cambuk itu dilecutkan ke arah sinar merah 'Pukulan Bara Neraka' milik Dewa Sesat.

Duarr. . . !!!

Ledakan keras terjadi akibat benturan hawa pukulan dan lecutan senjata tersebut. Debu mengepul menghalangi penglihatan.

"Aku sudah memberimu kesempatan ke dua, dan kau menyia - nyiakannya" kata Argadana setelah kepulan debu menghilang.

"Tu..tunggu dulu, anak muda. A.. aku khilaf, ya .. aku khilaf" Ki Waringin terbata - bata.

"Omonganku tidak bisa kupercaya lagi, Ki" kata Argadana bersiap melecutkan lagi senjata 'Pusaka Cambuk Raja Naga' miliknya.

Ki Waringin mengerahkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa dialirkan ke seluruh tubuhnya untuk menahan efek serangan cambuk yang tidak dapat lagi di hindarinya.

Duarrr. . .

Terdengar lagi bunyi ledakan bagai salakan petir ketika Cambuk Raja Naga menghantam tubuh Ki Waringin. Tubuh tua itu seketika meledak menjadi kabut darah.

Semua orang menatap ngeri terhadap kedahsyatan cambuk di tangan Argadana itu.

"Itu. . . Ahh. . . Aku ingat pernah mendengar senjata cambuk yang seperti itu bentuk ciri - cirinya. Cambuk berwarna emas mengkilat yang bentuknya seperti ekor ular. Itu adalah 'Cambuk Raja Naga' milik Pendekar Anung Pramana dari Lembah Neraka" kata salah satu orang yang menyaksikan pertarungan tersebut dari kejauhan.

"Iya, betul. Tapi bukankah pendekar itu sudah tua? Kok yang itu terlihat masih sangat muda?" tanya orang di sebelahnya lagi.

"Entahlah. . . Mungkin muridnya"

"Eh. . . ??? Benar juga. Iya, anak muda itu pasti adalah muridnya pendekar itu. Tapi siapa namanya?"

"Entahlah ... Aku tidak berani tanya"

"Bagaimana kalau kita panggil saja dia Ksatria Lembah Neraka?"

"Setuju. . ."

1
Audrey Maritza Kanedy
Luar biasa
Ihwan Udin
menyebut natuhanku Alloh emang udah ada Islam
Amelia putri
sampah
Amelia putri
bertele tele
Amelia putri
naif gk di bunuh aja
Hariadi Siregar
lanjut
Mbak Shity
lanjut terus🥰
Mbak Shity
mantap🤩
Mbak Shity
bagus ceritanya🥰
Musa Torpas
cerita bagus enak di baca
Bayu Putra
Mantap lanjutkan suhu
Herry Susanto
bagus ceritanya.
Mawan Iwan
akhir cerita 😆😆
Lil Badri
sangat bagus
Pajero Asia
Keren
Ristalia Noer
mantul banget pengen denger kelanjutan nya lagi
Bang Roy
lanjutkan sampai selesai thor..
Bang Roy
punya wanta cantik selalu diganggu
Bang Roy
makin mantap nih cerita..
Bang Roy
bagus nih cerita kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!