Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYTB 16
“Bibi mau kemana malam-malam begini?”
Bibi Jane berhenti saat berpapasan dengan Deferla. Ia pun, tersenyum. “Barusan Tuan Rodez menghubungi bibi dan meminta untuk datang ke villa Margonda,”
Deferla mengerutkan dahinya, “Apa terjadi sesuatu pada Kak Stendy?” tanya Deferla, dengan rasa khawatir.
Bibi Jane sedikit bingung, haruskah ia mengatakan jujur mengenai kondisi Stendy akhir-akhir ini pada nona mudanya itu. Deferla menelisik gerak gerik bibi Jane, ia merasa ada suatu hal yang disembunyikan oleh bibi Jane.
“Apa yang terjadi, Bi? Katakan saja padaku, aku tidak akan mengatakannya lagi ke Ayah dan Ibu,” kata Deferla, bicaranya seperti menekankan setiap ucapan yang dikeluarkan.
Bibi Jane menghela nafas. “Selama Nona Janice pergi dari villa, Tuan Stendy selalu pulang dalam keadaan mabuk. Tadi Tuan Rodez menghubungi Bibi dan meminta datang ke villa,” jawab bibi Jane dengan pasrah mengatakan jujur pada Deferla.
Mendengar itu, Deferla pun memejamkan matanya sejenak. “Kalau begitu, biar aku saja yang ke sana Bi. Bibi sebaiknya istirahat saja,”
“Tapi, Nona…” Bibi Jane hendak menolak, namun segera Deferla angkat bicara lagi.
“Tidak apa, Bi. Biar aku saja yang pergi ke sana dan mengurus Kak Stendy. Kebetulan besok juga aku punya urusan dengannya. Jadi Bibi punya alasan, jika Ayah dan Ibu mencariku,” ujar Deferla.
“Sebaiknya Bibi siapkan saja bahan-bahan untuk membuat sup,” sambung Deferla.
“Sudah Bibi buatkan, Nona,” jawab Bibi Jane.
Deferla tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu tunggu aku sebentar untuk ganti baju,”
Bibi Jane hanya mengangguk, dan setia berdiri menunggu Deferla. Beruntung Fandy dan Irene sudah terlelap di kamar mereka. Beberapa menit berlalu dan Deferla pun sudah siap untuk pergi ke villa milik Stendy.
“Hati-hati di jalan, Nona.”
Deferla pun, mengangguk. Dia langsung keluar dari rumah dan menuju ke villa, dengan rantang berisikan sup di tangannya.
Saat dia tiba di villa, dia melihat Rodez yang sedang duduk di ruang tamu. "Apa yang terjadi?" tanya Deferla, sambil melihat ke arah mereka.
Rodez terkejut melihat Deferla yang datang, bukan Bibi Jane. "Dimana Bibi Jane?” bukannya menjawab pertanyaan Deferla, pria itu malah balik bertanya.
Deferla menghela nafas, “Bibi di villa utama. Kasihan jika dia harus balik ke sini lagi,” jawab wanita itu.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Kak. Apa yang terjadi dengan Kak Syendy?” tanya kembali Deferla.
“Kami membawa Stendy ke sini karena dia mabuk," jawab Rodez. "Karena jika kami membawanya ke villa utama, pasti akan menjadi pertanyaan dan membuat Bibi Irene khawatir,” Rodez menjelaskan alasan mengapa ia memilih membawa Stendy ke villa itu.
Deferla mengangguk dan mengambil alih. "Aku akan mengurusnya," katanya, sambil membenarkan rantang sup yang ia bawa.
Rodez menatap, merasa lega bahwa Deferla masih memperhatikan sang kakak. "Terima kasih, Deferla," kata Rodez, sambil tersenyum.
Deferla tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan masuk ke kamar Stendy. Dia melihat kakaknya yang sedang terbaring di tempat tidur, dengan wajah yang merah dan napas yang berat. Ya, Stendy akhirnya sudah mulai sadar. Saat Deferla masuk ke kamar pria itu, Stendy sudah dalam keadaan duduk bersandar.
"Aku akan membantumu, Kak," kata Deferla, sambil membantu Stendy untuk membenarkan duduknya dan minum sup.
"Kamu akan baik-baik saja."
Stendy mengerutkan alisnya, “Mengapa kamu disini? Dimana Janice?” tanya pria itu, membuat Deferla sedikit terhenyak.
Ditatapnya wajah sang kakak yang sedikit kurang terurus. Bahkan terlihat kumis tipis mulai tumbuh di wajah Stendy. Baru satu Minggu Janice pergi dari kehidupan sang kakak, ternyata memberikan dampak yang begitu signifikan.
“Dia tidak akan kembali, Kak. Apa kau lupa pembatalan pertunangan itu?” sindir Deferla.
Stendy langsung menatap Deferla dengan yidak suka. “Tidak ada pembatalan. Aku belum menyetujui pembatalan itu,”
Deferla memutar bola matanya malas. “Come on, Kak! Kak Janice sudah pergi dan sekarang entah kemana Paman dan Bibi Arkana membawanya,” ujar Deferla, dengan nada cukup keras.
“Lagi pula Kakak sendiri yang sudah membuat Kak Janice pergi. Aku sudah pernah mengingatkanmu untuk melupakan wanita itu. Tapi nyatanya kamu malahan menjadi-jadi, dan mengabaikan setiap ucapanku!”
“Cukup, Deferla!” bentak Stendy yang mulai tersulut emosi. Efek mabuk yang dirasakannya membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosinya.
Rodez masuk dalam kamar saat mendengar perdebatan mereka berdua. “Ada apa ini?” tanya Rodez, sambil melihat ke arah Stendy dan Deferla.
“Kau kenapa, Stendy. Mengapa kau membentak Deferla?” Rodez kembali bertanya, sebab baik Stendy maupun Deferla tidak menjawab pertanyaan.
Deferla meletakkan mangkuk sup yang dipegang dengan kasar ke atas nakas. Tanpa berkata lagi, wanita itu pun pergi meninggalkan kamar Stendy. Membuat Rodez menatap kesal pada Stendy, dan memilih mengejar Deferla.
Sepeninggalnya Rodez dan Deferla dari kamarnya, Stendy langsung menghela nafas kasar sambil memijat keningnya. Sementara di ruang tamu, Rodez berhasil menahan Deferla.
“Deferla tunggu!” Rodez menarik tangan Deferla dan membuat tubuh wanita itu tertarik ke belakang, dan menabrak dada Rodez.
“Maaf,” ujar Rodez saat tak sengaja membuat hidung Deferla terpentok dadanya. “Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa Stendy bisa membentakmu seperti itu?” Rodez masih sangat penasaran.
Deferla yang masih diliputi rasa kesal pada sang kakak pun, masih enggan bicara. Dengan kesabaran penuh, akhirnya Rodez mengajak Deferla untuk duduk di sofa. Lalu mengambilkan segelas air putih, dan diberikan pada Deferla.
“Minumlah,”
Deferla mengambil gelas tersebut dan meminum air dalam itu. Dirinya mulai mengatur emosinya, sambil menghela nafasnya pelan-pelan.
“Kak,” Deferla memanggil Rodez dan menatap pria itu.
“Iya,”
“Mungkinkah Kak Janice akan kembali setelah apa yang terjadi?”
Pertanyaan Deferla sukses membuat kerutan di dahi Rodez. “Mengapa kau tiba-tiba bertanya soal itu? Aku juga tidak tahu apakah Janice akan kembali atau tidak. Karena saat ini saja kita tidak tahu keberadaannya dimana,” jawab Rodez, walau dalam hatinya ia meminta maaf pada wanita di hadapannya itu.
Rodez tahu dimana Janice berada, karena hanya dia yang sering berkomunikasi dengan wanita itu. Rodez sudah berjanji pada Janice untuk tidak memberitahukan siapapun mengenai keberadaannya.
Wajah Deferla berubah muram. Ketika Rodez kembali berucap. “Mungkin, jika dia kembali semuanya tidak akan sama. Janice yang dulu kita kenal, tidak akan sama seperti dulu. Dia pergi karena hatinya terluka, dan meninggalkan rasa penyesalan untuk kita semua,” kata Rodez.
Deferla menundukkan wajahnya. “Kau benar, Kak. Kak Janice pergi karena Kak Stendy mengkhianatinya. Mungkin jika aku di posisi Kak Janice, aku juga akan melakukan hal yang sama. Pergi jauh dari orang-orang yang telah membuat hatiku terluka,”
*
Owen berdiri di depan kampus Janice, sambil menunggu dia keluar. Dia sudah siap untuk menjemput Janice setelah praktek kerjanya di rumah sakit selesai, dan dia tidak sabar untuk melihat senyumannya.
Saat Janice keluar dari kampus, Owen langsung tersenyum. Janice sempat terkejut dengan kedatangan pria itu, namun segera dinetralkan olehnya.
"Hai, Janice! Aku sudah siap untuk menjemputmu," katanya, sambil membuka pintu mobil.
Janice tersenyum kaku dan berdiri tepat di hadapan pria itu. “Mengapa kau datang ke sini? Dimana Pak Lim?”
Owen membenarkan kacamata minusnya, sambil tersenyum. “Aku sudah mengatakan pada Pak Lim untuk tidak menjemput kamu. Biar aku yang akan menjemputmu,” jawab Owen, dengan santai.
Janice menghela nafasnya. “Aku naik taksi saja!” tolak Janice yang hendak pergi, namun kembali ditahan oleh Owen.
“Naik, atau kamu menerima ribuan pertanyaan dari mahasiswa di kampus ini,” mata Owen menelisik ke segala penjuru. Janice pun, ikut memperhatikan ke sekelilingnya. Benar saja, banyak para mahasiswa sedang memperhatikan mereka berdua. Terlebih mahasiswa perempuan, yang begitu terpesona saat melihat Owen yang berdiri di depan mobil mewahnya.
Janice memejamkan matanya, karena sangat kesal. “Oke. Terima kasih, Tuan Owen.” Janice masuk ke dalam mobil, dan membuat owen tersenyum penuh kemenangan.
Owen mengangguk dan memulai ikut masuk ke dalam mobil. "Tidak apa-apa, aku senang bisa membantumu,” ucap Owen yang tidak dapat didengar oleh Janice.
“Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Owen, sambil memulai perjalanan.
Janice menggerakkan kepala. "Sedikit melelahkan, tapi aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat sejenak,” jawab Janice, sambil memejamkan matanya.
Owen mengangguk dan tersenyum. "Aku paham. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, aku yakin kamu akan baik-baik saja."
“Hmm,”
Janice hanya menjawab dengan sebuah gumaman kecil. Owen merasa memang Janice sedang lelah, walau merasa di cuekin oleh wanita itu. Owen sangat senang, karena dapat melihat langsung wajah cantik dan anggun milik Janice. Owen juga merasakan kenyamanan dengan Janice, dan dia tahu bahwa dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan dia.
"Janice, apa kau benar-benar tertidur?” tanya Owen dengan hati-hati.
“Kau berisik sekali, Tuan Owen!”
Owen tersenyum mendengar jawaban ketus dari Janice. “Aku ingin bertanya sesuatu," kata Owen, sambil menoleh ke arah Janice.
Janice membuka mata dan melirik tajam ke arah arah Owen. "Apa itu?" tanya Janice, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku ingin mengajakmu ke kafe besok sore. Aku ingin berbicara dengan kamu tentang sesuatu," kata Owen, sambil tersenyum.
Janice menghela nafas. “Aku tidak tahu besok bisa atau tidak. Mengapa tidak sekarang saja bicaranya?”
“Tidak bisa,” Owen menggeleng. “Kita bicara besok saja. Aku akan menjemputmu besok di kampus seperti hari ini,”
Janice memutar bola matanya malas. “Ternyata kau keukeuh juga, dan tak mau bicara sekarang. Baiklah… aku akan menunggumu besok di kampus,” jawab Janice yang akhirnya memilih mengalah. Janice hanya sedang lelah dan malas berdebat. Sebab hari ini dosen mata kuliahnya memberinya tugas yang sangat banyak. Alasannya karena dua hari lagi dosen pembimbingnya akan melakukan pelatihan di luar kota.
Owen tersenyum dan mengangguk. "Aku akan menjemput kamu besok. Terima kasih, Janice."
“Tidak perlu berterima kasih,” sinis Janice, dan hanya ditanggapi senyum lebar oleh Owen.
Saat mereka tiba di tujuan, Owen mematikan mesin mobil dan menoleh ke arah Janice. "Aku akan mengantarmu ke pintu," katanya, sambil keluar dari mobil.
“Tidak perlu repot-repot, aku bisa jalan sendiri,” tolak Janice.
“Tidak apa. Aku suka direpotkan olehmu,” jawab Owen, tetap tersenyum ramah.
Janice berdecak kesal. “Sepertinya kau selalu tersenyum, apakah itu caramu menjerat semua wanita?” kata Janice dengan tatapan remeh pada Owen.
Owen menaikkan satu alisnya, sambil membenarkan kacamatanya. “Aku hanya melakukan itu pada wanitaku,” jawab Owen dengan tatapan dingin.
“Apa kau lupa statusmu saat ini, Nona Janice?” tanya Owen. “Atau harus aku ingatkan kembali, bahwa kau adalah calon istriku.”
Janice menghela nafas dengan kasar. “Kita hanya baru akan bertunangan, Tuan Owen. Dari kata-kata itu aku yakin kau paham dengan makna yang sebenarnya,” Janice tersenyum sinis menatap Owen.
Owen membuka seat belt nya dan mendekatkan tubuhnya pada Janice. Membuat wanita itu terkejut dan reflek memundurkan wajahnya. Mata elang itu menatap mata coklat pekat milik Janice. Janice memalingkan wajahnya ke samping, agar wajah mereka tidak terlalu dekat.
Ceklek…
Janice semakin terperangah, nyatanya Owen hanya ingin membuka seat belt. Owen pun, tertawa dan membuat Janice menatap kesal pria itu.
“Ada apa denganmu, Nona Janice? Mengapa wajahmu memerah seperti itu? Apa kau berpikir, kalau aku akan menciummu?” goda Owen, sambil tersenyum smirk.
“Kalau begitu aku tidak keberatan,” Owen hendak mendekat, namun Janice menaikkan tangannya dan akan menampar.
Akan tetapi Owen cepat menangkap tangan Janice, dan menahannya. Tangan Janice satunya lagi juga bergerak ingin menampar. Lagi-lagi Owen menahannya dan menarik kedua tangan Janice ke belakang tubuh wanita itu. Owen tersenyum licik melihat Janice tak berdaya.
“Lepas!” Janice bergerak tak beraturan, dan tanpa sadar membuat tubuhnya semakin mendekat pada Owen.
“Diamlah, jika kau tidak ingin aku menciummu dengan paksa!”
Janice langsung terdiam seakan ucapan Owen adalah mantra penjinak untuknya. Tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci, namun ada kilatan kesal penuh benci di mata Janice. Sementara Owen semakin tersenyum dalam hati, saat memandangi wajah Janice yang sangat dekat dengannya.
Tok.. Tok..
Janice dapat bernafas lega, ketika suara ketukan menyelamatkan dirinya. Sementara Owen merasa kesal, karena moment seru seperti ini terganggu oleh orang yang sedang berdiri di luar mobilnya. Owen membenarkan duduk, dan terkejut saat melihat sosok yang berdiri di luar mobil.
“Mama,” gumam Janice, dan segera keluar dari dalam mobil.
Owen mendesah pelan, dan segera menyusul Janice keluar dari dalam mobil. Janice terlihat masih gugup, sementara Owen terlihat biasa saja.
“Selamat sore, Bibi.” Owen tersenyum pada Naomi.
“Selamat sore juga Owen. Bagaimana harimu?” tanya Naomi.
“Hmm, menyenangkan sekali. Apalagi bersama putri cantik, Bibi.”
Naomi tertawa mendengar gombalan Owen. Sedangkan Janice sudah memberi tatapan tajam pada Owen.
“Ayo, sebaiknya kita masuk. Sore begini enaknya minum teh sambil berbincang hangat,” ajak Naomi kepada Owen.
Owen hendak menjawab, akan tetapi Janice terlebih dahulu menjawabnya.
“Eum, Ma! Tuan Owen sore ini sibuk. Dia harus kembali ke rumah sakit, karena ada pasien yang baru dioperasi,” kata Janice berbohong, sambil melirik penuh ejekan pada Owen.
Naomi merasa kecewa, padahal ia sangat ingin lebih mengenal calon menantunya itu. Owen melirik Janice dan tersenyum licik.
“Ternyata urusan rumah sakit sudah beres, Bibi. Jadi sore sampai malam aku sudah bebas dari tugas,” jawab Owen yang membuat Janice melotot padanya.
Naomi tersenyum girang. “Kalau begitu kamu makan malam di sini saja. Bagaimana?” ajak Naomi yang langsung disetujui oleh Owen.
Naomi lagi-lagi terlihat senang, bahkan sampai dirinya bertepuk tangan saking girangnya. Dengan cepat ia meraih lengan Owen dan mengajaknya masuk kedalam rumah mereka. Meninggalkan Janice yang terlihat sangat kesal. Owen menoleh sekilas kebelakang dimana Janice masih tertinggal. Kemudian Owen mengedipkan satu matanya, dan menjulurkan lidahnya mengejek Janice yang masih kesal dengannya.