Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Susu Kehamilan
Hari menjelang petang saat Jayden dan Tiffany kembali ke ruangan mereka masing-masing setelah mengadakan rapat sejak siang tadi. Seharusnya Jayden membawa Natalie dalam rapat itu, karena wanita itu memang merupakan sekretaris utama Jayden.
Namun, karena Natalie sedang mengajari Jesslyn, maka Jayden pun membawa Tiffany untuk menjadi notulen-nya saat rapat. Hal itu juga berguna untuk menjauhkan Tiffany dari rekan-rekannya untuk sementara waktu agar tidak menggangu Jesslyn lagi.
Sedangkan Joana, ia sudah memberinya pekerjaan yang harus segera diselesaikannya, maka pasti Joana tidak akan tertarik untuk mem-bully Jesslyn dengan setumpuk pekerjaan yang telah Jayden limpahkan padanya.
"Ah! Apa kalian tahu? Tadi itu sangat menyenangkan sekali. Aku bisa bersama dengan suamiku seharian," ujar Tiffany bangga.
"Siapa suamimu?" tanya Natalie heran, karena sepengetahuannya Tiffany masih lajang dan belum mempunyai kekasih tetap. Karena dia sibuk berpindah dari satu pria ke pria lainnya.
"Tentu saja Presdir Zhou. Memangnya siapa lagi yang pantas menjadi suamiku? Sayang sekali kalian tidak berada di sana tadi dan tidak melihat kemesraan antara aku dan Presdir Zhou."
Tiffany langsung memamerkan kebersamaannya dengan Jayden selama di ruang rapat tadi. Tanpa adanya Steve dan Diana yang ikut serta dalam rapat itu, maka Tiffany menjadi lebih bebas untuk berdekatan dengan Jayden.
Jayden pun sepanjang rapat tadi selalu tersenyum, hal yang sangat jarang terjadi. Karena biasanya pria itu akan selalu memasang wajah dinginnya dan tak segan mengeluarkan kata-kata kejam yang sangat membuat pedas telinga yang mendengarnya.
Namun, karena suasana hati Jayden yang sedang dalam kondisi baik sekarang, maka ia pun terus menampilkan senyum cerahnya. Bahkan saat ada seorang staf-nya yang melakukan kesalahan saat presentasi tadi, Jayden pun hanya berujar agar pria itu segera memperbaiki laporannya, dan ia ingin hasil yang memuaskan dalam rapat berikutnya.
Ucapan yang sungguh bijak dan sederhana, tetapi karena hal itu keluar dari mulut seorang Jayden Zhou sang presdir kejam, maka mereka pun menjadi terkejut tak percaya. Namun, mereka juga bersyukur karena rapat kali ini berjalan mulus. Mereka semua pun berdoa agar sikap Jayden dapat terus lembut seperti ini.
Tiffany masih terus mengoceh tentang rapat tadi dan betapa tampannya wajah pria itu saat tersenyum membuat hatinya meleleh seketika. Sementara, rekan-rekannya yang lain hanya terdiam. Natalie dan Jesslyn terkesan tidak peduli dan mereka pun bersiap untuk pulang.
Lain lagi halnya dengan Joana, yang mendapatkan pekerjaan yang menumpuk dari Jayden. Ia harus lembur hari ini dan hatinya pun semakin panas dan kesal karena mendengar ocehan Tiffany yang tiada henti itu.
"Baiklah, kami pulang dulu. Sampai jumpa semuanya." Natalie menggandeng tangan Jesslyn dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Hey, kalian mau pulang? Tunggu aku." Tiffany pun mengejar kedua rekannya. Kini hanya tinggal Joana di ruangan itu sendiri dengan setumpuk berkas di mejanya.
"Cih! Menyebalkan!"
.
.
.
Ruangan Presdir
Begitu mengetahui jika Jayden telah kembali, Steve pun langsung mencari atasannya itu ke dalam ruangannya. Dengan membawa beberapa buah kantung belanja besar, ia pun menghampiri Jayden yang tengah menandatangani sesuatu.
"Selamat sore, Presdir. Aku telah membawakan barang pesanan Anda."
Tanpa menunggu jawaban dari Jayden, Steve pun langsung meletakkan kantung-kantung belanja besar berwarna putih itu di atas meja kerja Jayden, hingga menimpa berkas yang baru saja ditandatanganinya itu.
Begitu besarnya kantung itu bahkan hingga menutupi pandangan Jayden dari Steve. Jayden pun segera menggeser benda itu ke samping dan membelahnya menjadi dua bagian agar ia dapat melihat asistennya itu.
"Apa ini kualitas terbaik?" tanya Jayden yang tidak mempermasalahkan kelakuan asistennya itu karena suasana hatinya benar-benar dalam keadaan baik sekarang.
Jayden pun mengambil salah satu kotak kardus berwarna pink keunguan itu dari dalam kantung belanja dan mengamatinya.
"Aku sudah bertanya kepada istriku dan juga penjaga stand susu di supermarket itu, mereka mengatakan jika ini adalah merk susu kehamilan terbaik. Dapat mengurangi rasa mual, mengandung asam folat yang cukup tinggi, protein, zat besi dan terdapat juga beberapa nutrisi lain yang sangat bermanfaat bagi perkembangan otak dan tubuh janin. Dan dengan rasa cokelat Belgian yang lezat, maka susu ini pasti akan sangat disukai oleh ibu hamil."
Steve berbicara layaknya seorang marketing handal yang sedang mempromosikan produknya. Sementara, Jayden hanya mengangguk-angguk karena ia memang tidak mengerti akan produk susu itu.
"Kau yakin dia akan menyukai susu ini?"
Jayden membalikkan kotak kardus susu itu untuk membaca keterangan tentang kandungan gizi yang tertera di kemasannya.
"Tentu, Presdir. Aku juga sudah melihat hasil survey tentang produk ini, yang mengatakan jika sebagian besar ibu hamil pasti akan menyukainya."
"Baiklah. Panggil dia masuk," titah Jayden tanpa menoleh kepada Steve karena ia masih sibuk membolak-balikkan kotak susu itu dan melihatnya dari segala sisi.
"Ehm, Presdir, sepertinya Sekretaris Jiang dan yang lainnya sudah pulang."
"Apa?"
Jayden kemudian melihat ke arah jam tangannya yang memang menunjukkan sudah saatnya jam pulang kantor. Kecuali Joana yang masih harus menyelesaikan laporannya, ketiga orang sekretaris Jayden itu memang sudah pulang terlebih dahulu, termasuk Tiffany yang baru saja menyelesaikan rapatnya bersama Jayden tadi. Jayden pun segera berdiri dari kursinya dan meraih dua kantung putih itu dan meninggalkan dua yang lainnya.
"Bawa itu!"
Jayden memerintahkan agar Steve membawa sisanya. Kemudian mereka pun segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift untuk menyusul Jesslyn.
.
.
.
Ketika baru saja sampai di lobby, Jesslyn dan yang lainnya pun segera terheran-heran karena melihat keadaan di depan pintu lobby itu. Banyak orang terutama wanita muda yang sedang berkumpul di sana dan berteriak histeris.
"Hey, ada apa ini? Mengapa ramai sekali?"
Natalie menghentikan salah seorang wanita yang lewat di depan mereka, yang sedang berlari menuju ke arah pintu lobby itu.
"Ada suamiku di sana!" ujarnya bahagia.
"Hah?! Suamimu? Memangnya siapa suamimu?" tanya Tiffany bingung.
"Aktor Lee," jawab wanita itu tersipu.
"Aktor Lee?!" teriak para sekretaris itu serempak.
Tiffany dan Natalie pun senang karena mereka memang mengidolakan pria itu. Sementara, Jesslyn hanya berdoa semoga bukan marga Lee yang ia kenal.
'Ya, Tuhan. Semoga saja bukan Samuel Lee. Tidak mungkinkan dia benar-benar menjemputku di sini?'
Jesslyn pun berpamitan dengan Natalie dan berniat ingin pulang, tetapi Natalie segera menarik tangannya untuk mengikuti Tiffany yang sudah berlari lebih dulu ke sana.
Mereka pun tiba di depan pintu lobby utama. Di sana terlihat seorang pria tampan yang sedang dikelilingi oleh wanita muda dan tengah melayani para fans-nya itu untuk ber-swafoto.
Pria itu mengenakan kacamata hitam dan kaus putih, dibalut dengan jaket dan juga celana jeans. Terlihat casual nan modis, tetapi tetap memancarkan aura bintangnya yang bersinar.
"Ya, Tuhan! Dia tampan sekali. Suamiku!" teriak Tiffany gembira.
"Cih! Tadi kau bilang kau mencintai Presdir Zhou dan dia adalah suamimu. Sekarang kau bilang Aktor Lee juga suamimu. Banyak sekali pria dalam hidupmu," cibir Natalie.
"Haish! Kakak Xia, mereka semua memang suamiku. Presdir Zhou adalah suami pertamaku, Samuel Lee suami keduaku lalu ada juga si tampan Hyun Bin dan Dennis Oh. Ah! Pokoknya aku mau mereka semua."
Tiffany membayangkan semua pria tampan itu adalah miliknya dan tengah memeluknya mesra. Natalie pun hanya menggeleng pelan melihat tingkah genit Tiffany.
"Kak Xia, aku pulang dulu, sampai jumpa," pamit Jesslyn lagi. Ia harus segera pergi dari sini sebelum Samuel menyadari keberadaannya, dan membuat masalah baru baginya, tetapi Natalie kembali mencegahnya.
"Tunggu dulu, Jessy. Aku ingin melihat Samuel Lee sebentar. Nanti aku yang akan mengantarmu pulang," ujar Natalie.
"Tidak perlu mengantarku, Kak. Aku akan pulang sendiri saja."
"Haish! Jangan membantah. Pokoknya tunggu di sini sebentar. Aku yang akan mengantarmu pulang," kukuh Natalie.
Jesslyn pun tidak enak menolak niat baik rekannya itu. Ia hanya bisa memundurkan langkahnya dan berdiri di belakang kedua orang temannya itu. Samuel masih terus menebar senyum saat lampu flash kamera itu menyala ke arahnya. Tiffany pun meloncat-loncat dan berteriak memanggil pria itu.
"Suamiku! Suamiku! Aku di sini, Sayang!"
Samuel pun menoleh ke arah suara yang cukup nyaring itu, kemudian sudut matanya pun menangkap seseorang yang telah ditunggunya sejak tadi. Ia kemudian membuka kacamatanya dan melambaikan tangannya.
"Sayang!" teriaknya ke arah seorang wanita yang berdiri paling belakang.
"Ya ampun, dia meresponku!" teriak Tiffany senang bukan main, "kalian dengar? Dia memanggilku 'sayang'."
Samuel kemudian membuka pintu mobilnya dan meraih buket bunga mawar yang telah disiapkannya. Ia pun berjalan ke arah wanita itu. Para penggemar wanita di sana pun berteriak histeris kala idola mereka berjalan semakin mendekat. Begitu pun para petugas keamanan yang sejak tadi terus berjaga di dekat sang artis idola.
"Ya, Tuhan, ternyata dia benar-benar datang! Ah! Ayo mendekat! Ayo mendekat!"
Tiffany berseru riang, dan Natalie pun ikut senang karena dapat bertemu dengan aktor kesayangannya itu secara langsung. Sementara, wanita yang dituju oleh Samuel pun hanya diam terpaku di tempatnya.
'Ya ampun. Jangan mendekat! Jangan mendekat!' gumam Jesslyn.
Kini pria itu pun telah berdiri di hadapan mereka bertiga. Ia tersenyum dan menyapa gadisnya.
"Hai, Cantik. Apa kau rindu padaku?"
Tiffany ingin menyambut uluran tangan Samuel, tetapi pria itu malah meraih dan mencium punggung tangan kanan Jesslyn. Ia kemudian juga memberikan buket besar itu kepadanya.
"Ini untukmu, Manis."
Para wanita tadi pun berteriak semakin histeris. Mereka kecewa, karena idolanya bersikap mesra kepada wanita lain. Begitu pun dengan Tiffany dan Natalie, mereka terbelalak tidak percaya. Ternyata yang dituju Samuel adalah Jesslyn.
"Tuan Lee, apa yang kau lakukan?" tanya Jesslyn seraya menarik kembali tangannya yang masih digenggam oleh Samuel.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk makan malam denganku? Jadi aku datang untuk menjemputmu sekarang."
"Apa?! Kapan aku berkata akan menyetujuinya?"
Jesslyn pun semakin memundurkan langkahnya, ingin menjauh dari Samuel. Namun, pria itu pun segera mendekatkan wajahnya ke arah Jesslyn dan berbisik.
"Ayolah, Nona Jiang. Beri aku muka. Jangan biarkan mereka melihat penolakanmu terhadapku. Itu sangat memalukan dan akan merusak reputasiku. Kau boleh turun di jalan nanti, tetapi sekarang kau harus ikut aku naik ke mobil itu. Kumohon."
"Tidak mau! Jika aku naik ke mobilmu maka bukan hanya reputasiku yang akan hancur, tetapi nyawaku juga terancam."
Jesslyn merasakan semua tatapan mata itu yang sedang menuju ke arahnya. Bukan hanya dari para fans Samuel, tetapi juga Tiffany yang memang sejak tadi sangat bersemangat ingin bertemu dengan Samuel.
"Tenang saja. Aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku," janji Samuel.
"Jessy, kau mengenal aktor Lee?" tanya Natalie tiba-tiba. Ia sangat penasaran karena sejak tadi kedua orang itu berbisik-bisik mesra dan mengabaikan keberadaan mereka semua.
"Aku ...."
Baru saja Jesslyn ingin menjawab, Samuel pun sudah lebih dulu membuka suaranya.
"Tentu saja. Kami sangat akrab. Benar, 'kan, Jessy?" Samuel mengerlingkan matanya memberi kode agar Jesslyn menyetujui ucapannya.
"Itu ... aku ...."
"Tuan Lee, aku adalah Tiffany Jung, rekan kerja Jessy. Aku selalu menjaganya di kantor. Dan yang perlu kau tahu adalah aku, masih, single," tukas Tiffany yang kembali memotong perkataan Jesslyn. Ia pun langsung bergelayut manja di lengan Samuel.
'Ya ampun, bisakah kalian dengarkan aku sampai selesai bicara dulu?' gumam Jesslyn kesal karena sejak tadi mereka selalu saja memotong ucapannya.
"Halo, Nona Jung. Jadi kau adalah teman Jessy?"
"Iya, benar. Kami langsung menjadi sahabat dekat meskipun kami belum lama saling mengenal."
Tiffany masih terus menempel di lengan Samuel. Samuel pun tak bisa menepisnya karena itu akan mempengaruhi citranya sebagai aktor yang tampan dan ramah.
"Tuan Lee, ini juga temanku. Natalie Xia. Dia adalah penggemarmu," ujar Jesslyn memperkenalkan Natalie.
"Halo, Nona Xia. Senang berkenalan denganmu."
"Senang bertemu denganmu, Tuan Lee."
"Kakak Xia, lepaskan tanganmu dari suamiku. Aku cemburu," ujar Tiffany, "suamiku, mereka semua sudah memiliki pria lain dalam hidupnya. Hanya aku yang selalu setia padamu."
"Cih! Dasar genit! Segera menjauh dari Tuan Lee. Kau tidak lihat, ia hampir muntah karena kau terus menempel padanya."
"Kakak Xia, kau jahat! Suamiku, lihat. Kakak Xia membully-ku," rajuk Tiffany dan Samuel pun hanya dapat tersenyum.
Ia sungguh serba salah. Ucapan Natalie memang benar, ia malas berdekatan dengan Tiffany, tetapi ia juga harus tetap menjaga image baiknya di depan para penggemarnya sebagai aktor yang ramah kepada para fans-nya.
Melihat Samuel yang sibuk dengan para wanita itu pun, Jesslyn segera menjauh dari mereka, tetapi Samuel mengetahuinya. Ia pun melepaskan Tiffany dan segera menarik tangan Jesslyn hingga tubuh mereka hampir saja bertabrakan.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" Jesslyn mendorong dada Samuel dan ingin menjauh darinya. Namun, Samuel pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Nona Jiang, jika kau tidak menurut padaku, maka aku akan menciummu di sini," bisik Samuel di telinga Jesslyn, membuat wanita itu terkejut dan kesal.
"Kau ...!"
.
.
.