[Terbit Novel]
Perjalanan cinta unik antara Psikiater dan CIA bernama Justin, untuk mendapatkan informasi mengenai mafia yang menjadi targetnya ia harus berpura-pura menjadi pasien dari Psikiater cantik bernama Jessy.
Bukannya berjalan dengan lancar sesuai rencana, ia malah harus terjebak bersama Jessy. Pertengkaran layaknya Tom & Jerry selalu mengisi pertemuan mereka. Tak menyangka, hal itu justru membuat mereka saling jatuh cinta.
Saat keduanya memutuskan untuk menikah, Justin tidak bisa menjawab pertanyaan Jessy 'Apa pekerjaan mu?' semua semakin rumit saat Justin mendapatkan misi tentang pembunuhan berantai yang disusul oleh kematian Larissa, sahabat Jessy. Kesalahpahaman dan kecurigaan mulai muncul. Akankah semuanya terpecahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palsu
Jessy tersenyum samar sambil menutup novel dengan sebelah tangannya. Genggaman Justin mulai melemah, menandakan pria itu sudah terlelap.
"Aku juga jadi mengantuk." Gumam Jessy pelan. Ia mulai memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur.
Tanpa disadari Jessy, Sam yang melihat itu tersenyum kecil. 'Setidaknya anak-anak mulai membaik dan tidak bertengkar lagi.' batin Sam.
_
Sesampainya di LA. Mereka sudah dijemput oleh supir Alex.
"Jessy, maaf aku tidak bisa mengantarkan mu sampai rumah. Aku harus segera menemui teman ku." Ujar Alex dengan wajah sedikit menyesal. Jessy tersenyum lembut.
"Oh tidak masalah, aku mengerti."
"Justin akan mengantarkan mu. Sam akan ikut dengan ku mewakili pria lemah ini." Sindir Alex pada Justin. Ia kesal karena Justin tidak bisa diajak menemui teman-teman bisnisnya. Alasannya sungguh tak masuk akal, Justin masih sakit karena tonjolan dari Robert, dan itu takut membuat Justin tidak bisa berbicara dengan baik 'katanya'.
"Jika ada apa-apa kabari aku ya cantik. Aku pergi." Jessy mengangguk pelan sambil tersenyum melihat wajah ramah Alex, pria tua itu masuk kedalam mobil diikuti Sam, Axton dan satu pria berjas hitam yang membuka kan pintu mobil.
"Hati-hati." Ujar Jessy berbasa-basi.
Kening Jessy sedikit mengerut saat melihat Justin tersenyum lebar menatap kepergian mobil Alex.
"Ada apa kau tersenyum?" Tanya Jessy penasaran.
"Aku senang akhirnya terbebas." Jawab Justin ceria. Jessy semakin bingung.
"Ayo masuk, aku akan mengantarkan mu pulang." Ujar Justin begitu antusias, mengiring Jessy untuk segera masuk kedalam mobil.
Saat keduanya sudah duduk dikursi belakang, Justin memberitahu alamat Jessy kepada supirnya.
"Hallo." Jessy melirik Justin yang tengah menghubungi seseorang.
"Ya, aku sudah di LA, kau dimana?" Siapa yang Justin telepon? Batin Jessy bertanya-tanya.
"Baiklah. Aku akan langsung ketempat mu. Aku benar-benar sudah tak sabar dan ingin memulainya."
"Sampai jumpa."
"Siapa?" Baru saja Justin mematikan panggilan tersebut, ia sudah ditodong pertanyaan oleh wanita disebelahnya.
"Temanku, aku akan bertemu dengannya." Jawab Justin sambil memasukkan ponselnya kedalam saku. Seketika ia tersenyum menggoda kearah Jessy.
"Tenang, ini pria. Kau tidak perlu cemburu dan cemas seperti itu."
Jessy yang mendengar itu langsung memukul lengan Justin dengan keras.
"Siapa yang cemburu?!"
"Kau"
"Tidak! Untuk apa aku cemburu apalagi mencemaskan mu!" Justin mencibir kecil dengan wajah mengejek.
"Wanita memang selalu mengatakan tidak tetapi tingkah mereka mengatakan sebaliknya." Ejek Justin.
"Tidak!"
"Ya..ya..ya.." sahut Justin bernada.
Wajah Jessy kesal. Ia melipat kedua tangannya didada. Baru saja ia hampir luluh dengan sikap tenang Justin dipesawat tadi. Tapi apa? Ini semua hanya palsu.
"Kau kembali menyebalkan." Gumam Jessy.
"Aku harus pura-pura lemah agar ayah ku percaya aku masih sakit." Jessy berdecak. Ternyata Justin benar-benar palsu. Sikap aslinya memanglah begini, menyebalkan, mengesalkan dan menguras emosi, mana mungkin pria ini selembut tadi!.
"Aku memiliki pekerjaan lain." Jessy tak ingin memandang Justin, ia juga tak ingin tau arah pembicaraan Justin kemana. Ia sudah hilang mood, rasanya seperti dilayangkan ke langit dan langsung dihempaskan seketika.
"Kau tidak ingin tau?" Tanya Justin saat melihat reaksi Jessy yang terlihat malas.
"Aku tidak perduli."
"Kau yakin? Kau tidak bisa menghubungi ku lagi." Seketika Jessy menoleh.
"Kau ingin kabur lagi?!"
"Tidak. Hanya saja jika aku sedang berkumpul dengan teman ku, kadang ponsel tak pernah ku gunakan."
Jessy berdecak, ia semakin tak mengenal pria disampingnya.
"Jadi pekerjaan mu berkumpul dengan teman?" Justin mengangguk.
"Ya. Dan itu menghasilkan banyak uang, tantangan dan kerja keras walaupun sedikit berbahaya." Jessy menghela nafasnya. Ia akan semakin merasa bodoh jika percaya pada ucapan Justin. Pria ini terlalu banyak bercanda dan ucapannya selalu tidak benar.
Mobil terparkir didepan rumah Jessy, dan supir dengan sigap berjalan kebelakang mobil mengeluarkan koper milik Jessy.
"Maaf tidak bisa mampir kerumah mu. Bagaimana jika nanti malam aku mampir?" Justin mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak perlu. Bersenang-senanglah bersama teman mu. Bye. I hate you." Desis Jessy sinis dan membuka pintu mobil.
"Kau memang wanita pengertian. I hate you too, darling." Jawab Justin manis. Ia melihat Jessy langsung menarik kopernya kedalam rumah, tanpa menatap atau menunggu mobil Justin pergi, dan itu membuat Justin tertawa kecil.
"Dia benar-benar pemarah." Gumam Justin pelan.
"Kita langsung pulang tuan?"
"Tidak. Aku ingin ke cafe yang ada didekat jalan sana." Supir itu mengangguk dan mulai menjalankan mobil.
"Jangan sampai ayah ku tahu jika aku menemui teman ku. Bilang saja aku diam dulu dirumah Jessy."
"Baik tuan."
--
bingung aku...
mohon pencerahannya para readers sekalian
semangat terus berkarya author
tp aku lebih suka visual jessy yg di cerita tentang Alicia