NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

happy reading guys

Bab 19: Musuh dalam Selimut

Sorot lampu indikator merah pada layar laptop Anastasia Wijaya terus berkedip secara konstan, memantulkan pendaran cahaya yang mencekam di sepasang netra indahnya.

Keheningan di dalam ruang ICU itu mendadak terasa begitu menghimpit, menyisakan deru napas Anastasia dan Devan Mahendra yang tertahan secara bersamaan.

Di atas layar, sebuah draf lampiran dokumen finansial yang terenkripsi rahasia baru saja berhasil di dekripsi oleh tim siber Wijaya Corps.

Dokumen tersebut memuat daftar aliran dana modal asing rahasia yang masuk ke dalam rekening perusahaan cangkang milik Samuel Amalia di Swiss selama dua puluh empat jam terakhir.

Namun, bukan nominal ratusan miliar yang membuat tubuh Anastasia seketika kaku laksana membeku, melainkan satu nama yang tertera jelas pada kolom investor utama.

"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Anastasia, suaranya bergetar hebat, dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat pekat.

Jemarinya yang semula bergerak lincah di atas papan ketik laptop mendadak lemas tanpa daya.

Devan memajukan tubuh tegapnya dengan sentakan kasar, mengabaikan rasa nyeri yang membakar dari jahitan luka operasi di perut kirinya.

Sepasang netra elangnya menyipit tajam menatap baris nama yang ditunjuk oleh Anastasia.

Dalam satu ketukan detik, rahang Devan mengeras sempurna, urat-urat di lehernya menegang dengan kilat kemurkaan yang begitu pekat.

"Kornelius Wijaya..." Devan mengeja nama itu dengan suara baritonnya yang rendah, dingin, dan sarat akan aura membunuh.

Pria itu menoleh ke arah Anastasia dengan tatapan mata yang dipenuhi kalkulasi tajam.

"Anya... dia adalah paman kandungmu sendiri, bukan? Adik dari mendiang ayahmu?"

Anastasia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kuku jarinya memutih.

Rasa terkejutnya kini bertransformasi menjadi kemurkaan seorang ratu bisnis yang dikhianati dari dalam kastilnya sendiri.

Kornelius Wijaya adalah salah satu dewan komisaris senior di Wijaya Corps yang selama lima tahun ini selalu bersikap manis dan mendukung posisi Anastasia di depan Kakek Angga.

Siapa yang menyangka bahwa di balik topeng kesetiaannya, pria paruh baya itu justru menjadi dalang finansial di balik pergerakan Samuel Amalia.

"Paman Kornelius... dia sengaja mendanai Samuel untuk melikuidasi saham Mahendra Group," Anastasia mendesis tajam, suaranya merendah hingga ke titik beku.

"Dia tidak sedang membantu Samuel menyelamatkan Siska. Target utamanya sejak awal adalah aku dan anak-anakku!"

Otak bisnis Devan yang genius langsung menghubungkan seluruh benang merah konspirasi tingkat tinggi ini secara kilat.

"Kornelius tahu bahwa jika nama Alta dan Arka terseret ke dalam pusaran kasus pailit internasional besok pagi, maka secara hukum tata kelola korporasi, posisimu sebagai Direktur Utama Wijaya Corps akan dianggap cacat moral oleh dewan komite. Pamanmu menggunakan Samuel sebagai bidak catur untuk menggulingkan takhtamu dari Wijaya Corps, Anya!"

"Musuh dalam selimut..."

Anastasia tersenyum getir, seulas senyuman dingin yang sarat akan dominasi mutlak yang mengerikan.

"Dia memanfaatkan kelemahan dokumen perwalianmu untuk menghancurkan masa depan cicit tunggal Keluarga Wijaya. Pengkhianatan ini... boro-boro bisa dimaafkan!"

Devan meletakkan gawai daruratnya di atas nakas medis, lalu menatap Anastasia dengan tatapan mata yang kokoh laksana dinding batu.

Aliansi di antara mereka kini tidak lagi sekadar urusan melindungi dana perwalian anak-anak dari Keluarga Amalia, melainkan sebuah pertempuran hidup dan mati untuk mempertahankan takhta kekuasaan mereka.

"Anya, waktu kita kian menipis. Sekarang sudah pukul setengah tujuh pagi," ucap Devan

dengan nada suara yang tertata rapi, memancarkan ketegasan seorang pimpinan tertinggi yang siap berperang.

"Rencana awal kita untuk memindahkan domisili hukum anak-anak ke bawah yayasan kakekmu harus tetap berjalan. Namun, kita harus mengubah taktik intervensi hukum di bursa Swiss."

Anastasia menoleh, menyilangkan kedua lengannya di dada dengan dahi berkerut.

"Maksudmu, kita tidak boleh langsung membekukan rekening Samuel?"

"Benar,"

Devan menyunggingkan senyum tipis yang teramat licik dan mematikan.

"Jika kita langsung membekukan rekening Samuel sekarang, Kornelius akan menyadari bahwa kedoknya telah terbongkar. Pamanmu pasti akan menarik kembali seluruh aliran dananya dan mencari celah hukum lain untuk menyerangmu di sidang dewan komisaris besok. Kita biarkan transaksi kliring fajar mereka berjalan seolah-olah semua sesuai rencana mereka."

Devan menarik napas panjang, menahan denyut perih di perutnya demi memberikan tekanan taktis pada kalimatnya.

"Biarkan Samuel melayangkan gugatan sita jaminannya ke pengadilan bursa efek Jakarta tepat pukul sembilan pagi ini. Dan tepat di saat Samuel merasa berada di puncak kemenangan di depan para hakim... kamu sendiri yang akan melangkah masuk ke ruang sidang, membawa dokumen perpindahan domisili hukum anak-anak yang sudah sah, bersanding dengan bukti transfer dana ilegal dari Kornelius Wijaya!"

Sepasang mata Anastasia seketika berbinar cerdas mendengar modifikasi strategi dari Devan.

"Taktik memukul ular menggunakan ekornya sendiri... Kita biarkan mereka melompat ke dalam perangkap bursa sebelum kita menutup pintunya rapat-rapat. Dengan begitu, Samuel akan langsung dinyatakan bersalah atas konspirasi penipuan bursa, dan Paman Kornelius tidak akan memiliki jalan keluar lagi selain ditangkap atas tuduhan pengkhianatan aset korporasi di depan Kakek Angga!"

"Tepat,"

Devan mengangguk tegas, binar kekaguman pada ketajaman logika berpikir Anastasia kian terpancar jelas di netra elangnya.

"Malam ini kita tidak hanya akan menyelamatkan masa depan Alta dan Arka, tetapi kita akan meratakan seluruh musuh yang berani menyentuh duniaku seumur hidup mereka."

Anastasia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang sempat bergejolak hebat akibat pengkhianatan pamannya.

Ia melangkah menuju interkom dinding, menekan tombol panggil darurat.

"Hendra! Masuk ke ruangan sekarang, bawa draf dokumen perpindahan yurisdiksi yayasan!"

Pintu elektronik bergeser terbuka dengan cepat.

Sekretaris Hendra merangsek masuk dengan wajah yang dipenuhi peluh, namun penampilannya kembali siaga setelah melihat ketegasan yang memancar dari wajah Anastasia dan Devan.

"Nona Anastasia, Tuan Devan, tim hukum kita di Swiss sudah bersiap menanti instruksi akhir," lapor Hendra cepat.

"Hendra, ubah instruksi untuk tim Eropa," titah Anastasia dengan nada suara yang penuh penekanan mutlak.

"Tunda pembekuan akun cangkang Samuel. Biarkan transaksi kliring mereka berjalan. Namun, pastikan tim siber melacak setiap nomor seri obligasi yang dialirkan dari rekening Kornelius Wijaya. Saya ingin bukti otentik yang tidak bisa dibantah oleh hukum tata negara besok pagi!"

Hendra tertegun sejenak mendengar nama Kornelius disebut, namun dengan sigap ia langsung membungkuk hormat penuh kepatuhan.

"Baik, dimengerti, Nona Anastasia! Proses pemindahan domisili hukum Den Alta dan Den Arka ke bawah perlindungan yayasan diplomatik Tuan Besar Angga juga sudah selesai diproses secara digital, tinggal menunggu ketukan stempel otoritas pukul tujuh pagi nanti!"

"Bagus. Bersiaplah,"

Anastasia menutup laptopnya dengan sentakan yang tajam.

Ia menoleh ke arah Devan yang masih terbaring lemah namun memancarkan aura dominasi yang luar biasa dari atas ranjangnya.

"Pertempuran fajar ini sudah siap kita mulai, Devan Mahendra. Mari kita lihat seberapa tinggi paman saya dan Samuel Amalia bisa tertawa sebelum saya menghancurkan mereka seutuhnya pagi ini."

Waktu terus bergulir dengan kejam menuju pukul sembilan pagi di Kota Jakarta.

Aliansi rahasia antara Anastasia dan Devan kini telah siap meledakkan seluruh papan catur takdir bursa efek.

Di sudut lain kota, di dalam sebuah ruang rapat privat yang mewah, Samuel Amalia dan Kornelius Wijaya sedang bersulang segelas minuman mahal sembari menatap layar monitor yang menampilkan draf gugatan sita jaminan yang siap diterbitkan,

sama sekali tidak menyadari bahwa jerat tali tiang gantungan hukum mereka sedang ditarik perlahan dari balik dinding kamar ICU.

Bersambung.....

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!