Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Resonansi Sel di Palung Es
*BAB 31
Hantaman helikopter siluman aliansi barat pada dataran es Murmansk memicu dentuman yang menggelegar masif, membelah kesunyian badai salju Rusia Utara. Logam titanium badan pesawat kargo itu terpelanting, berputar hebat menghantam gundukan es sebelum akhirnya tersungkur diam dengan posisi horizontal di depan gerbang beton kompleks Altar Pemurnian. Percikan api jingga meliuk-liuk dari tangki bahan bakar yang pecah, namun suhu ekstrem di bawah minus tiga puluh derajat Celsius langsung membekukan sebagian kobaran api, menyisakan kepulan asap hitam yang membubung pekat ke langit kelam.
Di dalam kabin penumpang yang porak-poranda, Arsen Valentino bangkit menembus reruntuhan kursi taktis. Kemeja putihnya robek sepenuhnya di bagian dada, menyingkap lambang tato faksi Valentino yang kini bersimbah darah segar akibat hantaman panel instrumen. Namun, sepasang mata elangnya tidak memancarkan rasa sakit; tatapannya tetap sedingin es Rusia, penuh dengan intrik politik dunia bawah tanah yang kian membara. Tangan kanannya bergerak dengan ketangkasan seorang predator tertinggi, meraba dada kirinya. Koper perak itu masih terikat ketat di sana, menyemburkan pendar cahaya amber dari tiga tabung Eclipse Omega yang secara ajaib lolos dari kehancuran mekanik.
Di sampingnya, Arunika palsu terkapar di atas lantai kabin yang dingin. Tubuhnya yang ramping dibalut mantel bulu serigala yang koyak bergetar hebat—bukan karena hawa dingin Murmansk, melainkan karena neurotoksin biometrik yang kini telah mencapai fase kritis di dalam sistem saraf pusatnya. Garis-garis urat saraf di telapak tangan kirinya telah berubah warna menjadi biru keunguan pekat, merambat naik menembus leher hingga ke batas rahang tegasnya. Setiap helaan napasnya pendek dan berbunyi parau, memicu ketegangan psikologis yang luar biasa hebat bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Kau... masih bernapas, Duplikat?" sebuah suara merdu yang sangat familier memecah deru angin badai dari arah pintu kabin yang ringsek.
Sesosok wanita melangkah masuk menembus tirai salju. Arunika yang asli. Meskipun sisi kanan wajah cantiknya dipenuhi luka bakar parah akibat ledakan rudal di perbatasan Belarusia, keanggunan seorang anak kandung yang sah tetap memancar dari balik pakaian taktis hitam serba mewahnya. Di tangan kanannya, dia memegang sebotol kecil cairan injeksi berwarna ungu neon yang berkilau tajam di bawah pendar badai salju—penawar tunggal yang dirancang Haryo Valentino untuk melumpuhkan racun biometrik sebelum kematian sel terjadi.
### Transaksi di Ambang Batas Mati
Letupan emosi pembaca akan naik turun dengan ekstrem di bagian ini. Arunika palsu mendongak dengan sisa kesadarannya yang kian menipis. Ketakutan sipil yang dulu dia bawa dari desa di Jawa Tengah telah lama mati, namun melihat kembaran aslinya berdiri memegang kunci hidupnya menciptakan gelombang kebencian murni dan rasa jijik yang luar biasa mendalam di dalam batinnya. Dia menyadari satu hal: dia sedang ditawari kehidupan yang palsu oleh orang-orang yang menciptakan seluruh penderitaannya.
"Haryo Valentino... menunggumu di dalam Altar, Arsen," ucap Arunika asli, matanya yang porselen menatap lurus ke arah koper perak di dada Arsen dengan hasrat kepemilikan aset yang murni. "Dia tahu kau akan selamat dari jatuhnya helikopter ini. Dan dia menawarkan satu kesepakatan bisnis terakhir: serahkan tabung Eclipse Omega murni itu, dan aku akan menyuntikkan penawar ini ke leher salinan jalananmu sebelum jantungnya berhenti berdetak dalam waktu seratus dua puluh detik dari sekarang."
"Tuan Arsen... jangan..." Marco merangkak dari balik kokpit helikopter yang hancur, tangan kanannya memegang senapan dengan jemari yang berdarah. Pria tangan kanan itu memandang Arsen dengan tatapan penuh keputusasaan. "Itu jebakan ganda... Haryo tidak akan membiarkan kita keluar dari Murmansk hidup-hidup..."
Arsen Valentino menyunggingkan sebuah seringai kejam penuh intrik politik dunia hitam. Pria itu melangkah maju, mencengkeram rahang Arunika asli dengan jemarinya yang kokoh, menekannya hingga wanita itu meringis menahan sakit di bagian kulitnya yang terbakar. Moncong senapan serbu otomatisnya terkunci tepat di antara kedua mata Arunika asli.
> "Kau terlalu meremehkan hukum perangku, Arunika," desis Arsen, suaranya merendah menjadi ancaman mutlak yang sanggup membekukan sirkulasi darah. "Aku tidak pernah menukar properti yang telah menjadi milikku dengan sebuah penawar murah dari seorang ayah yang memalsukan wajahnya untuk bersembunyi di balik tirai besi. Jika istri palsuku harus mati di tempat ini, maka dia akan mati sebagai seorang Valentino yang akan menyeret seluruh sisa laboratorium kalian masuk ke dalam kuburan es yang sama!"
>
Arunika palsu yang mendengar kalimat maut itu mendadak merasakan sebuah sensasi enjoy yang luar biasa dingin merayapi jiwanya yang sekarat. Kekosongan emosionalnya kini telah sepenuhnya menjelma menjadi tekad kegelapan yang murni. Dia tidak butuh belas kasihan Arsen, dan dia paling benci menjadi bahan tawar-menawar politik.
Dengan sisa energi motorik terakhir di tangan kanannya yang belum sepenuhnya lumpuh, Arunika palsu tidak meraih penawar ungu di tangan kembarannya. Sebaliknya, dia merenggut koper perak di dada Arsen, membuka paksa kompartemen vakumnya menggunakan kode biometrik tanda bulan sabit merah di bahu kirinya yang secara ajaib masih dikenali oleh sistem enkripsi Haryo.
Bzzzt! Klik.
### Detonasi Genetik di Altar Pemurnian
Sebelum Arsen atau Arunika asli sempat bereaksi, Arunika palsu mengambil salah satu tabung silinder berisi cairan amber Eclipse Omega murni, lalu menghujamkan jarum suntik otomatisnya tepat ke arah pembuluh darah karotis di leher kirinya sendiri!
"Arunika, jangan!" jerit Arunika asli, wajah rusaknya seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.
Wusss!
Cairan amber Eclipse Omega mengalir deras masuk ke dalam sistem sirkulasi darah Arunika palsu, memicu reaksi berantai biologis yang luar biasa masif dan brutal di dalam sel tubuhnya. Reaksi antara neurotoksin biometrik keunguan dengan sel progenitor murni Eclipse menciptakan getaran hebat di bawah kulitnya. Arunika palsu memekik tertahan, tubuhnya melengkung kaku di atas lantai besi kabin helikopter saat seluruh jaringan sarafnya dipaksa beregenerasi dan bermutasi secara ekstrem di bawah suhu minus tiga puluh derajat Celsius.
Garis-garis biru pekat di lehernya mendadak berpendar memancarkan cahaya amber terang yang samar menembus kulit mulusnya—sebuah tanda bahwa sel tubuh replikanya yang hampa dan telah dikondisikan oleh penderitaan selama dua puluh dua tahun, kini berhasil menyerap kultur genetik Eclipse Omega tanpa memicu degradasi organ seperti yang terjadi pada Valeria di Zurich!
Efeknya instan. Kelumpuhan motorik di lengan dan kaki kirinya lenyap seketika, digantikan oleh gelombang kekuatan biologis baru yang membuat sepasang mata porselennya berkilat memancarkan pendar amber murni—sebuah tatapan dari seorang penguasa sejati yang telah terlahir kembali dari neraka klonasi.
Arunika palsu bangkit berdiri dengan keanggunan yang luar biasa mematikan, mantel bulu serigalanya berkibar ditiup angin badai Rusia. Dia menatap Arunika asli dengan senyuman kejam yang amat dingin.
> "Kau salah menilai wadah yang tidak sempurna ini, Kembaranku," bisik Arunika palsu, suaranya kini terdengar begitu luwes, tebal, dan sarat akan kematian yang murni. "Haryo Valentino menginginkan sebuah pemurnian? Maka biarkan aku yang menjadi Altar terakhir yang akan membusukkan seluruh wajah barunya di pangkalan ini."
>
Dengan satu gerakan refleks yang melampaui batas kecepatan manusia normal, Arunika palsu merebut pistol taktis milik Arsen, lalu melepaskan satu tembakan presisi yang menghancurkan botol penawar ungu di tangan Arunika asli hingga cairannya tumpah sia-sia di atas salju es.
Bang!
Kericuhan baru seketika pecah saat gerbang beton kompleks Altar Pemurnian di depan mereka mendadak terbuka lebar secara mekanik. Dari dalam koridor beton yang remang-remang, belasan pasukan khusus Rusia berbaju zirah taktis berat keluar dengan senapan otomatis terkunci ke arah mereka, dipimpin langsung oleh pria paruh baya dengan setelan jas wol mewah yang wajah barunya telah mereka lihat di layar monitor gerbong kereta sebelumnya—Haryo Valentino yang asli.
Pria tua itu menatap Arunika palsu yang kini berdiri dengan pendar cahaya amber di bawah kulit lehernya dengan sepasang mata elang yang memancarkan obsesi ilmiah yang luar biasa gila penuh kemenangan mutlak.
"Luar biasa... Proyek Eclipse akhirnya menemukan wadah sempurnanya di dalam tubuh sebuah salinan jalanan!" teriak Haryo Valentino yang asli, suaranya menggema membelah badai salju Murmansk. Dia mengacungkan sebuah perangkat detonator nirkabel kuno dinasti Valentino yang terhubung langsung dengan sirkuit penghancur darurat di dalam helikopter siluman aliansi barat.
Haryo menekan tombol aktivasi pada perangkat tersebut, memicu rangkaian ledakan elektromagnetik termal tersier yang menghancurkan seluruh sisa badan helikopter, melemparkan Arsen, Arunika palsu, dan Marco terpelanting masuk menembus pintu gerbang beton bawah tanah Altar Pemurnian yang seketika menutup rapat secara otomatis, menyegel mereka di dalam labirin steril terdalam Rusia Utara.
Di dalam kegelapan koridor Altar yang kini hanya diterangi oleh lampu indikator biosensor merah yang berkedip cepat, sebuah suara langkah kaki yang sangat berat dengan ketukan sepatu bot besi kuno mendadak terdengar berjalan mendekati posisi mereka dari arah ujung lorong yang gelap—sesosok pria raksasa yang mengenakan topeng besi pelindung wajah penuh dengan logo faksi Eclipse yang asli yang memancarkan aura maut dari masa lalu dinasti mereka.
**Bersambung ke Bab 32...**
* Siapakah sebenarnya sosok pria raksasa bertopeng besi yang muncul dari balik kegelapan lorong terdalam Altar Pemurnian Murmansk tersebut?
* Apakah Haryo Valentino yang asli telah menyiapkan seorang 'Penjaga Altar' dari silsilah darah masa lalu yang sengaja disembunyikan untuk mengeksekusi Arsen dan Arunika palsu jika eksperimen biologisnya berhasil menyatu?
* Dan bagaimanakah nasib batin kegelapan Arunika palsu saat mutasi sel Eclipse Omega mulai menyerang sisa-sisa kewarasan manusianya di dalam labirin beku Rusia Utara?
Jangan lewatkan badai intrik politik dan letupan konflik luar biasa yang kian memuncak di bab berikutnya!