Bertemu dengannya Membuatku Terpesona Tapi... Aku sadar bahwa dia adalah Ustadz. Apa Bisa perempuan biasa sepertiku bisa mendampingi seorang yang sangat alim?.
"Boleh kan Alif memanggil Kak Cia Sebutan Bunda?" tanya anak kecil polos itu kepadaku..
Hah, mimpi apa aku semalam, ayahnya itu Ustadz Cia, sadar sadar.
"No Alif, No aku bukan bunda mu" jawab ku seadanya.
" Makanya Alif ingin Kak Cia Jadi Bunda Alif" Jawab anak kecil ini tetap kekeh dengan permintaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Salmah Inara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Tidak Enak
Sebelum Membaca Jangan Lupa like,Komen Dan Vote.
.
.
.
Kak Latif menyeret tanganku sampai ke depan mobil segera ku tempis.
"Kak Latif apa-apa sih datang datang langsung narik aku kaya pacar aja langsung di seret " gerutu ku kesal sambil memegang tangan kanan yang agak merah.
Latif melihat tangan kananku langsung menariknya dan memeriksanya.
"Maafin kakak ya ci, habisnya saya cemburu liat kamu sama yang lain"
"Biar saya obati di dalam mobil kamu ada Kotak P3k kan mari saya obati" ucap kak Latif langsung menarik tangan ku masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah di buka oleh Arka.
Arka menjalankan mobil sesuai perintah kak Latif.
Kak Latif sibuk mengobatiku terlihat di wajah kak Latif ia merasa bersalah. Tapi kenapa kak Latif bisa cemburu padahal kan aku sama mas azzam baru saja kenal.
Ku tatap wajah kak Latif, tampan, hidung mancung, badan kekar, seragam polisi seperti kak Irfan, iyalah dia kan sahabatnya.
"Kalau besok tangan kamu masih sakit, biar kita ke rumah sakit" ucap kak Latif lalu memandang wajahku. AKu jadi salting.
"Ngga usah kak, lagian Luka kecil gini"
"Yaudah lah terserah kamu, keras kepala" ucapnya mengusap kepalaku, ku tersenyum melihat perhatian kak Latif.
Aku memandangi keramaian di kota Jakarta.
"Kita mau kemana?"
"Ke rumah, lagian bukankah kau sudah bersenang senang?"
"Hmm" aku mengangguk setuju.
"Dimana dua algojol yang selalu bersamamu?" Tanya kak Latif penasaran msnatapku.
Algojol? Aku berpikir keras hingga aku teringat Fatimah dan Lisa yang selalu bersamaku. Mungkin kak Latif menyebutkan kedua sahabatku dengan sebutan algojol aku jadi tidak terima .
"Mereka sahabatku kak , bukan algojol!" Ucapku membela kedua sahabatku.
Kak Latif terkekeh geli, Arka yang sambil menyetir diam diam menatap ke arah spion dan menahan tawa.
"Terserah kamu lah, algojol kamu kok tumben gak ngikut" Tanya kak Latif meledek.
"Mereka sibuk dengan kehidupan mereka" jawabku ketus.
Kak Latif mencubit pipiku.
"Jangan marah Nanti Cantiknya Hilang" ledek kak Latif.
Ku tatapi dengan mata tajam ku, kak Latif bergidik ngeri melihatnya.
"Ih serem amat" Ucap kak Latif sok takut.
Aku tak menghiraukannya.
"Kau tau sepanjang hari kak Latif terus memikirkanmu" goda kak Latif yang udah terbiasa.
"Maaf kak, gombal nya receh"Jawabku ketus
"Ish kau ini"
"setiap memandang wajahmu..."
"basi kak" Tegasku nampak acuh.
kak Latif malah tertawa geli
Sepanjang perjalanan kak Latif terus menggodaku. Aku malah acuh. Ku Pasangan earophone di hp memutar alunan musik.
"Kau ini di gombal malah sibuk dengerin musik" kesal nya melihat tingkahku.
"Hehehe" jawabku Cengengesan sambil mendengarkan musik.
Susah payah Azzam membawa Alif masuk ke mobilnya. Alif yang di samping azzam menyetir terus merengek memanggil nama Cia.
Kenapa anak ku begitu Erat seolah tak ingin lepas dari gadis itu, Cia batin Azzam merasa kasihan anaknya terus saja memanggil nama Cia .
"Kak Cia Bi, Kalau saja Alif sebesar Abi, pasti alif akan ngejar kak Cia dan jadi istri Alif, biar kak Cia bisa selalu di samping Alif" rengek Alif sambil mengucek ngucek matanya.
Azzam membesar kan matanya, berulang kali mengusap telinga mata apa salah dengar sambil menyetir.
"Alif!"
"Alif mau beli permen lolipop yang disitu Bu" tunjuk Alif dengan tanganya mengarahkan pada pedagang di jalanan. Azzam menepikan mobilnya.
Azzam mempunyai mobil sendiri tapi jarang di gunakan, di gunakan hanya seperlunya saja.
"Bi ayo..." Ucap Alif dengan senang mengandeng tangan Azzam.
Azzam merasa ada yang kurang , ia rogoh sak di celananya. Ia lupa membawa dompet.
"Abi lupa bawa Dompet lif, Abi ambil dulu dompetnya kayaknya ada di mobil" Ucap Azzam melepaskan tangan Alif dan kembali masuk ke dalam mobil mengambil dompet.
Alif mengunggu abinya dengan gusar.
"Lama banget sih Abi!" Gerutu Alif.
Alif menatap pada pedagang permen lolipop , ketika harus kesana Alif harus melewati jalan raya , banyak mobil yang kesana kemari ramai tanpa berhenti. Alif membayangkan bahwa ia sedang memakan permen lolipop tanpa sadar ia menjilati bibirnya sendiri.
"Yummy, pasti enak" Ucap Alif membayangkan ia sedang makan permen.
"Abi lama sih" tanpa pamit dengan Azzam, Alif langsung berlari ke jalan raya.
Alif berlari hingga ke tengah-tengah jalan raya ada sebuah Mobil Berjalan dengan cepat ke arah Alif. Alif diam membisu menatap mobil yang berjalan di arahnya. Mobil itu semakin cepat ke arah bocah itu.
"Aaaaaaaaa........" Teriak alif
BRUKH
"ALIIIIIIIIIIFF............" Teriak Azzam berlari ke alif yang tergeletak bersimbah darah.
Nafas Alif terengah-engah.
Azzam memangku tubuh kecil Alif, tubuh Alif mengeluarkan darah, kepala nya terbentur hingga darah terus mentes.
"Alif kamu harus kuat Nak" Ucap Azzam menahan air mata nya melihat anak semata wayangnya jatuh.
"Hohhh...hohh... Aaaabb-i ma-aaffiin Alif hoh.." ucap Alif dengan nafas ter-engah-engah ia berusaha berbicara meski nadanya pelan.
"Ini bukan salah kamu Alif"
Alif yang kehabisan sisa tenaga langsung pingsan.
"ALIF, BANGUN NAK! KAMU PASTI KUAT!" Teriak Azzam mengoyang goyangkan tubuh alif,
"Lebih baik di bawa ke rumah sakit Nak" Ucap Orang yang memperhatikan kami
orang orang sudah bergerumbul, menyaksikan bagaimana tragisnya Alif di tabrak mobil.
Mobil yang Menabrak Alif melarikan diri.
Azzam dengan segera langsung menggendong Alif membawa nya Mobil. Azzam yang khawatir langsung membawanya ke rumah sakit.
"Kamu harus bertahan Alif" Ucap Azzam melihat Alif yang berada di kursi belakang. Tak terasa butir butir air mata jatuh ke pipinya. Bagaimana tidak keadaan Alif yang bersumpah darah.
Azzam mengendarai mobilnya dengan cepat.
PRANG.....
Gelas yang ku pegang berisi air minum pecah.
Aku yang sedang berada di dapur bersama kak latif.
Tiba tiba perasaanku tidak enak entah kenapa aku jadi teringat Alif tadi pagi aku meninggalkan nya aku tak tega.
"Kau tak apa ci?" Tanya kak Latif mendekatiku nampak wajahnya begitu khawatir.
"Tidak apa-apa kok kak, aku ke kamar dulu, kak Latif ngobrol sama kak Irfan aja " pamitku berlalu di hadapan kak Latif.
Aku jadi gelisah memikirkan Alif. Segera ku hubungi mas Azzam sambil menginjakan kaki ke tangga
entah kenapa perasaan ku tak enak memikirkan Alif.
Ada apa dengan Alif?bagaimana keadaan nya sekarang?, batinku bertanya tanya memikirkan keadaan alif
nama nya siapa sih ,ku penasaran akhirnya 🤭