Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saham Untuk Triplets
Beberapa hari kemudian.
Leon melangkah gagah memasuki lobi perusahaan yang selama ini ditinggalkannya.
Wajahnya yang sumringah tak bisa menyembunyikan kegembiraan mendalam karena hari ini, ia kembali ke kursi kebesaran yang pernah diambil dari Agra walau hanya beberapa saat.
"Hei, Farad , Fared dan Farid! Ayo ke sini!" serunya begitu melihat ketiga anak kembarnya berlarian tak jauh dari pintu masuk.
Mereka dengan langkah kecil dan cepatnya mendekat, mata mereka bersinar-sinar penuh kekaguman melihat di sekelilingnya.
"Papa, ini kantor Papa, ya?" Farad, yang paling besar tubuhnya di antara ketiganya, bertanya sambil menarik-narik ujung jas Leon.
"Iya, Nak. Ini tempat Papa bekerja," jawab Leon sambil membungkuk, menyesuaikan tinggi pandangnya dengan Farad.
Fared menunjuk ke arah jendela besar di ujung ruangan.
"Wah, keren! Lihat itu, Farid! Kita bisa lihat gedung-gedung tinggi dari sini!"
Farid yang tak kalah takjubnya, berlari ke jendela dan menempelkan wajahnya pada kaca.
"Wow, keren banget! Papa, dari sini semua mobil kayak mainan ya?"
Leon tertawa dan mengangguk. "Iya,dari sini semuanya terlihat kecil, kan?"
Ketiga anak itu mengangguk serius, Leon lalu membawa mereka ke ruang kerjanya, melewati barisan karyawan yang, memberikan salam hormat.
"Selamat datang kembali, Pak Leon!"
"Terima kasih, terima kasih semua.
Senang bisa kembali," sahut Leon sambil menuntun ketiga buah hatinya memasuki kantor yang luas dan elegan itu.
Farad, Fared dan Farid, yang kini duduk di kursi empuk di depan meja kerja Leon, saling berbisik sambil sesekali terkikik.
"Papa, kita boleh main di sini nggak?" Farad bertanya dengan mata berbinar penuh harap.
"Boleh, tapi jangan terlalu ribut ya. Papa masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Leon sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dan pena dari laci meja kerjanya.
"Hebat ya, Papa bisa jadi pemimpin di
tempat sebesar ini," ujar Fared, matanya tidak lepas dari layar komputer yang menampilkan grafik dan angka-angka.
"Haha, nanti kalian jika sudah besar juga seperti ini," ucap Leon.
Leon lalu melihat Farad asyik bermain
dengan keyboard, layar komputer
menampilkan barisan kode yang tampak rumit.
"Farad, kamu sedang apa itu?" tanyanya dengan nada heran.
Farad yang terlihat sangat fokus, menoleh dan tersenyum."Papa, aku lagi coba bikin program sederhana.
Om Agra kan sering ngajarin aku coding."
"Agra?" Leon mengerutkan keningnya.
"Iya, Papa. Aku sering main ke kosnya dan Om Agra ngajarin aku banyak tentang komputer," jelas Farad dengan nada yang lugu.
Leon duduk di samping Farad, matanya tidak lepas dari layar yang penuh dengan kode.
"Farad, kamu ingat apa yang diajarkan Agra ke kamu?"
"Dia bilang, coding itu kaya sulap. Kalau kita tahu caranya, kita bisa bikin komputer melakukan apa saja yang kita mau."
Leon merenung sejenak, kemudian bertanya lagi, "Farad, apa kamu pernah lihat Agra ngelakuin hal aneh?"
Farad mengerutkan dahi, mencoba nengingat.
"Hmm, dia pernah bilang dia bisa masuk ke sistem mana saja, dan dia pernah tunjukkan gimana caranya.
Tapi beberapa aku nggak ngerti, Pah. Itu terlalu rumit buat aku."
"Farad, apa kamu bisa tunjukkan apa yang pernah Agra tunjukkan ke kamu itu?"
Farad mengangguk.
Dengan hati-hati, Farad mulai mengetikkan beberapa baris kode.
Leon mengawasi layar dengan penuh perhatian.
Tidak lama, sebuah akses terbuka menunjukkan database internal perusahaan.
Leon tercengang.
"Papa, ini dia. Om Agra bilang ini gampang banget," kata Farad sambil tersenyum bangga, tidak menyadari keseriusan situasi tersebut.
Leon segera menyadari bahwa kemungkinan besar Agra telah membobol sistem keamanan perusahaannya.
"Farad, Om Agra memang pintar, tapi dia membuat beberapa kesalahan besar. Kamu tahu tidak, dia menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang tidak baik."
Farad memandang Leon dengan mata yang penuh tanya. “Maksud Papa , Om Agra berbuat nakal?"
"Ya, sayang. Dia menggunakan keahliannya untuk masuk ke sistem perusahaan ini tanpa izin. Itu kenapa dia sekarang ada di tempat yang sangat jauh dari kita," jelas Leon, mencoba memberikan pemahaman yang sesuai usia Farad.
Fared dan Farid yang mendengarkan
percakapan itu juga ikut merapat, wajah mereka penuh keingintahuan.
"Papa , kenapa Om Agra melakukan itu?" Tanya Fared, suaranya lembut.
"Karena sejak dulu dia sangat membenci papa dan ingin menghancurkan perusahaan ini," jawab Leon.
Farad diam, selama ini dia masih kurang paham apa yang dilakukan benar atau tidak, tapi ia memulai menyadari apa yang ia lakukan saat ini sangat melanggar hukum.
Leon mengusap kepala Farad. "Tapi di usiamu segini sudah sangat hebat karena mampu melakukan ini, jika ingin melakukan itu izin Papa dulu. Papa akan menuntunmu ke arah yang baik."
"Iya, Pah. Aku akan ingat ucapan Papa."
Saat bersamaan, pintu kantor Leon terbuka perlahan dan Alya melangkah masuk dengan gaya yang anggun.
Rambutnya yang panjang terurai lembut, berkilauan di bawah cahaya lampu, dan gaun biru muda yang dikenakannya menambah aura kecantikan yang tak terbantahkan.
Leon menatapnya, matanya berbinar takjub dan cinta yang dulu pernah pudar kini kembali membara.
"Wow, Mama cantik sekali!" seru Farad yang pertama kali memecah keheningan.
Alya tersenyum lebar dan mendekati ketiga anaknya, memberikan masing-masing pelukan hangat.
"Terima kasih, sayang. Kamu juga ganteng dengan baju baru itu."
Leon berdiri, mengambil beberapa langkah mendekati Alya.
"Kamu terlihat sangat cantik." Leon mencium kening Alya.
Alya membalas dengan senyum yang membuat hati Leon semakin berdebar.
"Terima kasih dan aku ingin hari ini spesial, tahu kan, kita punya banyak yang perlu dibicarakan," ucap Alya.
Leon mengangguk, menggenggam tangan Alya dengan penuh cinta.
"Ya, aku tahu. Aku sudah tidak sabar menunggu dua minggu lagi. Rujuk denganmu adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat."
Leon memeluk Alya dan anak-anaknya mendekat untuk ikut memeluk kedua orang tua mereka.
Di sana, di tengah-tengah kantor yang kembali menjadi miliknya, Leon merasa lengkap dan sempurna.
"Oke baiklah, cukup pelukannya," ucap Alya.
Alya membuka tas besar yang di bawanya.
"Tada! Lihat apa yang Mama bawa!"Ucap Alya dengan nada penuh kejutan.
Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan beberapa kotak makanan yang masih mengeluarkan uap hangat.
"Wah, apa itu, Mah?" tanya Farid, matanya membesar melihat kotak-kotak makanan yang diatur Alya di atas meja kecil di sudut kantor Leon.
"Ini spesial, Mama masak soto ayam dan beberapa serundeng daging sapi," jawab Alya sambil membuka satu persatu kotak makanan tersebut.
"Wow, ini enak banget, aku suka!" seru Farad, ia dan saudara-saudaranya langsung duduk mengelilingi meja kecil itu.
Leon melihat mereka dengan senyum hangat. Ia mengambil tempat di samping Alya dan membantu menyajikan makanan pada piring anak-anak.
Alya memandang Leon dan mereka saling bertatapan sambil melempar senyuman.
"Aku tahu kamu masih berat menerimaku karena masa lalu kita sangat membuatmu trauma, tapi aku sangat berterima kasih karena kamu mau melawan rasa trauma itu," ucap Leon.
"Sudah 6 tahun berlalu dan harusnya aku bisa bangkit, aku sadar jika selama ini aku hanya digelayuti rasa takut, kamu juga sudah mau berubah dan itu membuatku yakin untuk mau rujuk denganmu," ucap Alya.
"Aku janji tidak akan memukulmu atau membentak mu lagi, maka dari itu kita harus membuat perjanjian pra nikah," jawab Leon.
"Aku percaya padamu, tapi Mamamu masih belum merestui kita," ucap Alya.
"Lambat laun dia akan merestui kita. Yang penting Papa sudah memberi lampu hijau pada kita."
Kemudian mereka menikmati hidangan soto ayam dan serundeng sapi. Meja yang biasanya digunakan untuk rapat dan pekerjaan, kini berubah menjadi tempat untuk berkumpul dan menikmati waktu bersama keluarga.
Leon terlihat sangat lahap menyantap soto ayam yang disajikan di depannya.
Tangannya seolah tak henti menggenggam sendok dan garpu, menghabiskan lauk pauk yang ada di piringnya.
Sementara itu, Farad, Fared dan Farid juga tak kalah lahapnya, senyum kebahagiaan terpancar di wajah mereka saat menikmati makanan yang lezat ini.
"Masakanmu ini, Alya, memang yang terbaik yang pernah ada," puji Leon sambil tersenyum lebar.
Alya yang mendengar pujian tersebut, tersenyum malu sambil menatap ketiga anaknya yang sedang asyik menyantap hidangannya.
"Terima kasih. Aku senang kamu dan anak-anak suka," ucap Alya dengan lembut.
Di tengah kebahagiaan tersebut, ketiga anak kembarnya tampak bercanda dan tertawa bersama, sesekali saling menyendok kan makanan satu sama lain.
"Mama tuh jarang masak," ucap Farad.
"Benarkah? Mama kalian sehebat ini jarang memasak?" tanya Leon.
"Betul, Mama nggak ada uang buat masak enak," sahut Fared sambil mengunyah makanannya.
Leon merasa bersalah. "Pasti selama ini sangat berat kehidupan kalian."
"Nggak seberat itu kok, kami punya Mama yang kuat dan itu cukup untuk kamu, dan tidak lupa makanan yang lezat ini." Ucap Farad yang diangguki oleh kedua saudaranya.
Leon menatap mereka dengan haru karena anak-anak nya yang begitu mencintai ibunya.
Leon melirik Alya "Masakanmu ini, Alya, memang yang terbaik yang pernah ada," puji Leon sambil tersenyum lebar.
Alya yang mendengar pujian tersebut, tersenyum malu sambil menatap ketiga anaknya yang sedang asyik menyantap hidangannya.
"Terima kasih. Aku senang kamu dan anak-anak suka," ucap Alya dengan lembut.
Leon tersenyum. "Pokoknya mulai hari ini kalian bisa meminta dimasakin Mama kalian, Papa yang akan menjamin uang belanja Mama kalian."
"Wah... Papa kaya! Papa kaya!" teriak Fared senang.
Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Asyik! Misi kita cari Papa sudah berhasil dong?" tanya Farid.
"Iya bener, kita udah punya Papa!" teriak Fared sangat senang.
"Ada-ada saja kalian," ucap Alya tersenyum.
Disaat yang bersamaan.
Rafael masuk ke kantor, ia melihat Leon tertawa lepas, ia menyaksikan jika Leon bisa bahagia dengan para anak-anaknya dan terutama dengan Alya.
"Opa!" teriak Farad.
Mereka menoleh bersama-sama. "Wah, malah piknik di sini," ucap Rafael menghampiri mereka.
"Opa! Opa! Lihat deh gedung-gedung di depan sana. Keren 'kan?" tanya Fared antusias.
"Iya, wah... ini pertama kalinya kalian lihat pemandangan ini?" tanya Rafael sambil menggendong Fared yang mendekatinya.
"Iya! Iya! Seruuuu!" jawab mereka bersanma-sama.
Alya berdiri dan tersenyum kecil melihat calon mertuanya itu.
"Pak Rafael mau makan?" tanya Alya.
"Tidak perlu, Alya. Aku datang ke sini untuk memanggil kalian untuk peresmian di bawah karena acaranya akan mulai," jelas Rafael.
Leon melihat ke arah jam. "Benar, sebentar lagi akan mulai. Yuk kita ke bawah!"
Perusahaan ini akan berganti nama menjadi F3A Group sesuai inisial dari anak-anak kembar Leon.
Mereka turun ke bawah bersama-sama dan sesampainya di sana semua orang bertepuk tangan dengan kehadiran si kembar yang menggemaskan.
"Wah... banyak balon dan kue besar," ucap Fared.
Acara pun dimulai dengan doa lalu pembacaan nama baru perusahaan dan kemudian barulah potong kue diwakili tiga kembar genius itu.
Leon kut memegangi pedang panjang untuk memotong kue tersebut dan diikuti tangan-tangan mungil anaknya.
"Satu, dua, tiga."
Tangan mereka bergerak bersama-sama memotong kue.
Semua orang bertepuk tangan dan berharap penggantian nama ini bisa membuat perusahaan semakin berkembang dan bangkit dari keterpurukan.
"Yeaaay!" teriak si kembar senang.
Fared berjingkrak-jingkrak sampai tersandung dan menabrak kue setinggi 1 meter tersebut.
Wajahnya terhantam kue,semua orang kaget tapi dua kembar lainnya malah menertawainya.
"Buahahahaha...." Tertawa dari kedua saudaranya.
Fared yang kesal mengambil kue itu dan dihantamkan ke wajah mereka, kemudian terjadilah perang kue yang membuat mereka semakin senang.
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan