Kabur dari rumah agar terhindar dari perjodohan yang tak di inginkan, namun siapa sangka Eliana justru masuk kedalam lubang buaya. Ia harus berurusan dengan seorang lelaki yang super nyebelin menurutnya yang telah mempekerjakan dirinya sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah lelaki itu.
Dan masih banyak lagi kisah cinta pasangan muda mudi yang akan menemani Eliana di setiap episode nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diah mahlipi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan
"Ja-jadi, om orang yang waktu itu?" Eliana kaget bukan main.
Aaron bungkam, ia menatap El dalam.
"Kenapa? Kenapa om mencium ku waktu itu? Apa karena aku satu-satunya wanita yang bisa om sentuh? Jadi om bisa seenaknya mempermainkan aku? Dan sekarang, apa om juga sedang mempermainkan aku, memanfaatkan aku?" hardiknya dingin.
"Bu-bukan begitu... " Aaron bingung, ia tak tau harus bagaimana cara menjelaskan nya.
" Keluar...," usir Eliana tanpa melihat Aaron.
Aaron tertegun, spontan tangannya langsung menggenggam tangan El erat.
"El ... aku minta maaf atas perbuatan aku dulu. Tapi jujur, aku melakukan itu bukan karena kamu yang bisa aku sentuh, apa lagi mempermainkan kamu! Itu karena aku, aku... " Aaron menjadi gugup.
" Karena aku menyukai kamu!" ungkapnya malu dengan wajah tersipu.
"Mana mungkin? saat itu aku masih kecil om." Eliana tak percaya.
Aaron menyentuh pipi El lembut dan menatap kedua bola matanya.
"Aku tau," Aaron berusaha meyakinkan, " tapi aku benar-benar suka sama kamu saat itu. Aku selalu memperhatikan gadis kecil yang ceria, pintar dan begitu lucu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa suka sama anak kecil yang masih berusia 11 tahun dulu," jujur Aaron bercerita serius.
El mengalihkan pandangannya kearah lain." Lalu masalah aku ada di sini, kabur dari rumah, apa ada kaitannya sama om? "
Aaron mengangguk pelan.
" Jelaskan," pinta El tegas.
Aaron menghembuskan nafasnya dalam. Menatap sedih El yang tak ingin menatapnya.
"Kalau kamu ada di sini itu murni karena kebetulan, dan mengenai kamu kabur dari rumah itu juga murni keinginan kamu, bukan? Tapi... "
Al menarik sebelah alisnya menatap Aaron yang berhenti berbicara.
" Tapi...?" tanya El penuh selidik.
"Tapi aku lah yang menyebabkan membuat kamu kabur dari rumah. Kamu tau, om Bram ingin menjodohkan kamu, kan?" El mengangguk dengan tatapan curiga.
"Aku lah lelaki yang ingin di jodohkan sama kamu oleh om Bram. "
" Apa!" Kaget... tentu saja, mana mungkin tidak? El berpikir jika yang di jodohkan dengannya adalah seorang lelaki tua, botak dan gendut.
"Ya, aku lah yang ingin di jodohkan sama kamu oleh om Bram. Dan itu atas permintaan aku," ucapnya lirih menatap sendu.
Eliana tersentak, ia masih tak percaya.
"Aku bukanlah lelaki yang pandai berkata, atau pandai merayu wanita, apa lagi mengatakan cinta padanya. Aku bingung, usia kamu sudah cukup dewasa, dan aku takut, aku gelisah kamu akan di ambil laki-laki lain kalau aku tidak bertindak." Aaron menghentikan ucapannya sejenak mengambil nafas.
"Dan saat kebetulan perusahaan om Bram mengalami masalah. Aku tau cara memperbaiki semuanya dengan mudah. Dan kesempatan itulah aku ingin membatu perusahaan kekurang kamu, namun dengan satu syarat ... dan syaratnya adalah menikahi kamu!" Aaron menjelaskan.
"A-aku tau cara aku salah, karena sudah memanfaatkan keadaan dan menukar kamu sebagai gantinya. Tapi gak ada cara lain, Eliana. Aku ... aku gak berani mengatakan langsung sama kamu, aku terlalu gugup."
Eliana menatap kedua mata Aaron dalam, ia mencari sebuah kebohongan di sana. Namun sayangnya ia selalu menemukan kejujuran dan ketulusan. Bahwa lelaki di hadapannya ini tidak berbohong padanya, dan tulus mencintainya. Air matanya pun mengalir, dengan cepat El mengusapnya dan menatap kearah lain.
"Eliana, aku sungguh minta maaf karena tidak jujur sama kamu. Aku takut kamu pergi ninggalin aku kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Tolong, percayalah sama aku, yang aku katakan itu semuanya serius. Aku benar-benar cinta sama kamu!"
Eliana masih enggan menjawab, ia tetep mengalihkan pandangannya kearah lain. Dan sesekali tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi.
"El... " Aaron memanggilnya lembut, perasaannya was-was.
" Keluar lah!" usir Eliana lirih.
"El! "
" Aku ingin sendiri dulu, tolong keluar lah. "
Aaron mendesah kecewa. Ia sedih melihat Eliana tak ingin berbicara padanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang, ia benar-benar takut kalau wanita yang ia cinta itu pergi meninggalkan dirinya. Tapi ia juga tak ingin memaksa, karena segala hal dengan yang di lakukan dengan terpaksa itu tidaklah baik.
"Baiklah, hari sudah hampir magrib. Mandilah! Jangan lupa sholat, aku tunggu kamu di bawah untuk makan malam. "
El masih tak bergeming, ia tak ingin menatap apa lagi menjawab. Aaron kembali mendesah, ia pun melangkah keluar dengan berat hati lalu menutup pintu dengan perasaan sedih.
El menangis pelan di dalam kamar, ia benar-benar syok dan tak percaya. Lelaki yang selama ini ia cari, ia bertanya -tanya kebingungan. Kenapa lelaki itu menciumnya, dan berusaha mencarinya. Namun karena tak menemukan jejak, El pun mencoba melupakan masa itu berpura-pura tidak pernah terjadi. Dan sekarang justru ia berhadapan dengan lelaki misterius itu, dan malah tinggal di rumahnya, mengatakan cinta padanya. Apa ini. sebuah lelucon?
"Dasar bodoh, kenapa kamu begitu bodoh, hah." teriak El sambil membekap mulutnya dengan bantal agar suara tak menggema.
DI lantai bawah, Aaron nampak murung. Ia terlihat gelisah tak karuan. Hatinya berkecamuk, antara takut dan was-was. Takut Eliana pergi meninggalkannya, was-was Eliana menolaknya.
"Tuan...!" Baron datang menghampiri.
"Hem... "
" Ada telpon dari Tuan besar, beliau meminta anda berkunjung ke rumah utama."
Aaron menghela malas." Katakan padanya aku sibuk. "
" Sudah, tapi Tuan besar bilang ini penting. Ini mengenai Nona Velari! "
Aaron menoleh pada Baron." Velari! di mana dia sekarang? "
" Ada di kediaman utama, Tuan!"
Tanpa pikir panjang Aaron langsung memakai jas hitamnya, lalu ia beranjak. Sesaat ia menghentikan langkahnya memutar balik tubuhnya menghadap kearah Baron.
" Siapkan makan malam untuk Eliana, katakan padanya aku pergi sebentar. Jadi tidak usaha menungguku untuk makan malam! "
" Baik Tuan." Baron membungkuk setengah badannya, dan Aaron sudah melaju kencang pergi meninggalkan rumah tanpa pamit pada Eliana yang masih di dalam kamar.
Selepas magrib kemudian, Eliana keluar dari kamarnya, perut juga terasa lapar mana mungkin ia bisa menahannya lebih lama.
Suara bunyi sepatu terdengar. Baron tersenyum menyabut Eliana yang sedang menuruni anak tangga. Sekilas manik itu menyapu isi ruangan, terlihat sedang mencari sesuatu di sana.
"Tuan lagi tidak ada di rumah, Non." Batin begitu peka menyadari, ia pun mengatakan.
"Pergi? ke mana? " tanya El mengerutkan keningnya.
" Kenapa gak bilang? katakan mau tunggu aku buat makan malam," batin El kecewa.
"Ke rumah utama, Tuan besar menelpon." Baron menjelaskan," Tuan berpesan agar Nona makan malam lebih dulu, dan tidak usah menunggunya."
"Apa dia gak pulang malam ini?" tanya Eliana.
Baron menggeleng sembari tersenyum. Lalu mempersilahkan Eliana untuk segera makan malam yang sudah tersedia.
Eliana mendesah lesu, ia menjadi tak bersemangat sekarang. Terasa ada yang hilang dalam hidupnya, padahal tadi ia tak. ingin berbicara pada Aaron, namun sekarang kenapa hatinya berkata lain saat lelaki itu tidak ada.