Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Pertama Kali Dekat
Lara menunggu di kedai kopi bawah dengan wajah siap berperang.
Begitu Senja muncul dari pintu samping bersama Rayhan, Lara langsung berdiri. Matanya menyapu wajah Senja yang masih sedikit merah, lalu turun ke tangan Senja yang baru saja dilepaskan dari genggaman Rayhan.
Rayhan melepas tangan itu satu detik sebelum Lara benar-benar melihat jelas.
Terlambat sedikit.
Lara melihat semuanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Lara, kali ini tanpa bercanda.
Senja mengangguk. "Lebih baik."
Lara menatap Rayhan.
Rayhan menatap balik dengan wajah datar.
Ada jeda tegang yang aneh antara sahabat yang protektif dan suami yang tidak terbiasa menjelaskan diri. Senja hampir panik, takut Lara akan mengatakan sesuatu yang tajam atau Rayhan menjawab lebih tajam.
Namun Lara hanya berkata, "Kalau dia nangis lagi karena orang Liem, jangan cuma duduk. Kasih dia makan juga."
Senja membeku. "Lara!"
Rayhan tidak tersinggung. Dia malah menjawab, "Sudah ada air."
"Air bukan makanan."
"Diketahui."
Lara menatapnya beberapa detik, lalu mendengus. "Dia memang menyebalkan, tapi setidaknya bisa dilatih."
Senja ingin menghilang.
Rayhan, tanpa perubahan ekspresi, berkata, "Aku berdiri di sini."
"Saya tahu, Pak Wijaya."
Untuk pertama kalinya, Senja melihat sudut bibir Rayhan bergerak samar karena Lara, bukan karena sinis. Itu cepat sekali, mungkin orang lain tidak akan menangkapnya. Tetapi Senja melihat.
Dan entah kenapa, melihat dua dunia kecilnya tidak saling menghancurkan membuat dadanya lebih longgar.
Di mobil pulang, Pak Hadi tidak banyak bertanya. Dia hanya memberikan kotak makanan hangat yang sudah disiapkan dari rumah.
"Nyonya, makan sedikit dulu."
Senja menatap Rayhan.
Rayhan menatap ke luar jendela. "Lara benar."
"Kamu mendengar Lara?"
"Sulit tidak mendengar."
Senja membuka kotak itu. Ada nasi lembek, ayam jahe, dan sayur bayam. Dia makan pelan. Rayhan tidak memaksa, hanya sesekali melihat dari sudut mata.
Jarak di antara mereka tetap ada, tetapi setelah sore tadi, jarak itu tidak lagi terasa kosong.
Malamnya, Senja mandi lebih lama dari biasa. Air hangat membuat bahunya yang tegang sedikit lepas. Ketika keluar, dia melihat saputangan Rayhan yang tadi dipakainya menangis sudah dicuci cepat oleh pelayan dan diletakkan di meja kecil, terlipat rapi.
Dia menyentuh kain itu sebentar.
Ada hal-hal yang tidak seharusnya terasa penting.
Saputangan, misalnya.
Namun hari itu, benda kecil putih itu seperti bukti bahwa tangisnya pernah terjadi dan tidak dihukum.
Di ruang keluarga kecil, Rayhan sedang duduk dengan laptop di meja rendah. Di sampingnya ada dokumen kerja, tetapi layar yang terbuka justru menampilkan denah Gedung Kesenian Jakarta.
Senja berhenti. "Kamu masih mengurus itu?"
"Ibu Ratna mengirim file tambahan."
"Sekarang sudah malam."
"Aku belum tidur."
"Itu bukan standar sehat."
Rayhan mengangkat pandangan. "Kamu sekarang memakai kalimat Tante Lian untuk menyerangku?"
"Efektif, kan?"
"Mengganggu."
Senja tersenyum kecil, lalu duduk di sofa seberang. Biasanya dia akan memilih kursi yang berjarak aman. Malam itu, tanpa terlalu sadar, dia duduk di sofa yang sama panjangnya dengan Rayhan, hanya dipisahkan meja rendah dan satu bantal kecil.
Rayhan memperhatikan, tetapi tidak berkomentar.
"Boleh lihat?" tanya Senja.
Rayhan memutar laptop sedikit ke arahnya. "Lampu panggung bagian kiri punya blind spot. Kalau koreografimu banyak bergerak ke area itu, perlu tambahan fokus."
Senja mendekat untuk melihat layar lebih jelas.
Aroma sabun dari rambutnya bercampur dengan cendana samar dari Rayhan. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk membuat Senja sadar napasnya sendiri.
"Bagian kiri bisa dipakai untuk transisi gelap," katanya, menunjuk denah. "Kalau konsepnya tubuh jatuh, mungkin justru bayangan itu berguna."
Rayhan menatap jarinya di layar, lalu wajahnya. "Kamu berpikir seperti sutradara."
"Aku penari."
"Penari yang mengatur ruang."
Senja tidak tahu apakah itu pujian, tetapi rasanya seperti pujian.
"Ko Jefri yang lebih ahli."
"Tapi ide ini milikmu."
Kalimat itu membuat Senja diam.
Milikmu.
Kata yang sederhana, tetapi masih baru di telinganya.
Rayhan melihat perubahan kecil di wajahnya. "Apa?"
"Tidak apa-apa."
Dia menyipitkan mata.
Senja mengangkat tangan cepat. "Aku tahu, kalimat itu dilarang. Aku hanya... tidak terbiasa mendengar sesuatu disebut milikku."
Rayhan tidak langsung menjawab.
Lalu dia menutup laptop setengah, memberi perhatian penuh padanya. "Biasakan."
Suara itu rendah.
Senja menatapnya.
Di luar ruang keluarga, rumah berjalan dengan sunyi. Pak Hadi mungkin sudah memeriksa pintu. Pelayan sudah kembali ke area belakang. Hujan tidak turun malam itu, tetapi udara masih lembap.
"Rayhan," kata Senja pelan.
"Hm?"
"Tadi di sanggar, waktu aku menangis... kamu tidak bertanya detail foto itu."
"Kalau kamu ingin menunjukkan, kamu akan menunjukkan."
"Kalau aku tidak pernah ingin?"
"Maka aku tidak melihatnya."
Jawaban itu masuk ke tempat yang sangat sunyi dalam dirinya.
Senja menunduk, memainkan ujung lengan piyamanya. "Aku belum siap."
"Aku tahu."
"Tapi mungkin suatu hari."
"Aku masih ada."
Tiga kata itu bukan janji besar. Tetapi bagi Senja, yang sepanjang hidup belajar bahwa orang bisa pergi begitu saja dari tengah foto, tiga kata itu cukup membuat tenggorokannya hangat.
Dia mengangguk.
Rayhan membuka laptop lagi, mungkin untuk menyelamatkan mereka berdua dari suasana yang terlalu dekat. Senja membantu memberi catatan pada denah, sesekali menunjuk area panggung, sesekali bertanya tentang biaya lampu yang menurutnya terlalu mahal.
Percakapan mereka bergerak pelan, tidak selalu halus, tetapi tidak lagi kaku.
Jam di dinding melewati pukul sepuluh.
Pak Hadi muncul di pintu, melihat mereka berdua duduk di sofa yang sama, lalu berkata sangat sopan, "Tuan muda, Nyonya, Tante Lian meminta Nyonya tidur sebelum sebelas."
Senja langsung duduk lebih tegak.
Rayhan menutup laptop. "Kami selesai."
Pak Hadi menunduk dan pergi, tetapi Senja yakin dia tersenyum.
"Aku bukan anak kecil," gumam Senja.
"Anak kecil biasanya lebih patuh," jawab Rayhan.
"Kamu sudah pernah mengatakan itu."
"Masih benar."
Senja mengambil bantal kecil di sampingnya, hendak memindahkannya ke tengah sebagai batas tak kasat mata. Namun saat tangannya bergerak, jarinya tidak sengaja menyentuh jari Rayhan yang juga hendak mengambil dokumen.
Sentuhan itu ringan.
Hanya ujung jari.
Namun keduanya berhenti.
Tidak ada yang menarik tangan.
Senja menatap jari mereka yang bersentuhan di atas sofa. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk sentuhan sekecil itu.
Rayhan tidak menatapnya, tetapi Senja bisa melihat rahangnya menegang sedikit.
Detik pertama berlalu.
Detik kedua.
Napas Senja tertahan, sementara layar laptop yang setengah tertutup memantulkan bayangan mereka yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
Di rumah yang sunyi malam itu, tangan mereka tetap berada di sana, bersentuhan tanpa alasan yang bisa mereka salahkan pada siapa pun lagi.