NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeda Sebelum Fajar

Van kargo berkarat itu melaju tanpa lampu utama, menyelinap di antara tumpukan kontainer raksasa yang berderet di dermaga tua. Udara malam beraroma asin laut dan oli bekas merangsek masuk lewat celah jendela kaca yang tidak bisa ditutup rapat.

Di kursi penumpang depan, Dino mendengkur halus dengan kepala bersandar di kaca, kelelahan setelah merayap di gorong-gorong vila. Sementara itu, di kabin kargo belakang yang gelap dan sempit, Rara duduk memeluk lututnya, sesekali meringis menahan dingin.

Di seberangnya, Arka duduk bersandar pada dinding seng van. Pria itu memejamkan mata, rahangnya mengeras menahan nyeri dari luka jahitannya yang berdenyut setiap kali mobil terguncang.

Mesin van mendadak mati. Kesunyian malam seketika merayap pekat.

"Kita sudah tiba di zona aman sementara," ucap Bara pelan dari balik kemudi, melepas sabuk pengamannya. Ia menoleh ke samping. "Bangun, Dino. Temani saya periksa perimeter luar."

Dino gelagapan bangun sambil mengelap ujung bibirnya. "Hah? Udah nyampe? Gila, pinggang gue rasanya mau copot duduk di jok sekeras batu ini."

"Bawa senjatamu. Jangan banyak mengeluh," potong Bara kaku, lalu membuka pintu. Dino hanya bisa bersungut-sungut pelan sambil mengekor asisten bosnya itu keluar, meninggalkan Rara dan Arka berdua di dalam van.

Rara menghela napas berat, perlahan bergeser sedikit mendekat ke arah Arka. Mendengar pergerakan itu, sang bos mafia membuka matanya. Wajahnya masih sepucat porselen, tapi sorot matanya setajam biasa.

"Gimana keadaan lo?" tanya Rara melunak, rasa khawatirnya mengalahkan kekesalan yang tadi memuncak di klinik. "Luka lo nggak pendarahan lagi, kan?"

Arka membalas tatapan gadis itu di tengah remang cahaya. "Saya bukan terbuat dari kaca. Guncangan seperti tadi tidak akan membunuh saya semudah itu," jawabnya parau dan angkuh.

"Sombong banget heran!" Rara mendengus, meski tangannya refleks menarik ujung selimut tipis dari klinik untuk menutupi kaki pria itu. "Dibilangin baik-baik juga. Kalau tadi van ini ngelindas lubang yang lebih gede, lo pasti udah pingsan lagi."

Arka tidak membalas omelan itu. Matanya justru terpaku pada tangan Rara yang sedikit gemetar saat merapikan selimut. "Tanganmu gemetar, Rara."

Rara buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik jaket kebesaran milik Bara. "Kedinginan, tahu! Udara pelabuhan nembus jaket. Lo kira gue gemetaran gara-gara takut sama lo?"

"Kau tidak pernah pandai berbohong," respons Arka datar.

Suasana kabin mendadak hening. Udara yang dingin entah kenapa terasa sedikit lebih padat.

Tanpa aba-aba, tangan kiri Arka yang besar dan dingin terulur, meraih pergelangan tangan Rara. Rara menahan napas, matanya membelalak kaget, tapi ia tak berniat menepisnya. Cengkeraman Arka tidak kasar seperti biasanya, melainkan kokoh dan menenangkan.

"Saya berjanji, kita akan keluar dari tempat kotor ini hidup-hidup," bisik Arka pelan, menatap langsung ke dalam manik mata Rara. Tidak ada senyum, tidak ada rayuan picisan. Hanya sebuah sumpah mutlak dari seorang pemimpin mafia yang tak pernah menarik kata-katanya.

Debar asing tiba-tiba menghantam dada Rara. Rara mengerjap, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas ke arah jendela kargo untuk menutupi salah tingkah.

"A-awas aja kalau omdo," cicit Rara gugup. Ia buru-buru merogoh saku celananya untuk mengalihkan pikiran, mengeluarkan sebuah ponsel BlackBerry yang layarnya gelap gulita. "Boro-boro mikirin janji lo, nyokap gue pasti udah histeris gue nggak pulang semalaman. Mana HP gue mati total lagi."

"Jangan coba-coba menyalakan ponsel itu, atau sinyalmu akan memanggil anak buah Naga Hitam kemari," peringat Arka, kembali ke nada dinginnya. Ia melepaskan tangan Rara, membiarkan gadis itu bernapas lega.

"Iya, iya, bawel! Ini juga baterainya habis. Besok baru gue cari colokan," sungut Rara.

Ketukan pelan terdengar di dinding luar van, disusul suara pintu depan yang ditarik terbuka. Bara dan Dino kembali masuk. Bara menyalakan senter kecil, menyorot sebuah peta usang di atas dasbor.

"Area luar steril, Bos," lapor Bara. "Pelabuhan tua ini sudah tidak beroperasi. Tapi kita tetap harus waspada, sinyal radio komunikasi mencurigakan mulai aktif di frekuensi terdekat."

Arka menegakkan punggungnya, raut wajahnya kembali keras. "Berapa lama kita bisa bertahan di sini sebelum fajar?"

"Maksimal dua puluh empat jam, Bos," jawab Bara. "Setelah itu, kita harus pindah ke kapal kargo penyelundup yang menuju perbatasan selatan."

Rara memijat pelipisnya, membayangkan pelarian yang tak kunjung usai. "Jadi buronan ternyata capeknya ngalahin ngerjain revisi skripsi, ya. Nasib kuliah gue gimana kalau kabur-kaburan sampai ke perbatasan begini?"

Dino yang duduk di depan menoleh ke belakang sambil cengengesan. "Tenang aja, Mbak Rara! Bos Arka hartanya melimpah ruah sampai nggak bakal habis tujuh turunan. Nanti minta aja dibikinin kampus sendiri, sekalian Mbak Rara yang jadi rektornya!"

"Tutup mulutmu, Dino," potong Arka tajam, membuat Dino langsung kicep dan menghadap depan lagi. Arka lalu melirik Rara. "Uang bukan masalah. Jika masalah ini selesai, saya bisa membeli kampusmu jika kau mau."

"Dih, mulai lagi deh sombongnya," cibir Rara, tapi sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis.

Bara menggeleng samar mendengar keributan kecil itu. "Lebih baik kalian tidur. Besok pagi, perjalanan kita akan jauh lebih berat."

Rara mengangguk patuh. Ia menekuk kakinya dan bersandar pada dinding seng van yang dingin, memejamkan mata mencoba meredakan lelah yang teramat sangat.

Tak lama kemudian, napas gadis itu mulai teratur. Kelelahan yang luar biasa membuat pertahanannya runtuh, dan ia tertidur pulas dalam posisi duduk yang kurang nyaman.

Di seberangnya, Arka membuka mata perlahan di tengah remang cahaya. Ia melirik sekilas ke arah Rara yang tertidur lelap dengan kepala terkulai miring ke samping. Tanpa ekspresi, bos mafia itu kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela, mengabaikan rasa sakit di perutnya demi tetap waspada mengawasi keadaan sekitar.

Di tengah buruan maut dan pengkhianatan yang mengancam nyawa, pelabuhan tua itu tidak memberi mereka tempat untuk bersantai hanya jeda singkat sebelum badai yang sebenarnya menghantam.

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!