NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023

Restoran Harmony selalu tahu cara membuat orang berbicara lebih pelan.

Pintu kayu gelap, lampu gantung hangat, aroma teh melati, dan suara piring porselen yang nyaris tidak terdengar membuat setiap meja terasa seperti ruang rahasia. Restoran itu terkenal sebagai tempat keluarga konglomerat makan tanpa terlalu banyak mata, meski tentu saja, mata selalu ada.

Meiran tiba bersama Sari.

Yanting sudah menunggu di area resepsionis. Ia mengenakan kemeja putih dan jas tipis, tidak terlalu formal, tetapi cukup untuk membuat staf menyapanya dengan hormat.

"Meiran."

"Ko Yanting."

Ia menatap ke belakang Meiran. "Pak Lo belum datang?"

"Dia bilang datang untuk mengamati interior."

Sari menunduk agar ekspresinya tetap profesional.

Yanting tersenyum tipis. "Alasan yang bagus."

Lima menit kemudian, Hafeng masuk.

Ia benar-benar membawa buku catatan kecil dan pulpen.

Meiran hampir tertawa.

Hafeng melihat ekspresinya. "Apa?"

"Tidak ada. Aku hanya menghargai dedikasimu pada interior."

"Bagus."

Yanting mengulurkan tangan. "Lo Hafeng. Kita bertemu lagi."

Hafeng menjabat tangannya singkat. "Kho Yanting."

Keduanya tersenyum.

Tidak hangat.

Lebih seperti dua pisau tajam yang dibungkus kain halus.

Mereka masuk ke ruang privat kecil yang dipesan Yanting. Meja bundar sudah ditata untuk tiga orang. Ada satu kursi menghadap taman kecil, satu kursi dekat pintu, dan satu kursi di antara keduanya.

Yanting menarik kursi yang menghadap taman untuk Meiran.

Hafeng menarik kursi di sisi lain pada saat yang sama.

Tangan mereka berhenti di dua sandaran kursi berbeda.

Meiran melihat keduanya, lalu memilih kursi tengah.

"Aku duduk di sini. Kalian bisa berhenti mendesain posisi dudukku."

Sari yang mengantar sampai pintu nyaris tersenyum sebelum pamit keluar.

Pelayan datang membawa menu.

Yanting berkata, "Aku ingat kamu tidak suka makanan terlalu berminyak. Di sini ikan kukusnya bagus."

Hafeng langsung menoleh pada Meiran. "Kamu tidak suka jahe terlalu banyak."

Meiran mengangkat alis. "Kalian berdua sedang menyusun biografiku lewat menu?"

Yanting tersenyum. "Aku hanya mengingat preferensi dari makan malam kemarin."

Hafeng membuka menu. "Aku mengingat dari kopi dan kantin."

"Informasi yang berbeda, sama-sama berguna," kata Meiran. "Pesan ikan kukus, sayur kailan, dan sup tahu. Jangan pesan terlalu banyak."

Kedua pria itu diam.

Pelayan menulis pesanan dengan wajah sangat terlatih untuk tidak bereaksi.

Saat makanan datang, percakapan dimulai dari proyek ruang publik. Yanting bertanya tentang riset pengguna. Hafeng mengkritik material lantai Restoran Harmony yang terlalu licin jika dipakai di ruang publik terbuka. Yanting menanggapi dengan contoh proyek mall yang gagal karena drainase buruk.

Meiran mendengarkan sambil makan.

Menarik.

Jika keduanya berhenti saling menusuk, mereka sebenarnya bisa membangun satu proyek yang bagus.

Masalahnya, keduanya tidak berniat berhenti.

"Pak Lo punya ketelitian teknis yang baik," kata Yanting setelah Hafeng menjelaskan pola sirkulasi restoran.

"Saya masih mahasiswa," jawab Hafeng.

"Mahasiswa yang berpikir seperti praktisi."

"Pujianmu terdengar seperti evaluasi."

"Kebiasaan kerja."

Meiran meletakkan sendok. "Kalau kalian ingin saling memberi nilai, aku bisa pinjamkan rubrik Pak Darma."

Yanting tertawa pelan.

Hafeng tidak tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.

Makan malam hampir berjalan normal sampai Yanting menuangkan teh untuk Meiran. Gerakannya biasa, sopan, tidak menyentuh. Namun Hafeng langsung mengambil teko kedua dan menuangkan air putih ke gelas Meiran yang bahkan belum kosong.

Meiran melihat gelas tehnya.

Lalu gelas air putihnya.

"Aku tidak akan dehidrasi dalam satu menit."

Hafeng meletakkan teko. "Restoran ini asin."

"Kamu belum makan bagian asinnya."

"Aku mengantisipasi."

Yanting tersenyum. "Antisipasi adalah kemampuan penting."

"Dalam desain, iya."

"Dalam hubungan juga."

Udara di meja berubah tipis.

Meiran menyesap teh, menyembunyikan senyum di balik cangkir.

**【Sistem Predator】Kompetisi halus terdeteksi. Respons target: protektif, defensif, peningkatan perhatian fisik.**

Nilai Cinta: 8.

Angka itu membuat teh terasa lebih hangat.

Setelah makan malam selesai, Yanting berdiri lebih dulu.

"Aku bisa antar kamu pulang."

Hafeng juga berdiri.

"Aku yang antar."

Meiran menatap Hafeng. "Aku datang dengan Sari."

"Sari bisa pulang dulu."

"Kamu memecat asistennya?" Yanting bertanya tenang.

"Aku menawarkan tumpangan."

"Dengan nada perintah."

"Kamu juga menawarkan."

"Dengan izin."

Meiran mengangkat tangan. "Cukup."

Keduanya diam.

Ia mengambil tasnya. "Aku pulang dengan Sari. Ko Yanting, terima kasih untuk makan malam. Hafeng, terima kasih untuk observasi interior yang sangat emosional."

Yanting tertawa pelan.

Hafeng menatapnya. "Emosional?"

"Kamu menuangkan air putih sebelum aku haus."

"Itu bukan emosi."

"Tentu. Itu desain pelayanan."

Meiran berjalan menuju pintu.

Di belakangnya, Yanting berkata, "Meiran."

Ia menoleh.

"Besok aku akan kirim referensi material yang kita bahas."

"Aku tunggu."

Hafeng langsung berkata, "Kirim juga ke aku."

Yanting menoleh padanya.

Hafeng menatap balik. "Untuk observasi."

Meiran menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa.

Di luar ruang privat, lampu restoran memantul di lantai marmer.

Di lobi, Sari sudah menunggu dengan tablet dan ekspresi profesional yang terlalu datar untuk situasi malam itu.

"Mobil siap, Bu Lim."

"Terima kasih."

Yanting menyerahkan kartu parkir pada asistennya sendiri, lalu berkata, "Aku akan tunggu sampai mobilmu jalan."

Hafeng langsung berdiri di sisi lain Meiran. "Tidak perlu. Aku juga turun."

"Mobilmu di basement?"

"Bisa jadi."

"Kamu tidak ingat parkir di mana?" tanya Meiran.

Hafeng menatapnya. "Aku ingat."

"Kalau begitu kenapa `bisa jadi`?"

Sari menunduk, jelas berusaha keras tidak terlibat.

Di luar lobi, hujan rintik mulai jatuh. Staf restoran bergerak cepat menyediakan payung untuk tamu. Yanting mengambil satu payung hitam dari staf dan menawarkannya pada Meiran.

Hafeng mengeluarkan payungnya sendiri lebih cepat.

Dua payung terbuka hampir bersamaan.

Meiran melihat dua kanopi hitam di atas kepalanya, lalu menatap kedua pria itu.

"Aku punya mobil di depan pintu, bukan harus menyeberangi Monas."

Yanting tersenyum. "Antisipasi."

Hafeng berkata, "Hujan."

"Penjelasanmu kalah elegan," kata Meiran.

"Tapi benar."

Untuk sesaat, Yanting dan Hafeng sama-sama memegang payung terbuka tanpa bergerak. Beberapa tamu yang lewat menoleh. Bahkan staf restoran terlihat ingin tahu siapa yang akan dipilih Meiran.

Meiran mengambil payung dari tangan Sari yang baru saja dibuka.

"Aku pakai punyaku sendiri."

Sari tampak lega karena akhirnya punya fungsi.

Meiran berjalan ke mobil tanpa menoleh. Di belakangnya, dua payung pria tetap terbuka sia-sia.

Chiko, yang entah bagaimana mendapat foto dari grup restoran, mengirim pesan ke Hafeng tepat saat itu.

`Bro, payungmu kalah audisi?`

Hafeng menutup payungnya dengan keras.

Sistem berbunyi pelan di kepalanya.

**【Sistem Predator】Rivalitas stabil. Host memiliki ruang manuver lebih besar.**

Meiran berjalan keluar dengan langkah ringan.

Malam itu, dua pria sama-sama mengira mereka sedang menjaga posisinya.

Padahal keduanya baru saja masuk ke papan permainan Meiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!