NovelToon NovelToon
My Beloved Wife

My Beloved Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Duda / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: meliani

Season 1 (tamat)

Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.

Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.

Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?

...

Season 2 (On going)

Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!

Area dewasa 21+

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrak-abrik ulah anaconda

"Assalamulekum!" Terlihat bocah tengil menyembul dari pintu dengan membawa tas gambar tayo digendongannya dan diikuti Pak Marjo dibelakangnya.

Semua atributnya harus bergambar heyyyy.... tayo...

"Waalaikumsalam ganteng..." jawab Farida. Sementara Vano masih berada didalam kamar mandi menuntaskan mual muntahnya. "Makasih Pak Marjo sudah mengantarkan Jajam kesini." Ucap Farida sembari mengulurkan tips.

"Eh nggak usah Non," tolak Pak Marjo halus.

"Rezeki nggak boleh di tolak Pak Marjo..." Akhirnya dengan malu-malu Pak Marjo menerima.

"Hehehe, makasih Non semoga cepat sehat. Kalau begitu saya pamit."

"Iya Pak Marjo."

Pak Marjo meninggalkan ruangan setelah meletakkan tas pakaian ganti milik Vano dan Farida.

"Miii..." Panggil Jajam, dia sudah berkeliling kemana-mana dan tak mau diam. Apa saja tak luput dari pegangan tangannya. Rasa ingin tahunya begitu besar. "Jajam mau minum, tapi mau kopi ini mi?" Tunjuknya pada kopi sachet yang disediakan dari Rumah Sakit.

Apaan sih, kecil-kecil kok minta kopi.

"Nggak boleh minum kopi Jam, nanti tunggu Daddy keluar dari kamar ma--"

Gubrak!

Belum selesai bicara, teko listrik milik RS sudah jatuh ke lantai karena tangan gratilnya.

"Jaajaaammm!" Teriak Vano yang baru saja keluar dari kamar mandi. Heran sama ulah anaknya, baru saja datang sudah mecahin teko.

James merasa takut saat mendapat tatapan tajam dari Daddynya. Vano terus mengamati pergerakan James mengambil teko yang sudah retak karena ulahnya dan kembali meletakkannya di meja, lalu meraih keset dan mengelap lantainya sampai bersih.

"Huuuwaaaaaaa.... hwaaaaaaa hwaaa....." setelah sekian menit terdiam bocah itu malah menangis kencang dan terisak-isak. Mungkin karena sangat merasa bersalah, Padahal Vano belum mengatakan apapun padanya.

Farida hanya menggelengkan kepala. Belum sampai sepuluh menit James tiba disini, tapi sudah membuat kepala berdenyut.

"Sudah-sudah, jangan berisik. Makanya kalau dimana-mana itu duduk, diam, anteng. Kamu tau kan, barang ini bukan milik kita." Jelas Vano, lalu mengambilkannya minum botol mineral biasa. "Nih, kamu minta minum kan?"

Eh, sudah lupa tadi perasaan minta kopi.

James menerimanya dan langsung meneguknya sampai habis. Rupanya setelah menangis guling-guling tadi dirumah membuatnya sangat merasa kehausan.

Anak itu mendekat dan menaiki bed tempat Farida terbaring. Vano yang sedang mengamati pergerakannya langsung sigap mengangkat tubuh James dan menurunkannya. Anak itu tak mau diam dan bisa saja secara tak sengaja kembali menekan perut Farida seperti pada saat di mobil. Ya, Vano mengingatnya saat Farida mengaduh sakit perut waktu itu. Hanya saja dia belum menyadarinya.

"James mau tidur sama Mida, Dad?" Rengeknya.

"James tidur di sofa sama Daddy," tunjuk Vano kesofa. "Mulai sekarang nggak boleh minta pangku-pangku lagi karena ada adik di dalam perut Mida."

James melihat Farida yang sedang tersenyum menatapnya. "Jajam mau punya adik Mi?" tanya James.

"Iya, biar nanti Jajam ada teman buat main..." Anak itu kembali mendekat dan naik ke bed tempat Farida terbaring. Lebih tepatnya ingin mengintip adiknya dari balik selimut tebal yang Farida kenakan.

"Kan baru dibilangin!" Gerutu Vano kesal.

"Sudah-sudah Dad, kasihan dia cuma pengen tiduran disini..." Farida sudah sangat mengerti, kalau James rewel dan perilakunya sudah macam tawuran berarti James sudah sangat mengantuk. Hanya saja, James belum mengerti dirinya sendiri.

"Nanti bisa bahaya, dia nggak mau diam."

"Kamu awasin saja dari situ."

"Aku lemes mau tiduran masalahnya.." Akhirnya, manusia terkuat di bumi itu terdengar mengeluh juga. "Aku dah muntah lebih dari lima kali dalam sehariiii." Vano mengusap rambutnya frustasi.

Oh begini ya rasanya orang hamil? Padahal dia nggak hamil, kenapa juga harus dia yang ngerasain?

"Nggak apa-apa daripada kamu yang hamil sama melahirkan, mendingan kamu saja yang mual muntah. Jadi kita impas!" Ucap Farida senang, artinya dia akan tetap bisa makan apa saja yang enak seperti biasa.

"Tapi masalahnya aku jadi nggak fokus, apalagi kalau sedang rapat. Kalau kentut masih bisa ditahan, tapi kalau mual mana bisa?" Vano mengingat pertemuannya tadi pagi dengan seseorang. Memalukan sekali saat terlihat menahan muntah, apalagi kalau jauh dari tolilet. Semakin apes lagi rasanya.

"Cuma beberapa bulan saja Dad.."

"Beberapa bulan kamu bilang cuma?" tanya Vano dengan dahi mengkerut. Vano syok mendengarnya sehari saja membuatnya begitu tersiksa, apalagi beberapa bulan.

"Mi, adiknya cantik kaya Misha?" tanya James pada Farida. Masih kecil saja sudah tau mana cewek cantik.

"Belum tau, kan masih kecil."

"Dulu Jajam juga masuk ke perut Mommy Woo 'Mi?"

"Iya, waktu Jajam masih bayi..." James semakin menelusupkan kepalanya di bahu samping kiri Farida sambil bercerita banyak hal saat di sekolahnya tadi pagi. Kemudian lama-lama anak itu tertidur pulas dengan sendirinya.

"Dad, udah bobok," bisiknya. Kemudian Vano pelan-pelan memindahkan James ke sofa.

Setelah memindahkan anaknya, Vano menuju ke meja untuk melanjutkan lagi minum teh yang tadi dia buat sendiri. Namun urung saat tutup cangkir itu ia buka. Dia langsung memijat pelipisnya ketika mendapati teh yang sudah berwarna hitam legam. Entah apa rasanya teh campur bubuk kopi hitam.

"Shitttttssss… shitttsss shittsss…" Giginya mengerat sambil terus mengumpat pelan.

Siapa lagi kalau bukan ulah anaconda. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Harus Vano akui hari ini dia harus apes berkali-kali.

1
Wiwik Roviyantini
🤣🤣🤣🤣🤣 aku suke...aku suke
Rhenii RA
Too
Nury Wiardja
aq suka cerita yg begini istri yang bar bar,,
Ibelmizzel
panikny bikin perutku sakit.
Ibelmizzel
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Caramel Latte
ternyata kalian segesrek mk babenya
Caramel Latte
huufff akhirnya pak dosen peka. untung gak kayak daddy vano yang gak pekaan
Caramel Latte
jadi inget om arwana. kembali ke.. laptop! 😁
Caramel Latte
kayak simbokku ini, mau manggil cucu depan mata, semua nama cucu di panggil😁
Caramel Latte
kok pusing sih, dah jualan roti dati tokonya mami aja
Caramel Latte
biyuh ternyata fitri suka kdrt🤭pantesan si rey jadi ISTI🤣🤣
Caramel Latte
hati2 tar suzan na dateng beneran loh😅
Caramel Latte
dad mam jan tereak2. itu anaknya malah tambah kejer ntar. ya ampuuun...
Caramel Latte
ya ampun, sampai gepeng😱
Caramel Latte
bagus🤗
Caramel Latte
omegat🙈🙈🙈🙈
Caramel Latte
di kira restoran apa van ada ruang vip🤣
Caramel Latte
bener bgt🤣
Caramel Latte
kok ngungkapin cinta ke fitri, istrinya vano bukan kah farida thor
Caramel Latte
ho oh, betul betul betul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!