1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 pengakuan yang terlambat
Abu hitam terus berjatuhan dari langit-langit ruang arsip Seluruh ruangan dipenuhi kabut tipis hingga sosok tanpa wajah itu tampak semakin samar.
Raka berdiri mematung.Tatapannya tak lepas dari tulisan di telapak tangan sosok itu.
RIO.
"Siapa... kamu sebenarnya?" bisiknya.
Sosok itu mengangkat tangannya perlahan, seolah ingin menyentuh wajah Raka.Namun sebelum jarinya menyentuh, cahaya dari kalung angka 13 memancar lagi.Sosok itu langsung menarik tangannya.Ia tidak marah.
Justru menundukkan kepala.Seakan takut melukai Raka.
Di saat yang sama, Pak Bima berhasil masuk ke ruang arsip. Napasnya terengah-engah, wajahnya dipenuhi debu.
"Semua menjauh dari dia!" teriaknya.
Keanu segera menarik Raka mundur.
Pak Bima berdiri di depan mereka, menghadang sosok tanpa wajah.
"Aku yang kamu cari," katanya tegas.
Sosok tanpa wajah mengangkat kepalanya perlahan.Untuk beberapa detik, ruangan menjadi sangat sunyi.
Lalu suara berat itu kembali terdengar, bukan dari mulut, melainkan langsung di kepala mereka.
"Terlambat..."
"Dua puluh tahun... terlalu terlambat..."
Pak Bima memejamkan mata.
"Aku tahu."
"Aku gagal."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Alea melangkah maju.
"Pak... apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tahun lalu?"
Pak Bima menggenggam erat lonceng kecil yang sejak tadi dibawanya.
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Hari itu..."
"...aku memang guru pendamping mereka."
"Maya, Rio, Doni, Sinta, Arga, Niko..."
"Mereka semua muridku."
Suara Pak Bima mulai bergetar.
"Aku mendapat perintah untuk tidak membuka lantai 13."
"Tapi aku mengabaikannya."
"Aku mengira itu hanya mitos."
Ia menunduk dalam-dalam.
"Semuanya berubah setelah pintu itu terbuka."
"Hotel seperti hidup."
"Lorong berubah."
"Lift berjalan sendiri."
"Dan satu per satu muridku menghilang."
Naya menutup mulutnya, menahan tangis.
"Lalu... kenapa Bapak masih hidup?" tanya Dimas.
Pak Bima tidak langsung menjawab.
Ia menatap sosok tanpa wajah dengan penuh penyesalan.
"Karena..."
"...aku lari."
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
"Aku meninggalkan mereka."
Kalimat itu terasa lebih berat daripada apa pun yang mereka dengar sebelumnya.
"Aku kembali membawa bantuan."
"Tapi semuanya sudah terlambat."
"Hotel terbakar."
"Dan mereka semua dinyatakan meninggal."
Rio memejamkan mata.
Sementara Maya hanya menundukkan kepala.
Alea mulai memahami sesuatu.
"Jadi... selama ini Bapak kembali ke hotel karena rasa bersalah?"
Pak Bima mengangguk.
"Setiap tahun."
"Aku berharap bisa membebaskan mereka."
"Tapi selalu gagal."
Tiba-tiba...
Tep... Tep... Tep...
Suara tepuk tangan terdengar dari sudut ruangan.
Semua menoleh.
Resepsionis tua berdiri di sana dengan senyum lebar.
"Ah..."
"Pengakuan yang mengharukan."
"Tapi sayangnya..."
Ia menatap Pak Bima dengan mata hitamnya.
"Masih ada satu kebohongan yang belum kamu ceritakan."
Wajah Pak Bima langsung berubah pucat.
Resepsionis itu tertawa pelan.
Lalu berkata,
"Beritahu mereka..."
"...siapa yang sebenarnya membuka pintu lantai 13 malam itu."
Pak Bima menundukkan kepala.
Tangannya gemetar hebat.
Ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Ruangan kembali sunyi.
Semua mata tertuju pada Pak Bima.
Wajah pria itu semakin pucat. Tangannya gemetar hebat hingga lonceng kecil yang dipegangnya jatuh ke lantai.
Ting...
Suara lonceng itu menggema ke seluruh ruang arsip.
Resepsionis tua tersenyum puas.
"Kenapa diam?"
"Katakan pada mereka."
"Siapa yang membuka pintu lantai 13?"
Pak Bima memejamkan mata.
"Aku..."
"Aku memang memegang kuncinya."
"Tapi..."
Resepsionis memotong ucapannya.
"Jangan berbohong lagi!"
Suaranya menggelegar hingga seluruh lemari arsip bergetar.
Buku Hitam yang terletak di atas meja terbuka sendiri.
Halaman-halamannya berputar sangat cepat.
Lalu berhenti pada sebuah foto lama.
Di dalam foto itu tampak enam siswa berdiri di depan sebuah pintu besi bertuliskan LANTAI 13 - DILARANG MASUK.
Di belakang mereka berdiri Pak Bima.
Namun...
Ada satu sosok lain.
Seorang pria mengenakan jas rapi dengan wajah yang sengaja dicoret tinta hitam.
"Dia siapa?" tanya Alea.
Pak Bima menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.
"Itu..."
"Pemilik Hotel Karunia."
"Namanya Surya Adinata."
"Dialah yang memaksa kami membuka pintu itu."
Semua langsung terdiam.
"Memaksa?" ulang Keanu.
Pak Bima mengangguk pelan.
"Dia bilang di balik pintu itu ada ruang penyimpanan berkas penting."
"Aku sempat menolak."
"Tapi dia mengancam akan menghentikan kerja sama sekolah kami jika aku tidak menurut."
Raka mengepalkan tangannya.
"Jadi semua ini berawal dari dia?"
Belum sempat Pak Bima menjawab, resepsionis tertawa pelan.
"Hahaha..."
"Tidak."
"Dia memang serakah."
"Tapi..."
"...dia juga hanya korban."
Kalimat itu membuat semua orang terkejut.
"Korban?" tanya Liora.
Resepsionis melangkah mendekati Buku Hitam.
Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.
"Dulu..."
"Hotel ini tidak pernah memiliki lantai 13."
"Lantai itu muncul..."
"...setelah seseorang membuat perjanjian."
"Perjanjian dengan siapa?" bisik Naya.
Ruangan mendadak menjadi sangat dingin.
Lampu berkedip.
Lalu padam.
Dalam kegelapan, terdengar suara napas berat dari balik dinding.
Hhhh...
Hhhh...
Sebuah retakan panjang muncul di lantai.
Perlahan, dari dalam retakan itu muncul sebuah tangan besar berwarna hitam.
Bukan tangan manusia.
Kukunya panjang dan tajam.
Disusul tangan kedua.
Lalu suara rendah yang membuat seluruh ruangan bergetar.
«"Siapa... yang... menyebut... perjanjian...?"»
Mira langsung memeluk bonekanya erat.
Wajahnya dipenuhi ketakutan.
"Bukan dia..."
bisiknya.
"Tolong..."
"Jangan sampai dia bangun."
Namun semuanya sudah terlambat.
Retakan di lantai semakin melebar.
Dan dari dalam kegelapan...
Sepasang mata merah perlahan terbuka.