Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Berkembang
"Jangan sentuh!"
Ara menghempaskan tangan Zahra begitu saja. Mangambil alih saputangan yang semula di genggaman Zahra sang sekertaris.
"Maafkan saya karena tidak berada di sisi Anda hari ini, Tuan Muda." Membersihkan pakaian kerja Lano yang kotor.
Lano yang tadinya hendak marah, malah merasa bingung akan perlakuan Ara padanya.
Apa dia memiliki kepribadian ganda?
"Maaf, Nona Jodie ... saya hanya berniat membantu Pak Lano." Zahra berdiri di antara Lano dan Ara sembari menundukan kepala.
"Tidak apa-apa, kali ini saya maafkan, tapi jangan pernah sembarangan menyentuh Tuan Muda. Kamu mengerti, Zahra?" Menatap tajam perempuan yang masih menunduk dengan wajah bersalah.
"Sudahlah, Zahra hanya berniat baik. Siapa suruh kamu bolos bekerja hari ini." Lano membalikkan badan hendak pergi menjauh dari kedua gadis muda tersebut.
Dia juga tidak mengerti suasana seperti apa yang baru saja ia alami. Dia seolah diperebutkan oleh dua wanita.
"Anda mau kemana, Tuan?" Ara mengikuti langkah Lano dari belakang.
"Toilet, kenapa? Mau ikut?!" ujar Lano dengan nada suara sedikit tinggi.
Ara mundur perlahan sembari menatap kesal punggung Lano. Dia kembali duduk bersama Bara.
"Maaf, Bar. Sepertinya aku harus kembali bekerja," kata gadis itu pada pria yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya yang tidak biasa.
"Iya, tidak apa-apa, Jod. Aku mengerti." Bara berusaha tersenyum di depan Arabella. Meskipun ada rasa nyeri di lubuk hatinya. Mencintai, tapi tak bisa memiliki.
"Kamu yakin tidak apa-apa pulang sendiri?" Menatap manik mata Bara.
"Kamu kira aku anak kecil?" Mengelus pucuk kepala Ara. Meyakinkan gadis yang ia sukai sejak dulu hingga detik ini bahwa dia baik-baik saja.
Perasaan sepihak yang belum hilang sedikitpun meski sang pujaan sudah berstatus istri orang.
"Baiklah, aku akan duduk di sana." Ara bangkit lalu berjalan menuju meja Lano dan Zahra.
Menyuruh Zahra pulang kembali ke kantor karena ia akan menemani Lano bertemu rekan bisnisnya.
"Pergilah, kembali ke kantor!" titah Ara pada perempuan yang sebelumnya begitu bahagia karena Ara tidak ada di sekitar bosnya.
"Iya Nona Jodie," katanya terpaksa. Jelas sekali hatinya tidak ikhlas.
"Oh ya ... kalian ke sini dengan supir 'kan?" tanya Ara sebelum Zahra menjauh.
"Iya, Nona." Zahra menjawab dengan lembut, padahal hatinya begitu dongkol.
"Bawa kembali mobil itu ke kantor! Aku akan mengantar bos pulang."
Sebelum Zahra menjawab, Ara sudah membalikkan badan seolah ingin mengatakan pada Zahra bahwa ia tidak suka ditolak.
Sekali lagi Zahra harus berusaha sabar menghadapi asisten pribadi bosnya yang menurut para pegawai wanita di kantor sangat menakutkan. Jodie memang terkenal dengan sikap dingin dan tegas di kantor. Tidak jauh berbeda dengan imej sang ayah.
"Dia bertingkah seakan istri bos saja!" Gumam Zahra yang hanya bisa ia simpan di dalam hati. Mana berani dia mengutarakan kata-kata kasar pada sang asisten.
Tidak lama kemudian Lano datang kembali. Bara juga sepertinya sudah tidak berada di sana.
"Kemana yang lain?" Menoleh meja Bara dan tempat duduk Zahra sebelumnya.
"Sudah kembali ke kehidupan masing-masing." Ara duduk sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu yang menyuruh mereka pergi?" Lano ikut duduk di sebelah Ara.
"Untuk apa Zahra ada di sini? Tidak ada gunanya."
"Lalu, Bara ada gunanya?" Menyindir.
"Tentu saja, dia bisa mengupas kulit udang dan kerang untukku, aku suka makan Seafood di sini, tapi tidak suka mengupas kulitnya."
"Dasar gadis pemalas!" Lano menggeleng kepala. Sungguh naas nasip Bara pikirnya.
"Sudahlah, jangan bahas lagi. Lebih baik kita bahas meeting kali ini. Dimana Tuan Malik? Masih lama?"
Lano melihat jam di tangan kirinya. "Sebentar lagi, aku dan Zahra memang datang lebih cepat 20 menit dari janji pertemuan," kata Lano.
"Untuk apa kalian datang lebih cepat? Kalian mau kencan?" Menatap curiga suaminya.
Lano menghela napas berat. Siapa di sini yang seharusnya di salahkan.
"Memergoki seorang istri yang sangat bahagia makan bersama pria lain." Kali ini ucapan tajam keluar dari mulut Lano. Dan itu sukses membuat Ara terdiam.
Kedatangan rekan bisnis Lano akhirnya menghentikan perdebatan suami istri yang tidak akan ada habisnya itu.
***
Ara dan Lano turun dari atas motor besar milik Ara. Rambut Lano nampak sedikit berantakan karena terkena angin.
Sofia menyambut anak dan menantunya di depan teras rumah besar. "Kalian pulang naik motor?" Sofia mendekati putranya.
"Tanya menantu kesayangan Mommy, kenapa dia selalu membuat putra tampan Mommy kesulitan." Lano masuk ke dalam rumah.
"Naik ini lebih cepat, Mom." Ara tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, justru kalian akan lebih dekat jika naik ini setiap hari." Sofia sepenuhnya mendukung sang menantu dan motor kesayangannya.
"Baiklah, Mom. Ara ke dalam dulu mau mandi." Ara melewati Sofia setelah mertuanya itu mengangguk.
.
.
.
.
Ara menghempas tubuh lelahnya di atas ranjang empuk kamar Lano yang sekarang juga sudah menjadi miliknya.
Memandangi langit-langit kamar mewah yang berapa hari ini ia tinggali. Ia mulai merindukan kamar tidurnya di rumah orangtuanya.
Meskipun tidak sebesar kamar Lano, tapi kamar lamanya sangat mencerminkan jati dirinya. Tidak seperti kamar Lano yang terkesan begitu kontras dengan seleranya.
"Tidak mandi?" tanya Lano yang baru saja selesai berganti pakaian.
"Kak, malam ini kita menginap di rumah papa ya?" Masih berbaring menghadap langit-langit kamar.
"Kenapa?" Duduk di pinggir ranjang.
"Rindu suasana kamar lamaku."
"Kenapa kamu tidak pulang sendiri saja?"
"Papa pasti tidak mengizinkan kalau aku pulang sendiri."
"Baiklah, terserah saja. Tapi jangan naik motor lagi." Lano bangkit lalu berjalan menuju sofa. Menyalakan televisi dan berbaring di atas sofa.
"Siap, Tuan Muda." Ara merubah posisinya menjadi duduk.
"Cepat mandi dan ganti pakaian!" Fokus ke layar televisi berukuran
50 inch.
"Terimakasih, Tuan Muda tampan." Menghampiri Lano di sofa lalu tanpa segan mengecup pipi Lano sekilas. Berlari cepat masuk ke kamar mandi setelah membuat pria tampan yang sudah berstatus suaminya itu panas dingin.
"Ara, aku bilang jangan sembarangan menyentuh!" Kesal Lano dibuat gadis tidak tau malu itu.
Hilang sudah konsentrasi Lano. Laki-laki itu membuang napas kasar. Mengibas-ngibas kerah kaosnya seolah terasa panas. Padahal kamar tidurnya sudah sangat sejuk.
Sepertinya dia harus mulai terbiasa dengan serangan mendadak dari istri tomboynya yang dingin di luar, tapi ternyata agresif saat berhadapan dengannya.
Tanpa dia sendiri sadari bahwa ternyata dia juga menikmati setiap perkembangan hubungan antara dia dan Arabella.
Lano yang memang tidak pernah merasakan perasaan asing tersebut, tanpa sadar selalu tersenyum jika mengingat kejadian-kejadian yang sukses menggetarkan hatinya.
Namun Lano berusaha mengendalikan dirinya dengan baik. Jika memang suatu hari kelak mereka memang saling memiliki perasaan yang sama, dan benar-benar sudah yakin dengan hati dan tujuan mereka menikah. Barulah Lano akan mengutarakan niatnya.
Karena dia bukan tipe pria yang terburu-buru.
***
~Cie ... Cie ... Like, like untuk Ara & Lano