follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Ajakan Pesta
"Istirahatlah," kata Aiden seraya menaruh secangkir kopi di meja Jovanka.
Jovanka yang sedari tadi mengecek tugasnya pun langsung mendongak ke arah Aiden, ia membuat patahan lehernya kekanan dan kekiri kemudian meregangkan otot tangannya, Jovanka mengambil cangkir berisi kopi dan menyesapnya perlahan, Jovanka menaruh kembali cangkir itu.
"Terimakasih," ucap Jovanka.
Aiden bersidekap bersandar di sisi meja samping Jovanka, baru kali ini Aiden melihat Jovanka terlihat serius. Aiden tahu jika Jovanka sangatlah manja, apapun keinginannya pasti akan terpenuhi. Namun siapa sangka jika ia bisa terlihat begitu dewasa sekarang.
"Kau sudah bekerja seharian, apa kau tidak lelah?" tanya Aiden seraya mengamati sekitar ruangan itu.
Terlihat jelas jika para staf sedang beristirahat makan siang, hanya Jovanka yang masih tinggal disana.
"Tidak! Ini sangat menyenangkan dan aku sangat bersemangat," jawab Jovanka dengan senyum lebar sehingga memperlihatkan deretan giginya, tangan kanannya ia tekuk hingga terbentuk huruf L.
"Meski kau bersemangat, tapi tetap saja harus jaga kesehatan," tutur Aiden seraya mencubit pelan hidung Jovanka.
"Iya ... iya, sakit tahu!" Jovanka menggosok hidungnya yang memerah.
Aiden hanya bisa terkekeh melihat Jovanka yang cemberut karena keisengannya mencubit hidung gadis itu.
Jovanka keluar dari ruangan bersama Aiden untuk pergi ke kantin membeli makanan, mereka tampak asyik seperti saat mereka masih di kampus.
"Jo! Lusa aku di suruh mewakili perusahaan datang ke sebuah pesta peresmian market place, kau temani jadi pasanganku, ya! Tema pestanya dansa, 'kan nggak banget kalau aku datang sendiri," pinta Aiden di tengah-tengah makan siangnya.
"Boleh, tidak masalah," Jovanka mengiyakan.
Jovanka tampak asyik menikmati makan siangnya karena sebenarnya ia memang sangat lapar, sesekali gadis itu menyibakkan rambutnya yang tergerai kedepan ke arah belakang. Aiden hanya bisa menatapnya dengan senyuman.
*
*
*
*
*
Jovanka berjalan ke dalam gedung Apartemennya, hari itu ia sangat lelah karena banyaknya pekerjaan yang harus ia tangani, sepanjang lift yang naik ke lantai dimana ruangannya berada, Jovanka memijit pundaknya pelan karena pegal.
Begitu pintu lift terbuka ia berjalan menuju pintu ruangannya hingga ia melihat seseorang yang tidak ia sangka akan datang mengunjunginya secepat itu.
Terhenti, Jovanka menatapnya. Jody bersandar di dinding sebelah pintu apartemen Jovanka, kaki kirinya iya pijakkan di tembok sedangkan kedua tangannya ia silangkan di depan dada.
"Paman," panggil Jovanka.
Jovanka membetulkan tali tas yang ia cangklong di bahunya.
Mengetahui Jovanka sudah pulang dan berdiri di hadapannya, Jody langsung berdiri dengan benar, tampak senyum menghiasi bibir pemuda itu.
Jovanka hanya memberikan seulas senyum, kemudian ia membuka pintu Apartemennya serta mempersilahkan pamannya itu masuk.
"Kenapa Paman kesini?" tanya Jovanka yang meletakkan secangkir teh ke meja di hadapan Jody.
"Tidak bolehkah?" tanya Jody menatap wajah yang ia rindukan.
"Boleh, hanya heran saja," jawab jovanka, ia kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Jody.
Jody meminum teh yang sudah di buatkan oleh Jovanka, matanya tampak mengamati sekeliling ruangan Apartemen yang Jovanka tempati.
"Apa disini nyaman?" tanya Jody meletakkan cangkir ke meja.
"Ya ... lumayan," jawab Jovanka singkat.
Jovanka tampak tidak ingin memperhatikan pamannya itu. Sedangkan Jody tidak mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
Rindu, tentu saja Jody rindu. Ia merasa kehilangan meski baru saja sehari di tinggal oleh Jovanka.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Jody lagi, ia hanya tidak ingin kehabisan kata-kata untuk mengajak Jovanka bicara.
"Lumayan," jawab Jovanka singkat lagi. Matanya terus melihat ke segala arah agar ia tidak fokus menatap Jody.
"Lusa Paman ada acara ke Pesta dansa, kalau kau tidak ada acara apa bisa temani paman kesana?" tanya Jody.
Di dalam hatinya Jody berharap jika Jovanka mau menemaninya datang ke acara itu, karena ia tidak ingin pergi ke acara Alice sendirian.
"Maaf, Paman! Aku sudah ada janji dengan Aiden," jawab Jovanka tegas.
Kecewa! Tentu saja Jody kecewa, ia tidak menyangka jika Jovanka sudah mempunyai acara sendiri, ia hanya berpikir jika Jovanka tidak pergi hari itu maka ia pasti bisa mengajak gadis itu.
"Begitu ya! Ya tidak masalah," jawab Jody dengan nada sedikit kecewa.
Malam itu untuk pertama kalinya Jody dan Jovanka berbicara dengan rasa canggung, seperti dua orang asing yang baru saja saling mengenal.
Setelah Jody pulang, Jovanka membersihkan peralatan makan yang tadi mereka gunakan, sedikit melamun Jovanka merasa berat berjauhan dengan pamannya itu.
*
*
*
*
Pagi itu karena Aiden harus pergi ke tempat percetakan, Jovanka pun ke perusahaan menggunakan Taxi. Ia berjalan santai seperti biasa hingga ia terkejut dengan sebuah buket bunga Tulip putih sudah tergeletak di mejanya, Jovanka mengambil buket itu memeriksa apa ada nama pengirimnya namun nihil, Tulip putih menandakan sebuah permintaan maaf, sepertinya Jovanka tahu dari siapa itu.
"Tadi ada seorang pria datang kesini dia cukup tampan dan menanyakan dirimu, karena kau belum datang dia memintaku menyampaikan buket itu untukmu," ujar Cristina teman satu kantornya.
"Terimakasih," ucap Jovanka.
Jovanka memandangi bunga itu, ingin membuangnya tapi sayang. Jovanka sendiri masih tidak mengerti kenapa ia harus marah, dengan seulas senyum di bibirnya Jovanka menghirup wangi bunga Tulip ditangannya.
*
*
*
*
*
Jovanka pergi bersama Aiden sepulang kerja. Karena tidak memiliki gaun untuk acara yang akan dia datangi bersama Aiden, akhirnya hari itu ia pergi untuk membeli gaun yang sesuai.
Memilih baju di sebuah butik, Jovanka tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang sudah membuat dirinya dan Jody berpisah. Menatap malas, Jovanka mencoba mengabaikan Alice yang berada di satu butik dengannya. Aiden yang berada di deretan Display lain tidak sadar kalau Jovanka terlihat tidak nyaman dengan kedatangan Alice.
Alice sengaja mensejajari Jovanka yang sedang memilih gaun, sepertinya ia ingin memulai melancarkan aksinya memperdalam jurang antara Jovanka dan Jody. Tentu saja Alice terus memantau perkembangan hubungan antara Jovanka dan Jody, ia juga tahu kalau Jovanka kini sudah keluar dari rumah pemuda yang ia sukai.
"Aku sedang senang sekali hari ini, kalau kamu mau aku bisa membelikan gaun yang kamu mau, free! Sebagai tanda bahagiaku," ucap Alice penuh dengan rasa sombong.
"Benarkah! Tapi sayang, aku nggak suka barang gratisan!" timpal Jovanka, ia meletakkan gaun yang tengah ia pegang kembali ke display.
Hendak beranjak menyusul Aiden, langkahnya terhenti ketika mendengar kata yang keluar dari mulut Alice.
"Apa kau tahu, Pamanmu akan segera bersamaku. Jadi mungkin bila kita bertemu lain waktu kau harus memanggil dengan sebutan Tante, tapi Aunty lebih kekinian, deh!" cetus Alice, ia memainkan jari jemarinya menyentuh kuku yang baru saja dia warnai.
Membalikkan tubuh ke arah Alice, Jovanka memandang rendah gadis di hadapannya.
"Oh ... iyakah? Kenapa tidak memanggil sekarang saja, Aunty," ledek Jovanka dengan sudut bibir yang ia naikan tanda ledekan.
Mencoba menahan amarah agar ia tidak terpancing emosi, Jovanka memilih pergi menemui Aiden untuk mengajaknya pergi.
"Sudah dapat gaunnya?" tanya Aiden begitu melihat Jovanka menghampirinya.
"Nggak jadi, nggak ada yang bagus," jawab Jovanka menarik tangan Aiden keluar dari butik.
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
...Jangan lupa like dan koment ya.....
...Terima kasih...
...😘😘😘...