Carla, gadis berusia 20 tahun harus menerima kenyataan kalau kehidupannya harus berubah 180 derajat setelah kematian kedua orang tuanya. Perusahaan yang bangkrut, sahabat yang menjauh, kerabat yang tak mau menampungnya, juga kekasih yang meninggalkan dirinya di kala jatuh, semakin membuat kehidupan Carla makin terpuruk. Saat itulah hanya Aska Rafasya yang mau berteman dengannya, orang yang selama ini dia rendahkan.
Mampukah Carla menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya?
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang lima-nya.
Follow akun medsos otor.
fb : Samudra Lee
ig : Samudra_Lee_19
Salam sayang Otor ter--KECEH
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JBDC#25
"Kamu belum melihat calon yang di berikan oleh kakekmu, bagaimana bisa kamu menolaknya?" Rafasya kembali bertanya.
"Tidak perlu, Pa. Karena hatiku sudah terpatri untuk satu orang wanita yaitu Carla," jawab Aska.
"Carla benar-bener beruntung. Aska bahkan rela bertengkar dengan keluarga besarnya demi dia," kembali Nara membatin.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu, tapi minggu depan akan ada rapat pemegang saham, aku harap kamu akan menghadiri rapat itu. Kakakmu Refan, juga sudah kembali dari Jepang untuk menghadiri rapat tersebut," ujar Rafasya.
"Akan aku usahakan," jawab Aska.
"Ya sudah, kalau begitu Papa pergi dulu!" Rafasya meninggalkan restoran tersebut diikuti asisten pribadinya.
"As, apa tidak seharusnya kamu berterus terang pada Carla soal jati dirimu? Menilik dari sifat Carla, dia akan kecewa saat mengetahui identitasmu yang sebenarnya dari orang lain." Nara sedikit memberi masukan.
"Aku akan biacara dengan dia ketika waktunya tepat," jawab Aska. "Makasih ya, Nara."
Nara mengangguk dan tersenyum.
"Apa kamu mau pulang?" tanya Aska.
"Iya, pekerjaanku sudah selesai," jawab Nara.
Aska melihat ke arah jam tangannya kemudian berganti menatap gedung tempat Carla sedang bekerja.
"Sepertinya Carla masih lama, aku akan mengantarmu pulang. Ayo!" ajak Aska.
"As, tidak usah aku bisa pulang sendiri kok."
"Jam segini biasanya angkutan umum agak sulit di dapat."
"Tapi kalau Carla pulang dan mencarimu bagaimana?" tanya Nara.
"Sepertinya Carla masih agak lama," jawab Aska. "Aku bisa kembali ke sini setelah mengantarmu."
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya As," ucap Nara.
Aska dan Nara berjalan meninggalkan restoran, mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Setelah mempersilahkan Nara masuk ke dalam mobilnya, Aska segera menghidupkan mesin mobilnya dan membawanya meninggalkan tempat itu.
Selama di dalam mobil Aska hanya fokus dengan jalanan di depannya, dia tidak memperhatikan Nara yang terus menatapnya penuh kekaguman.
"Kamu semakin terlihat sempurna di mataku, As. Andai gadis yang kamu cintai adalah aku, aku pasti akan sangat bahagia," ucap Nara dalam hati. Dia tersenyum sambil terus memandangi wajah tampan Aska.
Sekitar 15 menit perjalanan, mereka tiba di halaman apartemen tempat Nara dan ibunya tinggal.
"Terimakasih ya, As," ucap Nara sebelum dia turun dari mobil mewah milik Aska.
"Kamu adalah sepupu Carla, keponakan dari Nyonya Widya dan Tuan Hadijaya jadi sudah sewajarnya jika aku juga menolongmu," jawab Aska.
Nara berusaha melepaskan seatbelt yang dia pakai, namun dia agak kesulitan membukanya.
"Biar aku bantu!" seru Aska.
Nara memundurkan badannya membiarkan Aska membantunya melepaskan seatbelt yang dia pakai. Wajah tampan Aska yang jaraknya dekat dengan wajah Nara, membuat jantung Nara berdegup tak karuan.
"Sudah," ucap Aska setelah selesai membantu Nara melepaskan seatbeltnya.
"I ... iya As, terimakasih," ucap Nara gugup. Dia segera turun dari mobil mewah milik Aska tersebut.
Aska kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Nara berjalan memasuki gedung apartemennya, wajahnya nampak begitu bahagia. Sepanjang jalan menuju apartemen, dia terus saja tersenyum. Nara menekan beberapa nomor password pintu apartemennya, setelah pintu itu terbuka, Nara langsung berjalan masuk ke dalam.
"Siapa yang mengantarmu tadi?"
Suara itu sontak mengejutkan Nara, dia mengelus dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.
"Mama membuatku terkejut saja," ucap Nara karena memang yang membuatnya terkejut barusan adalah mamanya, Yenita.
"Siapa dia?" tanya Yenita lagi.
"Aska, Ma."
Yenita menatap tajam ke arah putrinya.
"Mama sudah bilang padamu, jauhi Aska! Dia hanya gembel yang tidak bisa di harapkan!" seru Yenita kepada putrinya.
"Tapi Ma, Aska itu ...."
"Cukup! Mama tidak mau dengar apapun tentang sopir itu!" sela Yenita sebelum Nara menyelesaikan kalimatnya. "Ingat Nara, sampai kapan pun, Mama tidak akan mbiarkanmu dekat dengan sopir miskin itu."
"Iya, Ma. Maafkan Nara," ucap Nara, dia hanya menundukkan kepalanya tanpa berani membantah ibunya lagi.
"Sekarang masuklah ke kamarmu!" seru Yenita lagi kepada putrinya. Nara menuruti perintah ibunya tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
*****
Sementar itu di depan gedung RA Grup, Carla melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Aska.
"Kemana dia? Apa bos-nya memberikan pekerjaan mendadak?" batin Carla. "Sepertinya aku harus naik taksi, aku tidak mau Mbok Mirah khawatir."
Tapi saat melihat uang yang teesisa di saku celanya tinggal Rp. 200.000, Carla mengurungkan niatnya.
"Gajian masih sekitar seminggu lagi, kalau aku naik taksi ini hanya akan cukup untuk 3 hari." Carla menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya. "Biar aku tunggu Aska 5 menit lagi. Tapi kalau dia tidak juga datang, mungkin aku akan naik angkutan umum atau jalan kaki."
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Carla, "Carla, ayo aku antar!" Aditya menawarkan.
"Terimakasih, tapi aku tidak memerlukan tumpangan darimu," jawab Carla to the point, dia memang tidak suka dengan sikap Adit yang mulai berusaha mendekatinya kembali.
"Carla, sopirmu itu pasti tidak akan datang. Mungkin dia sedang mengantar majikan barunya," ledek Aditya.
"Lebih baik aku jalan kaki dari pada harus semobil dengan pria rendahan seperti dirimu," tolak Carla.
"Baiklah, kalau itu pilihanmu. Bye mantan kekasihku." Adit segera meninggalkan Carla sendirian.
Karena Aska tidak juga datang, Carla memutuskan untuk jalan kaki meninggalkan tempat itu.
Setelah berjalan sekitar 100 meter, tiba-tiba Carla di hadang beberapa pemuda yang sedang mabuk di pinggir jalan. Pemuda-pemuda itu mencegat langkah Carla dan berusaha untuk menggodanya.
"Hallo cantik, temenin kita minum yuk!" goda pemuda berandalan itu.
"Aku tidak ada waktu, permisi," tolak Carla.
"Sombong banget."
"Sudah sikat saja dia toh tempat ini sepi," sambung yang lainnya.
Carla berusaha melawan saat para pemuda berandalan itu mulai berusaha melecehkan dirinya. Satu dua hingga beberapa kali Carla bisa menghindar dan memukul pemuda-pemuda itu. Namun karena jumlah yang tidak seimbang membuat Carla kewalahan dan dalam posisi tersudut.
"Jangan mendekat kalian! Kalau kalian mendekat aku akan teriak!" ancam Carla.
Namun ancaman tersebut hanya mengundang gelak tawa para pemuda berandalan itu. Pemuda-pemuda itu masih berusaha mendekati Carla. Bahkan salah satu dari mereka berhasil menarik lengan baju Carla hingga sobek.
"Tolong! Tolong aku!" teriak Carla.
"Teriaklah, tempat ini sepi. Tidak akan ada yang mendengarmu."
Carla kembali melihat ke sekeliling, tempat itu memang sepi. Bahkan tidak ada satu kendaraanpun yang melewati tempat itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menghubungi, Aska. Dan minta bantuannya," batin Carla.
Carla mengambil gawai yang ada di sakunya dan berusaha untuk menghubungi nomor Aska. Namun sayang, sebelum sempat dia menekan tombol call, salah seorang dari berandalan itu berhasil merebutnya.
"Mau kemana kamu cantik? Tidak akan ada yang bisa menolongmu."
"Puaskan kami dulu, baru kami akan membiarkanmu pergi."
Para pemuda itu semakin berusaha mendekati Carla. Carla hanya bisa terus berteriak dan meminta tolong.
"Tolong! Siapapun tolong aku!" kembali Carla berteriak.
Dua orang pemuda berhasil menahan tangan kanan dan kiri Carla.
"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Carla sembari meronta.
"Tuhan, tolong selamatkan aku dari para berandalan ini!" Carla berdoa dalam hati, dia hanya bisa memejamkan matanya saat ada salah seorang dari mereka yang berusaha merobek pakaiannya.
Carla kembali membuka matanya saat tidak terjadi sesuatu pada dirinya dan pemuda yang memgang tangannya jatuh tersungkur. Carla begitu lega, saat ternyata ada seseorang yang datang untuk menyelamatkan dirinya.
Orang itu memukul para pemuda berandalan tersebut hingga babak belur.
karena aku lope lope sama karyamu kak..
sukaa banget..
walopun konflik datang silih berganti, tapi penyelesaian g bertele-tele, langsung to the point..
good job kakak.. 🥰
tetap semangat menulis karya2 lainnya ya kak.. 💪🏻
semoga sehat selalu.. 😘