Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tawaran Pijatan
Dibutuhkan waktu hampir setengah jam di bawah kucuran air dingin sampai Arka benar-benar merasa aman untuk keluar dari kamar mandi. Pria itu melangkah keluar dengan handuk melilit pinggang dan satu lagi mengeringkan rambutnya yang basah kuyup.
Mata elangnya menyapu seluruh sudut kamar utama.
Kosong.
Rasa lega seketika menyusup ke dadanya. Setidaknya ia punya waktu untuk menata kembali topeng wibawanya yang sempat remuk tak berbentuk.
Ia memilih kemeja kerja berwarna abu-abu gelap dan celana bahan senada, pakaian tempur formal yang selalu berhasil memberinya kesan intimidatif.
Namun, saat merapikan kerah di depan cermin, ia mendengus kesal melihat pantulan wajahnya sendiri.
“Pijat?” gumamnya serak, mengingat ucapan polos Naya di depan pintu tadi.
“Bisa-bisanya dia mikir begitu...”
Arka menggeleng kuat-kuat, menepis bayangan tak masuk akal itu dari kepalanya. Pijatan biasa tidak akan meregangkan otot yang terlanjur menegang itu.
Setelah menyemprotkan parfum bernuansa woody kesukaannya untuk menutupi jejak rasa canggung, ia melangkah keluar dari area kamar menuju ruang tengah apartemennya.
Begitu melintasi koridor pendek yang menghubungkan kamar tidur dengan area pantry, aroma gurih bumbu tumisan yang harum menyengat langsung menyambut indra penciumannya. Bunyi spatula yang beradu dengan wajan terdengar berirama dari arah dapur bersih.
Langkahnya melambat. Di sana, Naya tampak sibuk membolak-balik nasi goreng di atas wajan. Gadis itu sesekali bersenandung kecil tanpa beban, benar-benar terlihat seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka setengah jam yang lalu.
Ia berdehem keras, sengaja mengumumkan kehadirannya.
Naya menoleh, lalu tersenyum tipis tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Eh, Pak Arka sudah siap. Pas banget nih, nasi goreng ala Naya sudah jadi.”
Gadis itu mematikan kompor dan cekatan memindahkan nasi goreng ke atas piring porselen, lalu menatanya di atas meja makan pantry lengkap dengan sendok dan segelas air putih.
Arka duduk di kursi makan dengan gerakan elegan. Ia mengamati piring di hadapannya sebelum menatap Naya yang sedang menuang air.
“Kamu... tidak makan?” tanya Arka dengan suara yang diusahakan selurus mungkin.
“Sudah tadi, sedikit pas nyicipin,” sahut Naya santai seraya mendudukkan diri di kursi sebelah Arka, menopang dagu dengan kedua tangannya sambil memperhatikan sang CEO.
“Coba rasain dulu, Pak. Enak tidak?”
Arka mengarahkan pandangannya ke nasi goreng tersebut, mencoba fokus pada makanan daripada tatapan binar di sampingnya. Ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke dalam mulut.
Gurih, pas, dan ada sedikit rasa pedas yang menggelitik lidah. Harus diakui, masakan gadis ini tidak pernah gagal.
“Bagaimana?” desak Naya penuh rasa ingin tahu.
Arka mengunyah perlahan, menelan makanannya, lalu memasang wajah datar.
“Biasa saja. Masih bisa dimakan.”
Naya mendesis pelan seraya memutar bola matanya. “Halah, gengsi banget bilang enak. Itu buktinya langsung disendok lagi.”
Tangan Arka yang baru saja hendak menyendok suapan kedua mendadak berhenti di udara. Ia mengerling tajam ke arah Naya.
“Kamu ini tidak ada sopan-sopannya sama suami.”
“Maaf, Pak. Di sini kan cuma ada kita berdua,” balas Naya enteng tanpa beban. Ia lalu memajukan tubuhnya sedikit, membuat Arka refleks menarik punggungnya menempel pada sandaran kursi.
“Tapi jujur ya, Pak... Bapak sudah tidak kram lagi kan ototnya? Sudah bisa jalan tegak begitu.”
Uhuk!
Arka tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk-batuk kecil. Muka pria itu langsung memerah sampai ke leher. Lekas ia meraih gelas air putih dan meminumnya hingga tandas.
“Naya!” tegur Arka dengan nada rendah menahan geram. “Sudah saya bilang, jangan bahas itu lagi!”
“Lho, saya kan cuma perhatian,” cemberut Naya polos.
“Lagian saya beneran kasihan kalau Bapak sampai kena saraf kejepit gara-gara otot tegang pagi-pagi.”
Arka memejamkan mata rapat-rapat, memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Pertahanan logikanya rasanya mau runtuh menghadapi kepolosan gadis di hadapannya ini.
Naya lalu menegakkan tubuhnya, menatap Arka dengan binar mata yang sepenuhnya
tulus.
“Kalau Pak Arka masih merasa pegal atau kram lagi, bilang saja. Saya bisa kok mijat sedikit. Dulu pas Ibu di rumah capek habis kerja seharian, saya yang sering mijatin bahu sama punggungnya. Kata Ibu sih lumayan bikin rileks.”
Arka hampir saja menyemburkan sisa air yang baru diteguknya. Pria itu menatap Naya tak percaya, sementara kepalanya mendadak dipenuhi riuh yang makin sulit dikendalikan. Mengimajinasikan jemari Naya menyentuh bahunya saja sudah cukup membuat suhu tubuhnya melonjak drastis, apalagi jika gadis itu benar-benar melakukannya. Memijat bagian bawah tubuhnya.
Oh, tidak. Bisa gila ia nanti!
“Tidak perlu,” potong Arka cepat, suaranya sedikit naik satu oktaf. Ia merapikan lengan kemeja abu-abunya dengan gerakan gugup yang berusaha disembunyikan.
“Saya sudah tidak apa-apa.”
Naya miringkan kepalanya sedikit, mengamati reaksi Arka yang terkesan berlebihan.
“Benar tidak mau? Gratis lho, Pak. Di rumah juga saya tidak ada kerjaan. Lumayan nganggur.”
“Naya, cukup.” Arka memijat pangkal hidungnya, berusaha keras menjaga sisa-sisa wibawa sang CEO yang kian terkikis habis di depan istrinya sendiri.
“Makanannya sudah saya habiskan.”
Pria itu berdehem pelan seraya berdiri dari kursi, merapikan jas yang tersampir di sandaran sebelum meraih kunci mobil dan tas kerjanya.
“Saya berangkat ke kantor sekarang. Kamu di rumah saja, tidak usah aneh-aneh,” lanjut Arka dengan nada tegas yang dibuat-buat, mencoba mengalihkan rasa canggung yang masih tersisa di udara.
Naya ikut berdiri, tersenyum lebar tanpa dosa sambil mengantarkan Arka sampai ke depan pintu.
“Siap, Pak Bos! Hati-hati di jalan ya, jangan melamun nanti kramnya kumat lagi.”
Arka hanya memutar bola matanya, menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar dari apartemen. Berada di satu ruangan yang sama dengan Naya ternyata jauh lebih menguras energi daripada memimpin rapat pemegang saham.
Langkahnya terhenti sejenak tepat di depan pintu apartemen yang tertutup rapat. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan di dalam.
Keheningan koridor gedung tinggi itu perlahan mengembalikan kesadarannya, meski jantung di balik kemeja abu-abunya masih berdegup sedikit lebih cepat dari normal.
“Gila... lama-lama aku benar-benar bisa gila,” gumamnya lantas mengusap wajah dengan kasar.
Pria itu mengacak rambut rapinya sebentar sebelum kembali merapikannya dengan jemari, mencoba memulihkan mode CEO dingin yang biasa ia pakai di dunia luar.
Sementara di dalam apartemen, Naya masih berdiri di depan pintu sambil terkikik pelan. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, merasa senang melihat ekspresi serba salah dari pria yang biasanya selalu berpakaian rapi dan bersikap kaku itu.
“Padahal kan emang beneran mau nolongin. Cuma pijat doang, aku juga bisa,” gumam Naya santai.
Gadis itu membalikkan badan lalu berjalan santai menuju pantry untuk merapikan piring bekas makan Arka. Mengingat tingkah sang suami yang mendadak gagap dan salah tingkah hanya karena kepolosannya membuat hari Naya terasa cukup menyenangkan.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak