NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Matahari pagi di hari ketiga menyambut kepulangan Rahman dari rumah sakit.

Sebuah taksi online berhenti di depan gerbang Kos Putra Putri Melati.

Budi turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk bapak kosnya.

Rahman melangkah keluar dengan pelan, tubuhnya masih terasa sedikit lemas namun jauh lebih baik dari sebelumnya.

"Bapak pelan-pelan saja jalannya, biar saya bantu pegangi," ucap Budi sambil memegang lengan Rahman.

"Tidak usah berlebihan, aku belum lumpuh."

"Tanganmu kotor bau oli pabrik, jangan sentuh bajuku," tolak Rahman gengsi, menepis tangan Budi dengan pelan.

Budi hanya tersenyum maklum dan membiarkan pria tua itu berjalan sendiri.

Saat Rahman melangkah melewati gerbang, hidungnya langsung mencium aroma masakan yang sangat sedap.

Di teras kamarnya, sudah tergelar tikar pandan yang lumayan luas.

Di atas tikar itu tersaji nasi tumpeng kuning ukuran sedang, lengkap dengan ayam goreng, tempe orek, dan urap sayur.

Mpok Siti yang sedang menuangkan sirup ke dalam gelas plastik langsung menoleh ceria.

"Eh, Pak Rahman sudah pulang!"

"Ayo Pak, duduk sini, kita makan-makan merayakan kesembuhan bapak!" panggil Siti ramah.

Maya dan Rina yang sedang membagikan piring kertas juga ikut tersenyum menyambut kedatangannya.

Dimas bahkan bertepuk tangan pelan melihat bapak kos idolanya kembali sehat.

Rahman tertegun sejenak melihat sambutan meriah itu.

Matanya menatap nasi tumpeng kuning yang menggiurkan itu dengan pandangan curiga.

"Apa-apaan ini?"

"Kalian mau mengadakan pesta di kontrakanku tanpa izin?" tanyanya dengan suara agak keras untuk menutupi rasa harunya.

"Ini cuma syukuran kecil-kecilan, Pak."

"Mpok Siti yang nyumbang ayam gorengnya, saya dan Mbak Rina yang masak nasinya."

"Mas Dimas yang beli minuman dinginnya," jelas Maya sambil menarik tangan Rahman agar duduk di atas tikar.

"Jangan bohong, kalian pasti mau menagih biaya patungan makanan ini kepadaku kan?"

"Aku tidak sudi bayar nasi tumpeng mahal ini!" bantah Rahman dengan wajah bersungut-sungut.

Siti tertawa ngakak mendengar kecurigaan itu.

"Ya ampun Pak Rahman, pelitnya ternyata belum hilang juga."

"Ini murni traktiran dari kami semua buat bapak, gratis tis tis!"

Mendengar kata 'gratis', hati Rahman langsung berbunga-bunga.

Ia segera mengambil posisi duduk paling nyaman di dekat nasi tumpeng.

"Baguslah kalau gratis, awas saja kalau besok uang sewa kalian potong diam-diam."

Acara makan bersama pun dimulai dengan doa singkat yang dipimpin oleh Budi.

Suasana terasa sangat hangat dan penuh kekeluargaan, sesuatu yang sudah puluhan tahun hilang dari hidup Rahman.

Rahman makan dengan lahap, senyum tipis sesekali menghiasi wajah keriputnya tanpa ia sadari.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Ting!

[Peringatan: Masa observasi pasca-pemulihan telah selesai.]

[Misi Utama Harian: Rombak sistem pembayaran kos menjadi lebih manusiawi.]

Rahman yang baru saja menyuap sepotong paha ayam langsung tersedak.

"Uhuk! Uhuk!"

"Bapak minum dulu, pelan-pelan makannya Pak," Rina segera menyodorkan segelas air putih.

Rahman meneguk air itu sambil matanya melotot membaca kelanjutan misi di layar biru.

[Syarat 1: Hapus denda keterlambatan sewa sebesar 10% per hari.]

[Syarat 2: Berikan perpanjangan waktu pembayaran maksimal 7 hari bagi penyewa yang kesulitan.]

[Syarat 3: Terapkan sistem ini hari ini juga dan umumkan kepada seluruh penyewa.]

[Hadiah: Tambahan umur 7 hari dan Pemulihan Fisik Total.]

[Kegagalan: Pengurangan umur 10 hari dan kelumpuhan kaki kiri selama sebulan.]

"Sialan! Kau mau membunuh bisnisku pelan-pelan ya?!" batin Rahman menjerit histeris.

Menghapus denda keterlambatan adalah hal paling tabu dalam kamus lintah daratnya.

Denda itulah yang membuat para penyewa selalu ketakutan dan membayar tepat waktu.

Jika ia menghapus denda itu, ia yakin para penyewanya akan seenaknya menunda pembayaran.

Baginya, ini bukan sekadar kehilangan uang, tapi juga kehilangan kekuasaan absolutnya sebagai tuan tanah.

Tapi ancaman kelumpuhan kaki kiri membuat nyalinya seketika ciut.

Ia tidak mau berakhir di kursi roda hanya karena mempertahankan gengsi uang denda.

"Aku harus memutar otak lagi."

"Bagaimana caranya aku mengumumkan ini tanpa terlihat seperti kakek tua yang kehilangan tajinya?" pikir Rahman keras.

Setelah acara makan selesai dan para penyewa mulai membereskan piring-piring kotor, Rahman berdiri dari duduknya.

"Ekhem!"

"Semuanya, diam sebentar dan dengarkan aku bicara!" suara bariton Rahman menggema dengan efek Aura Tuan Tanah yang otomatis aktif.

Para penyewa yang sedang bercanda langsung terdiam kaku.

Tekanan tak kasat mata membuat mereka merasa sangat segan dan sedikit takut menatap mata Rahman.

"Ada apa, Pak? Mau nagih uang air tambahan ya?" tanya Maya dengan nada sedikit gentar.

"Diam anak kuliahan, jangan potong bicaraku."

Rahman melipat kedua tangannya di belakang punggung dan memasang wajah sedingin es.

"Mulai hari ini, aku membuat aturan baru soal pembayaran uang kos bulanan."

"Mengingat kalian sudah cukup berguna menjagaku di rumah sakit kemarin..."

"Aku memutuskan untuk menghapus denda keterlambatan sewa sepuluh persen per hari."

Hening.

Tidak ada satu pun suara yang terdengar di teras itu.

Siti bahkan sampai menjatuhkan tutup botol sirupnya karena terkejut.

"B-bapak serius?"

"Denda keterlambatan yang bapak buat sejak sepuluh tahun lalu itu dihapus?" tanya Budi tidak percaya.

"Ya, dihapus total tanpa sisa!"

"Dan bagi siapa saja yang benar-benar kesulitan uang saat tanggal jatuh tempo, aku beri waktu perpanjangan maksimal tujuh hari untuk melunasi semuanya."

Rahman mengucapkan kalimat itu dengan sangat cepat, seolah jijik mendengar suaranya sendiri berbuat baik.

Maya menutup mulutnya yang menganga lebar.

Rina sudah berkaca-kaca menatap bapak kosnya.

Bahkan Dimas sampai bertepuk tangan kegirangan.

"Tapi ingat baik-baik!"

Rahman segera melanjutkan kalimatnya dengan nada yang jauh lebih mengancam agar wibawanya kembali.

"Perpanjangan waktu tujuh hari itu bukan berarti kalian bisa santai-santai!"

"Kalau pada hari kedelapan kalian masih belum bayar, jangan harap bisa tidur nyenyak."

"Aku sendiri yang akan melempar barang-barang kalian ke tengah jalan raya di depan sana!" ancam Rahman sambil menunjuk ke arah jalan raya.

Efek Aura Tuan Tanah membuat ancaman itu terdengar sangat nyata dan mengerikan.

Budi dan Maya serempak menelan ludah dan mengangguk kaku.

"S-siap Pak Rahman, kami mengerti."

"Terima kasih banyak atas kebijaksanaannya, Pak," ucap Budi mewakili yang lain.

"Ya, ya, sudah bubar sana!"

"Aku mau istirahat, jangan berisik di luar!" usir Rahman sambil mengibaskan tangannya.

Ia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.

Begitu pintu tertutup, bahunya langsung merosot lemas.

Ia merasa seperti baru saja menyerahkan separuh nyawanya kepada orang lain.

Ting!

[Misi Utama Harian Selesai.]

[Sistem baru pembayaran berhasil diterapkan dan diterima oleh para penyewa.]

[Para penyewa merasa bapak kos mereka sangat berwibawa namun memiliki hati yang penuh toleransi.]

[Hadiah: Tambahan umur 7 hari telah didistribusikan.]

[Hadiah: Pemulihan Fisik Total telah diaktifkan.]

Seketika itu juga, rasa lemas di sekujur tubuh Rahman menghilang tanpa jejak.

Jantungnya yang tadinya berdetak sedikit lemah kini kembali berdegup kuat dan teratur.

Bahkan rasa ngilu di persendian kakinya lenyap sepenuhnya.

Rahman melompat kecil dan tersenyum puas merasakan kebugaran tubuhnya.

"Luar biasa, rasanya aku bisa ikut lomba maraton saat ini juga."

Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang dua ratus ribu dari dalamnya.

Ia ingat dengan misi sampingan Penebusan Dosa yang ia terima di rumah sakit kemarin.

"Budi membayar uang muka rumah sakitku seratus ribu."

"Sistem menyuruhku mengembalikannya dua kali lipat."

Rahman menatap dua lembar uang merah itu dengan pandangan sendu.

Meski pelit, Rahman tidak pernah suka berhutang budi pada siapa pun.

Baginya, hutang budi adalah hal yang paling sulit dibayar.

Jadi, mengembalikan uang Budi dua kali lipat adalah cara terbaik agar ia merasa impas.

Ia membuka pintu kamarnya sedikit dan mengintip keluar.

Budi sedang sendirian di teras mencuci sepatu botnya sebelum berangkat kerja shift siang.

Rahman keluar dan berjalan menghampiri pemuda itu.

"Budi, berhenti mencuci sebentar."

Budi menoleh dan berdiri tegak.

"Ada apa, Pak Rahman?"

Rahman menyodorkan uang dua ratus ribu itu ke depan dada Budi.

"Ini uang untuk mengganti deposit rumah sakitku kemarin."

Budi tersenyum sungkan dan menolak menerima uang itu.

"Tidak usah diganti, Pak."

"Anggap saja itu sumbangan dari saya buat bapak."

"Apalagi bapak tadi sudah baik banget menghapus denda keterlambatan kos," ucap Budi tulus.

"Jangan banyak membantah!"

"Aku ini orang kaya, aku tidak butuh sumbangan dari buruh miskin sepertimu."

"Ambil uang ini sekarang juga atau kau harus keluar dari kontrakanku hari ini juga!" ancam Rahman galak, kembali menggunakan jurus andalannya.

Budi terpaksa mengambil uang itu dengan tangan basah.

Ia melihat nominalnya dan terkejut.

"Loh Pak, ini kan dua ratus ribu?"

"Kemarin saya bayar depositnya cuma seratus ribu kok."

"Yang seratus ribu lagi anggap saja bayaran untuk waktumu yang terbuang karena mengantarku ke rumah sakit."

"Aku tidak mau berhutang budi pada siapa pun, apalagi padamu."

"Sudah, sana cepat berangkat kerja sebelum kau dipecat!" usir Rahman sambil membalikkan badannya.

Ia tidak mau Budi melihat matanya yang sedikit memerah karena gengsi.

Budi menatap punggung bapak kosnya yang semakin menjauh dengan senyum lebar.

"Terima kasih banyak, Pak Rahman!" teriak Budi dari jauh.

Rahman hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.

Ia masuk kembali ke kamarnya dan duduk di depan brankas tuanya.

Ia menatap tumpukan uang di dalam brankas itu dengan pandangan yang jauh lebih jernih.

Sesuatu di dalam hatinya mulai berubah.

Uang tidak lagi terasa seperti segalanya baginya.

Uang memang penting, tapi melihat senyum Budi dan rasa aman Rina ternyata memberikan kepuasan yang tidak bisa dibeli.

"Mungkin... sedikit berbuat baik tidak akan membuatku jatuh miskin."

"Setidaknya, aku tidak akan mati sendirian lagi seperti kemarin," gumam Rahman sambil mengelus brankasnya perlahan.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!