Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.
Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.
Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.
Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Perlahan Kau Melucuti Pertahananku
Damon
Aku tak sanggup menjauh dari Felipa.
Ini konyol. Usiaku lima puluh tahun, seumur hidup aku menegakkan batas dan menjaga emosiku tetap terkendali. Aku tak pernah butuh kehadiran siapa pun untuk menemukan ketenangan di rumahku sendiri. Tapi sejak perempuan ini masuk ke dalam hidupku, semua keyakinanku seakan sepakat meninggalkanku.
Aku mencoba menyibukkan diri, membalas pesan di ponsel, menyusun di kepala jadwal esok hari, tapi pikiranku selalu berakhir di tempat yang sama.
Dia.
Aku mengembuskan napas, kesal pada diriku sendiri, lalu berjalan ke kamar. Pintu kamar mandi tertutup, tapi aku bisa mendengar suara air. Seharusnya aku kembali ke ruang tamu. Memberi Felipa ruang yang dia minta, membiarkannya mandi dengan tenang dan menunggu makan malam seperti yang akan dilakukan lelaki waras mana pun.
Alih-alih, kubuka pintunya.
Uap hangat memenuhi ruangan, dan mataku menemukan Felipa di bawah pancuran. Sesaat aku diam di tempat, sadar bahwa aku sedang melampaui batas yang seharusnya kuhormati sendiri. Namun kebutuhan untuk berada dekat dengannya lebih lantang daripada akal sehat.
Kulepas pakaianku.
Aku mendekat, memangkas jarak di antara kami sampai tubuhku menempel pada tubuhnya. Tanganku bertumpu lembut di perutnya, sementara kuturunkan kepala dan mendekatkan bibir ke telinganya.
"Aku nggak sanggup jauh darimu," bisikku, membiarkan lolos sebuah keterusterangan yang jarang sekali kuizinkan untuk diriku sendiri.
Kurasakan kulit Felipa meremang di bawah sentuhanku, dan reaksi itu membuatku memejamkan mata sesaat. Aku tak tahu apa yang telah perempuan ini perbuat padaku, tapi kenyataannya, saat aku dekat dengannya, seluruh disiplin yang kupupuk selama puluhan tahun terasa tak cukup.
Felipa berbalik perlahan dalam dekapanku.
Tatapan kami bertemu, dan aku lupa semua dalih yang bisa kupakai untuk membenarkan keberadaanku di kamar mandi itu. Mata birunya memandangku dengan intensitas yang melucuti pertahananku, sementara beberapa tetes air mengalir di wajahnya.
Aku tak berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tak menemukan jawaban sarkastis, tak ada provokasi, tak ada kalimat terukur untuk menjaga seseorang tetap berjarak.
Dia berjinjit, mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Dan ketika bibirnya bertemu bibirku, kusadari aku bukan satu-satunya yang tak mampu melawan apa yang ada di antara kami.
Ciuman yang semula lembut itu perlahan memanas. Felipa merapat lebih dekat, dan tanganku meluncur dari perutnya ke pinggangnya, menariknya ke arahku. Bibirnya bergerak melawan bibirku dengan penyerahan diri yang membuat akalku kehilangan sisa tempatnya yang sempit di kepalaku.
Kumiringkan wajah, memperdalam ciuman, sementara dia melingkarkan lengan di leherku. Air terus mengguyur kami, tapi nyaris tak kupedulikan. Seluruh perhatianku terpusat pada perempuan ini, pada hangat tubuhnya, dan pada caranya menciumku seakan dia pun sudah terlalu lama mencoba menahan diri.
Kulepas bibirku hanya cukup untuk bernapas. Keningku bersandar di keningnya, dan mataku mencari matanya.
"Kamu akan benar-benar menghancurkan kewarasanku, Felipa," bisikku, dengan senyum miring yang tak sanggup kutahan.
Dia memandangku, dan gerakan kecil itu saja sudah cukup membuatku ingin menciumnya lagi.
Kali ini aku tak menunggu dia yang memulai. Kupegang wajahnya dengan lembut dan kembali menemukan mulutnya, membiarkan ciuman itu bicara untukku, karena saat itu aku sama sekali tak berniat berpura-pura bisa menjauh darinya.
Aku kehilangan kendali. Kubalikkan Felipa, menempelkan tubuhnya ke kaca, menggesekkan kontolku di memeknya sambil menarik wajahnya menoleh ke samping. Kumasuki dia pelan-pelan sambil menciumnya. Felipa menungging, kupegang pinggangnya dan kuhantam keras sampai tubuhnya terguncang. Dia memejamkan mata, mengerang lirih dengan mulut setengah terbuka.
Air mengalir di atas tubuh kami, sementara aku tetap di dalam dirinya, keluar perlahan hanya untuk kembali dengan tekanan sedikit lebih kuat, memenuhinya. Gerakan maju-mundur itu menjadi mendesak.
Erangannya berubah menjadi jeritan yang kurang tertahan, Felipa klimaks tak karuan, tubuhnya melemas tapi kutahan dia, tanpa berhenti menyetubuhinya dengan keras. Kucium lehernya, mengisap kulit lembutnya. Kuhantam lebih keras, menyatukan tubuh kami, kugigit bahunya saat aku sendiri klimaks dengan dahsyat. Jantungku berdegup kencang, menyadari bahwa ini bukan sekadar nafsu jasmani.
Perlahan napas kami kembali normal. Kutahan Felipa dekat denganku beberapa detik lagi, mengamati wajahnya yang berusaha memulihkan napas. Ada sesuatu dalam kedekatan itu yang membuatku lupa betapa selama ini aku menghargai ruang pribadiku, rutinitasku, dan ketenangan menyendiri.
Kuambil sabun dan kuratakan sedikit di tanganku sebelum mulai membasuh tubuhnya dengan hati-hati, tanpa terburu-buru, menghormati setiap gerakannya. Felipa tetap dekat denganku, dan beberapa kali mataku bertemu matanya. Aku tak perlu berkata apa pun. Setelah semua yang terjadi di antara kami, diam terasa nyaman.
Setelah selesai, kubiarkan dia membilas diri sementara aku mandi sendiri. Aku berusaha memulihkan ketenanganku yang biasa, tapi sulit mengabaikan keberadaannya yang begitu dekat. Felipa punya efek mengganggu pada indraku, dan aku mulai curiga tak ada argumen rasional yang bisa membebaskanku dari itu.
Begitu selesai, kumatikan pancuran dan kami mengambil handuk. Kami mengeringkan tubuh dan mengenakan jubah mandi yang tersedia di sana.
Kuikat jubahku di pinggang dan menoleh padanya. Felipa merapikan kain jubah di tubuhnya, pipinya masih sedikit merona.
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" tanyaku, menahan pandangannya.
Pertanyaan itu kedengarannya sederhana, tapi bukan hanya soal mandi yang kumaksud. Aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja, apakah dia merasa nyaman bersamaku.
Aku mendekat dan menyingkirkan sehelai rambut basah dari wajahnya dengan lembut.
"Ayo. Makan malam kita sebentar lagi datang."
Kugenggam tangannya dan kutuntun dia keluar dari kamar mandi, mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa bersikap seperti lelaki waras sepanjang sisa malam ini.
Mengingat efek Felipa terhadapku, aku tak mau bertaruh banyak untuk kemungkinan itu.
Makan malam tiba tak lama kemudian, dan kami duduk di meja untuk makan. Felipa tampak lebih tenang sekarang, dan aku bahkan berhasil mengundang beberapa senyumnya selama makan. Meski begitu, tak lepas dari perhatianku betapa lelahnya dia. Gerakannya melambat, dan sesekali dia seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri, melawan kantuk yang terus berusaha mengalahkannya.
Kuamati dia beberapa saat sebelum kembali memusatkan perhatian pada piringku. Dia berusaha menyembunyikan lelahnya, tapi tak bisa menipuku. Aku mengenali raut itu, raut orang yang sudah melewati batasnya sendiri dan tetap berkeras bertahan terjaga.
Selesai makan, aku berdiri. Kukumpulkan bungkus-bungkusnya, kubuang semuanya ke tempat sampah, dan kutaruh piring di mesin pencuci. Saat kembali ke ruang makan, kudapati Felipa masih duduk, matanya berat dan kedua tangannya bertumpu di meja.
Aku mendekat dan membungkuk sedikit.
"Kamu perlu istirahat."
Dia mengangkat wajah padaku, dan senyum letih yang dia berikan membangkitkan kelembutan yang lebih suka tak kuurai saat itu.
Kuulurkan tangan, membantunya berdiri, dan kembali bersamanya ke kamar. Kami berjalan pelan, dan kulihat Felipa sudah tak berusaha menyembunyikan kantuknya. Begitu sampai di ranjang, kusibakkan seprai dan kuarahkan dia berbaring.
Dia merebahkan diri di kasur, tapi saat aku bersiap menjauh, jari-jarinya menggenggam jemariku.
Kupandang dia.
Felipa tersenyum.
Senyum kecil, tenang, tapi gestur itu begitu manis sampai kurasakan sesuatu menghangat di dadaku. Aku tak ingat kapan terakhir kali sebuah senyum mampu menimbulkan perasaan serupa dalam diriku. Dulu kuanggap reaksi semacam itu kerentanan yang tak perlu, sesuatu yang tak cocok dengan hidup yang kupilih.
Kini, cukup melihatnya saja, aku sadar keyakinanku mulai kehilangan kekuatan.
Aku berbaring di sisinya, dan Felipa tak lama merapat. Dia menyandarkan kepala di dadaku, melingkarkan satu lengan di pinggangku, dan meringkuk lebih dekat lagi.
Kurengkuh tubuhnya dengan satu lengan dan kubelai rambutnya yang lembap, memperhatikan kelopak matanya semakin berat.
"Selamat malam, sayang," bisikku, cukup pelan agar tak mengusik istirahatnya.
Dia tak menjawab. Sesaat kemudian napasnya melambat dan teratur, dan kusadari dia sudah tertidur.
Aku diam tak bergerak, merasakan berat tubuhnya di tubuhku. Aku bisa bangun, kembali ke ruang tamu dan menikmati sunyinya apartemen atapku. Itu yang paling masuk akal.
Tapi aku tak bergerak.
Sebaliknya, kurapikan seprai di atas kami dan kueratkan lenganku di sekelilingnya dengan lembut.
Felipa tidur tenang di dadaku, dan aku tetap terjaga, menatap langit-langit, mencoba memahami kapan tepatnya membiarkan perempuan ini mendekat berhenti menjadi pilihan dan berubah menjadi sesuatu yang tak mau kulepaskan.
Satu-satunya yang kuyakini adalah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sunyi di rumahku tak lagi terasa cukup.
Dan selama dia ada dalam dekapanku, aku sama sekali tak ingin memintanya kembali.