Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI KELULUSAN - DANEM DI ATAS RATA-RATA DAN TAMU DARI RANTAU JAKARTA
Hari berganti tak terasa. Kabut di lereng Gunung Singgalang yang dulu tebal menutupi kebun cengkeh milik Abdullah Bin Rais Payobadar, kini perlahan menipis karena sudah masuk musim kemarau.
Hari kelulusan SMP pun tiba. Juni 1977.
Pagi itu balai desa Pande Sikek yang lantainya semen dan atapnya seng itu sudah penuh sesak sejak jam tujuh pagi. Bukan hanya murid SMP, tapi seluruh orang tua, mamak-mamak, dan tetangga dari tiga desa datang. Di depan panggung papan yang berderak, sebuah papan tulis hitam besar diletakkan, bertuliskan dengan kapur putih besar-besar: PENGUMUMAN KELULUSAN DANEM SMP NEGERI PANDE SIKEK 1977.
Arya Arsyad Sikumbang yang sekarang sudah 12 tahun, duduk di barisan paling depan dengan seragam putih biru yang sudah dicuci bersih oleh ibunya Siti Aminah Sikumbang sampai bau sabun coleknya masih harum. Di sebelahnya duduk Darlin Aminuddin Chaniago dan Arlan Rasyad Sikumbang yang seumuran 13 tahun, dua kakak yang selalu satu kelas dengannya sejak SD.
Bapak Drs. Syafrianto naik ke panggung dengan map cokelat tebal di tangannya. Peci beludru hitamnya mengkilap terkena matahari pagi.
"Anak-anakku semua," katanya dengan suara bergetar karena haru. "Hari ini adalah hari yang akan kalian ingat seumur hidup. Hari di mana kalian akan tahu, apakah lidi dan butir cengkeh yang kalian susun di atas tikar pandan di bawah lampu petromaks itu sia-sia atau tidak."
Ia membuka map itu. Satu per satu nama dipanggil.
Dan ketika sampai di nama terakhir, suaranya meninggi.
"Arya Arsyad Sikumbang, Kelas IX A, LULUS dengan DANEM 42, rata-rata 8,4. Di atas rata-rata kecamatan. Peringkat pertama SMP Negeri Pande Sikek tahun ini!"
Balai desa pecah. Siti Aminah yang duduk di barisan orang tua langsung menutup mulutnya dengan kain tenunnya, air matanya jatuh deras.
Hari yang juga bersamaan dengan kakak laki-laki sulungnya, Andi Rajo Alam Sikumbang di SMA.
Di hari yang sama, di SMA Negeri 1 X Koto yang gedungnya jauh lebih besar, Andi Rajo Alam Sikumbang yang sekarang sudah 19 tahun, Kelas 3 SMA, juga menerima kelulusannya. Gedung SMA itu memang sudah pakai diesel / genset, belum pakai PLN, hidupnya cuma pagi sampai siang. Sore diesel dimatikan untuk hemat solar. Itu pun sudah dianggap mewah di tahun 1977. SD, SMP, SMA di sana kalau malam pakai penerangan seadanya, petromaks dan lampu minyak tanah saja.
Dan kabar yang dibawa oleh guru kurir yang naik sepeda jengki dari X Koto ke Pande Sikek siang itu membuat balai desa kembali gempar.
"Andi Rajo Alam Sikumbang, LULUS dengan NEM TERTINGGI SE-SMA NEGERI 1 X KOTO. NEM 52, rata-rata 8,7! Ranking satu!"
Jika Arya adalah benih yang tumbuh cepat, Andi adalah pohon surian yang sudah tinggi menjulang. Sejak umur 17 tahun ia mengajari adiknya rumus IPA dengan lidi dan cengkeh di bawah petromaks. Ia yang terkenal pandai itu, malam-malamnya tidak pernah tidur sebelum jam dua belas malam, mengerjakan soal-soal kalkulus dengan lampu petromaks yang harus dipompa setiap satu jam, ces... ces... ces... sementara adik-adiknya sudah tertidur di tikar pandan, karena di rumah papan beratap seng berkarat itu belum ada listrik PLN sama sekali.
Sore itu, rumah papan beratap seng berkarat milik Abdullah Bin Rais Payobadar menjadi lautan manusia.
Selang satu bulan sesuai kelulusan, Juli 1977, ketika padi di sawah pusako sudah mulai menguning, sebuah mobil kijang pick-up warna hijau tua yang bunyinya keras, dong... dong... dong... masuk ke jalan setapak Pande Sikek yang sempit dan becek. Mobil itu penuh dengan debu perjalanan jauh dari rantau, platnya B, plat Jakarta.
Dari pintu depan mobil itu turun seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahun, badannya tegap, kulitnya hitam terbakar matahari Jakarta, memakai kemeja batik lengan panjang dan peci hitam. Di sebelahnya turun seorang perempuan berumur 45 tahun, memakai baju kurung tenun yang indah.
Dialah kakak kandung ayahnya Abdullah Bin Rais Payobadar yang datang. Seorang pengusaha bengkel karoseri dan mesin transportasi yang sukses di JAKARTA, yang bernama Ali Bin Rauf Payobadar beserta istrinya.
Ali Bin Rauf Payobadar adalah abang kandung Abdullah. Sejak tahun 1960 ia merantau ke Jakarta, bukan ke Pekanbaru. Di Jakarta ia mulai dari kuli las di bengkel kecil di daerah Tanjung Priok, sekarang sudah punya bengkel karoseri besar di Cakung, Jakarta Timur.
Kedatangannya disambut beberapa sanak keluarga tak terkecuali Usman Bin Rais Payobadar dan keluarga besar Payobadar lainnya.
"Uda Ali! Akhirnyo pulang juo dari Jakarta!" teriak Abdullah sambil berlari dengan kaki masih berlumpur dari sawah.
Ali memeluk adiknya erat.
"Abdullah... adiak denai... Uwo danga dari surek Mamak Usman, anak ang Andi ranking satu SMA NEM tertinggi, anak ang Arya Danem di ateh rato-rato umur 12 tahun lah lulus Kelas Tigo SMP. Uwo bangga. Uwo di Jakarta hanyo bisa mambuek karoseri basi untuak truk, tapi kalian di kampuang bisa mambuek karoseri manusia, manusia-manusia pandai sarupo Andi jo Arya."
Malam itu di rumah papan yang diterangi dua lampu petromaks, seluruh keluarga besar berkumpul. Ali Bin Rauf Payobadar membuka kotak besi kecil dari Jakarta.
"Abdullah, ini untuk anak-anakmu," katanya. Di dalamnya ada uang tunai hasil bengkel Jakarta dan dua jam tangan Seiko mengkilap.
"Satu untuak Andi Rajo Alam karano NEM tertinggi, supayo kuliah di Padang beko indak talambek. Satu lai untuak Kemenakan Uwo, Buyuang Arya, karano Danem di ateh rato-rato. Bia inok, wakatu itu sarupo petromaks, musti dipompa taruih supayo tarang."
Lalu Ali berkata pelan kepada Abdullah di sudut tikar pandan, sambil menatap Arya yang 12 tahun yang jam tangan Seiko barunya mengkilap terkena cahaya petromaks.
"Adiak denai, Uwo lia sawah ang manguniang elok, ukiran ang haluih, tenun bini ang indah, dan anak-anak ang pandai. Uwo di Jakarta punyo bengkel basi gadang, punyo karyawan 30 orang, tapi Uwo indak punyo iko. Uwo ingin, sasudah Andi kuliah, kalau Buyuang Arya ko suko, ikuiklah Uwo ka Jakarta, Uwo sakolahkan di STM Mesin Transportasi di Jakarta, STM punyo kawan Uwo di Cakung. Bia utaknyo nan caradiek itu dipakai untuak mambuek mesin truk Jakarta, bukan hanyo rumus di ateh tikar pandan."
Abdullah menatap Arya yang dipanggil Buyuang oleh Uwo-nya.
Ia tidak menjawab ya atau tidak. Ia hanya tersenyum menatap sawah pusako yang menguning di bawah cahaya bulan.
Ia tahu, tawaran dari Jakarta itu adalah pematang sawah baru yang lebih licin dan lebih tinggi lagi.