NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - BALIK KE JAKARTA KANTOR HEBOH

Jam tujuh pagi, aku kembali menginjak lantai dua belas.

Rasanya aneh. Seminggu lalu, aku masih sibuk mengurus rumah biru, mendengar suara ember tok tok tok saat hujan, dan membantu Damian memperbaiki atap. Sekarang, aku kembali berdiri di atas lantai marmer mengilap dengan AC yang dinginnya bikin merinding.

Aku mengenakan kemeja putih magang yang sudah disetrika Ibu, rok hitam, dan bando biru seharga delapan belas ribu. Bandoku sudah dicuci bersih setelah dipakai membantu memegangi tangga bambu.

Baru saja membuka pintu pantry, tiga anak magang langsung menghampiriku.

“Lili, kamu beneran bawa sapu lidi ke ruang meeting direksi?”

“Katanya kamu bawa kresek bening isi akta nikah sama foto waktu ngecat rumah?”

“Suami kamu juga naik atap pakai kaos tiga puluh lima ribu, ya?”

Aku hampir tersedak kopi.

“Dari mana kalian tahu semuanya?!”

“Bu HRD cerita ke satpam. Satpam cerita ke sopir Alphard. Sopir Alphard cerita ke temannya yang kerja di sini.”

Aku terdiam.

Rantai gosip kantor ternyata lebih cepat daripada TIT TIT TIT Alphard Papa.

Aku buru-buru duduk di meja magang dan membuka Excel. Seminggu di kampung ternyata membuatku kangen bekerja. Aneh, biasanya aku bosan melihat angka, tetapi sekarang justru senang melihat deretan sel yang rapi.

Jam sembilan, Damian datang dengan jas hitam, dasi rapi, dan rambut tertata sempurna. CEO lantai dua belas sudah kembali.

Namun, saat melewati mejaku, dia malah berbisik, “Bu Damian, tangga bambu aman?”

Aku menahan tawa. “Aman, Pak. Atap sudah tidak bocor. SRRRRRRR.”

Damian mengangguk serius. “Bagus. Keselamatan kerja nomor satu.”

Anak magang di sebelahku langsung menoleh.

“Kalian ngomongin tangga apa?”

“Tangga nada,” jawab Damian santai.

Begitu dia pergi, aku buru-buru menutup mulut supaya tidak tertawa keras.

Jam dua belas, pantry kembali ramai. Mama mengirim rantang sup buntut lewat ojek online. Begitu tutupnya dibuka, aroma kaldu dan bawang goreng langsung menyebar.

Bu HRD mendekat sambil tersenyum.

“Sup buntut lagi? Bukannya kemarin kalian baru syukuran atap?”

Aku mengangguk. “Kata Mama, sup buntut itu lauk resmi keluarga kami.”

“Kalau begitu, saya harus ikut jadi keluarga kalian.”

Semua tertawa. Anak-anak magang langsung mengambil piring plastik, sementara Damian ikut duduk di sebelahku.

Aku melirik piringnya. “Mas, biasanya kamu makan di restoran mahal. Sekarang makan pakai piring plastik?”

“Kenapa harus malu?”

“Ya, siapa tahu kamu gengsi.”

Damian menyendok supnya. “Piring ini punya sejarah. Dia saksi perjuangan kita memperbaiki atap bocor.”

Satu pantry langsung tertawa.

Aku menggeleng sambil ikut makan. Siapa sangka, CEO yang biasanya terlihat serius itu bisa menikmati sup buntut di pantry tanpa memedulikan piringnya.

Jam tiga sore, ponselku bergetar. Mama menelepon lewat video call.

Begitu kuangkat, wajahnya langsung memenuhi layar.

“Lili! Damian! Gawat!”

Aku langsung panik. “Kenapa, Ma? Atap bocor lagi?”

“Bukan! Test pack di atas kulkas, lakbannya ada yang buka!”

Aku membeku. Damian yang sedang membaca laporan langsung menoleh.

“Ma, siapa yang buka?” tanyaku.

“Bu Siti! Tadi pagi dia mau mengambil garam, terus tangannya kesenggol lakban bertuliskan JANGAN DIBUKA SEBELUM WAKTUNYA!”

Di belakang Mama, Ibu muncul sambil membawa sapu lidi dan sebungkus garam.

“Maaf, Nak. Ibu cuma mau mengambil garam. Nggak sengaja tersenggol.”

Aku menutup wajah.

“Buuu, kenapa garamnya harus diambil dari atas kulkas?”

“Lah, Ibu nggak tahu kalau itu barang rahasia!”

Damian mengambil ponsel dari tanganku.

“Ma, Bu, sudah. Jangan dibuka dulu. Nanti kalau waktunya tiba, kita buka bersama-sama.”

Mama mengangguk mantap.

“Sudah Mama tutup pakai lakban hitam. Biar lebih kuat. Tulisannya juga Mama ganti jadi JANGAN DIBUKA SAMPAI CUCU PULANG DARI ALFAMART!”

Aku langsung tertawa. Anak-anak magang yang mendengar percakapan itu ikut tertawa, sementara Bu HRD sampai harus berpegangan pada meja.

Setelah panggilan berakhir, aku menyandarkan punggung ke kursi.

“Aku malu banget, Mas. Sekarang satu pantry mungkin tahu ada test pack misterius di atas kulkas rumah kita.”

Damian tersenyum. “Setidaknya mereka belum tahu warna spidol yang dipakai Mama.”

Aku memukul pelan lengannya.

“Mas!”

Dia tertawa, kemudian bertanya lebih lembut, “Kamu kangen kampung?”

Aku mengangguk.

“Kangen Ibu masak, Mama bawel, Pak RT yang suka datang tiba-tiba. Bahkan suara seng baru juga aku kangen.”

“Malam ini kita video call lagi. Biar Ibu tahu apartemen kita aman.”

Aku tertawa. “Apartemen kita mana mungkin bocor?”

“Jangan meremehkan hujan Jakarta, Bu Damian.”

Jam tujuh malam, kami kembali ke apartemen lantai tiga puluh dua. AC masih dingin, sementara selimut putih di ranjang tetap cuma satu.

Aku mengganti pakaian dengan piyama biru langit berenda. Damian mengenakan kaos tiga puluh lima ribunya yang sudah dicuci bersih setelah dipakai naik atap.

Aku melirik kaos itu.

“Mas, kamu punya banyak jas mahal. Kenapa kaos ini terus yang dipakai?”

“Karena kaos ini berjasa.”

“Berjasa apa lagi?”

“Menemani aku memperbaiki atap rumah kita.”

Aku tertawa sambil menggeleng. Sepertinya kaos itu tidak akan pernah pensiun.

Kami membuka laptop dan melihat foto rumah biru yang dikirim Pak RT. Atap barunya tampak mengilap. Di bawah foto itu tertulis: *Atap baru, anti bocor, anti gosip.*

Aku langsung menunjukkan tulisan itu kepada Damian.

“Lihat, Mas. Pak RT mulai ikut-ikutan.”

“Bagus. Tinggal bikin sertifikat atap.”

“Jangan kasih ide!”

Kami tertawa sebelum akhirnya melakukan panggilan video dengan Mama dan Ibu.

Setelah panggilan selesai, aku menyandarkan kepala di bahu Damian.

“Mas, kamu nggak bosan bolak-balik Jakarta dan kampung?”

Dia menggeleng.

“Di kampung kita belajar memperbaiki atap. Di Jakarta kita belajar menghadapi gosip.”

“Gosip tentang apa?”

“CEO yang naik atap pakai kaos tiga puluh lima ribu dan membawa sapu lidi ke ruang meeting.”

Aku tertawa sampai bahuku berguncang.

“Besok kalau ditanya lagi, jawab apa?”

Damian berpikir sebentar. “Kita bilang sapu lidi itu alat kebersihan resmi perusahaan.”

Aku mencubit pinggangnya.

“Jangan macam-macam, Pak CEO!”

Di luar jendela, hujan mulai turun. Suara air beradu dengan kaca, sementara AC berdengung pelan.

Aku memejamkan mata, membayangkan rumah biru dengan atap barunya. Ternyata, aku bukan merindukan ember bocor atau suara seng berisik. Aku merindukan suasana rumah, masakan Ibu, ocehan Mama, dan Damian yang selalu ada di sampingku.

Di mana pun kami tinggal, rumah tetap terasa nyaman selama ada orang yang membuatku merasa aman.

Aku mengangkat kepala.

“Mas, besok aku mau bawa sup buntut lagi ke kantor.”

Damian langsung mengangguk. “Boleh. Tapi bawa dua rantang.”

“Kenapa dua?”

“Satu buat pantry, satu buat direksi.”

Aku menyipitkan mata. “Kamu mau pamer masakan Mama?”

“Bukan. Aku mau memastikan semua orang tahu CEO mereka punya istri yang jago membawa kebahagiaan dalam rantang.”

Aku tertawa, lalu mencubit pinggangnya sekali lagi.

“Siap, Pak CEO kaos tiga puluh lima ribu!”

Malam itu, kami tertawa sampai lupa bahwa besok aku harus kembali menghadapi gosip satu lantai.

Namun, selama Damian masih ada di sebelahku, rasanya aku siap menghadapi gosip apa pun.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!