Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (26)
Penulis: Linda Lubi
Begitu selesai sarapan, Mbak Kunti melanjuti minum kopi. Betapa indahnya pagi meskipun kabut asap menyelimuti wilayah tempat tinggal Mbak Kunti.
Ternyata saat ini Mbak Kunti berdomisili di wilayah Binjai, Sumut. Sekitar 21-22 km dari Medan. Dipikir Mbak Kunti ia sudah di Batam atau Riau. Kenapa supir Fuso tidak membawanya ke Papua? Biar rindunya semakin berat ke Nurdin. Hik.
Mbak Kunti masih belum menyadari jika Abang Kunti sudah tidak tinggal di pohon asam lagi. Abang Kunti berjuang untuk move on dari perasaan yang tidak berbalas dengan Mbak Kunti. Cieee.....
Ternyata Abang Kunti sudah berada di Stabat. Sekitar 30-34 menit dari Binjai. Ia memilih berada di perkampungan dari pada di pinggiran kota. Abang Kunti sekarang sedang masa-masa transisi.
Ia sudah punya tempat tinggal yaitu sebuah rumah pohon. Ternyata rumah pohon itu bukan punya seseorang. Dulu dibangun secara bergotong royong oleh 4 orang mahasiswa yang suka touring naik sepeda. Mereka suka menjelajah perkampungan maupun spot-spot mancing di berbagai wilayah. Tidak diketahui ke empat mahasiswa itu berasal dari mana.
Abang Kunti begitu detail mencari jejak asal usul rumah pohon. Ia menguping percakapan dari warkop ke warkop lain meskipun datanya masih invalid. Perspectif orang berbeda-beda. Kebanyakan sering ngawur jika membicarakan tentang rumah pohon tersebut. Hingga membuat Abang Kunti hampir frustasi.
Abang Kunti mulai belajar bergaul sama manusia hanya karena ingin melupakan Mbak Kunti. Ia sering menyamar menjadi manusia.
Tergantung tempat tongkrongannya di mana. Kalau tongkrongan penikmat kopinya bapak-bapak, maka ia akan memakai outfit bapak-bapak. Tapi jika tongkrongan penikmat kopinya anak-anak muda, maka keseringan ia memakai celana jogger atau cargo dengan atasan hoodie.
Ia berusaha menguping dari table yang berbeda. Ia ingin bergabung tapi takut dikira SKSD (sok kenal sok dekat). Ia selalu menyihir para kasir kopi lupa untuk menagih uang kopi kepadanya. Bahkan terkadang ia sihir kopi langsung ada di table-nya tanpa melalui kasir.
"Oh, rumah pohon rambutan itu ya? Awak juga nggak tau. Katanya sih yang bikin 4 orang mahasiswa. Mereka nekat kemping di bawah pohon rambutan itu lalu membangun rumah pohon. Karena pemilik pohon rambutan-nya tidak ada. Pohon itu tumbuh sendiri di tanah negara." Ujar seorang pemuda kepada teman-temannya.
Telinga Abang Kunti sudah seperti punya radar. Karena hanya dengan santai tanpa bertanya ia sudah mendapat info dari berbagai sumber.
Begitu ada seorang pemuda mengajak teman-temannya untuk mencoba menginap di rumah pohon, Abang Kunti langsung menyihir otak mereka untuk lupa tentang rumah pohon. Pembicaraan pun beralih ke topik yang lain.
Abang Kunti tidak ingin ada orang lain yang mengganggu rumah pohonnya. Itu sekarang telah menjadi tempat wilayah kekuasaannya. Enak aja.
Abang Kunti kembali ke rumah pohon dengan aneka kuliner yang ia temui di malam hari. Dari mulai martabak telur, martabak manis, putu bambu dan bakpau. Tak pernah lupa yang namanya kopi. Kadang kopi bisa sampai 4 cup. Ia tak punya uang. Tapi ia punya kesaktian. Semuanya tinggal sihir.
Ia menyihir semuanya agar awet panasnya sampai besok pagi. Biar nikmat rasanya. Planning besok pagi, ia rebahan saja. Semoga bisa tidur dan mimpi indah.