NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam Bermula

"Aaa ...!"

Seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin putih berteriak histeris. Napasnya memburu dan tidak beraturan. Dengan tangan gemetar, Nadira Alesya melemparkan ponselnya hingga benda itu terbelah menjadi beberapa bagian.

Ceklek!

Pintu kamar terbuka. Sultan mengernyitkan kening ketika melihat kakak perempuannya sudah terduduk di lantai sambil menangis.

Sultan segera berlari kecil menghampirinya. "Kak, kenapa?"

"Daulat ... Dia membatalkan pernikahan kami."

"Ha?" Sultan terkejut mendengar pengakuan kakaknya.

Seharusnya, satu jam lagi Nadira akan melangsungkan pernikahan dengan Daulat.

"Sultan, Dira! Ada apa ini?"

"Mama..." Nadira menangis sesenggukan. "Daulat, Ma. Hiks ... Daulat membatalkan pernikahan kami."

"Batal bagaimana?" tanya Eros, ayah Nadira dan Sultan.

Merry segera memeluk putrinya. Dia juga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Daulat ... Dia menikah dengan perempuan lain," ungkap Nadira di sela tangisnya.

"Kurang ajar!" Eros mengepalkan tangan. "Beraninya dia mempermainkan keluarga kita."

"Terus bagaimana ini, Pa?" tanya Merry panik. "Bagaimana dengan para tamu undangan? Mereka sudah menunggu dari tadi."

"Aku akan bicara dengan keluarga mereka."

Eros segera mencoba menghubungi keluarga calon besannya. Dia tidak terima jika keluarganya harus menanggung malu akibat ulah Daulat.

[] [] []

Sementara itu, di tempat lain, keadaan tidak kalah kacau. Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana perginya Daulat. Lelaki itu sama sekali tidak memikirkan perasaan keluarganya.

"Abang kamu ini dari dulu memang nggak pernah berubah. Selalu saja merepotkan orang tua."

Indah menghela napas panjang sebelum menatap anak keduanya.

"Kamu nggak tahu Daulat pergi ke mana?"

"Enggak, Mi. Aku cuma dapat pesan singkat dari Daulat, lengkap dengan foto pernikahannya."

Ozan mondar-mandir di dalam kamar pengantin. Dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dalam pikirannya, hubungan baik dengan keluarga pihak perempuan mungkin akan terputus begitu saja setelah kejadian yang dibuat oleh anak pertamanya.

Indah hanya bisa duduk termenung di tepi ranjang. Dia masih tidak menyangka Daulat tega mempermalukan keluarganya sendiri.

"Mas."

Ozan berhenti berjalan.

"Tiga panggilan tak terjawab dari Eros."

Ozan segera menghampiri istrinya. Kemudian, dengan berat hati, dia menghubungi calon besannya.

"Assalamualaikum."

"Ozan, ini cara kamu memperlakukan keluarga kami?" suara Eros terdengar penuh kemarahan dari seberang telepon. "Kalau anakmu tidak mau menikah, seharusnya dia bilang dari awal. Jangan malah kabur begitu saja."

"Eros ... Kami minta maaf. Kami sendiri nggak tahu kalau ini akan terjadi."

"Omong kosong! Kamu tahu, tamu undangan sudah menunggu lama. Bagaimana dengan harga diri kami? Gara-gara anakmu, kami harus menanggung malu."

"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan Daulat."

"Maaf dari keluarga kalian nggak ada gunanya. Sekarang Dira sedang menangis. Kami nggak tahu lagi bagaimana menghadapi tamu undangan sebanyak itu. Gara-gara anakmu—"

"Eors!" Ozan tiba-tiba memotong ucapan Kamal.

"Satu-satunya cara supaya keluarga kamu dan keluarga kami nggak semakin malu ... Aku bersedia menikahkan Rayzan dengan Dira."

"Ayah..."

Rayzan yang sejak tadi mendengarkan percakapan orang tuanya langsung menatap ayahnya dengan tidak percaya. Ozan memberi isyarat agar putranya diam. Rayzan hanya bisa memijat pelipisnya.

"Oke ... Mau tidak mau, kita harus melakukan ini."

"Baik. Setengah jam lagi kami sampai," ucap Ozan mantap.

Sambungan telepon berakhir. Rayzan segera menghampiri ayahnya.

"Ayah nggak bisa begitu. Daulat yang membuat ulah, kenapa aku yang jadi korban?"

"Ray ... Ayah mohon sama kamu. Ini semua demi kebaikan kita bersama."

"Kebaikan bersama atau kebaikan Ayah dan Umi?"

"Rayzan!" tegur Indah. "Jangan bicara seperti itu kepada Ayah mu, nggak baik."

"Tapi, Mi—"

"Rayzan..." Ozan menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

"Ayah memohon sama kamu. Ayah nggak pernah meminta sesuatu seperti ini kepadamu. Kali ini, Ayah benar-benar memohon."

"Ayah ... Aku punya pilihan lain."

"Rayzan ... Apa perlu Ayah bersujud di depan kamu?"

"Mas," lirih Indah.

Saat Ozan hendak berlutut di hadapan anaknya, Rayzan segera menahan tubuh sang ayah.

"Jangan, Yah." Rayza kemudian memeluk erat orang tuanya. "Maafin aku, Yah. Aku nggak bermaksud egois."

"Tolong Ayah, Nak."

Rayzan mengembuskan napas panjang. "Baik, Yah. Aku bersedia menikah dengannya."

[] [] []

"Daulat ... Kamu benar-benar jahat karena udah mempermainkan aku."

Nadira menggertakkan giginya. Tatapannya berubah tajam.

"Baiklah ... Kalau begitu, adikmu yang akan menanggung semua perbuatanmu."

Nadira beranjak dari pelukan sang ibu. Kemudian dia berdiri dan menatap kedua orang tuanya serta adik lelakinya.

"Aku setuju menikah dengan Rayzan."

"Alhamdulillah," ucap Eros dan Merry hampir bersamaan.

"Kamu rapikan rambut dan bajumu," ujar Merry. "Mama sama Papa mau keluar dulu untuk menemui para tamu undangan."

Pasangan suami istri itu meninggalkan Nadira dan Sultan di dalam kamar.

"Kak ... Jangan membuat keputusan dengan tergesa-gesa."

"Enggak, Sultan ... Daulat harus mendapatkan balasan atas perbuatannya."

"Maksud Kakak apa?"

"Kakak akan membalas dendam kepada Daulat melalui Rayzan."

"Jangan bodoh, Kak. Bang Ray nggak tahu apa-apa tentang ini."

Dengan air mata yang masih menetes, Nadira tersenyum miring.

"Mereka saudara, nggak mungkin Rayzan sama sekali nggak mengetahui kelakuan Abangnya itu."

"Kalaupun Bang Ray tahu tentang keburukan Bang Daulat. Tetap saja Bang Rayzan nggak ada kaitannya dengan masalah Kakak sekarang."

"Diam! Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti."

Sultan hanya bisa menatap kakaknya dengan khawatir. Nadira Alesya pun mengepalkan tangannya.

"Tunggu saja, Daulat. Kamu sudah salah karena mempermainkan aku."

[] [] []

Raut wajah beberapa orang yang sebelumnya panik kini kembali dihiasi senyum lega. Namun, tidak dengan Nadira dan Rayzan. Keduanya sama-sama tidak menginginkan pernikahan tersebut.

Tidak lama lagi, pernikahan dadakan antara keduanya akan dilangsungkan. Para tamu undangan sama sekali tidak mengetahui bahwa pernikahan itu sebenarnya bukanlah pernikahan yang direncanakan.

Sejak awal, Nadira memang sengaja tidak mengundang teman-temannya. Dia ingin memberikan kejutan dengan mengumumkan bahwa dirinya telah menikah.

Tanpa disadari, keputusan itu justru menjadi keuntungan tersendiri. Tidak ada teman Nadira yang mengetahui bahwa pengantin pria sebenarnya telah melarikan diri bersama perempuan lain.

"Aneh, ya. Kok baju pengantinnya nggak serasi? Yang satu pakai gaun putih, yang satu lagi pakai batik seperti mau kondangan."

"Mungkin mereka nggak mau ribet. Apa adanya saja," timpal seseorang.

"Nggak mau ribet bagaimana? Pak Eros dan Pak Ozan itu orang terpandang. Masa baju pengantin saja berbeda?"

"Ah, sudahlah. Nggak baik membicarakan orang."

Begitulah kira-kira percakapan beberapa tamu undangan. Banyak yang membicarakan kedua keluarga tersebut dari belakang.

Kedua pengantin telah berada di tempat akad. Bukan hanya Nadira, Rayzan pun enggan menatap perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

Ketika Eros menyodorkan tangannya, Rayzan dengan terpaksa meraih tangan calon mertuanya.

"Bismillahirrahmanirrahim."

Eros menatap Rayzan.

"Rayzan Arjunawan."

"Saya, Pak."

"Rayzan Arjunawan bin Ozan Atmaja saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Nadira Alesya binti Eros Mahadewa, dengan mas kawin uang sebesar delapan ratus juta rupiah, dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya anak Bapak Nadira Alesya binti Eros Mahadewa untuk saya dengan mas kawin uang sebesar delapan ratus juta rupiah, tunai."

Akhirnya, akad itu dinyatakan sah.

Nadira dan Rayzan sudah resmi menjadi suami istri.

Sepanjang pesta berlangsung, Nadira sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu pula Rayzan yang memilih tidak memedulikan perempuan di sampingnya.

"Daulat ... Kenapa aku selalu menjadi kambing hitammu?" Rayzan menundukkan kepala.

"Setiap hal buruk yang kamu lakukan selalu berimbas kepadaku. Dan sekarang ... Hidupku benar-benar hancur karena ulahmu."

Air mata Rayzan menetes.

Nasib yang harus dijalaninya terasa begitu rumit. Kesalahan yang dibuat saudaranya, justru dirinya yang harus menanggung akibatnya.

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!