Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Jam dinding di sudut ruangan telah menunjuk tepat pukul satu dini hari. Suasana di rumah sederhana itu sunyi, hening, hanya terdengar detak jarum jam yang berirama pelan serta napas mereka yang saling menyatu. Lampu ruang tamu telah dipadamkan, yang tersisa hanyalah pantulan cahaya lembut dari dapur, menyinari ruangan dalam kehangatan yang samar.
Mereka masih duduk di sofa yang sama, dalam posisi yang sama pula. Entah telah berlalu berapa lama sejak keheningan menyelimuti mereka. Anindya bersandar lembut pada dada bidang Reynand, tubuhnya terbalut selimut tipis. Di belakangnya, lengan pria itu melingkar erat, menahan tubuh wanita itu seakan tak ingin melepaskannya sedetik pun. Dagu Reynand bertumpu di atas kepala Anindya, kemeja putihnya yang biasanya selalu rapi kini tampak kusut, dasi telah terlepas entah sejak kapan. Di sana tak lagi tampak sosok Direktur Utama yang tegas dan dingin, yang terlihat hanyalah seorang pria yang kelelahan, yang mendambakan kedamaian di pelukan wanita yang dicintainya.
"Pak..." panggil Anindya pelan, suaranya memecah keheningan, "Sudah pukul satu. Bapak belum pulang. Nanti Nyonya Gisella—"
"Jangan sebut namanya di sini," potong Reynand pelan. Nada bicaranya tidak tinggi, tidak pula penuh amarah, melainkan penuh keletihan yang mendalam. "Malam ini... biarlah namanya tak terucap di antara kita."
Ia mengeratkan pelukannya, menempelkan pipinya ke sisi kepala Anindya.
"Sebenarnya, aku sudah satu bulan lebih tidak menempati kediaman bersama sejak aku memutuskan untuk mengajukan perceraian. Aku memilih tinggal di apartemen sendirian."
Anindya terdiam. Jemarinya memutar-mutar ujung selimut dengan gugup, menahan segala keresahan yang mengganjal di dada.
"Pak... peristiwa yang tadi..." suaranya bergetar pelan. "Seharusnya tidak terjadi. Saya tidak bermaksud membuat Bapak kehilangan kendali."
Reynand menghela napas panjang, mengusap lengan wanita itu perlahan.
"Aku tahu. Akulah yang tidak dapat menguasai diri. Menarikmu, cemburu tanpa alasan yang pantas... aku bersikap seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya. Maafkan aku."
"Dokter Rangga itu hanyalah teman, Pak," jelas Anindya lembut. "Dia adalah dokter yang menangani kesehatan Ibu. Kedekatan kami hanyalah sebatas itu, tidak lebih."
"Aku tahu," jawab Reynand jujur, nada bicaranya berubah getir. "Justru itulah yang menyakitkan bagiku. Dia hadir di saat-saat sulitmu, di saat-saat yang seharusnya aku yang ada di sisimu. Dia bebas untuk mengkhawatirkanmu, untuk menemanimu... sementara aku..."
Kalimatnya terhenti di kerongkongan, tak sanggup melanjutkannya.
"Anindya..." panggilnya pelan. "Bolehkah aku jujur?"
Anindya mengangguk pelan di dalam pelukan itu.
"Aku takut," suaranya begitu rendah, hampir tak terdengar di antara keheningan malam. "Aku takut jika besok, saat aku berhadapan dengan Gisella, dengan Mamaku, saat semua urusan ini kuselesaikan... ketika aku kembali ke sini, kamu telah tiada. Aku takut kamu telah mengundurkan diri, telah pergi jauh, mungkin bersama dengannya. Aku takut aku terlambat."
Perlahan Anindya memutar tubuhnya, kini mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Matanya sembab, namun menatap Reynand dengan teduh.
"Apakah Bapak mengira aku tidak merasa takut?" bisiknya, air mata kembali menetes membasahi pipi. "Aku takut, Pak. Aku takut Bapak hanya merasa iba kepadaku. Takut Bapak hanya bosan dengan pernikahan yang hampa, lalu aku menjadi pelarian semata. Siapakah aku ini, Pak? Hanyalah seorang staf biasa, ibuku sedang sakit, rumah yang kutempati pun adalah kontrakan... jika suatu saat Bapak menyesal?"
Reynand menatapnya lekat, lalu mengusap butiran air mata itu perlahan dengan ibu jarinya.
"Jika rasa ini hanyalah rasa iba, aku tidak akan berada di sini, Anindya," ucapnya tegas namun lembut. "Aku tidak akan duduk di sofa yang sempit ini hingga dini hari, hanya karena ketakutan kehilanganmu."
Ia tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus terukir malam itu.
"Rumah kecilmu ini... terasa jauh lebih damai daripada apartemenku yang luas namun sepi."
Anindya tak sanggup lagi menahan perasaannya. Ia memeluk pria itu erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya, terisak pelan.
"Pak... tolong jangan berjanji dengan kata-kata yang indah dulu. Aku hanya meminta satu hal... jika Bapak benar-benar ingin mengakhiri hubungan pernikahan itu, selesaikanlah dengan baik. Bukan karena aku. Selesaikanlah karena memang Bapak dan Nyonya Gisella sudah tidak bahagia bersama. Aku tidak ingin menjadi alasan siapapun membenci Bapak."
Reynand memejamkan mata, membalas pelukan itu dengan sama erat.
"Iya... aku berjanji. Akan kuselesaikan semuanya dengan cara yang terhormat. Tanpa pertengkaran yang tidak perlu."
Ia menarik sedikit tubuh wanita itu, menatapnya lekat-lekat, seakan ingin memastikan setiap sudut wajah itu tersimpan di ingatannya.
"Anindya..."
"Ya, Pak?"
Reynand menggeleng pelan, jemarinya menyentuh lembut pipi wanita itu.
"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Sebutkanlah, jika aku mampu melakukannya."
"Ubah panggilanmu padaku," pintanya lembut namun sungguh-sungguh. "Hilangkanlah kata 'Pak' setiap kali kau menyebut namaku. Di sini, di antara kita... biarlah aku hanyalah Reynand. Bukan atasanmu, bukan siapapun di hadapan orang lain. Hanyalah Reynand, yang berdiri di hadapanmu sebagai diriku sendiri."
Anindya terdiam sejenak, menatap matanya yang penuh ketulusan itu. Napasnya tersendat pelan, lalu bibirnya bergerak mengucapkan nama itu untuk kedua kalinya.
"Rey... Reynand..."
Pria itu tersenyum, menyentuh kening wanita itu dengan keningnya.
"Ya... bagus. Panggil seperti itu."
Reynand mengusap sisa air mata di pipi Anindya sekali lagi, lalu perlahan melepaskan pelukannya dan berdiri.
"Aku harus pulang," ucapnya pelan, suaranya terdengar berat namun tegas. "Semakin lama aku di sini, semakin sulit bagiku untuk pergi."
Anindya ikut berdiri, ia mengantarnya sampai ke pintu depan, menatap punggung pria itu yang berhenti sesaat di ambang pintu.
Reynand berbalik kembali menghadapnya, menatap lekat wajah yang mulai mengisi pikirannya itu.
"Besok..." suaranya lembut namun tegas. "Aku memberimu libur sehari. Tidak perlu ke kantor."
Anindya mengerutkan kening sedikit. "Tapi... bagaimana dengan pekerjaannya, Rey?"
"Biarkan aku yang menyelesaikannya," potongnya lembut. "Masalah di kantor, pertanyaan para direksi, segala pembicaraan yang tak terelakkan... biar aku yang hadapi sendirian. Kamu tidak perlu berada di sana. Istirahatlah di rumah saja."
Ia melangkah mendekat sedikit, menyentuh pelan pipi wanita itu.
"Sepulang kantor, aku akan datang ke sini. Menemuimu. Untuk memastikan kamu baik-baik saja."
Anindya menatapnya, ada rasa lega bercampur cemas di matanya.
"Tapi... bagaimana denganmu? Mereka pasti akan membicarakanmu. Membicarakan kita."
Reynand tersenyum tipis, mengusap pipinya lembut.
"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Tinggal tunggu kedatanganku besok sore."
Ia mengangkat tangan Anindya, mengecup punggungnya sekilas dengan lembut, seakan menitipkan janji di sana.
"Masuklah. Kunci pintunya. Jangan buka untuk siapa pun selain aku."
Anindya mengangguk pelan.
"Hati-hati di jalan... Rey."
Mendengar namanya terucap begitu, tanpa sapaan jabatan, senyumnya melebar sedikit.
"Ya. Sampai jumpa besok."
Reynand melangkah menuju mobilnya, menoleh sekali lagi sebelum masuk. Pintu tertutup pelan, mesin menyala, dan kendaraan itu perlahan menjauh, meninggalkan Anindya yang berdiri sendirian di teras, memandangnya hingga tak terlihat lagi di kegelapan malam.
Setelah itu barulah ia masuk kembali, menutup dan mengunci pintu rapat-rapat, lalu bersandar di belakangnya, menahan jantung yang masih berdegup tak menentu.
-
-
-
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut lewat celah tirai jendela ruang perawatan. Udara di dalam ruangan terasa sejuk, beraroma obat-obatan yang khas, namun Ratna tampak lebih tenang dari biasanya. Ia bersandar di bantal yang ditata rapi, menatap keluar jendela dengan pandangan yang seakan mencari sesuatu di kejauhan.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dari luar. Bukan perawat yang biasanya datang, melainkan seorang wanita paruh baya yang berpakaian anggun namun tegas. Wajahnya cantik, matanya tajam, menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya tertuju langsung kepada Ratna.
Ia mendekat perlahan, berdiri di tepi tempat tidur.
"Apa benar Anda Ratna Amala?" suaranya jernih, rendah, namun penuh penekanan yang tak bisa diabaikan. "Ibu dari Anindya Putri?"
-
-
-
Bersambung...