NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Nasihat Ayah untuk Putrinya

Malam itu Kania sedang berada di rumah ayahnya di Jakarta. Mereka makan malam berdua di meja makan yang terasa lebih lengang dari biasanya. Ibu sambungnya, bersama Marina, sedang pergi ke rumah neneknya.

Sambil menyuapkan makanan, Kania tiba-tiba bertanya, "Yah, waktu Ayah nikah sama bunda, Ayah honeymoon ke mana, sih? Kok Bunda nggak mau cerita, ya?”

Ayahnya yang sedang mengambil lauk berhenti sejenak, lalu menoleh. "Ayah sama Bunda honeymoon ke Paris. Kenapa tanya itu?”

"Pengen tahu aja.”Kania tersenyum kecil.

"Pastinya menyenangkan, ya, bisa honeymoon berdua dengan orang terkasih.”

"Iya,” jawab ayahnya singkat.

"Ceritain dong, Yah. Ayah sama Bunda ke mana aja selama di Perancis?”

Ayahnya menghela napas pelan. "Ya... ke tempat-tempat biasa. Menara Eiffel, Louvre, Champs-Élysées. Sempat juga ke Versailles.”

"Terus?”

"Ya sudah. Banyak jalan-jalan. Makan, belanja, foto-foto.”

Jawabannya terdengar sederhana. Seolah perjalanan itu hanyalah kenangan biasa yang sudah lama berlalu. Padahal bagi dirinya, Paris menyimpan salah satu luka yang paling sulit dilupakan.

Pikirannya kembali pada malam itu. Malam yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia masih ingat bagaimana saat itu hatinya dipenuhi rasa syukur. Ia percaya, setelah pernikahan mereka, perempuan yang ada di sampingnya telah benar-benar menyerahkan hati dan seluruh dirinya kepadanya.

Namun keyakinan itu runtuh ketika dalam sebuah momen yang seharusnya hanya menyisakan nama mereka berdua, ia mendengar satu nama yang sama sekali bukan miliknya.

"Mas Handoko...”

Nama itu terucap dari bibir istrinya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Bahkan nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Handoko.

Nama laki-laki yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Ia berharap dirinya salah dengar.

Namun ketika nama itu kembali terucap, dadanya terasa seperti diremas.

Saat itulah ia sadar, ada seseorang yang ternyata masih begitu dalam tinggal di hati perempuan yang telah dinikahinya. Apalagi setelah ditanya, Mellisa mengakuinya kalau dia masih mencintai laki-laki itu.

Dia mengira, setelah wanita itu menyerahkan mahkota untuk dirinya, hanya dialah yang ada di dalam hatinya. Ternyata tidak, dia masih menyimpan nama **Handoko** yang masih hidup dalam ingatannya. Nama yang bahkan mampu terucap tanpa sadar pada malam yang seharusnya menjadi milik mereka berdua.

Kenangan itu membuat ayah Kania menarik napas panjang.

"Yah?”Suara Kania membuatnya tersadar.

Dia mengangkat wajah dan tersenyum tipis. "Iya.”

"Kenapa melamun?”

"Enggak. Cuma ingat masa-masa dulu.”

Ia kembali menyendok makanannya, berusaha menyembunyikan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.“Sudah lama sekali.”

Kania mengangguk, sama sekali tidak menyadari bahwa pertanyaan sederhananya baru saja membuka kembali luka lama yang selama ini disimpan rapat oleh ayahnya.

"Sayang, bagaimana calon suamimu itu? Apakah dia benar-benar mencintaimu?”

Kania mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. "Iya lah, Yah. Kalau nggak cinta, mana mungkin dia mengajakku naik ke pelaminan?”

Ayahnya ikut tersenyum tipis. "Dia anak tunggal ya?”

"Iya, Yah. Jadi aku nggak akan punya ipar.”

Kania terkekeh kecil sebelum melanjutkan, "Soalnya kalau punya ipar, kadang suka jahat sama kita.”

Ayahnya langsung tertawa kecil. "Ah, kamu ada-ada saja. Kebanyakan nonton sinetron, tuh.”

"Ih, banyak yang ngomong begitu di medsos, Yah.”

"Jangan semua yang kamu baca di medsos dipercaya.”

Kania hanya nyengir, lalu kembali menyantap makanannya.

Beberapa saat kemudian, ayahnya kembali membuka percakapan. "Kapan-kapan kamu ajak calon suamimu ke sini. Sudah lamaran, tapi ayahmu ini belum pernah bertemu.”

Kania menghela napas sambil tersenyum. "Salah sendiri. Ayah terlalu sibuk sama pekerjaan, sampai susah meluangkan waktu. Untung istri Ayah baik, jadi nggak mempermasalahkan itu.”

"Kan Ayah bekerja untuk keluarga juga, Nia.”

"Iya, aku tahu.”

Kania terdiam sebentar. Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba melayang pada masa lalu yang selama ini hanya ia ketahui dari cerita orang-orang.

Lalu, tanpa menyadari bahwa pertanyaannya akan menyentuh luka yang sangat dalam, ia bertanya,

"Jangan-jangan Ayah bercerai sama Bunda gara-gara itu, ya?”

Sendok di tangan ayahnya berhenti. Kania menatapnya polos.“Ayah terlalu mencintai pekerjaan. Iya, kan?”

Ayahnya tertegun. Pertanyaan itu sederhana, tetapi seketika membuat suasana meja makan berubah. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia meletakkan sendoknya perlahan.

Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah menceritakan kepada Kania alasan sebenarnya mengapa rumah tangganya dengan ibu kandung Kania berakhir. Ia membiarkan putrinya tumbuh tanpa harus memikul persoalan orang dewasa yang seharusnya tidak menjadi bebannya.

Namun malam ini, Kania justru menyentuh bagian yang paling ia hindari. Ayahnya menatap putrinya cukup lama. "Kenapa kamu berpikir begitu?”

Nada suaranya terdengar tenang, tetapi Kania bisa merasakan ada sesuatu yang berubah dari sorot matanya.

"Ya... karena Ayah memang sering nggak ada waktu. Mungkin Bunda dulu merasa Ayah lebih sayang pekerjaan daripada keluarga.”

Ayahnya menarik napas dalam-dalam. Seandainya sesederhana itu. Seandainya penyebab perpisahan mereka hanya karena dirinya terlalu sibuk bekerja, mungkin luka itu tidak akan sedalam ini.

Ada hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan.

Tentang cinta yang ternyata masih dimiliki istrinya untuk laki-laki lain. Tentang nama 'Handoko' yang pernah terucap dari bibir perempuan yang seharusnya hanya memikirkan dirinya.

Dan tentang kenyataan pahit bahwa pernikahan yang ia kira akan menjadi awal kehidupan baru justru dibangun di atas hati yang ternyata belum sepenuhnya meninggalkan masa lalu.

Namun semua itu hanya berputar di kepalanya.

Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi Kania, sebelum akhirnya berkata pelan.“Bukan karena pekerjaan, Nia.”

Kania mengerutkan kening.“Terus karena apa, Yah?”

Ayahnya terdiam. Kali itu, ia sadar bahwa mungkin sudah tiba waktunya Kania mengetahui sebagian dari kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Ayahnya terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih pada piring di hadapannya, seolah sedang memilah kata-kata yang tepat.

"Sudahlah. Itu urusan Ayah dan Bunda kamu. Yang penting, jangan sampai kamu mengulangi kesalahan yang pernah Ayah lakukan.”

Kania semakin penasaran. "Kesalahan apa?”

Ayahnya tersenyum tipis. "Dalam rumah tangga, pekerjaan memang penting. Tapi bukan berarti setelah menikah kita boleh memberikan hati setengah-setengah kepada pasangan.”

Kania terdiam mendengarkan.

"Kalau nanti kamu sudah menjadi istri orang, cintailah suamimu sepenuh hati. Jangan menikah hanya karena keadaan, karena keluarga, atau karena merasa dia orang baik.”

Ia berhenti sejenak. "Kalau sudah memutuskan untuk menikah, pastikan tidak ada laki-laki lain yang masih kamu simpan di dalam hati.”

Kania menatap ayahnya dengan serius. "Kenapa Ayah ngomong begitu?”

"Karena Ayah tahu, pernikahan tanpa cinta yang utuh bisa menyakiti banyak orang.”

Suaranya terdengar semakin pelan. "Bukan cuma suami atau istri. Anak juga bisa ikut merasakan akibatnya.” Kania menunduk. Kali ini, ia melihat ada kesedihan yang begitu dalam di mata ayahnya.

Ayahnya lalu melanjutkan,. "Kalau kamu mencintai calon suamimu, cintai dia dengan sungguh-sungguh. Jangan membandingkannya dengan siapa pun. Jangan membawa masa lalu ke dalam rumah tanggamu.”

Ia menarik napas panjang. "Dan kalau suatu hari kamu sadar hatimu masih tertinggal pada seseorang dari masa lalu, selesaikan dulu perasaan itu sebelum kamu menikah.”

Kania terdiam cukup lama. "Memangnya... Ayah pernah mengalami itu?”

Pertanyaan tersebut membuat ayahnya tersenyum getir. "Pernah.”

"Dengan Bunda?”

Ayahnya tidak langsung menjawab. Ingatan tentang malam di Paris kembali melintas. Wajah istrinya. Pelukannya. Dan satu nama yang sampai sekarang masih melekat begitu jelas di kepalanya.

Handoko.

Nama yang pernah ia dengar dari bibir perempuan yang menjadi istrinya.

Nama yang membuatnya sadar bahwa seseorang bisa saja berdiri di samping kita, tetapi hatinya masih berada bersama orang lain.

"Bukan hal yang perlu kamu pikirkan sekarang.” jawabnya akhirnya.

Ia menatap putrinya. "Yang perlu kamu pikirkan adalah calon suamimu. Kalau kamu memang mencintainya, jangan pernah membuat dia merasa bahwa dia hanya pilihan kedua.”

Kania mengangguk perlahan. "Iya, Yah.”

Ayahnya tersenyum, lalu mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Ayah cuma ingin kamu punya rumah tangga yang lebih baik daripada yang pernah Ayah jalani.”

Kania tersenyum kecil, tanpa mengetahui bahwa nasihat itu bukan sekadar nasihat seorang ayah kepada putrinya. Itu adalah kalimat-kalimat yang lahir dari luka yang pernah ditinggalkan seorang perempuan...

dan dari satu nama yang tidak pernah benar-benar bisa ia lupakan: Handoko.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!