NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPUTUSAN HATI

Bandung menatap Jessica dan Oreo yang melintas di depan mobilnya. Suara klakson motor Jessica sempat terdengar sebelum keduanya menjauh, lalu menghilang di persimpangan jalan.

Dia masih memandangi arah kepergian mereka selama beberapa saat, sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya ke jok mobil.

Pikirannya kembali berperang.

Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalanya, saling bertabrakan tanpa satu pun memberikan jawaban yang benar-benar dia butuhkan.

Kali ini, Bandung mencoba berhenti memikirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Luna. Dia ingin menyingkirkan semua dugaan, ketakutan, dan prasangka yang selama ini memenuhi pikirannya. Dia mencoba melakukan sesuatu yang selama ini justru selalu dia hindari: mendengarkan perasaannya sendiri.

Dia mengingat kembali setiap waktu yang telah dilewatinya bersama Luna.

Wajah perempuan itu ketika tersenyum. Cara Luna berbicara kepadanya tanpa banyak basa-basi. Kekhawatiran yang muncul setiap kali melihat perempuan itu menderita. Bahkan, perasaan lega dan bahagia yang diam-diam selalu muncul ketika Luna baik-baik saja.

Semua kenangan itu terasa begitu sederhana ketika terjadi. Namun, ketika diingat kembali, Bandung mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.

Dia terlalu sibuk menikmati keberadaan Luna sampai tidak pernah benar-benar menyadari betapa pentingnya perempuan itu bagi kehidupannya.

Dan sekarang, ketika perasaannya mulai menemukan nama, dia justru ketakutan.

Di satu sisi, ada ikrar yang selama bertahun-tahun dia pegang teguh: tidak akan jatuh cinta lagi.

Di sisi lain, ada perasaan yang semakin sulit dia bantah.

Jangan-jangan, tanpa disadarinya, dia sudah terjebak dalam sesuatu yang selama ini berusaha dia hindari.

Jatuh cinta.

Bandung mengembuskan napas panjang, kemudian mengusap wajahnya.

"Anjir, kenapa jadi ribet begini, sih?"

Dia terdiam sejenak. Lalu, sebuah nama melintas di kepalanya.

Umi.

Sahabatnya itu adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar dia percaya. Perempuan yang menurutnya bijaksana, dewasa, dan cukup jujur untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengarnya. Umi juga mengenalnya cukup lama untuk memahami bahwa di balik sikap santai dan kebiasaan bercandanya, Bandung menyimpan banyak hal yang tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain.

Sepertinya, kali ini dia memang membutuhkan pendapat seseorang.

Dan Umi adalah orang yang tepat.

Bandung menurunkan kaca mobilnya. Di dekat mobil, seorang tukang ketoprak masih sibuk melayani beberapa pembeli.

"Bang!"

Tukang ketoprak itu menoleh.

"Iya, Bos?"

"Tolong totalin semua belanjaan ibu-ibu tadi, sekalian sama es krim gue dua, ya!"

"Siap, Bos!"

Tukang ketoprak itu segera menghampiri penjual es krim, berbicara sebentar, lalu kembali ke mobil Bandung.

"Totalnya lima ratus delapan puluh ribu, Bos."

Bandung membuka laci dasbor, mengambil beberapa lembar uang, kemudian menyerahkannya kepada lelaki itu.

"Nih, Bang. Ambil aja. Kalau ada lebih, bagi-bagi sama yang lain."

Tukang ketoprak itu sempat tertegun melihat uang yang diterimanya. Namun, sesaat kemudian wajahnya merekah dan tersenyum lebar.

"Hatur nuhun, Bos! Hatur nuhun!"

Bandung hanya melambaikan tangan sambil tersenyum tipis.

"Ya udah, Bang. Hati-hati."

Setelah kaca mobil ditutup, Bandung menginjak pedal gas. Deru mesin Ferrari-nya menggelegar, menarik perhatian beberapa orang yang masih berada di sekitar pedagang kaki lima itu.

Dia melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang mulai padat. Sesekali, pikirannya kembali melayang kepada Luna, tetapi kali ini dia berusaha tidak membiarkan pikirannya mengambil alih seluruh kesadarannya.

Dia harus bicara dengan seseorang.

Dan dia harus menemukan jawaban.

---

Tidak terlalu lama kemudian, Ferrari merah itu memasuki kawasan pantai dan berhenti di halaman sebuah galeri seni.

Di depan bangunan tersebut berdiri seorang perempuan setengah baya dengan penampilan modis. Meski beberapa helai rambutnya mulai memutih, tubuhnya masih terlihat terawat dan menarik. Pembawaannya tenang, dengan sorot mata yang memperlihatkan kepercayaan diri seseorang yang sudah cukup lama mengenal kehidupan.

Perempuan itu tersenyum ketika melihat mobil Bandung memasuki halaman galeri.

Begitu Bandung keluar dari mobil, dia segera menghampirinya.

"Wah, panjang umur lu! Gue baru aja mau telepon lu."

Bandung menyambutnya dengan senyum kecil.

"Oh ya? Ada perlu apa, Umi?"

Perempuan itu langsung mengangkat alis.

"Perlu apa? Ya, perlu nanyain pesanan lukisan gue, lah! Gimana? Udah kelar belum?"

Bandung terdiam sesaat.

Barulah dia ingat beberapa lukisan pesanan Umi yang belum juga diselesaikannya.

"Waduh, sorry, Mi. Baru sampai tahap sketsa. Otak gue lagi kosong. Inspirasi gue lagi nol besar."

Umi memandang wajahnya, lalu tersenyum seolah sudah menduga jawaban tersebut.

"Ya udah, masuk dulu. Daripada lu berdiri di sini sambil nyari alasan."

Bandung terkekeh, kemudian mengikuti Umi masuk ke dalam galeri.

Ruangan itu dipenuhi berbagai karya seni yang tertata rapi. Beberapa lukisan tergantung di dinding, sementara benda-benda antik menghiasi sudut ruangan. Ada pula sejumlah alat musik tua yang masih terawat dengan baik, seolah pemiliknya tidak sekadar menyimpan barang-barang itu sebagai koleksi, tetapi juga menghargai cerita yang melekat pada masing-masing benda.

Beberapa pengunjung terlihat sedang mengamati lukisan, sementara seorang perempuan muda duduk di meja resepsionis.

Umi melirik ke arah perempuan itu.

"Ika!"

Perempuan muda tersebut segera menoleh.

"Iya, Umi?"

"Tolong buatin kopi buat gue sama Om Bandung. Siapin makanan juga, ya."

"Baik, Umi."

Ika segera beranjak menuju bagian belakang galeri.

Sementara itu, Bandung dan Umi memilih duduk berhadapan di sebuah sudut ruangan yang agak tenang.

Tidak lama kemudian, Ika kembali membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan beberapa hidangan. Dia meletakkannya di atas meja, lalu menyajikan kopi di hadapan keduanya.

"Silakan, Om. Kopinya."

Bandung tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

"Makasih, Ka."

"Sama-sama, Om."

Setelah Ika kembali ke meja resepsionis, Umi menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatap Bandung dengan senyum yang perlahan berubah menjadi senyum penuh selidik.

"Bandung, gue denger dari anak-anak basecamp katanya lu lagi deket sama seorang perempuan, ya?"

Bandung yang baru saja hendak mengangkat cangkirnya langsung berhenti.

Dia meletakkan kembali cangkir itu, kemudian menarik napas panjang.

"Umi, justru itu alasan gue ke sini."

Umi menggeleng pelan sambil tersenyum.

"Elu emang nggak pernah berubah. Setiap ke sini, pasti ada aja masalah yang mau lu ceritain."

"Maaf, ya, Mi. Habisnya, gue udah terlalu terbiasa berbagi masalah sama elu."

"Ya, nggak apa-apa, lah. Orang seusia kita ini kalau nggak punya masalah, malah kayaknya hidupnya udah nggak penting lagi."

Bandung tertawa kecil.

"Kalau gue mau berbagi duit, lu kan udah kebanyakan duit, Umi."

Umi langsung terkekeh.

"Dasar! Ada aja mulut lu."

Mereka tertawa bersama. Namun, tawa Bandung terdengar sedikit dipaksakan. Senyumnya cepat menghilang, menyisakan ekspresi yang membuat Umi perlahan berhenti bercanda.

Umi memperhatikannya lebih saksama.

"Jadi, apa yang sebenarnya mau lu ceritain ke gue?"

Kali ini Bandung tidak menjawab dengan lelucon.

Dia menunduk, memandangi permukaan kopi di hadapannya, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui sesuatu yang bahkan kepada dirinya sendiri pun masih sulit dia terima.

"Gue lagi terjebak, Mi."

Umi mengangkat alis.

"Terjebak apalagi, Bandung?"

Bandung mengembuskan napas.

"Elu kan tahu, gue pernah berjanji nggak akan jatuh cinta lagi."

Senyum Umi perlahan melebar.

"Oh, jadi ini soal perempuan?"

"Ya, begitulah."

"Bagus, dong!"

Bandung langsung mendongak.

"Bagus dari mana, Mi?"

"Ya, baguslah! Berarti lu masih punya perasaan. Berarti lu masih manusia!"

Bandung menggeleng sambil mengusap wajahnya.

"Masalahnya, perempuan ini lebih pantas jadi anak gue daripada jadi kekasih gue."

Umi terdiam sepersekian detik, lalu tertawa.

"Ya, justru itu lebih keren! Berarti selera lu masih muda!"

"Umi!"

"Apa? Salah gue?"

Bandung mendecakkan lidah, sementara Umi masih menahan tawanya.

Namun, beberapa saat kemudian, ekspresi Bandung kembali serius.

"Masalahnya bukan cuma soal umur, Mi. Gue juga terlambat."

"Terlambat kenapa?"

"Dia udah dijodohin sama orang tuanya."

Umi tidak langsung menanggapi. Dia mengambil cangkir kopinya, menyeruput sedikit, lalu meletakkannya kembali.

"Kalau baru dijodohin, berarti masih ada harapan, Bandung."

Bandung menatapnya tidak percaya.

"Serius, Mi? Bukannya itu artinya gue harus bersaing sama orang lain?"

Umi mengangkat bahu.

"Emang selama ini lu nggak pernah bersaing sama orang lain?"

Bandung mengernyit.

"Maksud lu?"

"Soal cari makan aja lu sering rebutan. Apalagi kalau soal masa depan!."

Bandung menatap Umi dengan ekspresi tidak terima.

"Ya, tapi masa gue harus berebut seorang gadis? Gue ini masih pantas, emangnya?"

Umi tersenyum tipis. Kali ini, dia tidak lagi berniat menggodanya.

"Bandung, soal pantas atau nggak, itu bukan cuma urusan umur. Lu punya banyak hal dalam hidup lu. Lu punya pengalaman, lu punya kemampuan, lu punya kesempatan. Dan yang paling penting, sesungguhnya lu masih punya cinta."

Bandung terdiam.

"Justru gue udah nggak pengen jatuh cinta lagi, Mi. Gue udah capek. Gue cuma pengen menikmati hidup gue dengan tenang. Nggak mau lagi pusing gara-gara perasaan, nggak mau lagi takut kehilangan, dan nggak mau lagi ngerasain sakitnya ditinggal."

Suaranya terdengar semakin pelan pada kalimat terakhir.

Umi memahami apa yang tidak sanggup diucapkannya secara langsung.

Dia tidak berusaha membantah ataupun menggurui. Dia hanya menatap Bandung dengan tenang sebelum akhirnya berkata,

"Cinta juga bagian dari kenikmatan hidup, Bandung. Kalau selama ini lu cuma ngerasain pahitnya cinta, bukan berarti cinta itu sendiri pahit."

Bandung mengangkat wajahnya.

"Terus gue harus gimana, Mi? Gue udah nyaman hidup begini. Gue nggak perlu mikirin siapa-siapa. Nggak perlu khawatir kehilangan seseorang lagi."

"Kalau memang lu sebahagia itu, kenapa sekarang lu duduk di depan gue sambil kebingungan?"

Pertanyaan itu membuat Bandung terdiam.

Umi melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

"Lu bilang lu udah nyaman hidup sendiri. Tapi coba lu pikir lagi. Selama ini, lu benar-benar menikmati hidup lu, atau lu cuma belajar membiasakan diri dengan kesendirian?"

Bandung tidak menjawab.

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi justru karena itulah dia kesulitan menghindarinya.

Selama ini, dia menganggap ketenangan sebagai sesuatu yang berhasil dia dapatkan setelah menutup pintu hatinya. Dia mengisi hari-harinya dengan pekerjaan, mengurus Oreo, menikmati kebebasan, dan menjalani hidup tanpa perlu memikirkan hubungan dengan perempuan lain.

Dia merasa baik-baik saja.

Setidaknya, begitulah yang selalu dia katakan kepada dirinya sendiri.

Namun, semuanya berubah ketika Luna mulai hadir dalam kesehariannya.

Bandung mengusap dagunya, lalu berbicara dengan suara yang nyaris seperti gumaman.

"Walaupun sejujurnya, gue udah cukup senang cuma dengan melihat dia bahagia."

Umi membiarkannya melanjutkan.

"Awalnya, gue nggak pernah sadar kalau dia selalu ada di dekat gue. Gue nganggep kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa aja. Bahkan, mungkin gue terlalu terbiasa sampai nggak pernah kepikiran kalau suatu hari dia bisa nggak ada lagi di sekitar gue."

Bandung berhenti sejenak.

"Tapi belakangan ini, gue mulai ngerasa aneh. Kalau dia ada, gue ngerasa hidup gue jadi lebih... hidup. Gue nggak tahu gimana jelasinnya. Ada aja hal kecil yang bikin gue senang. Bahkan, kadang gue sendiri nggak ngerti kenapa gue bisa sebahagia itu cuma gara-gara dia."

Dia menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri.

"Dan waktu dia nggak ada, gue ngerasa ada bagian dari kehidupan gue yang hilang. Rumah gue tetap sama. Rutinitas gue tetap sama. Nggak ada yang berubah secara nyata. Tapi rasanya ada yang kurang."

Bandung menarik napas panjang.

"Gue kayak kehilangan sesuatu, Mi. Sesuatu yang bahkan baru gue sadari keberadaannya setelah gue nggak bisa lagi merasakannya."

Umi menatapnya beberapa saat, kemudian mengangguk pelan.

"Nah, kalau yang ini, gue yakin lu benar-benar jatuh cinta."

Bandung mengangkat wajahnya. Kali ini, dia menatap Umi cukup lama, seolah berharap sahabatnya itu akan memberikan jawaban yang bisa menghilangkan seluruh kebingungannya.

"Jadi, gue harus gimana, Mi?"

"Ikutin kata hati lu."

Bandung langsung menggeleng.

"Justru sekarang gue lagi nggak percaya sama hati gue sendiri!"

Umi tertawa pendek, lalu menunjuknya dengan telunjuk.

"Itu namanya bodoh!"

Bandung melotot.

"Enak aja!"

"Dengerin dulu! Kadang-kadang, saat lu merasa paling bodoh sekalipun, lu justru harus berani bertanya sama hati lu sendiri. Bukan berarti semua keinginan hati harus lu turutin mentah-mentah, tapi setidaknya lu harus jujur sama apa yang lu rasain."

Umi menyandarkan kedua tangannya di atas meja.

"Lu boleh takut. Lu boleh ragu. Lu juga boleh mempertimbangkan segala kemungkinan. Tapi jangan sampai ketakutan lu terhadap masa lalu membuat lu menolak kesempatan yang bahkan belum lu coba."

Bandung terdiam cukup lama.

Kemudian, dia mengembuskan napas dengan berat.

"Tapi gue bahkan nggak benar-benar mengenal dia, Mi. Gue nggak tahu rumahnya di mana, keluarganya siapa, atau apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidupnya. Nomor handphone-nya aja gue nggak punya."

Umi menatapnya datar.

"Terus?"

Bandung mengernyit.

"Ya, gimana gue mau mendekati dia?"

"Ya, cari tahu!"

Bandung terdiam.

Umi mengangkat bahu seolah persoalan itu sama sekali tidak rumit.

"Lu punya teman, punya kenalan, dan punya cukup banyak cara buat mencari informasi. Mulai dari hal-hal sederhana. Cari tahu siapa keluarganya, apa yang dia suka, apa yang dia nggak suka. Kenali dia baik-baik. Jangan asal datang terus bilang lu cinta sama dia, sementara lu sendiri nggak tahu apa-apa tentang kehidupannya."

Bandung mengusap tengkuknya.

"Kalau ternyata dia memang udah punya pilihan sendiri, gimana?"

"Ya, lu harus siap menerima kenyataan."

"Kalau dia udah bertunangan?"

"Selama dia belum menikah, masih ada kemungkinan. Tapi bukan berarti lu boleh memaksa atau merusak kebahagiaan orang lain. Lu dekati dia dengan cara yang baik. Kenali perasaannya, dan biarkan dia menentukan pilihannya sendiri."

Umi berhenti sejenak, memastikan Bandung benar-benar mendengarkan.

"Tapi ingat, Bandung. Kalau dia sudah menikah, lu harus tahu batas. Kubur perasaan lu, kalau memang itu yang terbaik. Jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk menyakiti orang lain."

Bandung mengangguk perlahan.

"Jadi, selama dia baru dijodohin, gue masih boleh berusaha?"

"Selama lu melakukannya dengan cara yang benar."

Umi tersenyum, kemudian melanjutkan,

"Jangan lupa, hidup lu sendiri masih berjalan. Lu nggak bisa mengatur semua hal yang akan terjadi, tapi lu masih bisa menentukan langkah apa yang mau lu ambil. Setidaknya, masih ada bagian dari takdir yang bisa lu perjuangkan."

Bandung menatap Umi dalam-dalam.

Kalimat itu membuatnya berpikir cukup lama.

Selama bertahun-tahun, dia selalu menganggap menutup hati sebagai bentuk perlindungan diri. Dia tidak ingin kembali merasakan kehilangan, jadi dia memilih untuk tidak memberi siapa pun kesempatan mendekat terlalu jauh.

Namun, sekarang dia mulai menyadari sesuatu.

Menghindari rasa sakit tidak selalu berarti menjalani hidup dengan bahagia.

Bisa jadi, selama ini dia memang berhasil melindungi dirinya dari luka baru. Tetapi pada saat yang sama, dia juga menutup kemungkinan untuk merasakan kebahagiaan yang berbeda.

Dan Luna telah membuatnya menyadari hal itu.

Bandung mengambil sebatang rokok dari sakunya. Setelah menyalakannya, dia mengisapnya sebentar, lalu mengembuskan asap tipis ke arah yang berlawanan dari Umi.

Dia meraih cangkir kopi dan menyesapnya hingga tinggal sedikit.

Setelah itu, dia menyandarkan punggungnya ke kursi. Pandangannya menerawang ke langit-langit galeri, sementara pikirannya kembali menyusuri segala sesuatu yang baru saja mereka bicarakan.

Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya dia menoleh kepada Umi.

"Oke, Mi."

Umi mengangkat alis.

"Oke apanya?"

Bandung tersenyum kecil.

"Sekarang gue yakin. Kayaknya gue memang udah kena virus."

Umi terkekeh.

"Nah, gitu dong! Virus yang satu ini bisa bikin lu kuat, tapi juga bisa bikin lu hancur. Makanya, jangan cuma berani jatuh cinta. Lu juga harus berani menghadapi konsekuensinya."

Bandung mengangguk.

"Oke, Umi. Sepertinya gue memang harus mulai mengejarnya."

Umi tersenyum puas.

"Bagus!"

"Gue nggak peduli berapa umur gue sekarang. Gue juga nggak mau terus-terusan bersembunyi di balik alasan kalau gue udah terlalu tua buat jatuh cinta."

Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.

"Di sisa umur gue, gue pengen punya sesuatu yang benar-benar berarti. Bukan cuma buat diri gue sendiri, tapi juga buat masa depan Oreo."

Umi memperhatikan sahabatnya itu dengan senyum hangat.

Akhirnya, lelaki yang selama ini selalu berusaha meyakinkan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja mulai berani mengakui bahwa dia masih menginginkan sesuatu dari kehidupan.

Bukan kekayaan.

Bukan pula kebebasan yang selama ini selalu dia banggakan.

Melainkan kesempatan untuk kembali memiliki seseorang yang berarti.

Umi lalu mengangkat cangkir kopinya.

"Ya udah, habisin kopinya. Terus, action!"

Bandung ikut mengangkat cangkirnya.

"Tapi, Mi, gue masih harus mikirin langkah pertama gue."

"Ya, pikirin sambil jalan. Jangan kelamaan duduk di sini."

"Kenapa?"

Umi menyunggingkan senyum jahil.

"Kalau lu di sini terus, yang ada nanti lu malah jatuh cinta sama gue!"

Bandung langsung tertawa keras.

"Ya ampun, Umi! Lu mah dari tadi bukannya ngasih solusi, malah nyari kesempatan!"

"Memangnya kenapa? Gue juga masih menarik, tahu!"

"Iya, menarik perhatian petugas museum!"

Umi langsung memukul pelan lengan Bandung sambil tertawa.

"Kurang ajar lu!"

Tawa mereka kembali memenuhi sudut galeri.

Untuk pertama kalinya hari itu, Bandung tertawa tanpa harus memaksakan dirinya.

Dan ketika dia akhirnya berdiri untuk berpamitan, ada sesuatu yang berbeda dalam langkahnya.

Dia memang belum tahu bagaimana caranya mendekati Luna. Dia bahkan belum tahu apakah perempuan itu memiliki perasaan yang sama kepadanya.

Namun, setidaknya sekarang dia sudah tahu satu hal.

Dia tidak ingin lagi membiarkan ketakutannya menentukan seluruh jalan hidupnya.

Kali ini, dia akan mencoba.

Bukan karena dia yakin akan mendapatkan Luna, melainkan karena dia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan terus bertanya-tanya tentang sesuatu yang bahkan belum pernah berani dia perjuangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!