Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Membeli Rumah
Siang harinya, setelah mengganti pakaian di rumah, Louis pergi ke kantor Ratu Grup untuk menemui ayahnya.
Begitu memasuki ruang kerja Tuan Lee, langkah Louis langsung terhenti.
Di depan meja ayahnya berdiri seorang wanita berpakaian rapi.
Wanita itu tampak sedang memperkenalkan dirinya sebagai karyawan baru di perusahaan tersebut.
“Louis!”
Tuan Lee memanggil putranya ketika menyadari kedatangannya.
“Sini! Ada seseorang yang ingin Ayah perkenalkan kepadamu!”
Louis segera mendekat.
Ia berdiri di samping wanita itu.
“Ini ... temanmu, kan?” Tuan Lee menunjuk wanita yang berdiri di hadapan mereka. “Dia yang akan menggantikan Mitha selama tiga bulan!”
“Hah?”
Louis terkejut.
“Ma-Marine?”
Tatapan Louis berubah kaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Louis benar-benar tidak menyangka Marine akan melamar pekerjaan di perusahaan ayahnya.
Lebih mengejutkan lagi, wanita itu akan menjadi asisten pribadi Louis selama tiga bulan untuk menggantikan orang yang sedang cuti melahirkan.
Bagaimana bisa?
“Halo, Louis!”
Marine membungkuk sopan.
“Kebetulan aku melihat lowongan pekerjaan di internet! Jadi, aku langsung bertanya pada ayahmu!”
“Kalian teman dekat, kan?” tanya Tuan Lee.
Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati putranya.
Tangannya menepuk bahu Louis.
“Akan lebih nyaman kalau bekerja dengan teman sendiri! Sebagai asisten pribadimu, kau bisa meminta bantuan apapun pada Marine tanpa merasa canggung. Benar, bukan?”
Tuan Lee memang berpikir mempekerjakan teman Louis akan mempermudah putranya dalam menjalankan pekerjaan.
Marine tersenyum.
“Mohon bimbingannya!”
“Baiklah! Ajak dia ke ruang kerjamu! Ajari beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaannya!”
Tuan Lee mengambil jas yang tergantung di belakang kursinya.
“Ayah ada rapat penting! Ayah harus segera pergi!”
Setelah mengatakan itu, Tuan Lee berjalan menuju pintu dan meninggalkan Marine bersama Louis di dalam ruangannya.
Begitu memastikan Tuan Lee benar-benar pergi, Marine segera mendekati Louis.
Tanpa ragu, ia memeluk pria itu.
“Kau pergi ke mana saja?”
Marine memeluk Louis erat.
“Sudah beberapa hari aku tidak melihatmu! Tidak ada kabar darimu! Ditelepon pun ponselmu tidak aktif!”
Ia mendongak menatap Louis.
“Aku sangat merindukanmu, Sayang!”
Marine memang sangat cemas selama beberapa hari terakhir. Karena itulah, ia memutuskan melamar pekerjaan di Ratu Grup.
Selain mendapatkan pekerjaan, ia juga bisa memastikan keberadaan Louis setiap hari.
Dan sekarang, Marine justru mendapatkan posisi sebagai asisten pribadi Louis.
Marine merasa sangat senang.
Tanpa menyadari bahwa kehadirannya di perusahaan itu akan membawa masalah baru ke dalam hubungan Louis.
***
Di sebelah utara kota itu, Davi menemani Karissa melihat-lihat bangunan rumah yang akan dijual.
Dia mendapatkan informasi rumah itu dari situs jual beli online di internet, atas permintaan Karissa.
“Kariss, menurutku rumah ini cukup bagus!” ucap Davi sambil berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. “Walau tidak terlalu besar, tapi rumah ini bisa dipakai untuk membuka kedai mi atau bahkan rumah makan. Tinggal direnovasi sedikit, dicat lagi, lalu didekorasi semenarik mungkin. Sudah deh, jadi!”
“Emhhh, ya!”
Karissa hanya mengangguk. Ia tidak terlalu menanggapi ide Davi dengan serius.
Ia sadar, dirinya tidak punya pengalaman di bidang kuliner. Mungkin akan sulit baginya menjalankan usaha seperti itu.
Tiba di lantai dua, ada satu ruangan yang cukup luas dan dua kamar tidur. Davi dan Karissa melihat ruangan-ruangan itu.
Davi kembali berpendapat, “Di lantai dua ini bisa untuk kau tinggal! Bukankah rumahmu sudah dijual?”
Davi dan Mona belum tahu kalau Karissa sudah menikah dengan Tuan Lee dan sekarang tinggal bersama. Yang mereka tahu, rumah Karissa sudah dijual dan dia sedang mencari rumah untuk ditinggali.
Karissa mengangguk. Ide itu cukup baik.
“Boleh juga!”
Karissa menatap setiap sudut ruangan dengan teliti. Sepertinya rumah ini tidak terlalu buruk.
“Bagaimana? Apa Nona cocok dengan rumah ini?”
Seseorang yang baru datang menghampiri mereka. Pria itu adalah pemilik rumah.
“Iya, ini lumayan bagus!”
Karissa menghampiri pria berusia sekitar empat puluh tahunan tersebut.
“Harganya masih bisa diturunkan?”
“Haha ... kalau Nona sudah cocok, masalah harga masih bisa kita bicarakan,” jawab pria itu ramah.
“Oh, baiklah!”
Mereka kembali ke lantai satu untuk membicarakan harga.
Setelah melakukan negosiasi, Karissa dan pria tersebut akhirnya mencapai kesepakatan.
Mereka segera melakukan transaksi jual beli.
Setelah menandatangani surat perjanjian jual beli yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Davi, lalu mentransfer uang ke rekening pemilik rumah, Karissa resmi membeli rumah dua lantai yang berada di sebelah utara Kota A. Lokasinya tepat di pinggir jalan yang cukup ramai.
“Sebelumnya, saya ingin meminta izin terlebih dahulu pada Nona,” ucap pria itu dengan ragu setelah transaksi selesai.
“Jual beli rumah ini terlalu mendadak. Saya belum sempat mempersiapkan apapun, bahkan belum mengemas semua barang-barang saya! Bagaimana kalau saya meminta waktu satu minggu?”
“Tidak masalah,” jawab Karissa dengan singkat.
Ia tidak mungkin memaksa pria itu mengosongkan rumah dalam waktu satu hari.
“Saya akan mengurus akta jual beli bangunan ini terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, barulah saya akan merenovasi rumah ini,” lanjut Karissa.
“Jadi, Anda bisa mengemas barang-barang Anda sebelum saya mulai merenovasinya!”
Pria itu tampak sangat lega.
“Terima kasih, Nona!”
“Baiklah, semuanya sudah jelas! Sekarang, kami permisi dulu!”
Karissa bangkit berdiri, diikuti Davi di sampingnya.
“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih, Nona!”
Karissa mengangguk.
Ia dan Davi segera meninggalkan rumah tersebut.
Davi mengendarai mobil menuju pusat kota.