Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Waktu terasa berjalan merayap lambat, menghitung detik dalam kecemasan yang mencekam di depan ruang bedah.
Empat jam penuh ketegangan akhirnya terbayar lunas ketika lampu merah penanda operasi padam, disusul terbukanya pintu ruang bedah.
Seorang dokter bedah senior keluar dengan langkah lelah namun menyunggingkan senyuman tipis penuh kelegaan di balik masker hijaunya.
"Alhamdulillah. Operasinya berjalan lancar," ucap dokter tersebut, disambut isak tangis haru yang seketika pecah.
Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, dan Dwi langsung saling memeluk erat, meluapkan rasa syukur yang luar biasa karena sahabat tercinta mereka berhasil melewati masa kritis.
Andy yang berdiri di samping mereka menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk meredakan debar di dadanya.
Tidak lama kemudian, brankar Puja perlahan didorong keluar menuju ruang perawatan intensif khusus.
Pihak rumah sakit memutuskan untuk menempatkan Puja di ruangan rawat inap yang sama dengan Jeffry—yang kini sudah dipindahkan ke tempat tidur sebelah setelah siuman dari pingsannya akibat kelelahan dan donor darah darurat.
Keduanya kini terbaring berdampingan, sama-sama beristirahat dalam dekap pemulihan setelah badai besar yang mereka lewati bersama.
Melihat kondisi yang mulai terkendali dan ketegangan yang berangsur mereda, Andy menoleh ke arah kelima sahabat Puja yang masih tampak lemas dan pucat.
"Teman-teman, operasi Puja sudah sukses dan mereka berdua sudah ditangani dengan baik," ucap Andy dengan nada lembut namun tegas.
"Kalian dari pagi belum makan dan terus tegang di sini. Biar aku temani ke kantin rumah sakit sebentar ya, cari makan dan isi tenaga. Biar nanti kalau Puja atau Jeffry sadar, kita semua sudah lebih bugar."
Dewi dan Yuana saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk pelan menyetujui ajakan tersebut.
Mereka menitipkan pesan kepada perawat jaga agar segera memberi tahu jika ada perkembangan pada Puja atau Jeffry, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruang rawat bersama Andy untuk mencari makan.
Suasana di dalam ruang rawat inap itu perlahan kembali sunyi, hanya menyisakan suara ritmis dari alat monitor detak jantung dan tetesan cairan infus yang bergantian menemani kesunyian.
Di atas ranjang perawatan, Puja terbaring tenang dengan wajah yang masih pucat, namun garis ketegangan di keningnya sudah jauh berkurang.
Tepat di ranjang sebelah, Jeffry perlahan mulai menggerakkan jemarinya.
Efek kelelahan ekstrem dan pengaruh bius dari donor darah darurat tadi berangsur-angsur memudar, membiarkan kesadarannya kembali pulih secara perlahan.
Dengan kelopak mata yang masih terasa berat, Jeffry mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan yang putih terang.
Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya bukanlah dinding rumah sakit, melainkan sosok wanita yang paling ia cintai terbaring lemah di ranjang sebelah.
Napas Jeffry tercekat. Tanpa mempedulikan rasa nyeri dan sisa-sisa linu di sekujur ototnya akibat ikatan tambang dan proses donor darah, Jeffry memaksa tubuhnya bangkit dari posisi berbaring.
Ia melepas selang oksigen tipis di hidungnya dengan gerakan pelan, lalu turun dari ranjang dengan langkah gontai.
Ia berjalan tertatih-tatih menghampiri ranjang Puja, lalu menjatuhkan diri duduk di kursi sebelah kasur istrinya.
Tangan Jeffry yang masih gemetar terulur perlahan, menggenggam erat jemari Puja yang terasa dingin, lalu membawanya ke dekat bibirnya untuk mengecup punggung tangan itu dengan penuh kelembutan dan rasa syukur yang tak terhingga.
"Dek," bisik Jeffry parau, air matanya kembali menitik membasahi punggung tangan Puja.
"Terima kasih sudah bertahan. Kamu hebat sekali."
Beberapa saat Jeffry menghabiskan waktu dalam keheningan itu, menyalurkan kehangatan lewat genggaman tangannya, hingga sebuah gerakan kecil dari jemari Puja membuat napas Jeffry tertahan.
Kelopak mata Puja perlahan terbuka. Ia menatap lekat-lekat langit-langit putih rumah sakit, sebelum akhirnya maniknya menangkap wajah suaminya yang tampak berantakan namun memancarkan kelegaan luar biasa.
Dengan bibir yang kering dan suara yang hampir tak terdengar, Puja memanggil pelan, "M-Mas,"
Mendengar suara parau yang begitu dirindukan itu akhirnya keluar dari bibir Puja, air mata kelegaan seketika tumpah membasahi pipi Jeffry.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya, kelelahan ekstrem, dan bekas tusukan jarum infus seolah menguap begitu saja, tak lagi ia hiraukan.
"Iya, Dek. Mas di sini. Mas ada di sini sama kamu," ucap Jeffry dengan suara bergetar hebat, mendekatkan wajahnya dan mencium kening Puja penuh kelembutan.
Namun, menyadari bahwa kondisi istrinya masih sangat lemah dan baru saja melewati operasi besar, Jeffry tidak mau mengambil risiko sedikit pun.
Dengan napas yang masih memburu karena haru, ia langsung berdiri dari duduknya, menekan tombol panggil darurat di dinding kamar rawat, lalu bergegas membuka pintu menuju koridor luar.
"Dokter! Suster!" seru Jeffry panik sekaligus penuh harap, memanggil tenaga medis yang bertugas.
"Istri saya sudah sadar! Tolong periksa keadaan istri saya sekarang!"
Dalam hitungan detik, dokter jaga bersama dua orang perawat berlari cepat memasuki ruangan. Jeffry dengan patuh memberi jalan, mundur sedikit ke samping sambil terus menggenggam sebelah tangan Puja erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, mimpi buruk tadi akan kembali terulang.
Sang dokter segera mendekati ranjang, mengambil senter kecil untuk memeriksa reaksi pupil mata Puja, lalu mengecek monitor tanda-tanda vital yang berbunyi teratur di sisi ranjang.
"Bu Puja? Bisa mendengar suara saya?" tanya dokter dengan ramah sambil tersenyum tipis.
Puja mengerjap perlahan, mengangguk samar, lalu kembali menatap suaminya dengan sorot mata sayu namun penuh cinta.
Dokter menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Jeffry.
"Alhamdulillah, kondisinya sudah mulai stabil dan kesadarannya berangsur pulih dengan baik. Ini perkembangan yang sangat positif. Tapi ingat, pasien butuh istirahat total dan belum boleh banyak bergerak atau berbicara terlalu keras."
Mendengar penjelasan dokter, beban berat yang sejak tadi menghimpit dada Jeffry seolah terangkat separuh.
Ia membungkuk, mengecup lembut punggung tangan Puja sekali lagi, lalu tersenyum hangat di tengah sisa-sisa air matanya.
"Terima kasih, Dok," ucap Jeffry penuh rasa syukur.
Kini, badai paling mengerikan dalam hidup mereka telah benar-benar berlalu, meninggalkan mereka berdua untuk memulai proses pemulihan bersama.
Setelah dokter dan perawat selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Puja dan memastikan kondisinya stabil, perawat senior yang bertugas beralih menghampiri Jeffry di ranjang sebelah.
"Pak Jeffry, karena kondisi Bapak sudah jauh lebih membaik dan cairan infus penunjangnya sudah habis, saya bantu lepas selang infusnya ya," ujar perawat tersebut ramah sambil melepaskan plester dan jarum dari punggung tangan Jeffry.
Setelah perawat selesai membereskan peralatannya dan meninggalkan ruangan, Jeffry tidak menyia-nyiakan waktu.
Tanpa ragu, ia melangkah menghampiri ranjang Puja. Kursi kayu kecil ditariknya mendekat, lalu ia duduk tepat di sisi istrinya.
Melihat tatapan sendu di mata Puja, pertahanan diri perempuan itu akhirnya runtuh.
Air mata hangat menetes perlahan membasahi pipinya yang masih pucat.
Dengan suara bergetar dan terbata-bata, Puja mencurahkan rasa takut yang sempat mencekik dadanya.
"Aku, takut sekali saat Ningrum menculikmu, Mas." bisik Puja lirih, air matanya semakin deras mengalir.
"Aku takut tidak bisa melihatmu lagi, aku takut perempuan itu melukaimu."
Mendengar pengakuan penuh luka itu, hati Jeffry terasa perih.
Ia tahu betul teror psikologis dan ancaman nyata yang baru saja mereka lewati bersama.
Tanpa berkata-kata untuk memotong kalimat istrinya, Jeffry meraih tangan Puja yang terpasang selang infus dengan sangat hati-hati.
Ia mengangkat punggung tangan Puja ke dekat bibirnya, lalu mengecupnya lama dan penuh kelembutan, menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa bersalah, sekaligus keyakinan bahwa mimpi buruk itu kini telah berakhir.
"Sstt, jangan diingat-ingat lagi, Dek," bisik Jeffry lembut, mengusap sisa air mata di pipi Puja dengan ibu jarinya.
Tatapannya menatap lurus penuh ketulusan ke dalam mata istrinya.
"Semuanya sudah lewat. Mas ada di sini sekarang. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita, atau menyakiti kamu. Mas janji akan selalu melindungi kamu."
semangat slalu