NovelToon NovelToon
Garis Dua Dari Sang Profesor (New)

Garis Dua Dari Sang Profesor (New)

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Pernikahan Kilat / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: queen_

"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."

Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.

Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.

Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Panik Pak!!

...Selamat Membaca...

...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...

Pagi dimana Asyara bangun kini terasa berbeda. Sejak kejadian di hotel dua hari yang lalu, Asyara selalu dihantui ketakutan dan kepanikan. Pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana nantinya ia akan menghadapi Aksa? Bagaimana nantinya jika Aksa menyuruhnya untuk menjelaskan? Lalu, bagaimana jika Aksa–dosen pembimbingnya itu menyangkut pautkan atau bahkan sengaja menggunakan skripsinya untuk melawan Aksa.

 “Sekarang gue beneran nyesel sering ngelawan dan protes sama dia!” Asyara menutup wajahnya. Jujur ia merasa tidak siap untuk ke kampus. Apalagi hari ini ia hanya memiliki jadwal bimbingan dengan Aksa.

Sedikit banyaknya, Asyara tahu bagaimana Aksa. Dosen pembimbingnya itu termasuk orang yang licik dan pintar mempermainkan keadaan. Apalagi kejadian semalam itu karena ia yang memulainya lebih dulu.

Namun beberapa detik kemudian, sifat tidak mau salah seorang Asyara kembali mendominasi. Ia mengerutkan keningnya, memikirkan sebuah kemungkinan. “Semuanya nggak akan terjadi kalau pak Aksa nolak gue! Dia bisa aja dorong gue! Tapi dia nggak lakuin itu kan?!”

“Berarti salah dia!” pekik Asyara. “Oke Asyara, lo cuma perlu tenang waktu ketemu dia.”

 Asyara memperbaiki penampilannya. Menata sedikit rambutnya, lalu menyambar tas tote bagnya yang berisi lembaran skripsi yang sudah ia revisi. Dengan semangat Asyara melangkah keluar.

 Tidak butuh waktu lama, taksi pesanan Asyara sudah sampai. Ia segera naik dan taksi itu kembali berjalan menuju kampusnya. Sepanjang perjalanan, Asyara diam. Mengumpulkan tekad dan keberaniannya untuk bertemu dengan Aksa, sang dosen killer.

 Dalam waktu dua puluh menit, taksi yang membawa Asyara akhirnya sampai di lobi fakultasnya. Setelah membayar, Asyara segera turun dan melangkah menuju ruangan Aksa.

 Tepat ketika ia berada di depan pintu Aksa, Asyara menarik nafas panjang lalu membuangnya. Ia memasang senyum terbaiknya, “Gue bisa,” gumamnya.

 Asyara mengetuk pintu beberapa kali, menunggu jawaban dari dalam. Begitu diizinkan, ia masuk pelan-pelan. Ruangan yang cukup luas itu ntah kenapa terasa begitu mencekik. Suasana yang biasanya sedikit tenang, berubah menjadi tegang.

 “Duduk Asyara, kenapa masih berdiri di situ?” Suara Aksa menginterupsi. Asyara tersentak dan mengangguk. “Iya pak.”

 Aksa tersenyum tipis. Menyingkirkan laptop di hadapannya sedikit ke samping agar lebih mudah melihat wajah Asyara… yang menurutnya sedikit berbeda. Terlihat gugup, takut, dan cemas. “Mana skripsi kamu?”

 Asyara mengeluarkan lembaran skripsinya. Meletakkannya ke hadapan Aksa. Kepalanya masih setia tertunduk, sama sekali tidak berani menatap Aksa seperti biasanya. Jari-jemarinya saling bertaut satu sama lain, menunjukkan seberapa gugupnya ia sekarang.

 “Lihat ke sini Asyara. Bukan ke meja itu. Apa menariknya meja itu di mata kamu?” Asyara mendongak begitu mendengar perintah Aksa. Dilihatnya pria itu masih fokus memeriksa skripsinya.

 Ekspresi Asyara perlahan-lahan berubah. Ia menatap lembaran revisinya yang lembar demi lembar diberi coretan merah oleh Aksa. Kerutan tipis muncul di kening Asyara, menandakan rasa tak terima melihat skripsi dicoret-coret. Keberaniannya mengambil alih.

 “Kenapa dicoret semua pak?! Kan saya udah revisi sesuai yang bapak bilang?!” protes Asyara.

 Kegiatan Aksa terhenti, penanya berhenti di satu titik. Ia mendongak menatap Asyara. Kemudian meletakkan penanya. Aksa menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat tangannya di dada lalu menyilangkan kakinya angkuh—khas seorang Aksa. “Yang dosen itu kamu, atau saya?”

 Bibir Asyara yang tadinya siap mengeluarkan protesan kini terkatup rapat. Tatapan sinis tanpa sadar ia lemparkan kepada Aksa, dosen pembimbingnya sendiri. Ia mendengus kasar. “Ya bapak lah! Kok nanya saya sih.”

 “Lalu? Kenapa protes? Saya coret, ya karena yang kamu kerjakan itu tidak benar, dan… tidak sesuai kemauan saya,” balas Aksa santai, bahkan terlalu santai.

 “Terus maunya bapak sekarang gimana? Kan saya udah ngerjain sesuai yang bapak mau revisi kemarin!” seru Asyara. Ntah keberanian dari mana ia berani menatap Aksa dengan tatapan tajamnya. Tangannya melipat di dada, seolah menantang Aksa.

 Aksa terkekeh kecil, “Mau saya?” Aksa menurunkan kakinya. Merubah posisi duduknya. Ia menopang dagunya, menatap Asyara intens. “Saya mau kamu… menjelaskan kejadian di hotel itu.” Nada bicara Aksa rendah, namun berat. Ia menyunggingkan smirk tipis.

 Asyara membelalak. Tubuhnya seketika membeku. Kejadian? Di hotel?

 “Kenapa diam Asyara? Ayo jelaskan, saya akan dengarkan… semuanya,” ucap Aksa lagi.

 Jari-jemari Asyara yang saling bertaut mendadak dingin seketika. Ia mengigit bibir bawahnya. Keberaniannya yang tadi memprotes Aksa mendadak menguap di gantikan rasa panik dan takut secara bersamaan.

 Kilasan kejadian di hotel itu mendadak kembali melintas di kepalanya bagaikan kaset rusak. Ciuman dan sentuhan yang ia lakukan bahkan memohon untuk di tolong—membuat rona kemerahan seketika menjalar dari telinga ke pipinya. Rasa hangat menuju panas mendadak menyerang wajahnya.

 Asyara meringis. Dugaannya benar, Aksa akan memintanya untuk menjelaskan kejadian itu. “Gimana sekarang? Gue malu banget sumpah!”

 “Asyara…” panggil Aksa, kali ini lembut. Tidak menuntut.

 “Saya minta maaf pak. Itu… itu saya… saya terlalu banyak minum. Waktu itu saya… saya lagi kacau, terus minum banyak. Dan nggak sadar kalau di minuman itu ada obatnya!” jelas Asyara, “Terus… terus saya ke toilet, dan tubuh saya mendadak mulai panas. Terus samar-samar saya ngeliat orang, dan saya… saya langsung peluk dia..lalu..lalu..” Tenggorokan Asyara mendadak mengering, tercekat. Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

 “Lalu…” Aksa menatap Asyara, “Kamu langsung menciumnya, sekali, dua kali, lalu turun ke lehernya, dan—”

 “Stop pak! Jangan dilanjutin!” potong Asyara. Wajahnya sudah memerah padam. Ia sangat-sangat malu sekarang. “Ya… setelah itu saya nggak tau. Bangun-bangun bapak udah ada di samping saya!”

 “Dan kamu pergi meninggalkan saya, sendirian. Tanpa permisi,” lanjut Aksa datar.

 Asyara memalingkan wajahnya, “Ya… karena saya panik! Saya takut… lagian… lagian kenapa bapak nggak nolak saya?! Bapak bisa dorong saya atau apa kek? Atau bapak bisa tinggalin saya aja waktu itu!”

 Aksa terkekeh kecil. Merasa lucu dengan mahasiswanya ini. Benar-benar tidak mau kalah sekali jika berdebat dengannya. Bisa-bisanya Asyara selalu punya balasan untuk ucapannya. “Saya ini pria normal Asyara, dan kamu… mencium saya berkali-kali, bahkan tidak mau melepaskan saya.”

 “Tapi pak—”

 “Kamu memohon sambil mencium leher saya, meraba tubuh saya,” potong Aksa cepat. Menatap Asyara datar, namun penuh arti, “Kamu yang meminta tolong, saya sudah menolak kamu. Tapi kamu terus memohon.”

 Asyara terdiam. Benar memang, Namun tetap saja Asyara merasa ini bukan salahnya sepenuhnya. “Tapi… tetap aja, kenapa bapak lanjutin?! Kan bisa–”

 “Setelah kamu lancang menyentuh saya?” Aksa mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, “Sayangnya saya tidak suka melakukan pekerjaan setengah-setengah.”

 “Tuh kan! Itu namanya bapak juga mengambil kesempatan dalam kesempitan!” pekik Asyara.

 Aksa mengangguk singkat. “Anggap saja begitu. Sama halnya dengan kamu yang lebih dulu mencium-cium saya,” balas Aksa, “Jadi, saya hanya melakukan apa yang kamu minta.”

 “Sialan!” gumam Asyara tertahan. Ia menatap Aksa dengan tajam. Bagaimana bisa pria itu mengatakan semuanya dengan santai sementara dia merasakan malu yang luar biasa?!

 “Saya sudah beri tanda dan keterangan di skripsi kamu,” ucap Aksa, datar. Ekspresinya kembali ke mode dosen killer yang biasa ia tunjukkan. “Silahkan revisi dan datang lagi.”

 Dengan kasar Asyara mengambil dan memasukkan lembaran skripsinya ke dalam tote bagnya. Ia menatap Aksa dengan sinis. Kesalnya sudah mencapai ubun-ubun. Langkah kakinya sengaja ia percepat menuju pintu keluar.

 “Asyara,”

 Asyara berhenti, berbalik dengan malas, “Apa lagi sih pak?!”

 “Saya akan terus mengawasi kamu, jaga-jaga jika malam itu akan membuahkan hasil dan tumbuh di sana.”

 Asyara melongo di tempatnya, tak menyangka akan mendengar Aksa mengatakan hal frontal itu, “Dosen gila!” umpat Asyara menutup pintu dengan kuat.

 Blaam!

...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...

1
Enz99
bagus
Muft Smoker
Lanjuuut kak ,,
beybi T.Halim
very..very...romantis laa
beybi T.Halim
dah habis aja...seru seru romantis..,yaa gini klo punya suami spek daddy dimanjain terua yaa asyaraa😁👍
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘👍👍👌👌👌💞💞💞
vj'z tri
idihh papa genit suka godain mama akuuu jadi iri mau di goda juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dimakan dan dimana jauh atuh KK author /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Puutrh_: udah aku benerin ya beb, lagi review sistem😭
total 2 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
hai guys siap siap kondangan ini kita /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi btw di undang ga ni 😅😅
vj'z tri
selamat pemikiran anda salah besar /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
serangan balasan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
kalau semua kartu ke buka w mau tau reaksi lu dengan laki lu /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/kalian ber2 mendukung ternyata
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ pacar ku juga pacar papa ku
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/entah harus menangis atau tertawa punya bodyguard model rayna
vj'z tri
lagi seru seru nya iklan lewat /Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ buaya di kadalin ternyata cucok meong sena kawan dengan melani
vj'z tri
paraaaa pembacaaaaaaa ibu ibu kk KK semuaaaanyaaa jangan heran kalau asyara ada bodyguard 1 galak polos yang 1 ceriwis maafkanlahhhh asekkkk💃💃💃💃
vj'z tri
ya pasti gak DA yang mau ...kan udah di komando komandan taksi gak boleh lewat /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!