Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tawaran yang Tidak Terduga
Malam itu Alisha baru tiba di rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan masih mengenakan pakaian kantor. Tasnya diletakkan begitu saja di kursi sebelum ia mendekati ranjang tempat Raka duduk sambil menatap layar laptop.
“Belum tidur?” tanya Alisha lembut meski kelelahan terlihat jelas di wajahnya.
Raka menatap kakaknya sekilas. “Masih ada tugas matematika.”
Alisha melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh malam. “Dilanjut besok aja ya.”
Raka menggeleng. “Besok ada kelas, Kak.”
“Kalo kamu capek, bilang ke guru," kata Alisha. "Kamu lagi sakit, bukan lagi lomba ngejar nilai.”
Raka tersenyum kecil. “Kakak tahu sendiri aku gak suka ketinggalan pelajaran.”
Alisha menghela napas, lalu duduk di samping ranjang. Itulah Raka. Bahkan setelah hampir setahun hidupnya berubah karena penyakit, anak itu masih berusaha mempertahankan hal-hal yang membuatnya merasa normal.
Padahal setahun lalu semuanya bermula dari keluhan sederhana. Raka sering merasa lelah meski tidak banyak beraktivitas. Tubuhnya semakin pucat, beberapa kali demam tanpa sebab jelas, dan lebam muncul di lengan serta kakinya. Awalnya mereka mengira Raka hanya kelelahan karena sekolah. Sampai suatu pagi ia hampir pingsan.
Pemeriksaan darah di rumah sakit menunjukkan jumlah sel darah yang tidak normal. Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan lanjutan dan akhirnya mereka mendapat diagnosis yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Leukemia.
Sejak saat itu, hidup mereka berubah. Raka mulai menjalani kemoterapi dan kontrol rutin. Ada masa ketika kondisinya cukup baik sehingga bisa berada di rumah, tetapi ada pula saat ia harus kembali dirawat karena efek pengobatan atau ketika daya tahan tubuhnya menurun.
Sekolah pun tidak mungkin dijalani seperti sebelumnya. Kondisinya tidak selalu memungkinkan untuk hadir secara langsung. Namun pihak sekolah mengizinkannya mengikuti pembelajaran secara daring karena nilai Raka bagus. Raka bahkan tetap berusaha mempertahankan nilainya.
Alisha tahu adiknya sedang berusaha keras untuk tidak membuatnya semakin khawatir. Dan justru itulah yang membuat hatinya semakin berat.
Raka mengangkat kepalanya, menatap gurat lelah di wajah kakaknya. “Kak.”
Alisha terhenyak dari lamunannya. “Hmm?”
Raka bertanya dengan nada suara ragu. “Uang kita masih ada, 'kan?”
Tangan Alisha yang sedang merapikan selimut berhenti sesaat. “Masih.”
Raka menelisik raut muka kakaknya. “Jangan bohong.”
Alisha tersenyum tipis. “Kakak gak bohong kok.”
Padahal ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu. Gaji Alisha sebagai staf di perusahaan swasta cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak mungkin menanggung seluruh biaya pengobatan Raka tanpa bantuan tabungan dan aset keluarga.
Raka menundukkan wajah. “Kalo aku gak sakit, Kakak gak perlu kerja keras kayak gini.”
Alisha langsung menggenggam tangan adiknya. “Jangan ngomong kayak gitu.”
“Tapi kenyataannya—”
“Raka...” Nada suara Alisha membuat adiknya terdiam. “Penyakitmu bukan kesalahanmu.”
Raka menggigit bibir. “Aku cuma gak mau Kakak capek dan banyak pikiran karena aku.”
Alisha terdiam beberapa saat sebelum mengusap rambutnya. “Kakak capek karena kerja. Bukan karena kamu.”
Raka tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Janji?”
“Janji.”
Alisha kemudian mengambil laptop dari pangkuan adiknya, lalu menutupnya. “Sekarang tidur, jangan membantah.”
“Galak," seloroh Raka mencoba bersikap biasa meski kondisinya tidak baik-baik saja.
“Besok kalau demam lagi, yang repot siapa?”
“Dokter," jawab Raka.
Alisha mengangkat sebelah alisnya. “Yang jagain?”
Raka akhirnya tersenyum. “Kakak.”
“Nah. Jadi nurut.” Alisha menata bantal untuk adiknya.
Raka akhirnya berbaring.
Alisha menarik selimut sampai menutupi tubuh adiknya. Setelah memastikan infus dan beberapa alat di samping ranjang dalam keadaan baik, ia duduk di kursi.
Raka memejamkan mata. “Kak?”
Alisha menoleh. “Ya?”
“Kalau aku sembuh nanti…”
Alisha menunggu kelanjutan kalimat adiknya.
“Aku mau kuliah," lanjut Raka. "Aku mau balikin semua uang Kakak.”
Dada Alisha terasa sesak. Tetapi ia tersenyum sambil mengusap kepala Raka. “Kamu gak perlu balikin apa pun. Buat Kakak, kamu sembuh aja udah cukup kok.”
Raka tidak menjawab lagi. Beberapa menit kemudian napasnya mulai teratur.
Alisha tetap duduk di sampingnya. Di rumah sakit inilah sebagian besar waktunya kini berlalu. Pagi hingga sore di kantor, lalu malam di sisi ranjang Raka. Rumah hanya menjadi tempat singgah untuk mengganti pakaian, mengambil keperluan, atau tidur beberapa jam sebelum kembali menjalani rutinitas yang sama.
Alisha memandangi wajah adiknya yang sudah tertidur. Ia tidak tahu berapa lama lagi tabungan mereka mampu bertahan. Tetapi ada satu hal tidak pernah berubah.
Apa pun yang harus ia korbankan, Alisha akan tetap mencari cara agar Raka mendapatkan pengobatan yang dibutuhkannya.
"Kamu harus sembuh Raka. Kakak gak punya siapa-siapa lagi selain kamu."
Suara Alisha terdengar lirih. Bulir air jatuh dari sudut matanya tanpa bisaa ia tahan.
Alisha akhirnya beranjak dari duduknya, melepas dan meletakkan alat bantu dengarnya di atas nakas. Ia mengambil tikar lipat dari laci nakas, lalu menggelarnya di sisi ranjang. Di situlah ia biasa tidur setiap kali menjaga Raka di rumah sakit. Ia membaringkan tubuh, menatap langit-langit kamar.
Pikirannya kembali pada angka-angka yang sejak beberapa bulan terakhir tidak pernah berhenti menghantuinya.
Tabungan semakin menipis. Biaya kemoterapi, obat-obatan, pemeriksaan darah, kebutuhan selama rawat inap, semuanya terus berjalan. Bahkan ketika kondisi Raka membaik, bukan berarti pengobatannya selesai.
Selama hampir setahun, Alisha sudah menjual berbagai aset peninggalan orang tua mereka, mulai dari motor, investasi, hingga barang-barang berharga yang tersimpan di rumah. Semuanya dilakukan sedikit demi sedikit agar pengobatan Raka tetap berjalan. Kini, hanya rumah yang mereka tinggali yang masih tersisa.
Rumah tempat ia dan Raka tumbuh bersama. Rumah yang menyimpan hampir seluruh kenangan tentang orang tua mereka.
Alisha memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikiran yang dipenuhi angka-angka.
Kendati demikian ia tak kunjung terlelap, matanya kembali terbuka. Ia mengangkat kepala saat tanpa sengaja melihat siluet bergerak di celah bawah pintu.
Alisha memastikan Raka masih tertidur sebelum bangkit meraih alat bantu dengarnya dari nakas, memasangnya cepat.
Tok! Tok!
Suara ketukan terdengar, ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.
Seorang pria dengan setelan jas rapi berdiri di luar. “Maaf, dengan Nona Alisha Prameswari?”
Alisha menatapnya penuh tanya. “Ya, saya sendiri.”
Pria itu mengangguk sopan. “Saya datang untuk menyampaikan tawaran dari majikan saya.”
Alisha mengernyit. “Tawaran?”
Pria itu mengangguk. “Majikan saya mengetahui keadaan keluarga Anda, termasuk kondisi adik Anda.”
Seketika sikap Alisha berubah waspada. “Siapa majikan Anda?”
.
...✨“Ketika seseorang sudah tidak punya banyak pilihan, sebuah tawaran bisa terasa seperti pertolongan sekaligus ujian. Ia bisa menjadi harapan yang menyelamatkan, atau justru harga yang terlalu mahal untuk dibayar.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔