**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Jadi yang Bersalah
“kamu tahu dari mana kalau adikmu bekerja” tanya Ayah Mahendra
“aku tahu dari teman-temanku mah” balas Nisrina
“teman yang mana” Mama mayrah tidak mau percaya begitu saja
“kebetulan adik teman kampusku ada yang satu kelas dengan Haselyn dan darinya aku tahu cerita mengenai Haselyn karena dia bilang begitu salut sama Haselyn yang bisa cari uang sendiri di usia segitu, padahal adik temanku hanya bisa merengek kalau uang jajannya berkurang” balas Nisrina
“adikmu kerja apa” tanya Mama mayrah
“Kata temanku, Hasel itu jualan macam-macam di sekolah,” ujar Nisrina pelan. “Dia juga sering membantu guru dengan upah yang berbeda-beda, tergantung pekerjaannya. Kadang membuat laporan, mengetik soal ujian, menyusun media pembelajaran, bahkan membantu administrasi sekolah. Selain itu, Haselyn juga sering menitipkan barang dagangannya di warung-warung sekitar sekolah.”
Mama Mayrah dan Ayah Mahendra saling berpandangan. “Yang kamu bilang itu… benar?” tanya Mama Mayrah, masih sulit mempercayainya.
Nisrina mengangguk mantap. “Benar, Mah. Yah. Aku tidak sedang bercanda.”
Tatapan kedua orang tuanya membuat Nisrina menarik napas sebelum melanjutkan. “Bahkan temanku bilang, sekarang Haselyn sedang mempersiapkan pembukaan toko miliknya sendiri. Toko yang benar-benar dibangun dari hasil kerja kerasnya selama ini.” Suasana ruang keluarga mendadak sunyi.
Faeyza membeku.
Mama Mayrah menatap Nisrina dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Hasel… punya toko sendiri?”
Nisrina mengangguk pelan. “Katanya begitu.”
Ayah Mahendra segera bertanya, “Di mana tokonya? Kamu tahu?”
Nisrina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum canggung. “Nah… itu yang aku tidak tahu.” Di tengah suasana tegang, kekehan kecilnya terdengar begitu kontras.
“Coba tanya temanmu itu,” ujar Mama Mayrah cepat.
Nisrina menggeleng.
“Dia justru bertanya padaku. Informasi itu dia dapat dari adiknya yang satu sekolah dengan Hasel. Tapi adiknya juga tidak tahu di mana lokasi toko Haselyn.”
Mama Mayrah kembali terdiam. Semakin banyak fakta yang terungkap, semakin mereka menyadari betapa sedikitnya mereka mengenal kehidupan putri bungsu mereka.
Faeyza mengembuskan napas pelan. “Kalau Haselyn benar punya uang untuk membuka toko, berarti dia juga punya uang untuk mencari tempat menginap.”
Semua mata langsung tertuju padanya. “Apa maksudmu?” tanya Mama Mayrah.
“Maksudku, Hasel tidak mungkin keluar dari rumah tanpa tujuan. Kalau dia bisa membiayai sekolahnya sendiri, bahkan membangun usaha, kemungkinan besar dia sudah menyiapkan tempat untuk tinggal.”
Belum sempat Faeyza menyelesaikan kalimatnya, suara Ayah Mahendra menggema memenuhi ruangan. “Tapi adikmu itu masih kecil, Faeyza!” Bentakan itu membuat semua orang terkejut.
“Dia keluar malam-malam seperti ini. Kita tidak tahu dia ada di mana, dengan siapa, atau dalam keadaan seperti apa. Itu sangat berbahaya!” Nada suaranya dipenuhi kemarahan sekaligus kepanikan. Bukan marah kepada Faeyza. Melainkan marah kepada dirinya sendiri.
Mama Mayrah segera menggenggam lengan suaminya erat. “Kita harus mencari Hasel, Yah.” Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. “Aku ingin anak kita pulang…”
Ayah Mahendra menatap istrinya dengan mata yang sama merahnya. Ia menepuk pelan punggung tangan wanita itu. “Besok pagi kita cari Hasel.” Suara beliau terdengar berat.
“Sekarang sudah terlalu malam. Kita bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.” Beliau menghela napas panjang. Di dalam hatinya, ia berharap Faeyza benar. Bahwa Haselyn telah menemukan tempat yang aman untuk bermalam.
Namun entah mengapa, sebagai seorang ayah, hatinya terus dipenuhi firasat buruk. Dan penyesalan itu datang terlambat. Sangat terlambat.
*
*
*
Di tengah pekatnya malam, Haselyn melangkah dengan tubuh yang terasa begitu berat. Tangan kanannya menggenggam erat pegangan koper yang terus ia tarik di belakangnya. Ia meninggalkan sepeda yang masih terparkir di garasi rumah kedua orang tuanya. Keinginannya untuk segera pergi begitu besar hingga ia tidak sempat memikirkan apa pun, termasuk kendaraan yang selama ini menemaninya.
Rumah itu perlahan menjauh di belakangnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang, tetapi justru menjadi tempat yang membuat dadanya sesak dan hatinya merasa tidak pernah benar-benar dianggap.
Apa yang kulakukan ini benar?
Haselyn menghentikan langkahnya sejenak.
Penyesalan perlahan menyusup ke dalam hatinya. Bukan karena ia takut tidak bisa hidup sendiri. Ia sudah terlalu lama belajar bertahan dan mengandalkan dirinya sendiri.
Yang membuatnya sesak adalah rasa bersalah. Ia telah meninggalkan rumah begitu saja setelah pertengkaran hebat itu. Amarah telah mendorongnya keluar tanpa memberi kesempatan untuk berpamitan dengan baik.
Haselyn memejamkan mata sejenak.
Mungkin aku terlalu gegabah.
Namun setiap kali mengingat kata-kata yang dilontarkan keluarganya, terutama tuduhan yang diarahkan kepadanya, dadanya kembali terasa nyeri.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu kembali melangkah dalam sunyi malam yang terasa begitu panjang. “Tapi Kak Faeyza sudah keterlaluan menuduhku.”
Suara Haselyn bergetar. Ia mengusap pipinya yang basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
“Aku tidak pernah memakai uang Mama dan Ayah selama ini.” Kalimat itu keluar seperti jeritan yang selama bertahun-tahun ia pendam.
Sejak kejadian saat ia memaksa masuk SMP impiannya, Haselyn bertekad untuk tidak lagi bergantung pada kedua orang tuanya. Ia belajar mencari uang sendiri, bekerja sepulang sekolah, berjualan, dan menabung sedikit demi sedikit. Semua itu ia lakukan hanya agar tidak ada lagi pertengkaran seperti dulu, agar tidak ada lagi yang mengatakan bahwa dirinya menjadi beban keluarga.
Namun malam ini, semua pengorbanan itu seolah tidak berarti. Ia tetap dituduh. Tetap dianggap bersalah.
“Mama juga tega sekali tidak membelaku.” Haselyn menggigit bibirnya, berusaha menahan isak yang mulai pecah. “Padahal Mama tahu tuduhan Kak Faeyza itu salah.” Dadanya terasa semakin sesak.
“Seharusnya Mama meminta Kak Faeyza yang minta maaf lebih dulu… bukan malah memintaku mengalah.” Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ia bendung.
“Kan dia yang menyakitiku lebih dulu.” Kekecewaan itu terasa begitu dalam.
Bukan hanya karena tuduhan Faeyza, tetapi karena sikap ibunya yang memilih diam ketika mengetahui siapa yang sebenarnya bersalah. Yang paling melukai Haselyn bukanlah pertengkaran itu. Melainkan kenyataan bahwa orang yang paling ia harapkan untuk mempercayainya justru tidak berdiri di sisinya.
“Apa karena Kak Faeyza anak laki-laki, makanya aku yang selalu disalahkan?” Haselyn menggeleng pelan, seolah sedang membantah pikirannya sendiri.
“Tidak… dulu juga tidak begitu.” Ia teringat sebuah pertengkaran lama antara Faeyza dan Nisrina. Waktu itu, ketika Kak Faeyza yang bersalah, Mama tidak pernah ragu membela Kak Nisrina.
“Dulu waktu Kak Faeyza dan Kak Nisrina bertengkar, Mama selalu membela Kak Nisrina kalau memang Kak Faeyza yang salah,” gumamnya lirih.
Kenangan itu membuat dadanya semakin sesak. Haselyn tertawa pelan. Tawa yang terdengar begitu pahit.
“Mungkin memang karena ini aku.” Matanya memandang kosong ke jalanan yang lengang.
“Aku memang tidak pernah benar-benar dianggap oleh mereka.” Kalimat itu keluar begitu saja, seperti luka yang akhirnya pecah setelah terlalu lama dipendam.
“Di mata mereka, aku selalu jadi anak yang salah.” Rasa kecewa di hatinya semakin menumpuk. Ia merasa diperlakukan berbeda, seolah apa pun yang ia lakukan tidak pernah cukup untuk mendapatkan kepercayaan dan pembelaan dari kedua orang tuanya.
Di sudut hatinya, Haselyn tahu ia juga tidak sepenuhnya benar. Ia sadar pergi dari rumah bukanlah keputusan yang baik. Namun rasa diabaikan, tidak dipercaya, dan selalu menjadi pihak yang diminta mengalah terasa jauh lebih besar daripada rasa bersalah itu sendiri.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan. Bukan pertengkarannya. Melainkan perasaan bahwa keberadaannya di dalam keluarga itu tidak pernah benar-benar memiliki tempat.
Haselyn terus berjalan tanpa tujuan yang tampak di mata orang lain. Padahal, ia sudah tahu ke mana akan pergi. Ia bisa saja memesan taksi dan tiba dalam waktu singkat, tetapi kebiasaan hidup hemat menahannya. Setiap rupiah yang ia miliki adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
Ia terlalu menghargai uang yang diperolehnya dengan susah payah untuk menghamburkannya begitu saja. Karena itu, Haselyn memilih berjalan kaki, meski ia tahu keputusan itu akan menguras tenaga.