NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Lucien Valois

Eve sebenarnya sudah bersiap untuk menghadapi makan malam yang canggung bersama seorang Duke yang sejak pertama kali bertemu dengannya sudah berhasil membuat harga dirinya jatuh berkali-kali.

Karena kaki Eve yang pendek dan langkahnya yang masih belum terlalu stabil, pelayan itu memilih menggendongnya sepanjang perjalanan. Eve sempat merasa sedikit malu, tetapi setelah berjalan melewati beberapa lorong mansion yang belum sempat dia lihat sebelumnya, rasa malu itu perlahan tergantikan oleh rasa penasaran.

Setiap sudut rumah keluarga Valois seolah tidak pernah kehabisan sesuatu untuk membuatnya ternganga. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan dalam bingkai emas, lampu-lampu dinding menyala dengan cahaya hangat, dan karpet panjang membentang di sepanjang koridor. Bahkan beberapa meja kecil yang hanya digunakan untuk meletakkan vas bunga terlihat seperti barang yang seharusnya dipajang di museum.

Eve sampai lupa bahwa dia sedang dibawa menuju makan malam bersama orang yang paling ingin dia jauhi. Begitu pintu ruang makan dibuka, matanya langsung membesar.

Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang dia bayangkan. Sebuah meja makan panjang terbuat dari kayu gelap berdiri di tengah ruangan, permukaannya dipoles hingga mengilap dan memantulkan cahaya dari lampu gantung besar di atasnya. Kursi-kursi dengan sandaran tinggi tersusun rapi di kedua sisi meja. Di bagian tengah meja, beberapa lilin menyala di dalam tempat lilin berwarna perak, sementara pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan dengan sikap tegak dan tenang.

Eve tanpa sadar membuka mulut.

'Gila.... ini ruang makan atau tempat jamuan kerajaan?'

Namun kemudian matanya menangkap sosok yang sudah duduk di salah satu ujung meja, senyum Eve perlahan menghilang.

Duke itu sudah menunggunya. Dia duduk dengan posisi tegak, satu tangan berada di atas meja sementara tangan lainnya memegang gelas. Rambut hitamnya sudah kembali tertata rapi setelah sebelumnya dibuat berantakan oleh Eve. Wajahnya tetap sama, tenang, dingin, dan menyebalkan.

Eve yang tadi begitu bersemangat melihat ruangan mendadak merasa ingin meminta pelayan mengembalikannya ke kamar.

Langkah pelayan itu terus maju.

'Gue lupa kalau ada dia. Malesin banget Ya Tuhan'

Eve menatap Lucien dari pelukan pelayan dengan wajah datar. Lucien juga mengangkat pandangan kepadanya. Pria itu tidak senyum aapalagi menyapanya. Mereka hanya saling menatap beberapa detik, Eve akhirnya mengalihkan pandangan lebih dulu.

Pelayan itu berjalan mendekati kursi yang letaknya tidak terlalu jauh dari Lucien. Eve mengira dirinya akan didudukkan dengan baik di atas kursi tersebut. Tubuhnya diturunkan begitu saja ke atas dudukan kursi.

Eve duduk dengan punggung tegak, lalu pandangannya sesekali beralih ke meja lalu ke tangannya lagi, satu hal yang dia sadar.

Ujung meja berada jauh di atas kepalanya.

Eve terdiam, sedangkan Lucien menatapnha dari seberang, gadis itu perlahan menundukkan kepalanya Dia mencoba mengangkat kedua tangannya ke atas meja. Jarinya hanya berhasil menyentuh ujung taplak meja.

'Eh.'

Dia mencoba lagi dengan berdiri sedikit di atas kursi. Masih tidak cukup, Eve menatap meja dengan tatapan tidak percaya. Tadi di kamar dia sudah tahu tubuh ini kecil, tetapi entah kenapa baru sekarang kenyataan itu terasa benar-benar memalukan. Dia bahkan tidak bisa makan di meja seperti manusia normal.

Dari seberang, terdengar suara datar Lucien.

"Pendek," ucapnya singkat sambil menatap Eve.

Eve membeku, pelan-pelan kepalanya berputar ke arah Lucien. Di dalam kepala Eve dia sudah membayangkan bagaimana cara nya untuk membalas penghinaan itu.

'...Dia ngomong apa?'

Tatapan merah tua itu masih tertuju kepadanya.

'Gue tahu gue pendek! Gak perlu diumumin juga!'Eve mengepalkan tangan di atas pangkuannya.

Wajahnya mulai memanas. Kalau bukan karena dia sadar dirinya sedang berada di rumah orang lain, mungkin dia sudah membalas dengan sesuatu yang jauh lebih kasar. Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, salah seorang pelayan segera menyadari masalahnya. Dia memberi isyarat kepada pelayan lain, dan tidak lama kemudian sebuah bantalan tebal dibawa ke meja.

Bantalan itu diletakkan di atas kursi Eve.

"Maafkan kami, Nona," ujar pelayan tersebut sambil memastikan bantalan itu terpasang dengan baik. "Kami tidak memperhitungkan tinggi badan Nona."

'Nah, gitu dong.' Eve mendengus kecil.

Dia kembali duduk.

Kali ini tubuhnya sedikit lebih tinggi. Setidaknya dia sudah bisa melewati permukaan meja. Eve baru hendak memamerkan ekspresi puas ketika Lucien kembali meliriknya. Tatapan pria itu turun ke bantalan kursi, kemudian kembali ke wajah Eve.

'Jangan komentar lagi.' Eve menyipitkan mata.

Untungnya Lucien tidak mengatakan apa-apa. Beberapa pelayan kemudian mulai membawa hidangan, dan saat itulah semua pikiran Eve tentang Lucien lenyap begitu saja.

Satu per satu piring diletakkan di atas meja.

Daging panggang dengan permukaan kecokelatan dan aroma gurih yang langsung memenuhi ruangan. Ayam panggang yang masih mengeluarkan uap tipis. Kentang panggang dengan bumbu rempah. Sup hangat dalam mangkuk porselen. Sayuran yang ditata rapi. Roti lembut yang baru saja dipanggang. Bahkan ada beberapa hidangan yang Eve tidak tahu namanya, tetapi dari aromanya saja sudah membuat perutnya berbunyi.

Mata Eve langsung berbinar.

'Makanan. Kalau di pikir-pikir gue cuma makan sup hambar doang tadi pagi..'

Perutnya seakan ikut mengambil keputusan sebelum otaknya sempat berpikir.

'MUKBANG TIME.'

Wajahnya yang sejak tadi penuh kekesalan berubah total. Eve menatap satu hidangan ke hidangan lainnya dengan mata berbinar. Dia bahkan sampai sedikit maju di atas bantalan kursinya untuk melihat makanan yang diletakkan lebih jauh.

'Ini serius semuanya boleh gue makan?'

Untuk sesaat, Eve kembali teringat kehidupan sebelumnya. Makanan rumah sakit yang kadang sudah dingin. Kopi yang diminum terburu-buru di sela pekerjaan. Makanan yang sering kali baru sempat disentuh setelah berjam-jam, kadang dia hanya minum vitamin. Sekarang di hadapannya ada meja penuh makanan yang bahkan terlihat seperti jamuan pesta.

Eve mengambil napas dalam-dalam, dia siap makan tetapi ada satu masalah yang mengganggu nya, dia tidak tahu harus mulai dari mana. Eve menatap alat makan yang tersusun rapi di samping piringnya. Ada beberapa garpu yang di susun sejajar dengan piringnya, garpu kecil, sedang, lalu ada juga sendok dengan berbagai ukuran, tidak lupa dengan pisau.

Eve berkedip.

'...Yang mana?' Dia melihat garpu, kemudian pisau, kemudian sendok.

Dia mengangkat pandangan diam-diam ke arah Lucien. Duke itu sudah mulai makan, Eve memperhatikan setiap gerakannya. Lucien mengambil alat makan tertentu, Eve langsung memperhatikan. Lucien memotong daging, Eve memperhatikan. Lucien mengambil garpu dengan tangan yang lain, Eve mengikutinya.

Eve meniru gerakannya dengan hati-hati, berusaha mengingat urutannya seperti sedang mempelajari prosedur baru.

'Oh... jadi begini.' Dia akhirnya berhasil memotong sepotong kecil daging. Potongannya tidak rapi, bahkan hampir terlempar dari piring. Eve buru-buru menusuknya dengan garpu sebelum jatuh.

'Berhasil.' Dia memasukkan daging itu ke mulut.

'...ENAK!!.' Matanya langsung membesar.

Eve mengunyah perlahan, tetapi ekspresinya sudah tidak bisa disembunyikan. Rasa gurih daging yang lembut membuat seluruh ketegangan di tubuhnya menghilang sedikit demi sedikit. Potongan kedua, ketiga masuk dengan cepat, lalu kemudian ayam disusul dengan kentang.

Eve mulai makan dengan lebih bersemangat, meskipun tetap berusaha meniru cara makan Lucien agar tidak terlihat seperti anak panti yang baru pertama kali melihat makanan mewah. Sesekali dia melirik ke arah Duke itu untuk memastikan gerakannya benar.

Lucien tampaknya menyadarinya, namun dia tidak berkomentar.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang cukup lama. Hanya terdengar suara alat makan yang sesekali beradu dengan piring dan langkah pelayan yang bergerak di sekitar ruangan. Eve mulai merasa suasananya tidak seburuk yang dia bayangkan.

Setidaknya selama Lucien diam, dia bahkan hampir lupa bahwa pria di depannya adalah Raja Iblis yang selama ini hanya dia kenal dari halaman novel.

Sampai Lucien tiba-tiba membuka suara.

"Mulai sekarang, namamu Aveline Valois," katanya datar tanpa mengubah ekspresinya.

Garpu Eve berhenti di udara. Potongan ayam yang hampir masuk ke mulutnya menggantung begitu saja dan tidak lama potongan itu jatuh dengan dramatis ke piringnya.

'Apa?' Dia perlahan menurunkan garpu. Lalu pandangannya beralih ke arah Lucien.

Duke itu tetap tenang, Eve menunggu beberapa detik, berharap mungkin dia salah dengar. Pria itu benar-benar baru saja memberinya nama, padahal sejak tadi dia bahkan tidak pernah bertanya siapa namanya.

'Ni orang...' Eve mengembuskan napas panjang melalui hidung.

'Kurang ajar banget.' Dia menaruh garpunya dan menatap Lucien dengan wajah tidak senang. Kesabarannya yang sejak tadi sudah berkali-kali diuji akhirnya benar-benar habis.

"Aku Epe, bukan Ape," tegurnya dengan nada kesal.

Lucien menatapnya.

Eve balas menatap tanpa berkedip, kali ini dia tidak akan membiarkan pria itu mengubah namanya sesuka hati. Meskipun nama itu bukanlah miliknya tapi pemilik tubuh ini setidaknya sebelum itu, Duke harusnya bertanya siapa namanya lebih dulu.

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!