Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung utama Arkatama Industrial Components.
Keira turun terlebih dahulu, disusul Nadia dan dua anggota tim lainnya. Elang menjadi orang terakhir yang keluar sambil membawa laptop kerja dan map di tangannya.
Beberapa staf perusahaan telah menunggu di depan pintu untuk menyambut kedatangan mereka dengan Robin berdiri di baris paling depan.
“Selamat datang di Arkatama Industrial Components, Bu Keira.” sambut Robin dengan tangan terulur.
Keira mengangguk singkat. “Terima kasih.”
“Kami sudah menyiapkan ruang rapat dan seluruh dokumen awal yang Anda minta," ucap Robin. "Pak Bram sedang dalam perjalanan kemari.
Nama itu membuat langkah Elang melambat sepersekian detik, namun ia segera kembali berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Beberapa saat kemudian, Bram muncul dari ujung koridor bersama dua staf administrasi. Langkahnya yang semula tenang mendadak berhenti saat melihat rombongan Daneswara. Lebih tepatnya, saat netranya melihat seseorang yang berdiri di antara mereka.
Elang.
Tatapan ayah dan anak itu bertemu. Keterkejutan melintas di wajah Bram, tetapi ia segera menyembunyikannya di balik ekspresi datarnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Elang yang memberikan reaksi sama seolah keduanya tidak saling mengenal.
Bram yang memang tidak pernah membawa Elang ke lingkungan tempat kerjanya membuat Robin tidak mengenali pemuda itu meski sudah bekerja di bawah Bram selama bertahun-tahun. Ia tersenyum dan segera memperkenalkan begitu Bram dan Keira saling berhadapan.
“Bu Keira, ini Pak Bram Mahesa, Kepala Administrasi dan Logistik,” ujar Robin.
Keira mengulurkan tangan. “Keira Daneswari.”
Bram menyambutnya. “Selamat datang.”
Keira kemudian menggeser tubuhnya dengan satu tangan terangkat untuk memperkenalkan anggota timnya satu per satu. “Ini tim saya. Nadia, Arga, Sinta, dan Elang.”
Saat nama terakhir disebutkan, tatapan Bram kembali bertemu dengan Elang dan tertahan sedikit lebih lama, kemudian mengangguk.
“Selamat datang,” ujarnya datar.
Tim Keira menjawab dengan anggukan sopan dan profesional, termasuk Elang.
Jemari Bram mengepal samar di sisi tubuhnya. Pemandangan Elang mengenakan kartu identitas Daneswara benar-benar di luar perkiraannya. Baru kemarin ia yakin putranya tidak akan mampu bertahan lama setelah keluar dari rumah.
Hari ini, pemuda itu justru berdiri di hadapannya sebagai bagian dari perusahaan yang dipercaya kantor pusat untuk memeriksa unit tempatnya bekerja.
Keira segera mengalihkan perhatian pada pekerjaan tanpa menyadari ketegangan kecil yang terjadi di antara Bram dan Elang.
"Bisa kita langsung ke ruang rapat saja?"
"Tentu." Bram bergeser memberi jalan. "Silakan."
.
.
.
Pemeriksaan dimulai dengan pemaparan singkat mengenai operasional perusahaan. Bram duduk bersama Robin di salah satu sisi meja, sedangkan tim Daneswara berada di sisi berlawanan.
Keira membuka beberapa dokumen. “Kami akan memeriksa alur distribusi, vendor, administrasi gudang, dan proses pembelian. Pemeriksaan ini tidak akan menghentikan aktivitas produksi.”
Bram mengangguk. “Semua dokumen yang diminta sudah kami siapkan.”
Keira mengangguk, kemudian menoleh pada Elang. “Elang, kamu menangani data vendor dan distribusi. Cocokkan dengan catatan gudang.”
“Baik, Bu,” jawab Elang.
Tatapan Bram kembali berubah. Namun, ia hanya bisa mengamati putranya tanpa suara sambil meraih gelas air di hadapannya.
Elang membuka laptop tanpa melirik sang ayah sedikit pun. Selama hampir dua jam berikutnya, ia bekerja bersama Nadia memeriksa catatan keluar-masuk barang, bahkan beberapa kali Elang meminta dokumen tambahan.
“Pak Robin, saya membutuhkan daftar vendor aktif enam bulan terakhir.”
Robin mengangguk sigap, segera mengambil sebuah map dan menyerahkannya.
“Apakah ini termasuk vendor yang kontraknya sudah dihentikan?” tanya Elang.
Robin menggeleng. “Tidak.”
“Saya membutuhkan yang sudah dihentikan juga,” ucap Elang
“Ada alasan tertentu?” tanya Robin.
“Saya perlu membandingkan pola biaya sebelum dan sesudah pergantian vendor,” jawab Elang.
Robin mengangguk. “Saya ambilkan.”
Dari seberang meja, Bram mengamati putranya tanpa suara. Elang terlihat jauh berbeda dari pemuda yang ia tampar beberapa hari lalu. Tidak terlihat ragu atau canggung. Bahkan ketika berbicara dengan pegawai yang jauh lebih berpengalaman, dia tetap tenang.
Dan itu membuat sesuatu di dada Bram terasa semakin tidak nyaman.
.
Menjelang siang, pemeriksaan dihentikan sementara. Keira dan timnya bersiap pindah ke area gudang ketika seorang staf dari kantor direktur datang menghampiri.
“Bu Keira, Pak Ravian Arkatama sudah tiba. Beliau diminta Pak Damar mengikuti proses evaluasi hari ini.”
Keira mengangguk. “Baik.”
Beberapa menit kemudian, Ravian muncul bersama asistennya.
Bram dan beberapa pegawai langsung berdiri.
“Selamat siang, Pak Ravian.”
Ravian membalas dengan anggukan. “Silakan lanjut. Saya hanya diminta melihat prosesnya.”
Keira memperkenalkan tim Daneswara secara singkat. Ketika sampai pada Elang, kedua pemuda seusia itu saling menatap sesaat.
“Elang Mahesa.”
“Ravian Arkatama."
Keira membuka salah satu laporan di meja.
“Karena Pak Ravian ikut dalam evaluasi, mungkin sekalian bisa membantu kami memahami satu hal.”
Ravian menoleh. “Apa?”
Keira menunjukkan tabel distribusi. “Tiga vendor ini memperoleh peningkatan volume kontrak dalam tiga bulan terakhir, sementara tingkat pengiriman perusahaan justru turun. Apa dasar penambahan kontraknya?”
Ravian terdiam, pandangannya turun pada laporan. Ia membalik satu halaman, kemudian halaman berikutnya. “Seharusnya ada rekomendasi divisi pengadaan.”
“Siapa yang menyetujuinya?” tanya Keira.
Ravian kembali diam.
Bram memperhatikan dari tempatnya berdiri. Ia ingin menyela, tetapi berakhir tidak mengatakan apapun.
Keira tidak mendesak, tetapi keheningan yang terbentuk justru membuat Ravian semakin tidak nyaman.
“Saya harus melihat dokumen persetujuannya dulu,” jawab Ravian akhirnya.
“Baik.” Keira menutup laporan tanpa komentar.
Elang yang berdiri tak jauh dari Ravian sempat melirik tabel yang pemuda itu buka. Ia melihat nomor persetujuan di halaman sebelumnya, tetapi memilih diam.
Ravian tanpa sengaja menangkap tatapan Elang. “Kamu menemukan sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat beberapa orang menoleh.
Elang sempat terdiam sejenak, sebelum menunjuk laporan di meja. “Nomor persetujuan ada di halaman sebelumnya.”
Ravian segera membuka halaman yang dimaksud. Dan benar saja, apa yang ia cari ada di sana. Ironisnya, Keira juga melihat, membuat wajahnya kaku seketika.
Ravian menahan perubahan wajahnya saat tatapannya kembali bertemu dengan Elang. “Kamu menghafalnya?”
“Tidak.” jawab Elang ringan. “Saya baru membacanya.”
Jawaban itu sederhana, namun justru membuat Ravian semakin diam. Dan Bram yang menyaksikan adegan itu di depan matanya seketika mengepalkan kedua tangannya.
.
.
.
Sore menjelang ketika tim Daneswara akhirnya bersiap meninggalkan gedung.
“Elang.”
Panggilan itu membuat langkah Elang seketika terhenti. Ia menoleh, hanya untuk menemukan sosok penuh Bram berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri.
“Bisa bicara sebentar?” Nada suara Bram tetap profesional mengingat masih ada beberapa pegawai di sekitar mereka.
Elang melirik Keira yang sudah berjalan lebih dahulu bersama Nadia.
“Hanya sepuluh menit,” tambah Bram.
Elang mengangguk setelah mendapatkan izin dari Keira, mengikuti sang ayah menuju sebuah lorong kosong di dekat ruang administrasi.
Begitu memastikan tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Wajah profesional Bram lenyap. “Berhenti dari pekerjaan ini.”
Elang menatap ayahnya, masih berharap jika ia salah mendengar. “Apa?”
“Cari pekerjaan lain,” ucap Bram, mempertegas kalimat yang ia ucapkan sesaat lalu.
Elang tertawa sumbang dangan rasa tak percaya. “Lagi?”
“Jangan membantah."
“Aku baru mulai bekerja hari ini, Ayah,” sahut Elang.
“Dan Ayah menyuruhmu berhenti.”
“Kenapa?”
Bram tidak menjawab.
Elang maju selangkah.
“Karena aku datang ke sini?”
“Pekerjaan seperti ini tidak cocok untukmu.”
“Lucu.”
“Apa yang lucu?”
“Beberapa hari lalu Ayah mengatakan perusahaan konstruksi tidak cocok untukku. Sekarang pekerjaan ini juga tidak cocok.”
“Elang—”
“Kalau besok aku bekerja di bank, apa bank juga tidak cocok?”
Rahang Bram mengeras. “Ayah tahu apa yang terbaik untukmu.”
“Tidak," jawaban Elang keluar tanpa jeda. “Selama ini Ayah hanya tahu bagaimana menghentikanku.”
“Jaga bicaramu.”
“Aku sudah menjaga bicaraku cukup lama.”
Elang meraih tali tas laptop di bahunya. “Aku tidak akan berhenti dari pekerjaan ini.”
“Kau akan menyesal."
Elang tidak menanggapi, ia membalikkan badan, dan baru mengambil tiga langkah ketika Bram kembali memanggil.
“Elang.”
Elang berhenti tanpa berbalik.
“Jangan terlalu dekat dengan orang-orang Arkatama.”
. . . .
. . . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????