Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Palsu
Dokter melangkah keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan dan raut wajah yang sengaja dibuat berat. Di tangannya, ia menggenggam papan rekam medis yang baru saja dimanipulasi secara rahasia—seseorang wanita muda di dalam sana telah menukar kebenarannya dengan sebuah kebohongan besar demi menyingkap kebusukan dua orang paling ia sayangi. Suasana koridor rumah sakit yang berbau karbol dingin itu seketika menegang saat derap langkah sang dokter terhenti di hadapan dua orang yang sejak tadi menunggu dengan gelisah.
Melihat pintu ruang rawat terbuka, Zidan dan Zahra langsung bangkit dari kursi tunggu stainless steel. Wajah mereka secara instan bertransformasi, memasang raut kecemasan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata publik. Dengan nada suara yang ditahan dan sedikit bergetar, sang dokter mulai menyampaikan vonis medis yang telah disepakati bersama Amanda. Ia menjelaskan bahwa benturan hebat pada bagian tengkorak belakang tidak hanya merusak saraf penglihatan Amanda hingga menyebabkan kebutaan permanen, tetapi juga memicu trauma selebral yang berakibat pada amnesia sementara. Sang dokter menegaskan bahwa Amanda kehilangan ingatan mengenai peristiwa-peristiwa penting dalam beberapa bulan terakhir, termasuk memori spesifik yang terjadi tepat sebelum kecelakaan maut itu menghantamnya.
Seketika itu juga, panggung sandiwara di koridor rumah sakit mencapai puncaknya. Zidan langsung meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi sembari mengeluarkan suara isakan pelan yang terdengar begitu hancur. Ia berakting seolah dunia di sekitarnya baru saja runtuh mendengar kemalangan yang menimpa istri tercintanya. Di sampingnya, Zahra memegangi dadanya sendiri, menutup mulut dengan jemarinya yang gemetar sembari meneteskan air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Bagi siapa saja yang melintas di koridor tersebut, Zahra tampak seperti seorang sahabat sejati yang hatinya hancur berkeping-keping melihat penderitaan Amanda.
Namun, drama penuh kedukaan itu tidak bertahan lama. Begitu sang dokter menyampaikan salam empati dan berbalik memunggungi mereka untuk berjalan menjauh menelusuri koridor, topeng penderitaan itu perlahan terlepas. Di balik telapak tangan yang masih menutupi bagian bawah wajahnya, Zidan perlahan menurunkan jemarinya. Isakan tangisnya mendadak berhenti total. Ia menoleh ke arah Zahra, dan pada detik itulah tatapan mata mereka saling mengunci di tengah kesunyian lorong rumah sakit.
Tidak ada lagi raut kepedihan, kecemasan, atau rasa guilty di antara mereka. Iris mata kedua orang itu justru berkilat memancarkan kepuasan dan kebahagiaan yang amat pekat. Senyum tipis yang sarat akan kemenangan perlahan terukir di sudut bibir Zidan. Zahra, yang tadinya menyapu air mata dengan tisu, kini menarik napas lega seraya membalas senyuman itu dengan tatapan penuh arti. Bagi mereka berdua, vonis medis yang baru saja diucapkan oleh dokter tidak kurang dari sebuah keajaiban yang melengkapi rencana tersembunyi mereka.
Kebutaan fisik yang dialami Amanda berarti wanita itu tidak akan pernah lagi bisa mengawasi gerak-gerik mereka, tidak akan bisa membaca isi pesan di telepon genggam, dan tidak akan bisa melihat tatapan terlarang yang mereka bagikan di dalam rumah. Ditambah lagi dengan kondisi amnesia sementara, Zidan dan Zahra merasa berada di atas angin. Mereka yakin sepenuhnya bahwa alasan sebenarnya di balik kecelakaan tragis itu telah terkubur rapat di dalam ingatan Amanda yang terhapus. Rahasia perselingkuhan yang mereka rajut sejak awal pernikahan kini terasa benar-benar aman dari ancaman pembongkaran.
Di dalam ruang perawatan, Amanda terbaring kaku di atas ranjang dengan perban yang melingkari sebagian kepalanya. Suasana ruangan yang hening membuat pendengarannya yang kini sengaja dipertajam menjadi jauh lebih peka. Amanda mendengarkan setiap ketukan langkah, setiap bisikan pelan, dan perubahan ritme napas dari dua orang yang berdiri tepat di luar pintunya. Ia tahu pasti, di balik tawa dan bisikan lega yang nyaris tak terdengar dari koridor, Zidan dan Zahra sedang merayakan kelumpuhan hidupnya.
Perlahan, Zidan merangkul pundak Zahra dengan erat, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya—bukan sebagai bentuk saling menguatkan di tengah duka cita, melainkan sebagai selebrasi atas kebebasan terlarang yang baru saja mereka dapatkan. Mereka menyandarkan harapan di atas kebohongan yang mereka anggap nyata. Tanpa mereka sadari, dari balik kegelapan buatan dan mata yang terpejam di dalam kamar rawat, Amanda sedang menyusun jaring penjerat. Kebutaannya adalah senjata, dan amnesianya adalah umpan paling mematikan untuk menyaksikan setiap detik kebusukan mereka hingga saat pembalasan itu tiba.