NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang Masih Berat Melepaskan

Pukul tujuh tepat, Bastian masih berada di kantornya.

Sebagai seorang pebisnis, Bastian memang dikenal sebagai pria yang nyaris tidak pernah mengenal kata lelah. Ambisi yang besar, tekad yang keras, serta kebiasaan menetapkan target membuat hidupnya selalu dipenuhi rencana. Baginya, setiap tahun harus memiliki pencapaian baru. Bahkan sebelum tahun ini berakhir, ia sudah menyiapkan sederet target yang ingin diwujudkannya tahun depan.

Dalam urusan bisnis, satu impian terbesar Bastian adalah membawa perusahaannya menjadi perusahaan multinasional nomor satu di kawasan ASEAN.

Namun, untuk kehidupan pribadinya, ada satu keinginan yang jauh lebih sederhana.

Ia ingin memiliki seorang anak bersama Diandra.

Bastian meregangkan tubuhnya yang mulai kaku setelah berjam-jam duduk di depan meja kerja. Ia kemudian bangkit dan berjalan mendekati dinding kaca yang memenuhi sisi ruangan.

Kedua tangannya masuk ke saku celana.

Dari lantai empat puluh, gemerlap lampu kota terlihat seperti lautan cahaya yang membentang tanpa batas. Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh, sementara langit malam di atas sana dihiasi bintang-bintang yang berkelip.

Malam itu begitu indah.

Namun, entah mengapa, keindahan tersebut terasa kurang sempurna.

Seandainya Diandra ada di sampingnya, mungkin malam ini akan terasa jauh lebih berarti.

"Pak Bastian, pukul delapan malam nanti Anda ada jadwal makan malam dengan Mr. Matthew dan istrinya di Royal Gammaland Hotel," ujar Arya, sekretarisnya, mengingatkan agenda malam itu.

Bastian tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih terpaku pada langit.

"Diandra suka melihat bintang."

Arya yang sedang memeriksa tabletnya spontan mengangkat wajah. Alisnya berkerut mendengar nama yang tiba-tiba disebut oleh atasannya.

Bastian tersenyum tipis.

"Saat masih menjadi sekretaris saya, dia sering berdiri di sini."

Ia menunjuk ke arah dinding kaca di hadapannya.

"Setiap kali pekerjaannya selesai, dia akan berdiri cukup lama sambil menatap langit. Matanya selalu berbinar seolah-olah sedang melihat sesuatu yang sangat indah."

Senyum di wajah Bastian semakin samar.

"Dia juga suka berbicara tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Tentang apa saja. Kadang tentang hal kecil yang bahkan tidak penting."

Bastian terdiam sejenak.

Lalu kenangan lama itu kembali muncul dengan begitu jelas.

Suara Diandra.

Tatapan matanya.

Senyum kecilnya.

Dan cara perempuan itu bercerita tentang impiannya.

"Dia pernah bilang ingin menjadi seorang ibu."

Nada suara Bastian berubah lebih lembut.

"Waktu itu saya cukup terkejut. Di zaman seperti sekarang, saya pikir tidak banyak perempuan yang punya impian menjadi ibu rumah tangga setelah memiliki keluarga."

Bastian mengembuskan napas pelan.

"Saya bahkan pernah menganggap impiannya itu bodoh."

Arya hanya diam mendengarkan.

"Tapi Diandra tidak marah."

Bastian terkekeh kecil, seolah baru menyadari betapa keras kepala perempuan itu dulu.

"Dia malah menatap saya dengan mata penuh keyakinan dan mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang rendah. Baginya, mengurus suami dan anak-anak adalah sebuah tanggung jawab sekaligus tugas yang sangat mulia."

Bastian menundukkan wajahnya.

Dulu, ia tidak pernah benar-benar memahami perkataan itu.

Dulu, ia menganggap Diandra hanya sedang berkhayal tentang kehidupan sederhana.

Namun sekarang...

Setelah begitu banyak hal terjadi, Bastian justru mulai menyadari betapa berharganya impian sederhana tersebut.

Dan untuk pertama kalinya, pria yang sepanjang hidupnya selalu mengejar kesuksesan itu memiliki satu keinginan yang tidak berkaitan dengan perusahaan, uang, ataupun kekuasaan.

Ia ingin Diandra kembali.

Bukan sebagai sekretarisnya.

Bukan sebagai seseorang dari masa lalu.

Melainkan sebagai perempuan yang kelak berdiri di sisinya, membangun keluarga, dan mengisi rumah mereka dengan suara tawa anak-anak.

Perlahan, demi perlahan, Bastian mulai menyadari bahwa selama ini ada satu hal yang paling ia rindukan.

Diandra.

"Lalu suatu hari, dia kembali bercerita tanpa arah. Katanya, dia ingin memiliki keluarga. Dia ingin tahu seperti apa rasanya pulang ke tempat yang dipenuhi kehangatan, bukan sekadar rumah yang memiliki dinding dan atap."

Bastian menarik napas panjang. Ada sesak yang perlahan memenuhi dadanya.

"Dia bilang, dalam keluarga sederhana yang dia impikan, dia ingin membangun istana kecilnya sendiri. Bersama suami yang menyayanginya dan anak-anak yang kelak memenuhi rumah itu dengan tawa."

Bastian terdiam beberapa detik sebelum kembali melanjutkan.

"Aku pikir, aku bisa memberikan semua itu kepadanya."

Tatapannya kosong menembus kaca jendela.

"Aku membawanya masuk ke dalam kehidupanku. Aku memberinya rumah, keluarga, dan semua kemewahan yang kupunya. Aku berharap dia akan bahagia. Aku pikir, akhirnya dia bisa merasakan keluarga hangat yang selama ini dia impikan."

Bibir Bastian mengatup rapat.

"Ternyata aku salah."

Suaranya merendah.

"Apa yang kuberikan justru membuatnya takut pada sebuah keluarga."

Bastian memejamkan mata sesaat.

"Setelah hidup bersamaku, senyumnya tidak lagi sama. Dia yang dulu begitu ceria perlahan berubah pendiam. Wajahnya kehilangan kecerahan. Bahkan tatapan matanya yang dulu selalu penuh kehidupan, sekarang seperti menyimpan luka yang tidak pernah selesai."

Tangannya mengepal di dalam saku.

"Aku yang membuatnya seperti itu."

Pengakuan itu terdengar begitu sederhana, tetapi terasa jauh lebih menyakitkan ketika diucapkan dengan suara sendiri.

"Yang paling menyakitkan adalah aku baru menyadarinya setelah semuanya terlambat."

Bastian menelan ludah.

"Setiap kali menatap matanya, aku selalu merasa seolah-olah aku adalah dunianya. Aku tidak pernah mengerti apa yang dia lihat dariku sampai bisa mencintaiku sedalam itu."

Ia tertawa getir.

"Padahal aku orang yang paling sering menyakitinya."

Selama ini, Bastian terlalu terbiasa melihat Diandra bertahan.

Sebanyak apa pun luka yang ia tinggalkan, perempuan itu selalu berusaha tersenyum. Seolah-olah rasa sakit tidak pernah cukup besar untuk membuatnya melepaskan tangan Bastian.

Diandra tetap berjalan bersamanya, bahkan ketika jalan yang mereka lalui penuh bara.

Bastian terus menambahkan luka, sementara Diandra terus meyakinkan dirinya bahwa semua itu masih bisa dilewati selama mereka tetap bersama.

Sampai akhirnya, ia lupa satu hal.

Diandra juga manusia.

Perempuan itu bisa lelah.

Kakinya bisa terluka.

Dan hati yang terlalu lama dipaksa bertahan pada akhirnya akan sampai pada batasnya.

Kini Diandra telah berhenti.

Bukan karena cintanya tidak pernah ada, tetapi karena dirinya sudah tidak sanggup lagi berjalan di atas luka yang sama.

"Biasanya," suara Arya terdengar pelan, "kalau seseorang memandang orang lain seolah-olah orang itu adalah seluruh dunianya, berarti perasaannya sangat dalam."

Bastian tersenyum pahit.

"Aku tahu."

Tatapannya kembali jatuh pada langit malam.

"Aku bisa merasakannya setiap kali Diandra menatapku."

Ia terdiam lama.

"Dan justru karena itu, aku baru sadar betapa bodohnya aku."

Dulu, Bastian mengira memiliki cinta Diandra adalah sesuatu yang akan selalu menjadi miliknya.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia takut perempuan yang menjadikannya dunia justru akan memilih hidup tanpa dirinya.

Arya mengangguk pelan. "Kalau begitu, sebenarnya masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan Anda dengan Bu Diandra."

Bastian tidak menjawab.

"Dia bilang ingin berhenti mencintai saya."

Arya terdiam sesaat sebelum berkata, "Kalau begitu, mungkin sekarang waktunya Bapak yang berjuang. Kalau dulu Bu Diandra yang terus mengejar dan mempertahankan hubungan ini, sekarang giliran Bapak membuatnya percaya lagi."

Bastian terdiam cukup lama.

Tatapannya tetap mengarah ke luar jendela, seolah pikirannya sedang jauh meninggalkan ruangan itu.

Lima menit berlalu tanpa sepatah kata pun.

Arya akhirnya memberanikan diri membuka suara.

"Saya minta maaf, Pak. Sampai sekarang saya masih belum berhasil menemukan Bu Diandra."

"Kamu tidak perlu mencarinya lagi."

Arya mengerutkan kening.

Bastian perlahan menoleh.

"Saya sudah menemukannya."

"Di mana, Pak?"

"Di rumah Victor."

Mata Arya membesar.

"Bagaimana Bapak bisa yakin?"

Bastian kembali menatap kaca jendela.

"Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi saya bisa merasakan dia ada di sana."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Rasanya seperti dia berdiri tidak jauh dari tempat saya berada sekarang."

Bastian mendongakkan kepala, menatap hamparan langit malam yang bertabur bintang.

"Saya sangat merindukannya."

Suaranya terdengar jauh lebih lembut.

"Saya ingin sekali memeluknya. Hanya itu."

Arya terdiam. Dari nada suara atasannya, ia bisa merasakan sesuatu yang selama ini jarang sekali terlihat dari Bastian—kerinduan yang begitu dalam, bercampur penyesalan.

"Kalau begitu, kenapa Bapak tidak datang dan membujuk Bu Diandra untuk pulang?"

Bastian tersenyum getir.

"Karena sekarang bukan waktunya."

Ia mengembuskan napas panjang.

"Kalau saya memaksanya pulang sekarang, dia mungkin akan menurut. Tapi saya tahu, hatinya belum siap."

Bastian menatap langit sekali lagi.

"Saya tidak ingin Diandra pulang karena terpaksa. Saya ingin suatu hari nanti dia memilih pulang karena memang ingin berada di sisi saya."

Ia berhenti sejenak.

"Dan kalau saya mengejarnya sekarang lalu dia kembali pergi, saya takut..."

Kalimatnya menggantung.

"Saya takut kali ini saya benar-benar tidak bisa menemukannya lagi."

Arya hanya mengangguk.

Bastian kemudian berbalik dan mengambil jas yang tergantung di kursi.

"Batalkan makan malam saya malam ini. Sampaikan permintaan maaf saya kepada mereka."

"Baik, Pak."

"Saya pulang malam ini."

Arya sedikit terkejut. "Sekarang, Pak?"

Bastian mengangguk.

"Anak-anak pasti menunggu."

Ia melangkah menuju pintu, tetapi sebelum keluar, Bastian berhenti sejenak.

Untuk pertama kalinya, pria yang selalu merasa bisa mengendalikan segala sesuatu itu menyadari bahwa ada satu hal yang tidak bisa ia paksa.

Hati Diandra.

Dan kali ini, Bastian bersedia menunggunya.

Bahkan jika untuk mendapatkan kembali perempuan itu, ia harus belajar mencintai dengan cara yang berbeda.

...****************...

"Wah..."

Diandra mendongakkan wajahnya ke langit malam. Matanya berbinar-binar, sementara senyum cerah terus menghiasi wajahnya. Sejak beberapa menit lalu, satu kata itu berkali-kali keluar dari bibirnya.

"Wah... cantik sekali."

Elisa yang memperhatikannya dari dalam teras hanya tersenyum geli. Ia membawa dua cangkir teh madu hangat, lalu meletakkannya di atas meja.

"Minum dulu. Nanti masuk angin kalau terlalu lama di luar."

Diandra segera menghampirinya dengan wajah ceria.

"Tante, lihat deh. Bintangnya banyak sekali."

"Iya. Malam ini memang langitnya sedang bagus."

Elisa tersenyum, lalu mencubit pelan pipi Diandra.

Tingkah perempuan itu membuat Diandra tampak seperti anak kecil yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik dan ingin segera menunjukkannya kepada orang terdekatnya.

"Kamu memang suka melihat bintang?" tanya Elisa.

Diandra mengangguk antusias.

"Suka sekali."

Ia kembali menatap langit.

"Setiap melihat bintang, aku selalu berpikir... mungkin di bawah langit yang sama, ayah dan ibuku juga sedang melihat bintang."

Senyum Elisa perlahan memudar.

Ia menoleh dan memperhatikan wajah Diandra dari samping. Ada kelembutan dalam tatapan perempuan muda itu, tetapi juga sesuatu yang sulit dijelaskan.

Kesepian.

Diandra menyadari dirinya diperhatikan dan menoleh.

"Kenapa, Tante?"

"Orang tuamu sekarang ada di mana?"

Pertanyaan itu membuat Diandra terdiam sejenak.

Namun, seperti biasanya, senyum itu tetap bertahan di wajahnya.

"Entahlah."

Jawaban sederhana itu justru terasa menyakitkan.

"Aku juga tidak tahu mereka ada di mana."

Diandra menundukkan pandangan ke cangkir teh di tangannya.

"Sejak kecil aku tinggal di panti asuhan. Kata ibu panti, aku ditemukan tidak jauh dari sana."

Elisa terdiam.

"Mungkin orang tuaku memang sengaja meninggalkanku," lanjut Diandra pelan. "Atau mungkin... mereka hanya menitipkanku sementara."

Ia terkekeh kecil, berusaha terdengar santai.

"Tapi kalau memang sementara, kenapa sampai sekarang mereka belum datang menjemputku?"

Senyumnya tetap ada.

Namun, mata Elisa tidak bisa dibohongi oleh senyum itu.

Perempuan ini terlalu pandai menyembunyikan luka.

Elisa bahkan mulai bertanya-tanya, sudah berapa lama Diandra memakai senyum sebagai topeng untuk menutupi semua kesedihannya.

"Kadang aku berpikir..." suara Diandra semakin pelan, "mungkin mereka lupa kalau pernah punya anak sepertiku."

Elisa langsung mengangkat tangan dan mengusap rambut Diandra dengan lembut.

Diandra mendongak.

"Tidak ada orang tua yang benar-benar melupakan anaknya."

Suara Elisa terdengar begitu hangat.

"Percayalah pada Tante. Kalau memang ada jalan untuk mempertemukan kalian, suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan mereka. Mungkin bukan sekarang. Mungkin belum waktunya."

Mata Diandra mulai berkaca-kaca.

"Kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu sendiri."

Diandra mengangguk.

Bibirnya masih tersenyum, tetapi air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku tidak mau menangis, Tante."

Air mata itu akhirnya jatuh.

Diandra buru-buru mengusap pipinya.

"Ih... kenapa keluar lagi, sih?"

Ia berusaha tertawa, tetapi suaranya justru bergetar.

Melihat itu, Elisa tidak sanggup lagi hanya diam.

Ia menarik Diandra ke dalam pelukannya.

Begitu tubuhnya tenggelam dalam pelukan hangat perempuan itu, pertahanan Diandra langsung runtuh.

Air matanya mengalir semakin deras.

Diandra memeluk Elisa erat, seolah takut kehangatan itu akan menghilang jika ia melepaskannya.

"Seandainya ibuku pernah memelukku..." isaknya pelan. "Mungkin pelukannya juga sehangat pelukan Tante."

Elisa mengeratkan pelukannya.

"Kalau kamu merindukan seorang ibu, anggap saja Tante sebagai ibu."

Diandra terdiam.

Air matanya kembali jatuh.

" Apa boleh?"

Elisa mengusap punggungnya dengan lembut.

" Iya, nak. Peluklah Tante kapan pun kamu merindukan ibumu."

Diandra memejamkan mata.

"Terima kasih, Tante."

Elisa tersenyum dan mengecup pelan puncak kepala Diandra.

"Sama-sama, Nak."

Di bawah langit yang dipenuhi bintang, Diandra akhirnya menangis tanpa perlu berpura-pura kuat.

Untuk sesaat, perempuan yang selama ini merasa tidak memiliki tempat untuk pulang itu akhirnya merasakan sesuatu yang sudah lama ia rindukan.

Kehangatan.

Seperti pulang ke pelukan seorang ibu.

Elisa masih mengusap rambut Diandra dengan penuh kasih, lalu mengecup lembut sisi kepalanya.

Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

"Wah, ini ada apa? Kok sampai peluk-pelukan?"

Diandra dan Elisa sontak melepaskan pelukan mereka.

Elisa tersenyum sambil mengusap sisa air mata di pipi Diandra. Diandra pun melakukan hal yang sama pada pipi Elisa. Keduanya kemudian saling melempar senyum.

Victor berjalan mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

"Kalian sedang membicarakan apa sampai menangis begini? Kok aku nggak diajak?"

Elisa mendengus kecil.

"Ini pembicaraan perempuan. Laki-laki tidak boleh ikut campur."

Diandra langsung mengangguk setuju.

Victor menatap keduanya bergantian.

"Kompak sekali. Padahal baru dua hari saling mengenal."

"Ya harus kompak dong."

Diandra kembali merangkul lengan Elisa. Elisa tertawa kecil sambil mengusap lengan perempuan itu dengan penuh kasih.

"Astaga, tehnya sampai dingin."

Elisa baru menyadari dua cangkir teh yang sejak tadi terabaikan. Ia kemudian mengajak Diandra dan Victor duduk di ruang keluarga.

Suasana yang sempat haru perlahan berubah menjadi lebih santai. Mereka menikmati teh sambil mengobrol ringan tentang berbagai hal.

Setelah beberapa saat, Diandra teringat sesuatu.

"Oh iya, Pak Victor."

"Hm?"

"Kapan sidang perceraian saya dengan Mas Bastian?"

Victor mengangkat alis. "Kamu tidak sabar sekali ingin resmi bercerai dari Bastian."

Diandra hanya menghela napas.

Victor tiba-tiba menyeringai jahil.

"Jangan-jangan sudah tidak sabar menikah dengan Sean?"

Mata Diandra langsung membesar.

"Saya dan Sean tidak punya hubungan apa-apa, Pak!"

Victor tertawa.

"Sean itu cuma teman. Saya menganggapnya seperti adik sendiri."

"Tapi sepertinya Sean menginginkan hubungan yang lebih dari sekadar adik-kakak."

Diandra mengangkat bahu.

"Kalau itu keinginannya, itu urusan Sean. Saya tidak pernah memberikan harapan apa pun."

Victor mengangguk-angguk, lalu memasang wajah serius yang dibuat-buat.

"Kalau begitu, berarti masih ada kesempatan untuk pria lain."

Diandra terdiam sebentar sebelum akhirnya tertawa.

"Kesempatan apaan?"

"Lowongan."

Diandra langsung menggeleng sambil tertawa.

"Lowongan? Memangnya saya buka penerimaan karyawan?"

Victor ikut tertawa.

"Siapa tahu ada yang mau melamar."

"Kalau mau melamar, jangan lupa bawa CV sekalian."

Suasana ruang keluarga kembali dipenuhi tawa.

Untuk beberapa saat, Diandra melupakan semua luka yang selama ini membebani hatinya. Di tempat itu, bersama Elisa dan Victor, ia bisa tertawa tanpa harus berpura-pura bahwa hidupnya baik-baik saja.

Victor tersenyum tipis sebelum menjelaskan, "Proses perceraian itu tidak selesai hanya dengan mengajukan gugatan. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Dalam waktu dekat, kalian akan menjalani mediasi."

Diandra mengangguk pelan.

"Mediasi itu nantinya menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk duduk bersama dan mencari jalan terbaik dengan bantuan mediator. Kalian akan diberi ruang untuk menyampaikan keinginan masing-masing sebelum perkara dilanjutkan."

Diandra kembali mengangguk, meski pikirannya terasa semakin berat.

Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.

Perceraian.

Kata itu sudah ia pikirkan berulang kali, tetapi tetap saja terasa menyakitkan ketika benar-benar harus dihadapi.

Diandra memang sudah mengajukan gugatan terhadap Bastian. Ia bahkan sudah meyakinkan dirinya bahwa keputusan tersebut adalah jalan terbaik.

Namun, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang belum rela.

Bagian dirinya yang masih berharap pernikahan itu bisa diselamatkan.

Masih ada hati yang ingin mempertahankan rumah tangga yang selama ini ia perjuangkan sendirian.

Sayangnya, setiap kali keraguan muncul, kenangan tentang perlakuan Bastian kembali menghantamnya.

Dua tahun.

Dua tahun ia bertahan, menelan kecewa, menyembunyikan tangis, dan berulang kali meyakinkan dirinya bahwa suatu hari suaminya akan berubah.

Tetapi hari itu tidak pernah datang.

Kini Diandra sudah terlalu lelah untuk kembali ke titik awal.

"Aku harus tetap maju," batinnya.

Ia tidak ingin lagi mempertahankan pernikahan yang hanya membuat dirinya perlahan kehilangan harga diri.

Biarlah orang-orang menyebutnya kalah.

Biarlah mereka mengatakan Diandra menyerah karena tidak mampu bersaing dengan perempuan lain.

Toh, pada kenyataannya, ia memang sudah kalah sejak awal.

Bukan karena perempuan itu lebih cantik.

Bukan pula karena Diandra tidak cukup baik sebagai seorang istri.

Hanya saja, sejak awal, hati Bastian memang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Dan Diandra akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan:

Tidak ada gunanya memperjuangkan seseorang yang sejak awal tidak memilih kita.

Karena itu, kali ini Diandra memilih dirinya sendiri.

Meski harus melepaskan orang yang masih ia cintai.

1
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!