Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Murid Baru yang Menjadi Masalah
Beberapa hari setelah serangan terhadap akademi pada malam festival, kegiatan belajar kembali berjalan, meskipun dengan suasana yang berbeda.
Dinding akademi yang runtuh sudah ditambal darurat dengan sihir tanah tingkat tinggi oleh para guru Archmage, membuat dinding itu kini terlihat seperti tambalan putih di atas batu putih tua. Lapangan utama festival yang penuh bekas cakaran dan bekas sihir sudah dibersihkan, tapi masih ada bau hangus samar-samar dan beberapa batu yang retak tidak bisa diperbaiki sepenuhnya.
Siswa-siswa kembali ke kelas dengan wajah yang masih pucat, beberapa masih memakai perban di lengan atau di kepala, tapi semua dipaksa untuk kembali belajar, karena kepala akademi berkata, "Monster tidak akan menunggu kita siap. Justru karena diserang, kita harus lebih cepat belajar."
Perpustakaan dibuka kembali, kantin dibuka kembali, dan pohon ek besar di taman belakang, tempat tidur siang favorit Yamada, masih berdiri kokoh, meskipun salah satu cabangnya patah karena terkena angin ledakan malam itu.
Namun ada satu masalah besar yang belum selesai, masalah yang membuat para guru berkumpul setiap malam di ruang rapat dengan wajah serius.
Akademi membutuhkan kelompok khusus untuk menyelidiki dungeon yang muncul di bawah kota. Dungeon yang bukan Goblin Cave yang sudah diketahui, tapi dungeon baru, dungeon yang muncul tepat di bawah akademi setelah dinding runtuh malam itu. Tim investigasi menemukan sebuah retakan besar di bawah fondasi akademi, retakan yang mengarah ke sebuah jaringan gua tua yang tidak ada di peta kota manapun, gua yang memancarkan mana yang sama seperti mana yang ada di perangkap tombak di Goblin Cave, mana ungu keperakan yang sama seperti lingkaran Elaria.
Dan untuk menyelidiki dungeon itu, akademi tidak bisa mengirim guru-guru senior, karena mana mereka terlalu besar dan akan memicu perangkap kuno di dalamnya. Mereka butuh siswa, siswa dengan kemampuan analisis tinggi, siswa yang bisa melihat perangkap, bukan siswa yang hanya bisa menghancurkan perangkap dengan kekuatan.
Dan Yamada... terpilih. Bukan karena dia yang terkuat, bukan karena dia yang paling pintar di atas kertas, tapi karena dia adalah satu-satunya siswa tahun pertama yang menemukan struktur dungeon yang tidak diketahui siswa lain.
Surat tugas berwarna biru dengan stempel emas kepala akademi tergeletak di atas meja kayu di ruang guru. Yamada menatap surat itu dengan wajah datar, dengan mata setengah mengantuk, seperti sedang menatap surat tagihan listrik yang tidak ingin dibayar.
"Kenapa aku? Kenapa harus aku? Di akademi ini ada ratusan siswa, ada kelas S dengan mana 400, ada kelas A dengan pedang sihir, kenapa yang mana 0 yang dipilih?" Tanya Yamada, menatap surat tugas di tangannya yang bertuliskan Tim Investigasi Khusus Dungeon Bawah Akademi - Anggota: Yamada (Kelas 1-F - Analis).
Guru yang ada di depannya, Guru Maren yang mengajar teori dasar, yang kini juga menjadi penanggung jawab tim investigasi karena dia adalah guru yang paling paham teori dungeon, menjawab dengan tenang, dengan kacamata bulatnya yang berkilau.
"Karena kau menemukan struktur dungeon yang tidak diketahui siswa lain. Bahkan tim investigasi senior tidak menemukan perangkap tombak itu selama 10 tahun mereka membersihkan Goblin Cave. Kau menemukannya hanya dalam 5 menit."
"Aku menemukan perangkap, bukan menemukan harta karun. Menemukan perangkap itu kebetulan, aku cuma melihat batu yang warnanya sedikit lebih gelap. Itu bukan prestasi." Jawab Yamada, mencoba menolak dengan logika malasnya.
"Dan kau juga menemukan tiga ruangan tersembunyi di balik perangkap itu. Tiga ruangan yang bahkan tidak ada di peta akademi yang dibuat 100 tahun lalu. Satu ruangan dengan lingkaran sihir kuno yang tidak bisa diidentifikasi oleh pustakawan senior." Lanjut Guru Maren, dengan nada yang semakin kagum.
"Itu kebetulan juga. Aku cuma iseng tekan batu yang ada lumutnya. Kalau aku tidak tekan, kita semua sudah pulang ke asrama." Jawab Yamada lagi, masih mencoba menolak.
"Selain itu, kemampuan analisismu sangat tinggi. Kau memperbaiki soal ujian tingkat tiga dalam tiga goresan, kau mengoreksi buku Archmage Liriel di kereta, dan kau mengalahkan monster Level 27 dengan pedang kayu patah. Laporan dari Aria Luvellia dan dari Elena sudah kami baca semua."
"Lebih tepatnya aku malas bertarung, jadi aku cari cara paling cepat untuk mengakhiri pertarungan. Kalau aku kuat, aku tidak perlu analisis, aku tinggal pukul saja. Analisis itu kerjaannya orang lemah yang tidak mau capek." Jawab Yamada, dengan filosofi Lazy Genius yang sangat jujur, yang membuat Guru Maren terdiam sejenak karena tidak bisa membantah logika itu.
Guru Maren menghela napas panjang, napas yang mirip dengan napas Elena setiap kali berhadapan dengan Yamada. Napas pasrah.
"Justru karena itu kau cocok menjadi analis. Tim butuh orang yang malas bertarung, karena orang yang malas bertarung akan berpikir 10 kali sebelum melangkah, akan melihat 10 perangkap sebelum orang lain melihat satu. Orang yang suka bertarung akan langsung menginjak perangkap itu karena mengira itu pijakan untuk melompat. Kau adalah analis yang sempurna, Yamada."
Logika yang... anehnya masuk akal dan tidak bisa dibantah oleh Yamada. Karena memang benar, dia malas, jadi dia lebih memilih melihat daripada menginjak.
Yamada diam, menatap surat tugas di tangannya, menatap stempel emas kepala akademi, menatap kata "Analis" yang tertulis di sana. Tidak ada jalan keluar. Kalau dia menolak surat tugas resmi dari kepala akademi, dia akan dianggap membangkang dan bisa dikeluarkan dari akademi, dan kalau dikeluarkan dari akademi, dia tidak bisa mengakses perpustakaan terlarang untuk mencari tahu tentang kontrak lima tahun.
"Baiklah. Aku ikut. Tapi aku cuma analis, ya. Aku tidak akan di depan, aku tidak akan bertarung, aku cuma akan bilang 'di sana ada perangkap' atau 'di sana ada ruangan'. Itu saja." Katanya akhirnya, dengan nada pasrah.
"Sepakat. Kau hanya analis. Tidak perlu bertarung." Jawab Guru Maren, dengan senyum lega.
Saat Yamada keluar dari ruangan guru dengan surat tugas yang masih di tangannya, dengan langkah malas dan wajah yang sudah memikirkan bagaimana caranya tidur di dalam dungeon nanti—
seseorang sudah menunggunya di koridor, bersandar di dinding marmer, dengan posisi yang terlihat sangat dibuat-buat keren.
Seorang pemuda berambut merah menyala, merah seperti api, dipotong pendek dan disisir ke belakang, dengan wajah tampan yang terlihat seperti pangeran dari negeri api, dengan seragam akademi kelas B yang rapi dan jubah merah, dengan pedang baja sungguhan yang tergantung di pinggang, bukan pedang kayu latihan. Dia berdiri sambil menyilangkan tangan, dengan senyum percaya diri yang terlihat sangat menyebalkan bagi seorang pemalas.
"Jadi kau Yamada? Anak desa mana 0 yang katanya mengalahkan Berserk Ape Level 27 sendirian di malam festival?" Tanyanya, dengan suara yang keras, yang membuat beberapa siswa yang lewat di koridor berhenti dan menoleh.
"Ya. Aku Yamada. Mana 0 yang masih mengantuk." Jawab Yamada singkat, tidak tertarik, mencoba lewat.
"Aku Leon. Leon Agnis. Kelas 1-B. Juara 2 turnamen pedang tahun pertama. Anak dari keluarga kesatria Agnis yang terkenal." Pemuda itu memperkenalkan diri dengan bangga, dengan dada membusung.
Leon tersenyum, senyum yang terlihat seperti senyum rival di dalam novel-novel pahlawan yang pernah dibaca Yamada di kehidupan pertamanya.
"Mulai hari ini aku akan menjadi rivalmu. Aku sudah memutuskan. Kau akan menjadi rival seumur hidupku."
Yamada yang tadinya sudah setengah jalan lewat, berhenti, berkedip, dengan wajah yang benar-benar bingung, tidak mengerti logika anak ini.
"Kenapa? Kenapa aku? Aku bahkan tidak kenal kau. Kita baru bertemu 10 detik lalu." Tanyanya jujur.
"Karena aku mendengar dari semua orang bahwa kau mengalahkan monster level tinggi sendirian dengan pedang kayu patah, bahwa kau punya kemampuan Absolute Calculation, bahwa kau disukai oleh Aria Luvellia yang mana 412. Itu tidak bisa kubiarkan. Aku harus membuktikan bahwa aku lebih kuat darimu." Jawab Leon, dengan alasan yang sangat... shounen manga.
"Aku tidak mengalahkannya sendirian. Aria membantuku, sistem membantuku, keberuntungan membantuku, dan pedang kayu itu yang patah, bukan aku yang kuat." Jawab Yamada, mencoba meluruskan rumor yang sudah terlanjur membesar di akademi, rumor yang membuatnya kini terkenal sebagai "Mana 0 yang Mengalahkan Level 27".
"Itu tidak penting. Yang penting adalah kau mengalahkannya, dan aku belum pernah mengalahkan monster di atas Level 15. Jadi aku akan mengalahkanmu untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat." Jawab Leon, dengan logika rival yang tidak bisa dibantah dengan logika normal.
Leon menunjuk Yamada dengan jari telunjuknya, dengan pose yang sangat dramatis, pose yang mungkin sudah dia latih di depan cermin selama berjam-jam.
"Aku akan mengalahkanmu. Di turnamen, di dungeon, di kelas, di mana saja. Aku akan membuatmu mengakui bahwa aku lebih kuat."
Yamada menatap jari yang menunjuk wajahnya, lalu menatap wajah Leon yang penuh semangat membara, lalu menghela napas panjang, napas yang sangat panjang, napas yang mengandung semua kemalasan dunia.
"Repot. Sangat repot. Kenapa anak-anak di akademi ini suka sekali mencari rival? Apa tidak ada hobi lain seperti tidur siang?" Gumamnya pelan.
Leon yang mendengar kata "repot" itu, terdiam, dengan wajah terkejut, karena tidak ada yang pernah memanggil tekad rivalnya sebagai "repot" sebelumnya.
"Kenapa? Kenapa repot? Ini adalah takdir! Takdir rival!"
"Aku bahkan tidak tahu namamu kemarin, dan hari ini kau sudah menganggapku rival seumur hidup. Itu terlalu cepat. Bahkan Aria butuh beberapa minggu untuk mengikutiku, kau cuma butuh 10 detik untuk jadi rival. Efisiensi yang mengerikan." Jawab Yamada, dengan nada datar.
Leon mengepalkan tangan, dengan wajah memerah karena kesal, karena rivalnya tidak menganggapnya serius, "Dasar... dasar pemalas sombong! Kau pikir mana 0 bisa sombong begitu?!"
Tepat pada saat itu, Aria yang baru datang dari klinik, yang membawa buku catatan dan dua cangkir teh— kebiasaan barunya setelah festival— melihat pemandangan itu: Leon yang berambut merah yang menunjuk-nunjuk Yamada dengan wajah memerah, dan Yamada yang menguap lebar.
Aria tertawa kecil, tawa renyah yang membuat beberapa siswa di koridor menoleh, karena Aria jarang tertawa di depan umum.
"Sepertinya kau mendapat penggemar baru, Yamada. Penggemar yang sangat bersemangat." Kata Aria, dengan nada godaan.
"Jangan menyebutnya begitu. Penggemar itu merepotkan. Apalagi penggemar yang ingin duel setiap hari." Jawab Yamada cepat, menolak label itu.
Leon yang mendengar kata "penggemar" dari mulut Aria, gadis yang dia kagumi secara diam-diam karena mana 412, langsung memerah, bukan karena marah, tapi karena malu, merah sampai ke telinga.
"Bukan begitu! Bukan penggemar! Aku rival! Rival! Beda! Sangat beda!" Teriaknya panik, dengan tangan yang melambai-lambai, mencoba menjelaskan perbedaan antara rival dan penggemar kepada Aria yang tersenyum godain.
Yamada menatap keduanya, Leon yang memerah dan panik menjelaskan, Aria yang tertawa kecil sambil menyesap teh, dan koridor yang mulai ramai karena ada drama rival baru.
Kemudian, dengan wajah yang sudah sangat mengantuk karena percakapan yang terlalu panjang dan tidak efisien ini, dia menguap lebar, menguap yang ketiga kalinya hari itu.
"Sudah selesai? Aku boleh pergi? Aku masih harus tidur siang sebelum rapat tim investigasi dungeon sore nanti."
Leon yang masih memerah, langsung menunjuknya lagi, dengan tekad yang kembali menyala,
"Besok kita duel! Di lapangan latihan! Jam 9 pagi! Jangan kabur!"
Yamada yang sudah berjalan pergi dengan langkah malas, dengan surat tugas biru di tangannya, dengan Aria yang mengikuti di sebelahnya, menjawab tanpa menoleh,
"Aku sibuk besok."
"Kau sibuk apa?! Besok kan libur! Tidak ada kelas!" Teriak Leon, tidak mau kalah.
"Tidur. Aku sibuk tidur. Jadwal tidur siangku padat." Jawab Yamada, dengan jawaban yang paling jujur dan paling Yamada, sambil menghilang di belokan koridor bersama Aria, meninggalkan Leon yang berdiri sendirian di koridor dengan pedang baja di pinggang dan tekad rival yang membara tapi ditolak mentah-mentah.
Aria yang berjalan di sebelah Yamada, berbisik pelan,
"Kau baru saja menolak duel dari anak keluarga Agnis. Dia tidak akan menyerah, lho."
"Biar saja. Dia akan lelah sendiri. Orang yang bersemangat biasanya cepat lelah. Aku cuma perlu tidur lebih lama darinya." Jawab Yamada, dengan strategi malas yang sempurna.
[New Character Detected: Leon Agnis - Rival Type]
[Threat Level: Low (for now) - But persistence level: MAX]
[New Quest: Dungeon Investigation - Team Formation]
[Members: Yamada (Analyst), Aria (Mage), Elena (Vanguard), Leon (Rival... also Vanguard)]
Yamada melihat notifikasi terakhir itu dan menghela napas sekali lagi,
"Repot. Timnya tambah satu lagi yang merepotkan."
Dan di belakang mereka, Leon masih berdiri di koridor, mengepalkan tangan ke langit, berteriak, "AKU PASTI AKAN MENGALAHKANMU, YAMADA! TUNGGU SAJA!"
Teriakan yang membuat seluruh koridor menoleh dan membuat Guru Maren keluar dari ruang guru dengan wajah, "Siapa yang berteriak di koridor?!"