Sebuah liburan akhir pekan berubah menjadi mimpi buruk saat sekelompok remaja menemukan rahasia kelam di balik keindahan sebuah air terjun terpencil.Satu persatu dari mereka mulai menghilang,memaksa yang tersisa untuk memecahkan kutukan kuno sebelum fajar tiba atau menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stychin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Hari sudah berganti menjadi sore,bu wida tengah sibuk memasak di dapur di temani oleh anaknya.Sedangkan pak arman tengah sibuk memainkan laptopnya di ruang tengah.
Setelah menonton film tadi mereka sempat tidur siang sebentar hanya beberapa jam saja namun cukup untuk memulihkan energy mereka.
Sejak bangun tadi aulia menyusul ibunya yang tengah sibuk di dapur,ia menawarkan diri untuk meringankan pekerjaan ibunya yang jarang sekali ia bantu di hari hari biasa.Bu wida memberikan pekerjaan untuk anaknya,selain meringankan bebannya juga menjadi pengalaman untuk anaknya jika nanti sudah berumah tangga.
Ruangan itu tak begitu sunyi,karena bu wida dan aulia tampak asyik mengobrol dan bercanda sambil melakukan pekerjaan mereka masing masing.
30 menit sudah pak arman membereskan pekerjaannya yang tertunda,ia menyusul anak dan istrinya yang masih berada di dapur.Awalnya ia akan duduk bersantai di halaman rumahnya,namun saat mendengar tawa kecil di dapur membuat niatnya terurungkan.
"Waahh pemandangan yang indah"ucap pak arman yang tiba tiba berdiri di dekat kulkas.Memperhatikan anak dan istrinya yang tengah bercanda.
"boleh gabung gak?"tanyanya.
"boleh dong,papa bantu mama cuci piring ya"
Dengan senang hati pak arman mengangguk dan mengacungkan jempol tangannya.Bu wida tersenyum lalu melanjutkan memasak.sedangkan aulia masih duduk di kursi membantu ibunya memotong sayur sayuran yang akan menjadi menu makan malam mereka malam ini.
Tak pernah ada pertengkaran dalam keluarga ini,bahkan sebelum aulia lahir pak arman terbilang sangat menyayangi bu wida.karena bu wida lah satu satunya perempuan yang mau menemaninya dari bawah.dari pak arman masih tinggal di rumah kecil sampai sekarang ia bisa membangun rumah mewah yang ditinggali oleh anak dan istrinya itu.
Rasa sayangnya terus bertambah meski usianya tak lagi muda.Tak henti hentinya ia bersyukur karena aulia mempunyai ibu seperti bu wida.Jika ia menikah dengan wanita lain,mungkin hartanya sudah habis tak tersisa.Berbeda dengan istrinya yang jarang sekali meminta uang,jarang meminta barang barang mewah.Sebaliknya bu wida malah menyimpan uang yang diberikan pak arman sebagai tabungan mereka.
"ada lagi ma?"tanyanya.
"gak ada pa,udah selesai masaknya.Kalian mandi gih nanti kita makan sama sama"ucapnya kepada anak dan suaminya.
Aulia pergi terlebih dulu ke kamarnya untuk mandi,ia melihat jam di dinding kamarnya sudah hampir memasuki waktu maghrib.Ia bergegas mandi sebelum teman temannya datang.
1jam setelah mereka mandi dan makan,mereka duduk di ruang tengah untuk menunggu kedatangan teman temannya aulia.Sampai suara bel berbunyi yang berarti menandakan mereka sudah sampai.Pak arman sengaja membukakan gerbang rumahnya agar tak perlu repot berlarian karena jarak rumah dan gerbang itu lumayan jauh.
"Assalamu'alaikum"kompak semuanya.
"wa'alaikumusallam"
"silahkan masuk.."sapa bu wida yang tampak ramah menyambut mereka.
Mereka masuk dengan sedikit membungkukkan badan mereka sebagai tanda sopan santun melewati orang tua.Setelah duduk wajah mereka menunduk.Aulia memperhatikan satu persatu teman temannya yang tampak aneh.
Nafasnya berhembus kasar saat melihat pak arman yang memandangi teman temannya dengan tatapan tajam.Aulia menyenggol lengan papanya dengan pelan sampai mata itu beralih kepadanya.
"pa,jangan kayak gitu lah natapnya.takut mereka"
"kalian teman teman aulia yang akan pergi ke air terjun itu?"tanyanya.
Di antara teman temannya yang lain,hanya dery yang berani menatap wajah pak arman.Ia tersenyum dan menjawabnya dengan sopan.
"betul pak,kami berencana akan pergi berlibur ke air terjun itu.Saya janji akan menjaga anak bapak dengan baik"ucapnya.
Pak arman mengerutkan kening,macam ada yang tidak beres pikirnya.Ia memperhatikan wajah dery yang sesekali memandangi anaknya.Sebagai laki laki ia tahu gerak gerik dery yang mungkin tengah menyukai anaknya.Namun selama ini aulia tak pernah mengenalkan laki laki kepadanya.
"Baik,saya percayakan anak saya sama kamu dan ingat!!saat pulang nanti jika anak saya terluka,sedikit saja.Kamu yang akan saya cari camkan itu"tegasnya pak arman.
"Baik pak,saya akan menjaga aulia dengan sepenuh hati saya"Dery tampak senang dengan ucapan pak arman seolah ia akan mudah meminta restu padanya.Namun di tengah rasa senangnya citra memandangi wajah sumringah dery dengan tatapan tak suka.
Di dalam hatinya ia menggerutu.
"apaan sih papanya aulia,sengaja banget.dery jadi makin deket lah kalo gitu sama anaknya"batinnya.
Namun tentunya rencana demi rencana sudah ia susun,ia akan menggangu keduanya.Di air terjun nanti ia akan membuat dery dan aulia tak mempunyai kesempatan untuk berduaan,ia akan mengikuti kemana pun dery pergi tekadnya.
Wajah garang itu berubah menjadi manis,pak arman dan bu wida pamit lebih dulu untuk pergi ke kamar.Meninggalkan mereka di ruang tengah itu.
Saat punggung pak arman sudah tak terlihat,ketiga temannya menghembuskan nafas mereka dengan lega.
"Gilaa serem banget papa lu ul"ucap dinda.
"iya,gue aja yang cowok gak berani natap.Serem liat kumisnya hahahaha"canda martin.
Mereka bisa tertawa lepas saat pak arman tak lagi ada disana.Sesekali mereka bercanda membahas hal lain sambil menyantap cemilan yang sudah di siapkan oleh bu wida sebelum mereka datang.
Sampai tak terasa obrolan mereka sudah 3jam lebih.Malam semakin larut,ada pula yang sudah mengantuk.Aulia menyarankan teman temannya untuk pulang agar tak terlambat masuk kerja.
Ke 4 temannya itu pamit untuk pulang,aulia mengikutinya sampai depan pintu gerbang rumahnya.Sampai mobil dery terlihat sudah jauh dari jalan rumahnya.Ia kembali masuk karena angin juga sudah tak enak dirasanya.
Aulia menutup dan mengunci gerbang itu dengan gembok agar tak memudahkan maling masuk,meski ia tahu seorang maling yang nekat mungkin masih bisa memanjat gerbangnya.Namun jika dipikirnya lagi,siapa yang akan memanjat gerbang setinggi setengah rumahnya.Bahkan gerbang itupun polos tak mempunyai celah celah untuk memudahkan seseorang bisa memanjatnya.
Ia masuk ke dalam rumah,menutup semua gorden jendelanya,tak lupa mengunci pintu rumahnya juga.Matanya sudah berat ingin segera merebahkan tubuhnya dikasur.
Sebelum memasuki kamarnya,ia melirik pintu kamar mama papanya yang sudah tertutup rapat.Nampaknya kedua orang tua aulia sudah tertidur dengan nyenyak,sampai tak mendengar suara mobil dery yang menggema.
Ia kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamar,lalu merebahkan tubuhnya yang sudah ingin dibalut oleh selimut.karena yang ia rasa malam ini tampak sangat dingin,menusuk tulang tulang.Bahkan membuat bulu kunuknya merinding tak tahan dengan rasa dingin itu.