Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Pingit!
Tanggal 4 September... Dua hari lagi menuju acara pernikahan sakral antara Tara dan Mas Cakra.
Di halaman kediaman Pak Anton, para warga sudah ramai berkumpul untuk datang membantu rewang. Para pria ditugaskan untuk mencari sisa kayu bakar yang kurang lalu memotong-motongnya menjadi ukuran lebih kecil. Sedangkan para ibu-ibu sibuk berkumpul di dapur mempersiapkan bahan masakan, bumbu-bumbu, dan peralatan memasak yang akan dipakai untuk hajatan nanti.
Beberapa orang pekerja pemasang tenda pun sudah tiba, sibuk menurunkan besi-besi tarub yang akan segera dipasang memutari halaman... Tak tanggung-tanggung, abong anak satu-satunya, Pak Anton dan Buk Hayati meminta pada pria pekerja itu untuk memasang tenda sebanyak 15 lokal sekaligus!
Jadi ini ceritanya adalah pesta hajatan terbesar pertama kali yang pernah digelar di Desa 'Ojo Lali'.
Di halaman yang riuh itu, banyak anak-anak kecil dengan cantiknya bermain-main, termasuk Candrawan. Bocah berumur 12 tahun itu sedang asyik ngobrol-ngobrol bersama teman-temannya di bawah pohon. Di tangan masing-masing, mereka memegang ponsel yang menampilkan layar permainan game Roblox...
"Cand... jadinya kamu mau punya mama baru tah?" Tanya Rizki, atau yang biasa disapa Iki.
Candra hanya mengangguk pelan sembari jemarinya tetap lincah mengusap layar HP.
"Cand, mamak barumu cantik ya?" Ucap Jefri memuji. Bocah dengan tubuh tinggi dan kulit agak sawo matang itu memandang lekat ke arah kaca jendela kamar Tara yang terbuka sedikit.
Sontak teman-teman yang lain ikut menoleh penasaran, termasuk Candra...
Dari luar, terlihat sosok Tara yang sedang berdiri menatap ke luar jendela melihat para pekerja tenda yang sedang sibuk menyusun besi. Penampilannya hari ini bukan main cantiknya—menggunakan daster yukensi tanpa lengan yang memperlihatkan pundak mulusnya, dengan rambut tergulung rapi dijepit jedai. Siapa pun yang tidak sengaja melihatnya pasti reflek mengucap "Astagfirullah" lalu dilanjutkan "Masya Allah" memuji paras Cantiknya.
"Lah iya, aku baru sadar, rek!" Ucap Candra menyeletuk baru menyadari kecantikan calon mamaknya.
Teman-temannya yang lain ikut mengangguk setuju... Namun pembicaraan bocah-bocah itu terputus saat panggilan keras dari bapak-bapak pemotong kayu bakar memanggil mereka untuk menyuruh membantu mengangkut kayu.
Beralih ke dalam rumah...
Di dalam kamar, ini namanya sedang masa pingitan ya. Jadi Tara ndak boleh jalan-jalan ke mana-mana, cukup duduk manis saja di kamar, diam, dan menikmati semua persiapannya...
Setelah memandang kepo ke luar jendela, Tara Pratiwi segera berjalan pelan menuju ranjang empuknya.
"Bosennya..." Keluhnya rendah meratapi nasib dikurung di kamar.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering nyaring. Dia meraih benda pipih itu. Layar ponselnya menampilkan nama kontak 'Calon Suami'. Tara seketika tersenyum mekar... Dia lalu mengangkat telepon itu dengan cepat.
"Halo..." Ucapnya manis.
"Halo, Sayang..." Balas Cakra di seberang sana dengan suara bass-nya yang hangat. "Eh, Sayang, kemarin berkas yang mau diurus sudah lengkap semua, kan?" Tanya Cakra lembut.
"Sudah, Mas, lengkap! Bapak yang kasih..." Jawab Tara jujur.
"Oh, iya..." Ucap Cakra kemudian, lalu mengheningkan cipta sejenak.
Tara mengernyitkan dahi heran. "Ada apa Mas telepon aku?" Tanya Tara penasaran.
"Eumm... Ndak! Mas cuma tanya itu saja..." Jawab Cakra ragu.
Tara makin mengernyit. "Oh, ya udah... aku kasih mati ya..."
"Eh-eh!... Sayang, jangan!" Potong Cakra panik. "Sebenarnya... sebenarnya Mas kangen! Pengen denger aja suaranya Sayang..."
Mendengar jawaban jujur dari Cakra, sontak kedua pipi Tara memerah merona macam memakai blush-on tebal!
Saat masih didera rasa salting tingkat dewa, calon pengantin wanita itu tiba-tiba dikagetkan oleh teriakan lantang dari ambang pintu kamarnya...
"Tahan, Tar! Dua hari lagi kamu dikasih cap stempel halal!..." Ucap Buk Hayati yang mendadak berdiri tegak di pintu kamar tanpa permisi.
Tara kaget setengah mati. "Eh!... Ibuk nih! Ndak mau ketuk pintu dulu sih!..." Ucap Tara jengkel setengah mampus.
Buk Hayati hanya menampilkan wajah julid-nya yang menggemaskan. "Nih, makan! Ibuk ambilkan... Dimakan biar badanmu ngisi. Habis itu mandi, luluran biar wangi, biar harum... Biar nanti suamimu jadi klepek-klepek malam pertamanya..."
Kata-kata dari ibunya itu sontak membuat mata Tara melotot sempurna!
"Ibukkk! Tara lagi teleponan sama Mas Cakra loh!..." Serunya kesal menahan malu luar biasa.
Buk Hayati kaget. "Oh, aduh, iya tah? Maaf, Ibuk ndak tahu... Ya sudah, lanjutkan!"
Setelah mengatakan hal itu, Buk Hayati segera ngibrit lari keluar kamar meninggalkan Tara yang menggerutu kesal karena rasa malunya sudah mengangkasa...
Sedangkan Cakra di seberang telepon sempat terdiam seribu bahasa...
'Malam pertama...' Batin Cakra bersua mendengarnya.
Pria tegap itu jadi teringat kembali ke momen pertemuan pertamanya dengan Tara dulu—saat dia tak sengaja melihat telapak kaki Tara yang bersih dan pinky... Aduh, dia jadi membayangkan seperti apa ya isinya nanti?
'Astagfirullah, pikiranku ngawur...' Batin Cakra beristighfar cepat-cepat menepis pikiran liar itu.
"Mas! Maaf ya, tadi Ibuk ngomongnya kelewatan..." Ucap Tara memecah keheningan dengan nada tidak enak.
Cakra tersadar dari lamunannya. "I-iya, Sayang... Ndak apa-apa. Oh iya, Mas mau lanjut kerja ya... Sayang jangan lupa makan nggeh, cintanya Mas." Ucap Cakra amat lembut.
"Siap, Bos!..." Ucap Tara sigap bernada tegas.
Jawaban itu sontak membuat sang CEO pabrik gula itu tertawa ngakak di seberang sana.
"Sayang ada-ada saja ah..." Ucap Cakra menahan senyum bahagianya.
•♡•♡•♡•
Malam hari di kediaman Ade Mas. Suasana juga cukup ramai, pengajian bulanan yang rutin di lakukan di ruang tamu rumah besar itu di isi oleh puluhan orang-orang tamu majelis taklim.
"Mbak Yen, ini kuenya di keluarin... ngajinya sudah selesai loh" Ucap buk Mega kencang.
Mbak Yen yang sedang asik main Hp menoleh..."Sudah selesai kah Aji?" tanya Mbak Yen, lalu dengan cepat meraih kotak-kotak kue untuk di bawa di depan.
"Mbak Ida! Kue untuk mantuku sudah dipisahkan toh?" tanya buk Mega lagi, ya...bagaimanapun yang di utamakan harus menantunya dulu.
"Sudah Aji, Ida sudah taruh di Atas meja makan" jawab Mbak Ida. Buk Mega menoleh ke arah meja, dia tersenyum, lalu dengan keras memanggil Nama Songe, keponakannya,...
"Songe, sini dulu..." panggil Buk Mega keras.
Seorang pria muda kelas 2 SMA bernama Ali itu mendekat, dia tak faham kenapa di panggil Songe (Sayang), padahal toh namanya Ali Akbar, heh bagusnya...
"Kenapa Puan?..." Tanyanya bingung.
Buk Mega menoleh sekejab..."Eh Songe sini dulu, Minta tolong nah...antarkan ini kue untuk Calonnya Mas Cakra"
Songe atau Ali mengerutkan dahi. "Harus sekarang ini Puan?" tanyanya ragu. Buk Mega membulatkan matanya..."Na sekarang toh, masa tahun depan?..."
Mendengar jawaban itu Songe langsung takut..."O-ohh...iiyee, iye ku antar ini Puan..." serunya cepat, lalu langsung menyambar kotak kue di atas meja.
"Heh, ngeri betul kalau na'Marah...Sudah tajam betul matanya, tambah ngeri...Kaya Zuzana saja..." Gerutu Songe ngeri....
sukses slalu y 🫶🫶🫶