Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di atas langit Bandung, pada saat yang sama. Arien merasakan getaran Aura milik Rael yang melesat tajam, membelah jarak bagai kilat.
Di atas atap gedung pencakar langit yang dingin dan sunyi, angin malam menderu kencang, namun tak mampu menandingi badai kemurkaan yang meledak di hati Rael. Di hadapannya, tiga orang antek Valians terkapar gemetar—dikirim atas perintah anak buah Max, yang melaporkan keberadaannya sekaligus jejak cincin yang melekat di jari Rael.
BUGH!
BUGH!
Setiap pukulan mendarat bagai palu godam, menghantam daging dan tulang tanpa belas kasih. Rael menatap mereka dengan mata yang menyala merah padam, bagai api neraka yang tak lagi bisa dibendung.
You’ve been stalking me... all because of this ring, haven’t you?!
"Kalian mengikutiku... karena cincin ini, bukan?!"
You think I don't know? You're the ones who have been hiding my little sister all this time!
"Kalian kira aku tak tau? Kalianlah yang selama ini menyembunyikan adikku!"
Amarahnya meledak tak terkendali. Dalam sekejap, ia menyambar leher salah satu dari mereka, mengangkat tubuh itu tinggi-tinggi di udara. Cahaya lampu kota yang pucat menyorot dari bawah, melukis siluet mereka di tembok putih gedung—bayangan tangan Rael yang mencekik begitu kuat, hingga satu gerakan tegas sudah cukup. Terdengar bunyi tulang belakang yang patah mengerikan.
"Aaarrrrgghhh!!!" Jerit yang terputus seketika, diiringi tubuh yang terkulai tak bernyawa.
Tanpa menoleh sedikit pun, Rael menyambar orang kedua yang mencoba merayap menjauh dalam ketakutan. Ia menyeretnya dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke dinding tembok dengan kekuatan luar biasa. Terdentum keras, hingga retakan menyebar di permukaan tembok itu. Tubuh orang itu jatuh terjerembap, menjadi sasaran amarah yang belum tuntas.
They sent only three rats after me? How dare they underestimate me!
"Hanya tiga ekor tikus yang mereka kirim untukku? Benar-benar meremehkanku!"
Think! I can still track you down! Even shroud in those concealing shields! You ignorant fools!
"Aku tetap bisa melacak jejak kalian! Walaupun kalian menyelimuti diri dengan perisai pengecoh! Dasar tolol yang tak tahu diri!"
Suaranya menggelegar bagai guntur di antara gedung-gedung tinggi, memecah keheningan malam yang dingin. Frustrasi mencekik dadanya—ratusan tahun terkurung bersama kelima saudaranya karena keputusan pemimpin mereka, dan kini kenyataan pahit menghantam: adik kesayangannya dihilangkan, disembunyikan, dan orang-orang di hadapannya tahu sesuatu.
"Ugh..."
"Arrggghh!"
"Ugh...!"
Orang terakhir terbatuk darah, nyaris tak mampu mengangkat kepala. Rael kembali mendekat, mencengkeram kerahnya, mengangkatnya setinggi mata, menatap tajam ke dalam mata yang penuh ketakutan itu.
You will remain silent? Keep that useless mouth of yours shut? You ungrateful, foolish boy!
"Kau akan tetap diam? Mengunci mulutmu yang tak berguna itu? Bocah bodoh yang tidak tahu berterima kasih!"
Very well... if that is your final choice! Then I have no reason to hold back! I will erase every last one of you from this world!
"Baiklah... jika itu pilihan terakhirmu sendiri! Maka aku tidak punya alasan untuk menahan diri! Aku akan memusnahkan kalian semua dari muka bumi ini!"
Sekali lagi—gerakan cepat, satu bunyi mengerikan, dan tubuh itu terkulai lemas.
"Aaaaaaaaaarrgghh!!"
Percikan darah menyembur ke udara, beberapa butir mendarat di pakaian Rael, hangat dan mengerikan.
Kini sunyi. Hanya suara napas berat Rael yang terdengar di atas atap gedung itu. Ia berdiri diam, menatap ketiga tubuh tak bernyawa di kakinya. Tidak ada satu pun informasi yang didapat. Dadanya terasa sesak, nyaris hancur—kecemasan, kemarahan, dan ketidakberdayaan bercampur menjadi satu luka yang perih. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan badai di dalam dadanya.
Perlahan, ia melepaskan aura miliknya—luas, menyapu seluruh penjuru kota di bawah kakinya, berharap ada tarikan benang tak kasat mata yang menghubungkannya dengan adiknya. Di mana kau? Katakan padaku di mana kau.
Namun tiba-tiba—sesuatu melesat menabraknya dari belakang.
WUUUSSSSHHHHH!
BRAK!
GREP!
"U... Ugh...!"
Sebelum Rael sempat bergerak, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram lehernya—bukan untuk melukai, melainkan untuk menahan. Aura pelindung yang luar biasa kuat melingkupi tubuh Rael dalam sekejap, mengunci aliran kekuatannya, menekan aura yang tadi hendak menyebar agar tidak terdeteksi. Agar pasukan Valians tidak datang berbondong-bondong ke kota ini karena ulahnya.
Rael membuka mata lebar-lebar. Ia menoleh perlahan, jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Di sana berdiri sosok yang menjulang tinggi, tubuh tegap dan berwibawa. Rambut panjang berwarna merah menyala sama seperti miliknya juga rambut yang berwarna merah bagai api yang tak pernah padam. Wajahnya begitu sempurna, begitu tampan—bahkan di dunia mereka yang penuh makhluk luar biasa, keindahan rupa ini terasa bukan hak makhluk biasa. Tatapannya tajam namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya.
Rael terbelalak, napasnya tercekat.
"C…Caesare!!!"
Kedatangan Caesare—kakak keempat Rael—membuat atmosfer di sekeliling tempat itu seketika berubah dingin, terselimuti aura yang kuat. Pembawaan Caesare yang santai namun tegas, seketika mengalihkan amarah Rael yang sedari tadi meledak-ledak menghajar antek-antek Valians.
Bugh!!
Brak!!
"Ugh…! Caesare!!"
Caesare mendaratkan tamparan ke pipi adiknya, bukan tanpa alasan—ia ingin Rael tersadar dari kegilaannya. Rael perlahan luluh, memegangi pipi kirinya yang memerah, lalu menatap sekeliling dengan pandangan yang mulai jernih.
Don't act reckless, my brother!
"Jangan sembarangan, adiku!"
You're releasing that much aura here?!
"Kau mengeluarkan aura sebesar ini di sini!"
You of all people should know what will happen to this city if the Valians find your location and attack you here!
"Bukankah kau yang paling tahu apa yang akan terjadi pada kota ini jika Valians mengetahui keberadaanmu dan menyerangmu di sini!"
Suara kemarahan Caesare bergema tajam. Rael baru saja memulai sesuatu yang berbahaya—jejaknya bisa tercium oleh pasukan Valians kapan saja. Perlahan Rael menyadari kehadiran tiga sosok lain: Matteo, Vano, dan Eren. Mereka yang membawa Caesare ke hadapannya.
Brother…! Why did you make her wherebouts disappear! What if Ar…
"Kak…! Kenapa Kakak sampai menghilangkan jejaknya! Bagaimana kalau Ar …"
Ucapan Rael terputus. Mulutnya tertutup paksa oleh telapak tangan sang kakak. Caesare sama sekali tidak ingin mendengar kalimat apapun keluar dari mulutnya.
Harapan Rael untuk segera menemukan adiknya pupus lagi. Caesare memutus gelombang aura Rael, lalu menguncinya rapat-rapat, sehingga tidak ada satu pun pengendali aura dari pihak Valians yang bisa melacak keberadaan mereka.
Inilah sebabnya Arien tiba-tiba merasa syok—aura kakaknya Rael yang sedari tadi ia rasakan, lenyap seketika tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
Enough already…! You've even killed people! We could be in huge trouble!
"Sudahlah…! Kau sampai membunuh orang! Kita bisa repot!"
Calm yourself! There is nothing we can do right now!
"Tenangkan dirimu! Kita tidak bisa melakukan apa-apa saat ini!"
Let's go back. Lord Rafael is already looking for you…!
"Ayo kita kembali. Kak Rafael sudah mencarimu…!"
Melihat apa yang dilakukan adiknya—membantai tiga orang sekaligus—Caesare menatap Matteo, Vano, dan Eren. Ia mempercayakan urusan ke tiga mayat itu kepada mereka.
Take care of the bodies.
"Urus mayat-mayat ini."
Eren menatap ngeri ke arah ketiga tubuh yang tergeletak dengan kepala terpisah dari badannya, lalu menoleh cepat ke arah Vano.
I… Is this! Do we really have to take care of the bodies too, Vano?
"I… Ini! A… Apa kita juga harus mengurus mayatnya, Vano?"
Matteo melangkah maju, menatap ketiga sosok itu dengan tatapan dingin.
You must get used to this. The three bodies before you are no ordinary people. They are the servants of our eternal enemies: the Zargan Controllers!
"Kalian harus terbiasa mulai sekarang. Penampakan ketiga mayat di depan kalian bukan orang sembarangan. Mereka adalah antek musuh abadi kami—Para Pengendali Zargan!"
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭