NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Akad Nikah

Tiga hari setelah Rayhan membawa mereka keluar dari Perumahan Mekar Jaya, Nadhira duduk di ruang kecil samping masjid dengan gaun putih pinjaman.

Gaun itu milik istri salah satu staf Pradipta Group. Bagian pinggangnya sedikit longgar dan ujung lengannya harus dilipat satu kali. Tidak ada payet mahal. Hanya kain putih bersih, kerudung sederhana, serta bekas lebam yang belum sepenuhnya hilang dari pipi pengantin perempuan.

Alif duduk di pangkuannya sejak subuh. Anak itu menolak bermain di karpet, menolak digendong orang lain, dan memeluk separuh mobil merah yang berhasil dibawa Nadhira dari teras rumah lama.

"Mama tidak pergi," bisik Nadhira.

"Sama Mama."

"Iya, sama Mama."

Tiga hari terakhir dipenuhi pemeriksaan dokumen. Identitas, status kematian Hendra, surat pengantar nikah, pemeriksaan kesehatan, serta pencatatan di KUA diselesaikan dengan bantuan tim hukum tanpa menghilangkan syarat sahnya. Pak Darmo menolak datang. Setelah petugas KUA menjelaskan bahwa penolakannya tidak boleh disertai tuntutan uang, ia akhirnya menandatangani taukil wali resmi di hadapan petugas setempat, menyerahkan pelaksanaan ijab kepada penghulu.

Kemarin, Nadhira juga membaca perjanjian perkawinan di hadapan notaris. Harta bawaan tetap terpisah. Hak Alif atas warisan Hendra tidak berubah. Tidak ada adopsi atau perubahan nama. Kamar terpisah, biaya anak dijelaskan, dan Nadhira tetap memiliki hak bekerja serta mengakhiri perkawinan melalui prosedur hukum bila kesepakatan dilanggar.

Tak ada satu halaman pun yang ditandatangani tanpa ia baca.

Pintu diketuk dua kali.

Rayhan berdiri di luar dengan setelan hitam dan peci. Wajahnya tetap setenang saat membahas saham, seakan hari ini hanya rapat penting lain. Namun, pandangannya berhenti sesaat pada lebam di pipi Nadhira sebelum turun kepada Alif.

"Lima menit lagi," katanya.

Nadhira mengangguk. "Saya tahu."

Rayhan tidak langsung pergi. "Anda masih bisa meminta waktu."

"Bu Sumini sudah membuat saya memahami harga menunggu."

"Itu bukan alasan yang cukup untuk menikah."

Nadhira menatap pria yang justru memberinya jalan mundur beberapa menit sebelum akad. "Alasan saya bukan hanya Bu Sumini. Saya sudah membaca semua syarat. Saya tahu risiko yang saya ambil."

"Anda belum bertemu Arkan."

Itu satu-satunya syarat Nadhira yang belum terpenuhi. Arkan sedang demam dan dokter melarangnya dibawa ke tempat ramai. Rayhan menawarkan menunda akad, tetapi Nadhira tidak mau membawa Alif kembali ke rumah lama atau terus berpindah dari satu tempat sementara ke tempat lain.

"Kita akan mengenalkannya pelan-pelan," kata Nadhira. "Kalau dia menolak saya, Anda tidak boleh menghukumnya."

"Saya tidak akan menghukumnya."

"Dan kalau Alif takut pada rumah baru, beri dia waktu."

Rayhan menatap tangan kecil yang mencengkeram gaun putih. "Dia boleh tetap bersama Anda selama yang dia butuhkan."

Nadhira menarik napas. "Kalau begitu, saya tidak meminta penundaan."

Rayhan mengangguk sekali, lalu mengulurkan tangan bukan kepada Nadhira, melainkan kepada Alif.

"Kita ke depan?"

Alif menyembunyikan wajah. Rayhan tidak memaksa. Ia menurunkan tangan dan berjalan lebih dulu, menjaga pintu tetap terbuka sampai Nadhira keluar sendiri.

Masjid keluarga Pradipta tidak besar, tetapi lantainya terbuat dari marmer mengilap dan pendingin ruangan membuat telapak kaki terasa dingin. Hanya belasan kursi terisi. Dua saksi laki-laki, penghulu, Gilang, beberapa staf senior, serta rekan bisnis yang dipilih Rayhan hadir tanpa keluarga besar.

Ibu kandung Rayhan tidak datang. Tak ada kursi yang disiapkan untuknya.

Ketika Nadhira melewati barisan tamu, dua suara pelan terdengar dari sisi kanan.

"Cepat sekali."

"Katanya janda mantan karyawan."

"Mungkin untuk anaknya Pak Rayhan."

Nadhira menunduk, bukan karena malu, melainkan memastikan Alif tidak menginjak ujung gaun. Namun, Rayhan berhenti di depan kursinya dan menoleh ke arah suara itu.

"Saya mengundang Anda sebagai saksi," katanya tenang. "Bukan untuk menilai istri saya."

Ruangan langsung hening.

Kata istri belum sah secara akad, tetapi telah dipakai Rayhan di depan orang-orang yang beberapa detik lalu menjadikan Nadhira bahan bisik-bisik. Tak ada senyum di wajahnya. Justru karena itu, peringatan tersebut terasa final.

Nadhira duduk di sisi yang telah disiapkan. Alif tetap di pangkuannya, kepalanya bersandar di dada sang ibu. Dari posisi itu, Nadhira bisa melihat Rayhan berhadapan dengan penghulu.

Penghulu memeriksa kembali identitas, persetujuan Nadhira, wali yang dikuasakan, kedua saksi, dan mahar. Satu set alat salat serta emas sepuluh gram diletakkan di atas baki. Tidak berlebihan dibanding kekayaan Rayhan, tetapi nyata dan disebutkan jelas.

"Saudari Nadhira, apakah Anda menikah atas kehendak sendiri?" tanya penghulu.

Semua mata beralih kepadanya.

Ingatan tentang tangan-tangan yang memaksa pergelangannya muncul sekejap. Surat kuasa di atas meja. Amplop lima puluh juta. Pintu yang rusak. Kamar gelap tempat Alif dikunci.

Hari ini tak ada yang memegang tangannya.

"Iya," jawab Nadhira. "Saya bersedia."

Penghulu mengangguk, lalu prosesi dimulai.

Rayhan menjabat tangan penghulu yang bertindak sebagai wakil wali. Suaranya ketika mengucapkan kabul tetap rendah, tetapi setiap kata terdengar jelas. Tidak ada keraguan, tidak ada pengulangan.

"Sah."

Kedua saksi mengucapkannya hampir bersamaan.

Penghulu menyerahkan baki mahar kepada Rayhan, lalu memintanya memberikannya langsung kepada Nadhira. Rayhan berlutut satu kaki agar sejajar dengan posisi Nadhira yang masih memangku Alif.

"Mahar ini milik Anda sepenuhnya," katanya. "Bukan milik keluarga saya, bukan pula keluarga Anda."

Kata-kata itu sebenarnya bagian yang sudah dijelaskan penghulu. Namun, Rayhan sengaja mengucapkannya cukup keras hingga semua saksi mendengar.

Nadhira menyentuh kotak emas di atas baki. Beratnya tidak seberapa. Yang membuat jari-jarinya gemetar adalah perbedaan cara benda itu berpindah tangan.

Pak Darmo mengambil amplop lima puluh juta sebelum bertanya apakah ia bersedia menikah. Rayhan justru menunggu jawaban, membiarkannya membaca perjanjian, lalu menyerahkan mahar ke tangannya di depan petugas dan saksi.

"Saya terima," ujar Nadhira.

Seorang staf perempuan mendekat membawa tas kecil untuk menyimpan mahar. Ia bertanya, "Saya masukkan atas nama Bu Nadhira Pradipta?"

Nama baru itu membuat Nadhira terdiam sepersekian detik.

Nadhira Pradipta.

Kemarin ia masih disebut janda miskin yang tidak akan diterima laki-laki lain. Hari ini nama keluarga seorang konglomerat melekat padanya. Namun, ia tidak mau nama itu menelan dirinya.

"Iya," jawabnya, lalu menambahkan, "tetapi dokumen dan harta saya tetap mengikuti perjanjian yang sudah dicatat."

Rayhan tidak tersinggung. "Simpan salinan perjanjiannya bersama buku nikah. Hanya dia yang boleh mengambilnya."

Staf itu mengangguk dan menyerahkan tanda terima langsung kepada Nadhira.

Suara itu membuat dada Nadhira terasa kosong selama satu detik. Lalu Alif bergerak di pangkuannya dan berbisik, "Mama?"

"Mama di sini, Nak."

Ia menempelkan pipi pada rambut putranya. Statusnya berubah, tetapi satu hal tidak boleh berubah. Alif tetap anak yang harus ia lindungi, bukan harga yang dibayar untuk memasuki dunia Rayhan.

Doa dibacakan singkat. Buku nikah ditandatangani setelah petugas menunjukkan bagian-bagian yang harus diperiksa. Ketika tiba giliran foto, Alif menolak turun. Akhirnya ia tetap berada dalam pelukan Nadhira, memegang mobil patahnya, sementara Rayhan berdiri di sebelah mereka dengan jarak sopan.

Kilatan kamera menyala.

Dalam foto pertama perkawinan mereka, tidak ada tangan yang saling menggenggam.

Namun, ketika seorang rekan bisnis kembali berbisik bahwa Rayhan mungkin hanya menikah demi membayar utang kepada orang mati, Rayhan mengambil setengah langkah mendekat ke kursi Nadhira.

"Mulai hari ini, semua urusan keamanan Nadhira dan Alif melalui saya," katanya kepada Gilang dengan suara yang cukup didengar orang sekitar. "Tidak ada nama mereka yang dibahas di luar tanpa izin."

Gilang mengangguk. "Baik, Ray."

Ponselnya bergetar berkali-kali. Layar menampilkan puluhan notifikasi dari grup WhatsApp keluarga dan kenalan bisnis. Salah satu anggota grup telah mengirim foto akad hanya beberapa menit setelah diambil.

Gilang membaca satu pesan, lalu mendekat kepada Rayhan. "Adik mendiang istrimu sudah tahu. Dia marah dan mengirim beberapa pesan suara."

Rayhan bahkan tidak melihat layar. "Jangan balas."

"Dia bilang akan datang."

"Keamanan tidak akan membiarkannya masuk tanpa janji."

Nadhira mendengar percakapan itu, tetapi tidak bertanya. Ada masa lalu yang belum dibuka Rayhan. Hari ini bukan waktunya mengorek semuanya di depan tamu.

Di tempat lain, kabar pernikahan tersebut terus menyebar dari satu grup WhatsApp ke grup lain. Perempuan yang disebut Gilang mengirim pesan demi pesan dengan huruf kapital, menuntut penjelasan, lalu menghapus beberapa kalimat sebelum semua orang sempat membacanya. Kemarahannya sudah menemukan alamat baru, meski Nadhira belum mengenal wajahnya.

Setelah makan siang sederhana, tamu bubar. Mobil membawa Nadhira, Rayhan, dan Alif keluar dari Jakarta menuju kompleks BSD City. Perjalanan terasa seperti menyeberangi dua kehidupan. Gang sempit berganti jalan lebar. Pagar berkarat berganti gerbang keamanan berlapis. Petugas memeriksa identitas kendaraan sebelum palang kedua terbuka.

Rumah Rayhan berdiri di ujung jalan tenang dengan halaman luas dan jendela tinggi. Tidak ada orang berteriak di teras. Tidak ada tetangga mengintip dari balik tirai. Justru kesunyian itu membuat Alif semakin merapat kepada Nadhira.

"Mama, pulang?"

Nadhira mengusap punggungnya. "Kita tinggal di sini dulu, Nak. Mama sama Alif."

Rayhan mendengar kata dulu, tetapi tidak mengoreksi.

Seorang staf rumah membawa koper kecil Nadhira. Hanya ada beberapa baju, dokumen, obat, dan mainan Alif yang tersisa. Seluruh hidup lama mereka muat dalam satu koper kabin.

Rayhan membawa Nadhira menaiki tangga. Ia membuka pintu di sayap timur lantai dua. Di dalamnya ada kamar luas dengan ranjang, sofa, kamar mandi, dan pintu penghubung menuju kamar kecil yang sudah diberi tempat tidur anak.

"Kamar saya di ujung koridor," katanya. "Pintu penghubung ini hanya menuju kamar Alif. Anda bisa menguncinya dari sisi Anda."

Nadhira memeriksa kunci tanpa merasa perlu menyembunyikan kewaspadaan.

Rayhan meletakkan satu kartu akses di meja, lalu mundur sampai jarak di antara mereka kembali aman.

"Ini pernikahan kontrak," katanya. "Saya tidak akan memaksa apa pun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!