Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Pagi berikutnya, Steven membawa Nana keluar sebelum sarapan utama dimulai.
Ia tidak memakai mobil mewah keluarga. Hanya sedan tua berwarna gelap yang mesinnya terdengar halus tapi tidak menarik perhatian. Nana duduk di kursi penumpang, masih membawa ponsel darurat di tasnya. Setelah kejadian kemarin, benda kecil itu terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri.
"Pak Shen tinggal jauh?" tanya Nana.
"Tidak."
"Dia orang rumah Sie?"
"Pernah."
"Dia yang meneleponmu malam itu?"
Steven menatap jalan. "Kau akan bertemu dengannya, bukan menginterogasiku."
"Kalau aku bertemu semua orang yang kau sembunyikan, mungkin aku tidak perlu menginterogasimu."
Steven tidak menjawab, tapi sudut mulutnya bergerak sedikit. Hampir senyum. Hampir.
Rumah Pak Shen berada di jalan tenang yang tidak tampak mahal, namun terlalu rapi untuk disebut sederhana. Pagarnya hitam, halaman depannya dipenuhi pot tanaman yang disusun menurut tinggi. Tidak ada satpam di gerbang. Hanya kamera kecil di sudut atap dan lonceng kuningan di samping pintu.
Steven menekan lonceng sekali.
Pintu terbuka kurang dari sepuluh detik kemudian.
Laki-laki tua yang berdiri di sana tidak tinggi. Rambutnya putih, kemejanya lengan pendek, dan matanya jernih seperti orang yang sudah terlalu lama melihat kebohongan sampai tidak lagi perlu terlihat galak.
"Terlambat tiga menit," katanya.
Steven menunduk sedikit. "Maaf, Pak."
Nana hampir menoleh. Nada itu sama dengan yang ia dengar malam itu. Hormat, tertahan, dan tidak dibuat-buat.
Mata Pak Shen berpindah kepadanya.
"Ini Nana."
"Saya Nana Widjaja," kata Nana cepat.
"Aku tahu." Pak Shen membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Orang yang pernah membuat Hasan repot tidak perlu memperkenalkan diri dua kali."
Nana mengikuti Steven masuk.
Ruang tamu Pak Shen tidak luas. Ada rak buku tua, meja kayu, jam dinding yang berdetak jelas, dan bau teh pahit. Di atas meja, tiga cangkir sudah disiapkan. Tidak ada foto keluarga terpajang. Tidak ada barang mewah yang sengaja dipamerkan. Namun setiap benda terasa punya tempat, seolah salah geser satu senti saja akan ketahuan.
"Duduk," kata Pak Shen.
Steven duduk lebih dulu. Nana duduk setelahnya.
Pak Shen menuang teh. Tangannya stabil. Ia meletakkan cangkir di depan Nana, lalu berkata, "Jangan minum dulu."
Nana berhenti.
Steven melirik Pak Shen, tapi tidak bicara.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Pak Shen.
"Karena Pak Shen menyuruh."
"Kalau aku menyuruhmu minum, kau minum?"
Nana menatap cangkir itu. Uapnya naik tipis.
"Belum tentu."
"Kenapa?"
"Karena saya belum tahu kenapa tadi tidak boleh minum."
Pak Shen menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. "Bagus."
Steven mengembuskan napas hampir tanpa suara.
"Jangan bangga dulu," kata Pak Shen kepadanya. "Dia menjawab benar karena hidupnya sulit, bukan karena kau mengajarinya dengan baik."
Steven diam.
Nana menahan diri agar tidak menatapnya terlalu lama.
Pak Shen duduk di kursi seberang. "Aku dengar kau belajar dari Daniel Tjang."
"Sedikit."
"Apa yang diajarkan?"
"Bahwa angka bisa membunuh orang tanpa pisau. Bahwa tanda tangan yang terlalu mirip bisa palsu. Bahwa pilihan bisa dibeli."
"Dan dari Steven?"
Nana menoleh ke Steven. Ia tampak tidak suka pertanyaan itu, tapi Pak Shen mengangkat satu jari tanpa melihatnya.
"Jangan bantu jawab."
Steven menutup mulutnya kembali.
Nana memegang cangkir yang belum diminum. Hangatnya menyentuh jari.
"Dari Steven, saya belajar bahwa kalau orang berbahaya menyuruh saya takut, mungkin saya harus takut. Tapi saya juga belajar bahwa ada orang yang melindungi dengan cara membuat orang lain kesal."
Pak Shen tertawa pelan. Suaranya tidak besar, tapi membuat ruangan terasa lebih ringan.
"Itu memang bakat buruknya."
"Pak," kata Steven rendah.
"Apa? Kau ingin aku memuji?"
Steven memalingkan wajah.
Pak Shen memandang Nana lagi. "Tim Lilin dibentuk bukan supaya keluarga Sie punya pasukan rahasia untuk menang dalam semua urusan. Aku ikut menyusun dasarnya supaya rumah itu punya satu tempat di mana fakta tidak boleh kalah hanya karena orang yang salah punya nama keluarga yang benar."
Nana mendengarkan tanpa bergerak.
"Kenapa Pak Shen tidak tinggal di Rumah Besar Sie lagi?" tanyanya.
Steven menoleh cepat, tapi Pak Shen hanya mengangkat cangkir.
"Karena orang tua yang terlalu lama tinggal di rumah besar sering lupa suara pintu kecil," jawabnya. "Aku perlu mendengar suara orang yang masuk dari dapur, dari garasi, dari pos penjaga. Fakta jarang datang lewat pintu utama."
Nana teringat dirinya sendiri, pertama kali masuk rumah itu sebagai pencuri yang dibawa Stella. Bukan lewat pintu yang pantas, bukan dengan nama yang bisa dibanggakan.
"Jadi Tim Lilin mendengar pintu kecil?"
"Seharusnya begitu." Mata Pak Shen beralih sebentar ke Steven. "Kalau tidak berubah menjadi alat orang yang merasa paling tahu."
Steven menerima sindiran itu tanpa bergerak.
"Tapi fakta juga bisa dipakai untuk menyakiti," lanjut Pak Shen. "Daniel tahu itu. Steven tahu itu. Sekarang kau mulai tahu."
"Kalau begitu bagaimana membedakan fakta yang menyelamatkan dan fakta yang membunuh?"
Pak Shen mengambil cangkirnya sendiri. "Dari siapa yang paling diuntungkan saat fakta itu muncul."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi Nana merasakan beratnya.
Patrick Pang meninggal, lalu banyak orang memilih diam. Tjang Group jatuh karena dokumen. Albert diserang, lalu menjadi lebih dipercaya. Hasan mengirim foto untuk membuat Nana merasa bersalah. Semua fakta tampak seperti benda di meja. Namun tangan yang meletakkannya menentukan arah pisau.
"Pak Shen tahu soal jalur Albert yang bocor?" tanya Nana.
Steven menegang.
Pak Shen justru menatap Steven. "Dia mendengar?"
"Sebagian."
"Berarti bukan sebagian lagi." Pak Shen meletakkan cangkir. "Kau membawa anak ini ke pinggir perang, San. Jangan marah kalau dia mulai melihat asap."
Nama panggilan itu membuat Nana menoleh. San. Di rumah, Stella pernah menyebut San-ge. Dari mulut Pak Shen, panggilan itu terdengar seperti seseorang memanggil anak yang sudah terlalu lama dipaksa menjadi orang dewasa.
Steven tidak membantah.
"Saya bukan anak kecil," kata Nana pelan.
"Tentu bukan." Pak Shen menatapnya. "Anak kecil biasanya lebih pandai percaya."
Nana tidak tahu apakah itu pujian.
Pak Shen berdiri dan berjalan ke rak buku. Ia mengambil sebuah kotak arsip kecil, meletakkannya di meja, lalu membuka kuncinya. Di dalamnya ada beberapa map tipis dengan label rapi. Nana melihat satu nama yang dikenalnya.
Patrick Pang.
Dadanya langsung menegang.
Steven juga melihatnya. "Pak Shen."
"Dia akan mendengar nama ini cepat atau lambat."
"Bukan sekarang."
"Kapan? Setelah orang lain memberinya versi yang lebih nyaman untuk mereka?"
Steven menutup rahang.
Pak Shen tidak membuka map itu. Ia hanya meletakkan telapak tangan di atasnya.
"Nana," katanya, "sebelum kau belajar menyukai siapa pun di rumah Sie, belajarlah mencurigai mereka dengan benar. Termasuk Steven."
Nana menatap Steven.
Steven tidak memandang balik.
Di antara mereka, map bertuliskan Patrick Pang tergeletak seperti pintu kecil yang belum dibuka.