Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Payung Hitam
Setelah Vivian mengatakan semuanya adalah pertandingan, Seline mulai lebih berhati-hati.
Ia tidak menghindari Kevin secara mencolok. Itu justru akan membuat Vivian punya bahan baru. Namun ia juga tidak membiarkan dirinya berada terlalu lama di jalur yang sama dengan pria itu. Kalau Kevin di ruang utama, Seline memilih pantry. Kalau Kevin di koridor belakang, Seline menunggu beberapa menit sebelum lewat.
Sayangnya, di rumah Hartono, menghindari seseorang sering membuat orang itu lebih mudah terlihat.
Sore itu Oma Mei meminta Seline mengambil buku catatan lama dari perpustakaan kecil di sayap barat. Langit sudah gelap, tetapi hujan belum turun. Seline membawa buku itu melewati taman tengah karena jalur itu paling dekat ke ruang utama.
Setengah jalan, hujan jatuh tiba-tiba.
Bukan gerimis. Hujan besar yang langsung membuat batu pijakan licin dan daun-daun menunduk. Seline berlari ke bawah kanopi kecil dekat kolam, memeluk buku catatan Oma agar tidak basah.
"Bagus," gumamnya. "Payung lagi."
Ia melihat ke arah rumah utama. Jaraknya tidak jauh, tetapi cukup untuk membuat buku Oma basah kalau ia memaksa berlari. Ia bisa menunggu. Hujan Jakarta sering datang keras lalu pergi cepat.
Atau tidak.
Lima menit berlalu. Hujan makin deras.
Dari sisi lain taman, Vivian muncul bersama dua sepupu muda di bawah satu payung besar. Mereka berhenti ketika melihat Seline terjebak di bawah kanopi kecil.
Vivian tersenyum. "Butuh bantuan?"
Nada itu terlalu manis.
Seline memeluk buku lebih erat. "Tidak apa-apa. Aku menunggu hujan reda."
"Sayang sekali. Kalau kamu tadi ikut kami dari sayap timur, tidak akan terjebak."
Seline hanya tersenyum.
Salah satu sepupu berbisik, "Kita bisa antar, Viv."
Vivian menjawab pelan, tetapi cukup terdengar, "Payungnya tidak cukup. Nanti semua basah."
Mereka pergi.
Seline tidak marah. Hal sekecil itu tidak layak diberi tempat. Namun udara dingin membuat ujung jarinya mulai kebas. Ia membuka sedikit ujung buku catatan, memastikan halaman dalam tidak terkena air. Buku itu berisi catatan lama Oma tentang resep keluarga, daftar tamu penting, dan beberapa nomor telepon yang ditulis dengan tangan. Kalau basah, Seline tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Ia melepas scarf tipis di leher, membungkus buku itu dua lapis, lalu memeluknya lagi ke dada. Bagian bawah gaunnya sudah basah. Sandalnya licin. Hujan memantul dari batu pijakan sampai mengenai pergelangan kakinya.
Di seberang taman, Vivian dan dua sepupu itu berhenti di teras. Salah satu dari mereka sempat menoleh lagi, ragu-ragu. Vivian mengatakan sesuatu yang membuat gadis itu ikut masuk ke dalam rumah. Seline melihat semuanya, tetapi tidak memanggil.
Meminta bantuan pada orang yang sedang menikmati posisimu lebih rendah hanya akan memberinya hadiah.
Tiba-tiba langkah sepatu terdengar dari belakang.
Anton datang dari koridor samping, membawa payung hitam besar.
"Nona Seline."
Seline terkejut. "Anton?"
Anton membuka payung dan menyerahkannya padanya. "Pak Kevin meminta saya mengantar ini."
Seline menatap payung itu, lalu ke arah koridor tempat Anton datang. "Ko Kevin?"
"Beliau melihat Nona dari ruang kerja atas."
Seline mengikuti arah pandang Anton. Di lantai dua, jendela ruang kerja Kevin menghadap tepat ke taman tengah. Dari sana, orang bisa melihat kanopi kecil tempat ia berdiri, Vivian yang lewat dengan payung besar, dan buku Oma yang ia peluk seperti benda paling berharga di dunia.
Jadi Kevin melihat semuanya.
Entah kenapa, kesadaran itu membuat hujan terasa lebih keras.
Jantung Seline bergerak tidak semestinya.
"Saya bisa menunggu."
"Beliau juga mengatakan, kalau Nona menjawab begitu, saya tetap harus meninggalkan payungnya."
Seline kehilangan kata.
Anton tetap berdiri profesional, tetapi matanya seperti menahan senyum. "Pak Kevin bilang, kali ini jangan lupa."
Kalimat itu membuat pipi Seline panas meski udara hujan dingin.
Ia menerima payung. "Terima kasih."
"Saya antar sampai ruang utama?"
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri."
Anton mengangguk, lalu mundur. Namun sebelum pergi, ia menambahkan, "Buku Oma lebih penting daripada harga diri basah-basahan."
Seline menatapnya kaget.
Anton sudah berbalik, seolah kalimat itu bukan berasal darinya.
Seline membuka payung hitam itu. Ukurannya terlalu besar untuk satu orang, kokoh, wangi samar hujan dan kulit pegangan yang mahal. Ia berjalan menembus taman, menjaga buku Oma tetap kering.
Di jendela lantai dua, bayangan seseorang berdiri sebentar sebelum tirai bergerak pelan.
Seline tidak perlu melihat jelas untuk tahu siapa.
Saat tiba di ruang utama, Oma Mei menerima buku itu dalam keadaan kering. Matanya turun ke payung hitam di tangan Seline.
"Payung siapa?"
Seline belum sempat menjawab ketika Vivian masuk dari pintu lain, rambutnya sedikit basah di ujung.
Matanya langsung berhenti pada payung.
Seline menunduk. "Anton yang mengantar, Oma."
Oma Mei tersenyum kecil. "Anton sekarang rajin sekali memperhatikan hujan."
Vivian tidak mengatakan apa-apa. Tetapi wajahnya cukup menjelaskan bahwa pertandingan yang ia sebut kemarin baru saja mendapat papan skor baru.
Malamnya, saat Seline hendak mengembalikan payung itu lewat Bi Zheng, pegangan payung terasa sedikit mengganjal. Ia menemukan kertas kecil terselip rapi di bawah tali.
Tulisan di sana pendek.
Jangan lari kalau hujan.
Seline menatap tulisan itu lama sekali, lalu tanpa sadar menekan kertas kecil tersebut ke dada, tepat di atas liontin giok yang tersembunyi sangat rapat.