yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 20 Serangan Balik
“kalau begitu aku bertanya bagaimana kamu mencintai dirimu sendiri? Apa ada sebuah alasan untuk membenci diri di saat kamu yang memiliki pemikiran itu sendiri?” Tanya Mahfuz kepada Yovada kepada dengan serius namun ungkapan itu seperti jebakan yang membuat Yovada mati dalam argumennya?
“apa hubungannya dengan mencintai diri sendiri? Bukankah diri sendiri itu adalah seseorang mengungkapkannya? Tidak bisa di bandingkan dengan orang lain yang bukan hal penting dalam diri sendiri. Kamu tidak bisa membuat analogi itu membantah argumenku, itu tidak akan relevan jika di berikan padaku.” Ucap Yovada menyangkal apa yang di katakan Mahfuz dengan suara yang agak panik karena ia kini sudah buntu dan argumennya akan mati jika ia tidak dapat menyangkal serangannya sekali lagi.
Mahfuz yang melihat itu langsung menyerang untuk menyelesaikan perdebatan ini. “tidak perlu menyangkalnya, kamu bukan menolak cinta karena kamu tidak percaya. Namun karena kamu pernah sakit hati yang membuatnya merasa jatuh cinta itu tidak di perlukan sedangkan kamu belum mencobanya pada seseorang itu.” Ucap Mahfuz yang membuatnya sedikit tertekan, namun Yovada masih mencoba bertahan dengan kondisi tersebut.
Yovada ingin membalas namun ia tidak bisa menyangkalnya. Jika ia menyangkal maka ketahuan kalah dalam perdebatan ini. Ia terdiam disambil melihat ke arah Mahfuz dengan mata kosong seperti terdiam dalam pikirannya. Mahfuz yang melihat itu langsung menghela nafas sambil mengucapkan suatu kata.
“konyol, takut dengan cinta tanpa wujud”
Ucapan itu langsung membuat Yovada terkejut, ingin ia melawan namun ia tahu bahwa ia kalah argumen dan kini ia hanya bisa terdiam karena sudah mati argumen. Ia menatapnya dengan kebingungan dan semakin lama ia malah jatuh dalam pikirannya sendiri. Mahfuz yang melihat itu langsung memukul meja tersebut dan membuat Yovada kembali sadar dengan dirinya. Mahfuz berdiri dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Yovada. Yovada yang masih terdiam dengan suara yang membisu langsung memikirkan pemikirannya kembali. Ia melihat sekitar dan mulai memikirkan logikanya. Kenapa ia menolaknya jika ia orang baik? Apa salahnya hingga menolak kebaikannya? Apa logika ini membuatku gila? Apa memang ia hanya takut dengan sesuatu yang tak berwujud?
Ia berdiri dan pergi dari tempat tersebut. Terdiam dalam pikiran dan pergi dalam sunyi. Ia berjalan perlahan dan ia melihat sekitarnya dan kemudian ia tersadar bahwa ia berada di sebelah perpustakaan. Ia berjalan dan kemudian masuk ke dalam perpustakaan dan kemudian ia melihat sekitar. Ia melihat Kesya yang duduk di pojokkan tepat di seberang tempat ia duduk pertama kali ketemu Kesya. Ia berjalan menemuinya dan kemudian ia langsung duduk di sebelahnya.
Yovada saat itu rasanya ingin berbicara seperti ia berada di rumah sakit namun ia tahu bahwa ini akan susah setelah kejadian penolakan makanannya di depan rumahnya, Yovada berasa tidak nyaman dengan apa yang pernah ia lakukan. Ia langsung mencoba berbicara pada wanita itu namun ia yakin bahwa kali ini ia akan di abaikan namun ia tidak peduli karena selama ia bisa meminta maaf, setidaknya rasa bersalahnya menghilang.
Yovada dengan tarikan nafas yang lanjang mencoba memberanikan diri dan kemudian berbicara pada Kesya yang ada di sebelahnya. “Kesya, halo. Maaf soal kemarin yang membuatmu tidak enak. Aku... aku tidak tahu namun... ada hal yang aku takuti di saat itu dan... aku... tidak sengaja bertindak aneh denganmu. Aku minta maaf ya.” Ucapnya dengan perasaan bersalah kepada Kesya. Namun Kesya tidak banyak bicara, ia hanya bergeming sambil membaca bukunya dan tidak menanggapi apa yang di katakannya. Kesya kembali menjadi dingin seperti di awal ia bertemu dengannya.
Yovada ingin menyerah namun ia tahu bahwa itu bukanlah pilihan seorang pria yang menghadapi masalahnya dengan baik dan benar. Namun ia serasa ingin masih mencoba untuk memperbaiki kesalahannya. “Kesya, apakah kamu masih marah dengakku? Aku tahu aku salah namun bisakah kamu memaafkan aku?” Ucapnya dengan nada rendah sambil berharap bahwa dirinya di maafkan dan juga bisa memperbaiki keadaannya sekarang. Ia menunggu jawaban Kesya Yang masih diam melihat kesal dengannya.
Kesya yang mendengar itu malah semakin kesal. Bukan karena malu namun ia sudah mulai muak dengan apa yang ia lakukan. Kesya yang melihat itu langsung menutup bukunya dengan keras dan kemudian melirik ke arah Yovada. “Yovada, sudahlah. Aku tidak peduli dengan minta maafmu. Kamu sudah aku berikan kesempatan untuk mendekatiku namun kamu sendiri malah mengabaikanku. Aku pikir kita bisa kenal lebih dalam dan juga berteman baik.... ternyata...” Ucapnya tertahan dan ia tidak bisa melanjutkan ucapannya dengan baik. Sedikit tertahan dan juga kebingungan. Ia menaruh bukunya dan kemudian meninggalkan Yovada sendirian di sana. Tiada kalimat lain, tiada kata-kata manis atau apapun.
Yovada yang melihat itu langsung kebingungan dan juga mulai panik. Ada rasa bersalah yang semakin besar, ada rasa yang semakin mengerikan dan juga menakutkan yang baru pertama kali ia rasakan. Bukan karena kekejamannya namun lebih ke rasa bersalah yang menakutkan dan juga dapat membuatnya tidak bisa bertindak lagi. Mencoba bangkit dari kursi namun ia seperti kaku menjadi patung. Ia mulai menyadarkan dirinya dan mencoba bangkit perlahan. Kakinya gemetar seakan menolak ia untuk pergi namun Yovada tidak memedulikannya dan terus untuk mencoba pergi dan mengejar Kesya yang berada di luar.
Di luar, Yovada mencoba mengejar Kesya yang sudah meninggalkannya pergi. Ia terus mencari di sekitarnya dan kemudian ia melihat ia berjalan ke belakang perpustakaan dan pada akhirnya ia menghilang dari pandangan Yovada karena terhalang Tembok. Ia yang melihat itu langsung pergi mengikuti Kesya dan kemudian mengintip di samping tembok itu. Ia melihat Kesya dengan rambut panjangnya yang menjuntai panjang sambil menatap ke bawah dengan tatapan pasrah dan juga penuh rasa bersalah namun juga sakit.
Yovada ingin menemuinya namun ia sendiri takut jika ia hanya membuat masalah namun jika ia tidak menemuinya dan meminta maaf sekalian mengobati perasaannya, mungkin akan menghilangkan rasa sakitnya. Ia menggenggam tangannya seperti ia memiliki tekat yang tinggi namun hanya terhalang oleh kemungkinan yang akan membuatnya takut jika semakin buruk dan membuatnya jatuh. Yovada yang merasakan rasa bersalahnya mulai menghilang karena tekatnya langsung menemuinya dengan langkah perlahan dan juga cukup senyap yang membuat Kesya baru menyadari kedatangan Yovada ketika jaraknya sudah sangat dekat dengannya.
Kesya yang melihat itu langsung mengangkat kepalanya dan kemudian melihat Yovada dengan sedikit tatapan sedih namun ada rasa marah dan dendam kepadanya. Matanya merah karena tangisnya yang ia tahan namun kini sudah pecah. “apa yang ingin kamu lakukan lagi? Tidak pusa dengan perlakukanmu yang membuat aku sakit dan juga seperti tidak di hargai? Aku sudah merawatmu di rumah sakit, tiada hal yang harus kamu katakan lagi padaku. Aku juga tiada hutang jasa padamu yang telah menyelamatkanku, sekarang pergilah karena kamu sudah tidak punya alasan untuk terus bersamakukah sekarang.” Ucap Kesya dengan suara serak dan juga sedih kepada Yovada yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan yang kebingungan.
Yovada yang melihat itu langsung semakin ingin mengobatinya, bukan karena iba namun ia merasakan rasa bersalah kepadanya yang membuatnya ingin menolongnya. I berjalan pelan dan kemudian duduk di sebelahnya. Mereka duduk di tumpukan besi dan kayu sekolah yang sudah tidak terpakai. Bunyi decitan dan juga suara gesekan besi tua terdengar ketika ia duduk. Namun di situ Kesya memberi jarah duduk yang cukup jauh, seperti ada rasa takut kepada Yovada yang berusaha mendekatinya.
Yovada yang melihat itu langsung terdiam, ia mulai menatap ke bawah juga seperti Kesya yang sedang sedih juga. kali ini ia langsung berbicara dengan pelan dan juga penuh perasaan kepadanya. “maaf jika ini aneh, namun ada batasan rasa yang di ciptakan logika padaku yang membuatku menjauh. Bukan karena kamu musuh untukku namun karena ia juga ingin melindungimu. Maaf jika membuatmu sedih sekarang.” Ucapnya dengan sedih dan juga penuh rasa menyesal kepada Kesya di sebelahnya.