NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Aku Tetap Pulang

"Ck."

Shaquena menarik jari telunjuk kirinya. Setitik darah segar muncul di ujung jarinya, lalu dengan cepat ia usap menggunakan selembar lap dapur. Napas wanita itu keluar pelan menahan kesal pada dirinya sendiri. Baru mencoba memotong dua buah wortel, tangannya sudah beberapa kali nyaris terluka.

Ia menatap kosong papan talenan kayu.

"Puluhan tahun sanggup mengurus perusahaan raksasa," gumamnya menertawakan diri sendiri. "Tapi motong wortel aja nggak becus."

Sudut bibir Shaquena terangkat tipis. Keluhan itu terdengar lucu, sekaligus sedikit pahit.

Di kehidupan pertamanya, ia sangat hafal isi laporan keuangan ratusan halaman. Ia bisa membaca celah hukum dalam kontrak bisnis bernilai miliaran dalam hitungan menit. Namun, ia tidak pernah belajar memasak. Setiap kali pulang ke rumah utama keluarga Mahendra, hari sudah terlalu larut malam.

Saat ia pernah mengungkapkan keinginan untuk belajar memasak, Sebastian selalu memotongnya. "Nggak usah repot-repot belajar masak. Kita punya banyak uang buat pesan makanan terbaik dari luar."

Waktu terus berjalan tanpa henti. Sampai akhirnya Shaquena menyadari fakta yang menyedihkan. Rumah mewah mereka cuma berfungsi sebagai tempat numpang tidur. Bukan sebuah tempat berpulang yang sebenarnya.

Shaquena menghela napas pelan membuang kenangan pahit itu. Ia mengambil sisa potongan wortel. "Kali ini semuanya harus jadi."

Di atas meja dapur kecil itu telah tersusun beberapa siung bawang putih, irisan bawang bombai, daging ayam, potongan kentang, dan daun bawang segar.

Video panduan resep sederhana di ponselnya masih berhenti pada instruksi pertama.

"Panaskan sedikit minyak goreng ke dalam wajan."

Shaquena mengikuti instruksi itu perlahan-lahan. Tak lama kemudian, letupan minyak terdengar, disusul aroma sedap tumisan bawang yang memenuhi ruangan.

Aroma itu terasa sangat hangat dan sederhana. Anehnya, ia justru merasa jauh lebih tenang saat mengaduk tumisan di wajan ini daripada harus duduk berhadapan dengan tumpukan laporan keuangan perusahaan.

Ponselnya berbunyi singkat. Ada pesan masuk dari Stefanus. "Aku hari ini mungkin akan pulang agak malam dari biasanya."

Shaquena membaca kalimat pemberitahuan itu, lalu membalas cepat. "Baik. Hati-hati di jalan."

Jarinya terhenti kaku di atas layar. Ia berniat mengetik, "Aku masak makan malam buatmu." Namun dengan cepat ia menghapus kalimat itu. Kalau nanti hasil sop ayam ini gagal total, ia hanya akan merasa malu di depan suaminya.

Shaquena tersenyum kecil pada dirinya sendiri. "Kenapa di umur segini aku tiba-tiba jadi gugup, kayak pengantin baru?"

Tidak ada yang menjawab. Hanya ada suara mendidih dari kuah sop di atas kompor.

Shaquena memasukkan potongan daging ayam satu per satu dengan hati-hati. Aroma gurih kaldu ayam perlahan menguar. Ia menutup panci itu dengan penutup kaca, lalu duduk menunggu di kursi dapur.

Apartemen ini terasa sunyi. Namun, ini jenis sunyi yang sama sekali berbeda dari masa lalunya. Dulu, kesunyian di rumah besar bersama Sebastian selalu sukses membuat dadanya terasa sesak. Dingin dan kaku.

Kini, di apartemen Stefanus yang jauh lebih kecil ukurannya, tapi setiap sudut ruangan sempit ini selalu terasa hidup.

Karena di tempat kecil ini, ada seseorang yang akan pulang untuknya. Shaquena tersenyum kecil membayangkan wajah lelah suaminya.

"Ternyata kebahagiaan sebuah rumah memang bukan soal seberapa luas lahannya."

Kalimat itu meluncur pelan. Shaquena bangkit dari kursinya. Ia membuka tutup kaca panci. Aroma gurih kaldu kini tercium makin harum menggoda selera.

"Langkah selanjutnya."

Ia kembali membaca instruksi video resep. "Tambahkan garam ke dalam kuah secukupnya sesuai selera."

Shaquena meraih toples dan mengambil sebuah sendok kecil. Ia menuangkan butiran garam putih itu ke dalam kuah. Tangannya berhenti di udara menatap sisa garam.

"Definisi secukupnya itu kira-kira takarannya berapa banyak?"

Shaquena mengernyitkan dahinya bingung. Video resep itu sama sekali tidak membantu menjawab keraguannya. Ragu, ia nekat menuangkan lagi sedikit garam. Lalu setelah diaduk, ia menambahkan sedikit lagi.

"Biar kuahnya ada rasanya."

Ia mengangguk puas dengan penilaiannya sendiri. Shaquena sama sekali tidak sadar bahwa jumlah garam yang baru saja ia masukkan sudah jauh lebih banyak daripada takaran yang dibutuhkan.

Setelah bahan dirasa matang, Shaquena mencicipi sedikit kuah menggunakan sendok kecil. Begitu cairan panas itu menyentuh lidahnya.

Shaquena langsung terbatuk. "Asin."

Ia buru-buru membalik badan mengambil segelas air putih untuk menetralkan mulut. "Ya ampun rasanya."

Ia menatap panci sop ayam itu dengan putus asa. Ia mencoba mengatasi masalah dengan menambahkan segelas penuh air panas. Diaduk dan dicicipi lagi. Masih terasa asin menyengat. Ia nekat menambahkan air lagi. Tetap saja rasanya keasinan.

Shaquena memijat pelipisnya yang berdenyut. Kalau ia sedang berada di ruang rapat kantor, memecahkan masalah sekompleks apa pun terasa mudah baginya. Sayangnya, sepanci sop asin ini tidak bisa diajak rapat direksi untuk mencari jalan tengah.

Ia tertawa pelan. Untuk pertama kalinya setelah berhasil hidup kembali, ia kalah telak hanya oleh sepanci sop ayam.

Pintu apartemen mendadak terbuka. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke ruang tengah. "Aku pulang."

Shaquena spontan bangkit berdiri gugup.

Stefanus berjalan masuk sambil melepas jam tangan. Tatapan pria itu langsung menemukan sosok Shaquena yang berdiri mematung memakai celemek masak.

Langkah pria itu terhenti sejenak. "Kamu."

Shaquena ikut menundukkan wajah melihat penampilannya. "Terlihat aneh banget, ya?"

Stefanus langsung menggeleng tegas. "Nggak aneh." Pria itu tersenyum tulus. "Sangat cocok."

Shaquena tanpa sadar ikut tersenyum. Satu kata pujian sederhana dari pria pendiam itu sanggup membuat kedua pipinya merona hangat.

Stefanus menghidu udara, mencium aroma masakan. "Kamu malam ini masak?"

"Iya."

"Buat makan malam kita berdua?"

Shaquena mengangguk pelan. "Aku masih belajar."

Stefanus meletakkan tas kerja kulitnya di atas sofa. "Boleh aku bantu sesuatu di dapur?"

"Nggak usah, Stefanus." Shaquena buru-buru melarang. "Kamu duduk saja di meja makan."

Stefanus menurut tanpa membantah. Pria itu berjalan dan duduk tenang di kursi. Kebiasaan kecil inilah yang diam-diam selalu sukses membuat Shaquena merasa nyaman. Pria di depannya tidak pernah memaksa atau menuntut. Stefanus hanya hadir. Menemani.

Shaquena berjalan mendekat membawa dua mangkuk sop ayam yang mengepul. Kedua tangannya sedikit gemetar karena gugup saat meletakkan mangkuk itu ke atas meja.

"Silakan dicicipi."

Stefanus melihat kuah bening dalam mangkuknya. Daging ayamnya teriris sangat rapi. Namun, potongan wortelnya terlihat terlalu besar dan potongan kentangnya sama sekali tidak seragam.

Terlepas dari ketidaksempurnaan itu, semuanya tampak dibuat dengan sungguh-sungguh.

Stefanus menatap mangkuk istrinya yang kosong. "Kamu sendiri belum makan?"

Shaquena menggeleng. "Aku memang nunggu kamu pulang."

Stefanus menatap wajah istrinya cukup lama. Tangannya meraih sendok. Ia mulai mencicipi kuah sop itu.

Shaquena menahan napasnya menunggu vonis.

Bagaimana rasanya? Pasti sangat asin, kan?

Stefanus menghentikan gerakan mengunyahnya selama beberapa detik. Pria itu perlahan mengambil suapan kedua. Kemudian berlanjut ke suapan ketiga.

Mata Shaquena berkedip cepat.

"Hm?"

Stefanus lanjut makan dengan tenang. "Rasanya enak."

Kening Shaquena mengernyit tak percaya. "Kamu serius?"

"Iya, aku serius."

"Kamu pasti bohong padaku."

Stefanus menatap istrinya. "Kenapa kamu berpikir aku bohong?"

Shaquena menyerah dan mengambil sendoknya sendiri. Ia langsung mencicipi sop dari mangkuk Stefanus. Begitu kuah panas itu membasahi mulutnya, raut wajah Shaquena berubah masam seketika.

"Ini rasanya asin banget, Stefanus." Ia meletakkan kembali sendok itu ke meja. "Ini keasinan, sangat tidak enak."

Stefanus hanya menatap isi mangkuknya dengan tenang. "Oh, begitu ya."

"Oh? Kok cuma oh?"

"Kupikir memang rasanya seharusnya begitu."

Shaquena mati-matian menahan tawa. "Kamu benar-benar nggak sadar kalau rasanya keasinan?"

"Aku kan jarang sekali masak sendiri. Jadi maklum kalau aku nggak terlalu tahu rasanya."

Shaquena akhirnya tertawa lepas. Sebuah tawa yang benar-benar plong dan tidak dibuat-buat. Stefanus ikut tersenyum tipis melihat istrinya tertawa selepas itu.

"Biar aku masakin mi instan aja buat ganti makan malam."

"Nggak usah repot-repot, Shaquena."

"Tapi kuah ini benar-benar nggak enak dimakan."

Stefanus menggeleng keras kepala. "Aku akan tetap menghabiskannya."

"Jangan, Stefanus. Nanti kalau darah tinggimu naik bagaimana?"

"Aku nggak punya riwayat darah tinggi." Stefanus kembali menyuap. "Aku nggak mau makanan yang sudah capek-capek kamu buat ini terbuang sia-sia ke tempat sampah."

Kalimat pria itu terdengar sederhana. Namun dada Shaquena mendadak diselimuti kehangatan yang meluap.

Di kehidupannya yang pertama, ia pernah berusaha memasak untuk Sebastian. Mantan suaminya itu menolak menyentuh dan mencicipinya sedikit pun.

"Hari ini aku akan makan di luar saja." Hanya kalimat dingin itu yang keluar dari mulut pria itu saat melangkah pergi.

Namun hari ini, ada seseorang yang tahu bahwa sop buatannya gagal, tetapi tetap memilih bertahan menghabiskannya demi menghargai usahanya.

Shaquena menundukkan kepalanya pelan menyembunyikan mata yang mulai memanas.

Suasana dapur kecil itu kembali tenang. Mereka berdua menghabiskan makan malam perlahan, sesekali mencuri lirik, dan sesekali tertawa kecil karena rasa asin yang menyiksa lidah.

"Aku gagal ya masaknya?" Shaquena bertanya setelah mangkuk mereka kosong.

Stefanus menggeleng cepat. "Nggak ada yang gagal. Ini cuma perkara sepanci sop. Besok malam kamu bisa coba masak lagi."

"Lalu kalau masakan besok ternyata juga tetap asin?"

"Berarti lusa harus dicoba lagi."

Shaquena tersenyum. "Kalau tetap selalu gagal gimana?"

Stefanus meletakkan sendok besinya dengan tenang. "Aku akan tetap pulang ke apartemen ini."

Kalimat jawaban itu sangat ringkas. Namun, sumpah tersirat itu sukses membuat seluruh ruangan apartemen terasa bercahaya.

Shaquena menatap lekat wajah pria tangguh di depannya. Setiap hari yang ia lalui bersama Stefanus secara ajaib selalu membuat luka-luka masa lalunya memudar dan kehilangan suara mematikannya.

Setelah selesai makan, Shaquena bangkit mengumpulkan piring kotor.

"Biar aku yang mencucinya."

"Aku bantu bereskan," sela Stefanus.

"Nggak usah, kamu kan baru pulang."

Stefanus tetap berdiri. "Biar aku yang bilas bersih."

Mereka akhirnya berdiri berdampingan di wastafel dapur yang kecil itu. Beberapa kali bahu mereka tidak sengaja bersentuhan saat bergerak. Ajaibnya, tidak ada satu pun yang berusaha menjauh.

Setelahnya Shaquena mengiris sisa daun bawang untuk disimpan besok,.tapi tangannya ternyata masih belum terbiasa memegang pisau.

Pisau kecil itu kembali bergeser.

"Ck."

Suara keluhan lirih itu membuat Stefanus spontan menoleh. Setitik darah segar kembali menodai ujung telunjuk Shaquena.

Wajah tenang Stefanus langsung berubah tegang seketika. Tanpa berpikir panjang, pria itu meraih tangan kiri Shaquena dengan protektif. Tatapan matanya yang sangat khawatir tertuju sepenuhnya pada luka kecil di jari istrinya tersebut.

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!