"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Udara di ruang makan itu mendadak terasa setipis kertas. Hawa dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu meredam atmosfer panas yang tiba-tiba menguar dari tubuh Akram.
Almeera mematung, menatap ponselnya yang masih menyala di atas meja, lalu menatap Akram dengan horor. Jari-jari Akram yang bertumpu di atas meja tampak mengepal hingga buku-bukunya memutih.
"K-kencan apaan?!" Almeera akhirnya menemukan kembali suaranya yang sempat hilang. Ia menarik tangannya dari jangkauan Akram. "Gue nggak mau ngetik gitu! Lebay banget tahu nggak?! Nanti Kak Reyhan mikir gue kegeeran!"
Akram memutar kursinya sepenuhnya menghadap Almeera. Ia menatap gadis itu dengan tatapan gelap yang tidak menerima bantahan.
"Ketik, Almeera," perintah Akram, suaranya sangat pelan, nyaris berbisik, namun ketegasannya membuat nyali Almeera menciut seketika. "Atau lo mau gue yang ngetikin pakai tangan gue sendiri, dan gue tambahin kalimat kalau malam ini lo lagi tidur sama gue?"
Mata Almeera membelalak sempurna. "LO GILA YA?!"
"Gue nggak main-main, Al. Ketik sekarang."
Menghadapi mode diktator sang Ketua OSIS yang sedang dibakar cemburu buta, Almeera tahu ia tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar dan bibir mengerucut sebal, ia meraih ponselnya, membuka chat dari Reyhan.
Almeera mengetik dengan kecepatan siput. Maaf Kak, besok aku nggak bisa. Aku mau pergi sama Akram.
"Hapus," intruksi Akram yang ternyata sedang mencondongkan tubuhnya, membaca layar ponsel Almeera dari jarak dekat. Hembusan napas cowok itu menyapu telinga Almeera.
"Ini udah gue tolak, Kram! Kurang apa lagi sih?!" protes Almeera frustrasi.
"Kurang tegas. Hapus kalimat 'pergi sama Akram'." Akram menunjuk layar ponsel itu. "Ganti jadi: Sori, Kak. Besok gue ada kencan seharian sama cowok gue."
Almeera menoleh, hidungnya nyaris menabrak rahang Akram saking dekatnya posisi mereka. "Itu terlalu kasar! Dia kan kating gue, Kram!"
"Ketik, Al. Atau gue pencet tombol telepon sekarang dan gue yang ngomong langsung ke dia," ancam Akram tanpa ampun.
Almeera mengerang frustrasi, mengacak-acak rambut cepolnya hingga makin berantakan. Dengan berat hati dan jari yang dihentak-hentakkan ke layar, ia mengetik persis seperti yang didiktekan Akram.
Sori, Kak. Besok gue ada kencan seharian sama cowok gue.
"Udah! Puas lo?!" Almeera memperlihatkan layar ponselnya tepat di depan wajah Akram.
Bukannya mundur, jari telunjuk Akram justru bergerak maju dan menekan tombol send di layar tersebut.
Ting. Pesan terkirim.
Akram tersenyum miring, ketegangan di wajahnya langsung menguap tak bersisa. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya bos besar yang baru saja memenangkan tender miliaran.
"Puas banget," jawab Akram santai. Ia mengetuk buku matematika di depannya. "Sekarang, lanjut pindah ruasnya. Kalau lo bisa ngerjain tiga soal ini tanpa salah, besok sore gue tepatin omongan gue di chat itu."
Almeera mengerutkan kening. "Tepatin omongan apaan?"
"Kencan," Akram mengedipkan sebelah matanya, menyunggingkan senyum mematikan. "Kita kencan besok sore. Anggap aja sebagai reward karena lo udah jadi pacar jadi-jadian yang penurut malam ini."
Wajah Almeera langsung meledak merah. "SIAPA YANG MAU KENCAN SAMA LO?! NAJIS!"
Teriakan Almeera malam itu menggema ke seluruh penjuru apartemen, diiringi oleh tawa lepas Akram yang merasa kemenangannya malam ini benar-benar mutlak.
Keesokan Harinya. Pukul 15.00 WIB.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Almeera sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan lesu. Otaknya masih berasap gara-gara ulangan harian Biologi, ditambah sisa pusing dari sesi tutor neraka bersama Akram semalam.
"Al, lo nggak balik bareng anak-anak band?" tanya Sophia yang sedang merapikan lipstik di depan kaca kecilnya.
"Nggak, hari ini jadwal band libur sehari paska-Pensi. Untung aja, tangan gue masih pegel mukul drum kemarin," jawab Almeera sambil menyandang tas ranselnya.
"Bagus deh. Berarti lo bisa langsung pacaran kan sama Ketos terganteng sejagat raya?" goda Sophia sambil menyikut lengan Almeera.
Almeera mendelik tajam. Baru saja ia hendak membungkam mulut ratu gosip itu, suara riuh teriakan siswi-siswi dari arah koridor depan kelasnya terdengar nyaring.
Beberapa siswi kelas sebelas berkerumun di pintu, menunjuk-nunjuk ke arah luar sambil senyum-senyum histeris.
"Eh, ada Akram woi! Nyariin siapa tuh ke kelas kita?"
"Gila, auranya damage banget pas lagi nyender di tembok gitu!"
"Nyariin pacarnya lah! Siapa lagi!"
Jantung Almeera seketika merosot ke lambung. Ia menelan ludah, menatap Sophia yang kini sedang tersenyum penuh arti ke arahnya.
"Jemputan VIP lo udah datang tuh, Nyonya Pradana," bisik Sophia jahil.
Almeera merutuki nasibnya. Ia berjalan keluar kelas dengan langkah gontai, berpura-pura tidak mempedulikan tatapan puluhan pasang mata yang membelahnya layaknya Laut Merah.
Tepat di samping pintu kelas, Akram berdiri bersandar di dinding. Cowok itu mengenakan seragam yang dikeluarkan secara sengaja (sebuah pelanggaran langka bagi seorang Ketos), lengan bajunya digulung, dan sebelah tangannya memegang dua buah helm.
Begitu melihat Almeera keluar, Akram langsung berdiri tegak.
"Lama banget," keluh Akram santai, meski senyum tipis di bibirnya membantah keluhannya sendiri.
"Lo ngapain sih jemput ke depan kelas segala?!" desis Almeera pelan sambil menutupi wajahnya yang memerah, berusaha mengabaikan pekikan tertahan siswi-siswi di sekitar mereka. "Lebay banget! Orang-orang pada ngelihatin!"
"Namanya juga pacaran, Al. Harus totalitas," Akram mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga gadis itu. "Kalau gue tunggu di parkiran, takutnya lo dicegat lagi sama alumni urakan itu. Kan sekarang lo tanggung jawab gue."
Tanpa menunggu persetujuan, Akram meraih tangan kanan Almeera. Jari-jarinya menyusup di sela-sela jari Almeera, menautkannya dengan erat.
Sengatan listrik itu kembali menjalar, membuat napas Almeera tertahan. Ia berusaha menarik tangannya, namun Akram menggenggamnya lebih kuat, mengirimkan sinyal posesif yang tidak bisa dibantah.
"Ayo. Waktu kencan kita cuma sampai jam enam sore. Habis itu lo harus lanjut ngerjain latihan soal Fisika," kata Akram santai, menarik Almeera berjalan menyusuri koridor.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Almeera hanya menundukkan wajahnya, membiarkan dirinya dituntun oleh sang Ketua OSIS. Genggaman tangan Akram terasa begitu pas dan hangat, menenangkan segala kepanikan yang berkecamuk di dada Almeera. Diam-diam, sudut bibir gadis itu tertarik membentuk senyum kecil.
Pukul 16.00 WIB. Arena Arcade, Mall Jakarta Selatan.
Almeera menatap bangunan mall di depannya dengan dahi berkerut. "Lo ngajak gue kencan ke Timezone? Serius? Lo kira gue bocah SD?"
Akram yang baru saja melepaskan helm dari kepala Almeera, hanya mengangkat bahu. "Gue butuh tempat di mana lo bisa menyalurkan energi bar-bar lo selain dari mukul drum. Dan gue mau buktiin kalau gue bisa ngalahin lo di semua permainan."
Ego kompetitif Almeera yang tadinya tertidur langsung tersentak bangun. Ia mendongak, menatap Akram dengan tatapan menantang yang berapi-api.
"Oh, nantangin? Lo belum tahu kalau gue ini ratunya arcade sejak SMP?! Ayo! Taruhan, yang kalah harus traktir makan malam seminggu full!" tantang Almeera, melupakan sejenak kecanggungan mereka.
Akram tersenyum miring, puas melihat Almeera kembali menjadi dirinya sendiri—galak, kompetitif, dan penuh semangat. "Boleh. Siapin dompet lo, Sayang."
Dua jam berikutnya, arena arcade itu benar-benar menjadi medan pertempuran.
Mereka bermain air hockey layaknya sedang bertanding di final Olimpiade. Almeera berteriak heboh setiap kali puck-nya berhasil masuk ke gawang Akram, sementara Akram membalasnya dengan tembakan pantul yang tak terduga sambil memamerkan senyum menyebalkannya.
"Curang lo! Masa tembakannya dari samping!" protes Almeera sambil memukul meja air hockey.
"Itu namanya strategi, Al. Otak dipakai, bukan cuma tenaga," ledek Akram.
Mereka beralih ke mesin basket. Almeera melempar bola dengan brutal, keringat mulai membasahi pelipisnya. Akram di sebelahnya melempar bola dengan ritme santai namun sangat presisi, memasukkan hampir semua tembakannya dengan mulus.
"Gila! Lo makan apa sih?! Masuk terus!" Almeera ngos-ngosan, menatap layar skor yang menunjukkan Akram unggul jauh darinya.
Akram menyandarkan tangannya di mesin basket, menoleh ke arah Almeera dengan napas yang juga sedikit memburu. Keringat membuat rambut Akram sedikit berantakan, menambah kadar ketampanannya hingga level tidak manusiawi.
"Makan soto ayam tadi siang," jawab Akram santai. Ia tiba-tiba mengambil handuk kecil dari tas ranselnya, lalu melangkah mendekati Almeera.
Tanpa aba-aba, Akram mengusapkan handuk itu ke pelipis dan dahi Almeera yang berkeringat. Gerakannya begitu lembut, sangat kontras dengan perdebatan sengit mereka barusan.
Almeera membeku di tempat. Suasana arena arcade yang bising dengan suara mesin dan musik elektronik seolah memudar, menyisakan hanya detak jantungnya yang kembali berpacu liar. Jarak mereka begitu dekat. Almeera bisa melihat pantulan lampu neon arcade di dalam mata hitam legam Akram.
"Main game aja sampai keringatan gini," gumam Akram pelan, matanya turun menatap bibir Almeera sejenak, lalu kembali ke matanya. "Lo emang selalu totalitas ya, Al."
Almeera menelan ludah. "K-Kram... ini tempat umum..."
"Terus kenapa?" Akram menurunkan handuknya, namun tidak memundurkan wajahnya. "Kita kan pacaran. Wajar kalau gue ngelapin keringat cewek gue."
Almeera tidak bisa membalas. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Pesona Akram hari ini bekerja dua kali lipat lebih mematikan dari biasanya.
Setelah menghabiskan ratusan ribu untuk kartu bermain, Akram akhirnya menukarkan ribuan tiket yang mereka menangkan. Alih-alih memilih barang elektronik atau snack, Akram menunjuk sebuah boneka beruang berukuran sedang yang memakai jaket kulit hitam mainan.
"Itu," tunjuk Akram pada petugas.
Petugas menyerahkan boneka beruang dengan gaya rocker itu kepada Akram. Cowok itu lalu berbalik dan menyodorkannya ke pelukan Almeera.
Almeera mengerjapkan matanya bingung, menerima boneka itu dengan canggung. "Buat gue? Tumben lo baik. Biasanya lo ngasih gue kertas ulangan."
"Itu piala kekalahan lo," Akram memasukkan tangannya ke saku, tersenyum jail. "Biar tiap kali lo lihat boneka itu, lo inget kalau lo harus traktir gue makan seminggu full. Dan... jaket kulitnya mirip sama yang lo pakai pas manggung kemarin. Cocok."
Wajah Almeera bersemu merah. Ia memeluk boneka beruang itu erat-erat untuk menyembunyikan senyumnya yang tidak bisa lagi ditahan. Sialan, cara lo romantis tapi nyebelin, Kram.
"Ayo pulang. Tutor matematika lo udah nunggu," Akram mengacak pelan puncak kepala Almeera sebelum berjalan mendahului.
Almeera mengekor di belakangnya, memandangi punggung lebar cowok itu dengan perasaan yang hangat dan penuh. Sore ini, tidak ada Akram si Ketua OSIS kaku, dan tidak ada Almeera si drummer galak yang gengsi tinggi. Hanya ada dua remaja yang sedang menikmati kebersamaan mereka.
Pukul 19.30 WIB. Apartemen 2507.
Perjalanan pulang diwarnai oleh sisa-sisa euforia kencan mereka. Almeera tertawa lepas mengingat bagaimana Akram memarahi mesin capit boneka karena capitannya terlalu lemah. Suasana di antara mereka tidak pernah senyaman ini sebelumnya.
Akram menekan deretan password di pintu apartemen.
Tit-tit-tit-tit. Klik.
Pintu terbuka.
"Sumpah, Kram, gue baru tahu kalau ternyata lo aslinya norak juga pas main game balapan tadi! Mobil lo nabrak trotoar terus!" ledek Almeera sambil tertawa, melangkah masuk mendahului Akram.
"Itu karena setirnya licin, Al. Kalau mobil beneran, udah gue menangin daritadi," Akram masuk menyusul, menutup pintu di belakangnya dengan santai.
Namun, tawa Almeera seketika terhenti. Tubuhnya mematung di ujung lorong dekat ruang tamu. Boneka beruang di pelukannya merosot hingga hampir jatuh.
Melihat Almeera berhenti mendadak, Akram mengerutkan kening. "Kenapa, Al? Kok diam—"
Kalimat Akram terputus. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di ruang tamu apartemennya.
Lampu ruang tamu menyala terang. Di atas sofa letter L mewahnya, duduk dua orang wanita paruh baya dengan gaya elegan yang sangat mereka kenal. Di atas meja pantry, berserakan beberapa kotak tupperware berisi makanan.
Mama Ratna dan Mama Jihan.
Kedua ibu negara itu sedang duduk bersila di sofa, memangku tablet milik Akram yang ternyata tertinggal di atas meja tamu pagi tadi.
Suasana apartemen itu terasa sangat mencekam, lebih mengerikan dari ruang Kepala Sekolah.
Mama Ratna, mama Almeera, mendongak. Wajahnya yang biasanya lembut kini terlihat kaku. Matanya menatap tajam ke arah putri tunggalnya, lalu beralih menatap tangan Akram dan Almeera, yang sialnya, masih bergandengan tanpa mereka sadari sejak dari basement parkir.
"Bagus," Mama Ratna meletakkan tablet itu ke atas meja dengan bunyi ketukan yang memekakkan telinga.
Mama Jihan di sebelahnya melipat tangan di dada, menatap Akram dengan sorot mata penuh selidik.
"Bisa kalian berdua jelaskan ke Mama," Mama Ratna menunjuk layar tablet yang menampilkan halaman depan akun fanbase gosip SMA Bina Bangsa di Instagram. Terpampang nyata foto mading sekolah dengan headline 'Ketua OSIS Cinlok dengan Drummer NOISE'.
"Kenapa satu sekolah heboh membicarakan kalian pacaran?" lanjut Mama Ratna dengan suara rendah yang menakutkan. "Kalian lupa kalau status kalian itu sudah suami istri yang sah secara agama? Ngapain kalian main pacar-pacaran murahan di sekolah?!"
Jantung Almeera dan Akram kompak berhenti berdetak. Tamat sudah. Genggaman tangan mereka perlahan terlepas, menyisakan hawa dingin yang membekukan tulang di tengah apartemen mewah itu.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔