Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kamar Amira di Jogja terasa sunyi, hanya terdengar tetesan cairan infus yang teratur di dalam keheningan.
Di atas ranjang, Amira masih terlelap dengan wajah pucat, tangannya yang terpasang jarum tampak begitu rapuh.
Di luar rumah, hujan deras dan petir menyambar, menambah kesan dramatis malam itu, seolah alam ikut merasakan badai yang sedang melanda hati penghuni rumah tersebut.
Mama masih setia menemani di samping ranjang, sesekali mengganti kain kompresan di kening Amira dengan tatapan penuh kepedihan.
Tiba-tiba, terdengar suara deru mobil yang mengerem mendadak di depan rumah, disusul ketukan pintu yang bertalu-talu di tengah malam.
Mama terlonjak kaget.
Mengingat jam sudah menunjukkan dini hari, perasaan Mama mendadak tidak enak.
Dengan langkah bergegas namun hati-hati agar tidak mengganggu istirahat Amira, Mama berjalan ke ruang depan.
Saat Mama membuka pintu dan mendapati Daniel berdiri dengan pakaian basah kuyup, napas terengah-engah, dan mata memerah karena kelelahan menyetir Jakarta–Jogja tanpa henti.
Air hujan menetes deras dari rambut dan ujung baju Daniel, membasahi lantai teras rumah.
Melihat menantunya yang menjadi penyebab putrinya pulang dalam keadaan hancur, amarah Mama seketika tersulut.
Mama yang telanjur kecewa menghadang Daniel di pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan sedingin es.
Terjadi adu mulut bisik-bisik namun tajam agar tidak membangunkan tetangga dan Amira yang sedang sakit.
"Untuk apa kamu ke sini, Daniel?! Belum puas kamu menyiksa anakku?!" bisik Mama dengan nada penuh penekanan dan urat leher yang menegang.
Mama menuduh Daniel kejam, "Kamu kejam, Daniel! Amira datang ke sini sambil menangis histeris sampai pingsan di halaman! Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?!"
Mendengar tuduhan itu, air mata Daniel luruh berbaur dengan air hujan di wajahnya.
Pria yang biasanya angkuh dan tegas itu kini bersimpuh di lantai teras, sementara Daniel memohon-mohon dengan air mata untuk diizinkan masuk.
"Ma, demi Allah, Daniel mohon izinkan Daniel masuk. Daniel mau lihat Amira, Ma," ratap Daniel dengan suara parau yang bergetar hebat. "Daniel tahu Daniel salah karena berbohong, tapi Daniel tidak seperti yang Amira pikirkan, Ma..."
Mama tidak tahu tentang asuransi itu. Di benak Mama, Daniel mungkin hanya melakukan kesalahan rumah tangga biasa atau bertengkar hebat, tanpa tahu bahwa ada kesalahpahaman berdarah dan uang 30 miliar yang kini mengoyak kepercayaan Amira.
"Pergi, Daniel! Amira sedang kritis dan butuh ketenangan. Hatiku terlalu sakit melihat anakku menderita karena kamu!" usir Mama, tetap bersikeras menutup jalan masuk bagi Daniel.
Suara perdebatan di depan membuat Amira sadar dari pingsannya.
Kelopak matanya yang terasa berat perlahan terbuka, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang temaram.
Samar-samar ia mendengar suara yang sangat ia kenali tengah memohon di balik pintu depan.
Dengan tubuh yang masih sangat lemas, ia memaksakan diri duduk, meraba dadanya yang mendadak kembali sesak oleh rasa sakit yang teramat sangat.
"Mas Daniel..." lirih Amira, suaranya parau hampir tak terdengar.
Di ruang depan, telinga Daniel yang tajam menangkap suara rintihan lirih itu.
Tanpa memedulikan hadangan Mama lagi, Daniel menerobos masuk ke kamar setelah mendengar suara Amira.
"Amira! Sayang!" panggil Daniel panik, langsung membuka pintu kamar dengan napas memburu.
Namun, melihat wajah Daniel, trauma dan ketakutan Amira bangkit seketika.
Bayangan dokumen kecelakaan Puncak, tabrakan maut, dan uang 30 miliar yang dilemparnya di kantor siang tadi berputar hebat di kepalanya bagai kaset rusak.
Wajah Daniel yang basah kuyup kini tampak mengerikan di matanya, seperti sosok yang ingin melenyapkannya sekali lagi.
Amira histeris hingga nekat mencabut jarum infusnya sendiri sampai berdarah.
Cairan merah segar seketika merembes dan menetes dari punggung tangannya yang putih pucat, namun ia tidak peduli pada rasa sakit fisiknya.
Dengan napas memburu dan air mata yang kembali tumpah deras, Amira mengusir Daniel dengan berteriak, melempar bantal, dan barang-barang di dekatnya demi menjaga jarak dari pria itu.
“Pergi! Jangan bunuh aku lagi demi uang! Pergi dari rumahku!” jerit Amira histeris, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya yang gemetar hebat.
Mama membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari putrinya.
Kata-kata 'bunuh aku lagi demi uang' menghantam kesadaran Mama bagai godam besar.
Jantung Mama berdegup kencang, menatap Amira yang bersimbah darah di tangannya, lalu beralih menatap Daniel dengan pandangan yang kini dipenuhi kengerian mutlak.
Kesalahpahaman ini telah berubah menjadi horor yang sesungguhnya di dalam rumah masa kecil Amira.
Daniel berlutut di lantai, menahan kedua tangan Amira yang gemetar agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
Cengkeramannya kuat namun lembut, menahan pergelangan tangan Amira yang berlumuran darah akibat mencabut jarum infus paksa.
Pria itu tidak memedulikan bantal atau barang-barang yang baru saja menghantam tubuhnya. Fokusnya hanya satu: menghentikan kegilaan ini.
Dengan suara bergetar dan penuh penekanan, Daniel berteriak memotong histeria Amira:
"Aku sungguh tidak tahu tentang asuransi itu!! Ada seseorang yang menjebakku!"
Kamar seketika hening. Suara gemuruh hujan dan petir di luar seolah diredam oleh gema teriakan Daniel yang sarat akan kepedihan dan kejujuran.
Bahkan Mama yang berdiri di ambang pintu pun menahan napas, terpaku di tempatnya.
Amira tertegun dengan napas memburu, menatap mata Daniel yang menyiratkan keputusasaan yang nyata, bukan kebohongan.
Tidak ada lagi tatapan dingin atau rahasia yang biasa Daniel sembunyikan.
Di dalam manik mata suaminya yang memerah dan basah oleh air mata, Amira hanya melihat rasa takut yang luar biasa—takut akan kehilangan dirinya.
Tangan Amira yang semula memberontak perlahan menjadi lemas di dalam genggaman Daniel.
Kesadaran Amira mulai goyah, mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut suaminya di tengah badai malam itu.
Sebelum Daniel sempat menjelaskan siapa orang yang dicurigainya antara Gayatri atau Anita, ponsel Daniel di saku celananya yang basah berdering.
Getaran dan nada dering yang nyaring memecah keheningan yang mencekam di kamar itu.
Daniel melepaskan satu tangannya dari pergelangan tangan Amira, lalu meraba sakunya dengan tergesa-gesa.
Layar ponsel yang basah memperlihatkan sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Firasat buruk seketika menyergap dadanya.
Saat Daniel mengangkatnya dengan pengeras suara, suara desis angin dan tawa yang sangat familier terdengar begitu jelas, mengisi seluruh penjuru kamar.
Terdengar suara tawa sinis di seberang telepon.
"Bagaimana hadiahku, Daniel? Apa istrimu suka dengan kejutan 30 miliar itu?"
Mendengar suara itu, napas Daniel tercekat. Seluruh tubuhnya menegang, dan matanya membelalak sempurna seolah baru saja melihat hantu yang nyata.
"S-selena..." bisik Daniel dengan suara bergetar hebat.
Nama itu membuat Amira yang berada di atas ranjang langsung tersentak, menatap Daniel dengan tatapan tidak percaya.
Bagaimana mungkin wanita yang dinyatakan telah tewas satu bulan lalu kini sedang berbicara di telepon?
"Apa maksudmu? Kamu di mana?!" teriak Daniel panik, mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Namun, tidak ada jawaban dari seberang sana. Selena mematikan ponselnya begitu saja, meninggalkan suara nada sibuk yang monoton dan menyisakan tanda tanya besar yang mengerikan.
Rahasia di balik kecelakaan malam itu ternyata jauh lebih besar dan gelap dari yang pernah mereka bayangkan.