DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 ALIANSI BARU**
**
Rumah keluarga Wijayakusuma, di sayap timur yang biasanya sepi, malam itu berubah jadi ruang pertemuan rahasia. Serlina duduk di sofa utama, tangannya melipat angkuh di dada, sementara Reza berjalan mondar-mandir dengan wajah merah menahan amarah yang sudah dia tahan sejak siang.
"Gimana bisa, Ma," Reza berkata, suaranya bergetar antara frustrasi dan tidak percaya, "gue udah bayar Rambo mahal-mahal, orang yang katanya paling ditakuti se-Jawa Barat setelah jawara dari Lembang itu mati, dan dia malah balik tunduk sama David? Ini gak masuk akal."
Albert, yang lengannya masih sedikit kaku bekas keseleo beberapa minggu lalu, ikut menimpali, "Iya, Kak, gue juga gak ngerti. David yang dulu lemah, culun, sekarang malah bisa ngalahin sepuluh orang sendirian. Ini David yang sama apa bukan sih?"
"Mana mungkin beda," Surya menyahut ketus, "kita semua tau dia bangun dari koma, terus tiba-tiba jadi kuat. Mustahil. Kecuali..." dia berhenti, ragu mengucapkan pikirannya sendiri.
"Kecuali apa?" Serlina bertanya, alisnya naik tajam.
"Gak, gak ada apa-apa," Surya menggeleng cepat, memilih menyimpan dugaan anehnya sendiri, takut dianggap mengada-ada.
Reza menghela napas kasar, duduk di tepi meja, "Yang penting sekarang, kita harus cari cara lain. Kalau kekuatan fisik aja gak bisa nyentuh David, kita harus serang dari sisi lain."
Albert, yang dari tadi diam memikirkan sesuatu, akhirnya mengangkat tangan, "Gue ada kontak. Bukan tukang pukul jalanan kayak Rambo. Ini level lebih tinggi. Orangnya namanya Dimas Santoso, bos konstruksi yang punya jaringan debt collector paling ganas di Jakarta. Dia gak akan nyerang fisik David langsung, tapi dia bisa hancurin reputasi orang sampai gak ada yang mau percaya sama nama itu lagi."
Serlina mengangguk pelan, matanya berkilat penuh minat, "Bagus. Itu lebih elegan. Kita gak perlu kotor tangan sendiri."
Reza mengambil ponselnya, mencari nomor yang sudah disiapkan Albert, lalu menelepon dengan suara yang dipaksa terdengar tenang dan berwibawa.
"Pak Dimas? Saya Reza, dari keluarga Wijayakusuma. Saya butuh bantuan Bapak untuk satu pekerjaan."
Di seberang telepon, suara berat dan dingin menjawab, "Tergantung pekerjaan apa, dan tergantung bayarannya seberapa besar."
"Saya mau Bapak hancurin reputasi adik saya, David Wijayakusuma. Buat seolah dia punya banyak utang, buat dunia luar percaya dia orang yang gak bisa dipegang omongannya, sampai dia kehilangan kepercayaan dari semua relasi bisnis keluarga."
Dimas terdiam sejenak di seberang sana, lalu tertawa pendek, dingin, "Itu pekerjaan yang menarik. Tapi saya gak kerja buat uang receh, Reza. Saya mau bayaran yang sepadan."
"Berapa? Saya siap bayar berapa pun."
"Bukan uang," Dimas menjawab tegas, "kalau rencana ini berhasil, dan lo jadi CEO penuh menggantikan David, saya mau lima puluh persen saham perusahaan keluarga lo. Bukan negosiasi. Itu syaratnya."
Reza terdiam, kaget dengan permintaan yang jauh lebih besar dari perkiraannya. Lima puluh persen saham bukan jumlah kecil, itu setengah dari seluruh kerajaan bisnis yang dibangun ayahnya selama puluhan tahun.
Tapi amarah dan ambisinya sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang.
"Deal," Reza menjawab, suaranya tegas walau ada keraguan kecil yang tersembunyi di baliknya, "lima puluh persen, kalau saya jadi CEO penuh."
"Bagus. Saya akan mulai kerja minggu ini. Tapi ingat, Reza, kalau lo coba ingkar dari kesepakatan ini, lo akan nyesel seumur hidup."
Telepon ditutup, dan Reza menatap layar ponselnya lama, dadanya berdebar antara rasa puas karena akhirnya punya senjata baru, dan rasa cemas yang menggerogoti diam-diam, karena dia tahu, kesepakatan yang baru saja dia buat ini, tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Serlina, yang menyaksikan semuanya dengan senyum tipis, mengangguk puas, "Bagus, Reza. Kali ini, David gak akan bisa selamat hanya dengan kuat-kuatan tinju."
Di pojok ruangan, Albert dan Surya saling pandang, ada kegelisahan kecil yang muncul di wajah mereka, seolah baru sadar, kesepakatan yang baru dibuat kakaknya itu jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan sebelumnya, sebuah taruhan yang bisa menghancurkan seluruh keluarga mereka sendiri jika berjalan tidak sesuai rencana.
*(bersambung)*