NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Kemenangan itu datang lebih cepat dari yang siapapun bayangkan.

Bukan karena Su Qingxue bertempur dengan cara yang spektakuler—meski auranya memang spektakuler. Tapi karena Lei Zhen, Master Sekte Harimau Ganas yang datang dengan kereta perang dan binatang berbulu api dan sikap seperti orang yang sudah menang sebelum bertarung, ternyata tidak punya rencana untuk situasi ini.

Dia tidak punya rencana untuk menghadapi Ranah Inti Emas.

Pertarungan berlangsung kurang dari seratus jurus.

Murid terkuat Sekte Harimau Ganas—seorang pemuda berbahu lebar bernama Tie Shan yang selama perjalanan kemari tidak berhenti membanggakan rekor kemenangannya—maju ke arena dengan kepercayaan diri yang sangat tidak proporsional.

Su Qingxue menunggunya di tengah arena tanpa bergerak.

Tie Shan membuka dengan serangan penuh—teknik andalan Harimau Ganas yang konon bisa menghancurkan batu besar seukuran rumah dengan satu pukulan. Energinya meledak keluar, tanah di bawah kakinya retak, udara bergetar.

Su Qingxue melangkah miring satu langkah.

Hanya satu langkah.

Serangan itu lewat begitu saja seperti angin yang melewati celah di antara bebatuan. Dan sebelum Tie Shan sempat memproses apa yang baru terjadi, bilah pedang giok Su Qingxue sudah berhenti tepat satu inci dari lehernya—dingin, presisi, dan sangat sabar.

Sekte Harimau Ganas terdiam.

"Aku menyerah," ucap Tie Shan akhirnya, suaranya datar karena tidak punya pilihan lain.

Sorak sorai meledak dari barisan murid Taixuan.

Di pojok alun-alun, Lin Chen menyapu daun.

Srak... srak...

'Selesai lebih cepat dari perkiraan,' batinnya. 'Bagus. Berarti aku bisa selesai menyapu sebelum makan siang.'

Prioritas yang sangat jelas.

Tapi di tengah kegembiraan murid-murid Taixuan, Lin Chen menangkap sesuatu.

Wajah Lei Zhen.

Pria kekar itu tidak marah. Tidak malu. Tidak terkejut. Ekspresinya hanya berubah menjadi satu hal yang jauh lebih berbahaya dari kemarahan—sebuah senyuman licik yang sangat kecil, hampir tidak terlihat, tersembunyi di balik janggutnya yang tebal.

Lalu dia membuka mulutnya.

"Selamat, Taixuan." Suara Lei Zhen bergema di seluruh alun-alun, tenang dan santai seperti orang yang baru saja menonton pertunjukan sirkus. "Murid utamamu memang luar biasa." Dia berbalik, melambai ke arah rombongannya untuk berkemas. "Tuan Besarmu pasti senang mendengar kabar ini."

Kalimat terakhir itu diucapkan sangat ringan.

Seperti basa-basi. Seperti kalimat penutup yang tidak penting.

Tapi di barisan sesepuh Sekte Taixuan, sesuatu berubah.

Lin Chen menangkapnya dengan Mata Dewa Kekacauan—bukan dari penglihatan biasa, tapi dari perubahan aliran energi di dalam tubuh mereka. Jantung yang tiba-tiba berdetak lebih keras. Meridian yang menegang. Wajah yang dipaksakan tetap datar padahal di dalamnya sedang panik.

Mereka tahu nama itu.

Dan mereka takut.

'Tuan Besar,' Lin Chen mengulang kalimat itu di dalam kepalanya, tangannya terus menyapu dengan ritme yang tidak berubah. 'Bukan nama. Bukan gelar resmi. Tapi semua sesepuh di sini langsung bereaksi.'

'Siapa?'

Rombongan Sekte Harimau Ganas pergi dengan cara yang lebih sunyi dari kedatangan mereka. Tidak ada kereta perang yang menderu—binatang berbulu api itu melangkah pelan, ekornya yang biasanya menyala kini hanya berpijar redup. Zhao Kang, yang tadi begitu bersemangat menginjak sapu Lin Chen, kini berjalan di paling belakang dengan tangan dimasukkan ke dalam lengan baju dan kepala sedikit menunduk.

Tidak ada yang meledek mereka saat pergi. Su Qingxue hanya berdiri diam di tengah arena sampai gerbang gunung tertutup kembali.

Baru setelah itu dia mengembuskan napas panjang—sangat perlahan, sangat terkendali—dan memasukkan pedang gioknya kembali ke sarungnya.

Para sesepuh dan murid langsung mengerumuninya dengan sorak sorai dan pujian. Master Sekte Gu Changfeng menepuk bahunya dengan ekspresi yang Lin Chen belum pernah melihatnya sebelumnya—lega yang sangat dalam, seperti orang yang baru saja selamat dari sesuatu yang hampir menghancurkan segalanya.

Di pojok alun-alun, Lin Chen meletakkan sapunya ke sandaran dinding.

Tugasnya hari ini selesai.

'Tapi ada yang belum selesai,' batinnya.

Malam turun cepat di pegunungan Taixuan.

Sekte yang tadi penuh suara perayaan kini berangsur sunyi. Lampu-lampu di koridor padam satu per satu. Murid-murid kembali ke asrama mereka dengan semangat yang masih membara tapi tubuh yang sudah kelelahan.

Lin Chen menunggu sampai jam ketiga malam.

Baru bergerak.

Arsip Rahasia Sekte Taixuan terletak di bawah Aula Utama—sebuah ruangan bawah tanah yang hanya bisa diakses oleh Master Sekte dan sesepuh tingkat tertinggi. Formasi penjagaannya berlapis tiga, masing-masing dirancang untuk mendeteksi siapapun yang mencoba masuk tanpa izin.

Bagi orang lain, ini adalah tembok yang tidak bisa ditembus.

Bagi Lin Chen dan Mata Dewa Kekacauan-nya, formasi itu terbentang seperti peta yang menyala di dalam kegelapan—setiap simpul energi terlihat jelas, setiap celah blind spot-nya berkedip seperti lampu kecil yang ramah.

'Titik pertama—lewat bawah tangga barat. Titik kedua—tunggu tiga detik sampai putaran formasi selesai. Titik ketiga—'

Lin Chen berjalan melewati ketiga lapisan formasi penjagaan itu seperti seseorang yang berjalan pulang ke rumahnya sendiri.

Tidak ada alarm. Tidak ada reaksi.

Pintu arsip terbuka dengan satu dorongan Qi yang sangat presisi ke titik kunci mekanismenya.

Di dalam, ribuan gulungan dokumen dan buku catatan tersusun rapi di rak-rak kayu tua yang berbau apak. Beberapa gulungan bahkan sudah menguning dan rapuh di pinggirnya—usianya ratusan tahun.

Lin Chen tidak menyalakan lampu. Mata Dewa Kekacauan-nya bisa melihat sempurna dalam kegelapan total.

Dia tidak mencari sembarangan. Sejak kalimat Lei Zhen tadi siang, dia sudah punya target yang spesifik—dokumen yang berhubungan dengan kejatuhan Sekte Taixuan. Kapan persisnya sekte nomor satu di dunia ini mulai menurun. Kenapa. Dan siapa yang ada di baliknya.

Sebagian besar dokumen berisi catatan administratif yang membosankan—daftar murid, laporan kultivasi, inventaris senjata. Lin Chen melewatinya cepat.

Sampai matanya berhenti pada sebuah rak di sudut paling dalam.

Di sana, tersimpan beberapa gulungan yang berbeda dari yang lain—tersegel dengan lilin merah tua yang sudah mengeras, dengan tanda formasi pengunci yang jauh lebih rumit dari formasi penjaga pintu tadi. Bukan untuk melindungi dari orang luar.

Tapi untuk memastikan tidak ada orang di dalam sekte yang sembarangan membukanya.

'Menarik.'

Lin Chen mengurai segel itu dengan hati-hati, melepas formasi penguncinya lapis demi lapis tanpa merusaknya—sehingga bisa dikunci kembali setelah selesai, seolah tidak pernah ada yang menyentuhnya.

Gulungan pertama terbuka.

Ini adalah catatan rahasia yang ditulis tangan, tintanya sudah memudar tapi masih bisa dibaca. Penulisnya adalah Patriark Keempat Sekte Taixuan—pemimpin sekte dua generasi sebelum Master Gu Changfeng saat ini.

Lin Chen membacanya dengan cepat, matanya bergerak dari baris ke baris.

Awalnya terasa seperti catatan biasa—laporan tentang kondisi sekte, perkembangan murid, hubungan diplomatik dengan sekte-sekte lain. Tapi semakin ke dalam, nadanya berubah.

Lebih gelap. Lebih tergesa-gesa. Tulisan tangannya yang tadinya rapi mulai tidak beraturan.

"...kunjungan ketiga dari utusan Istana sudah tidak bisa kami tolak lagi. Mereka tidak meminta. Mereka memerintah..."

"...teknik pedang puncak yang menjadi warisan utama Taixuan selama sepuluh ribu tahun. Mereka ingin semuanya. Bukan salinan. Bukan izin penggunaan. Mereka ingin aslinya, beserta hak kepemilikan penuh..."

"...jika kami menolak, mereka mengancam akan mengklasifikasikan Taixuan sebagai sekte terlarang. Dengan kekuatan mereka saat ini, tidak ada sekte lain yang akan berani membela kami..."

Lin Chen terus membaca. Tangannya tetap tenang memegang gulungan itu, tapi di dalam kepalanya, sesuatu sedang tersusun ulang dengan sangat cepat.

Jadi begini ceritanya.

Sekte Taixuan tidak jatuh karena lemah. Tidak jatuh karena tidak punya bakat. Mereka dijatuhkan—secara sistematis, secara perlahan, selama puluhan tahun—oleh seseorang yang menginginkan warisan pedang mereka tanpa harus repot-repot merebutnya secara terbuka.

Lin Chen membuka gulungan terakhir.

Di sana, di bagian bawah dokumen yang sudah menguning itu, tertulis sebuah nama sebagai pihak yang mengeluarkan perintah.

Nama yang ditulis dengan tinta yang berbeda dari seluruh dokumen—lebih tebal, lebih dalam, seperti penulisnya ingin memastikan nama itu tidak bisa terhapus meski ratusan tahun berlalu.

Lin Chen membacanya.

Dan untuk kedua kalinya sejak Sistem terbangun, sesuatu berhasil membuatnya benar-benar terdiam.

Bukan karena nama itu asing.

Tapi karena nama itu sangat familiar.

Kaisar Shenghuang. Generasi keempat puluh tujuh.

Ayahnya.

Lin Chen menutup gulungan itu pelan. Menyegel kembali semua dokumen dengan presisi yang sama seperti saat membukanya. Meletakkannya kembali di rak dengan posisi yang persis sama.

Lalu dia keluar dari arsip rahasia itu dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat masuk.

Di koridor bawah tanah yang gelap, dia berjalan pelan menuju tangga naik.

'Jadi Taixuan jatuh karena Ayah,' batinnya tanpa ekspresi. 'Dan sekarang Harimau Ganas datang ke sini membawa pesan untuk "Tuan Besar" yang sama.'

'Artinya Taixuan belum aman. Harimau Ganas hanyalah pion pertama.'

Kakinya berhenti di anak tangga terakhir sebelum permukaan.

Di atas sana, sekte yang baru saja merayakan kemenangan sedang tidur nyenyak dalam ketenangan yang mereka kira sudah aman.

Lin Chen mengembuskan napas sangat pelan.

'Baiklah,' pikirnya akhirnya. 'Sepertinya check-in bulan depan perlu menunggu sedikit lebih lama dari rencana.'

'Ada urusan yang lebih mendesak dulu.'

Di Istana Kekaisaran Shenghuang, ribuan li dari Pegunungan Taixuan, seorang pria tua berpakaian naga emas menutup sebuah laporan dengan tenang.

"Sekte Taixuan masih bertahan?" tanyanya kepada utusan yang berlutut di depannya.

"Ya, Yang Mulia. Murid utama mereka menerobos Ranah Inti Emas secara tiba-tiba. Sekte Harimau Ganas mundur."

Sang Kaisar diam sejenak.

"Inti Emas yang tiba-tiba." Dia mengulang kata-kata itu dengan nada yang sangat datar. "Berapa lama sejak Pangeran Kesembilan tiba di sana?"

Utusan itu menghitung. "Kurang lebih... enam bulan, Yang Mulia."

Sang Kaisar tidak menjawab.

Tapi jarinya yang tadi mengetuk meja berhenti.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!