Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di rumah si kembar Dira dan Vira
"Oooh,,, jadi ini calonnya Kian." Sheren-istri Quin-maminya si kembar Dira dan Vira tersenyum manis dengan sikap hangat, ketika.melihat kedatangan tamu yang sudah mereka tunggu .
Wanda terpana karena wanita yang ngga kalah cantik dan anggunnya dari maminya Kian memeluknya seolah dia kerabatnya.
Apa tadi katanya? Calonnya Kian?
Jantung Wanda berdegup kencang dan aliran darahnya mengalir deras.
Saat pelukan terurai, Wanda masih bisa merasakan kehangatannya yang tertinggal.
"Kamu cantik sekali, Wanda. Pantas Kian memperjuangkan kamu," ucap. Sheren lagi. Dia merasa terharu karena sudah tau apa yang dialami Wanda selama ini.
"Pilihan Kian memang ngga salah, kan," timpal.Emily ikut memuji.
"Iya ...."
Sementara Kian yang sedang disebut sebut namanya sudah melangkah ke dalam rumah bersama Azka. Sepupu dan kerabatnya yang lain sebagjannya sudah berkumpul di dalam rumah si kembar.
Wanda masih mematung, sementara banyak wanita anggun yang sebaya dengan mamanya Kian, kini bergantian memeluknya.
"Tante, kasian Wanda dikerubungi begitu," tukas Keyra yang sudah menggamit lengan Wanda untuk menjauhi mami dan tante tantenya.
"Iya, sayang." Para wanita itu menyahut serentak. Kemudian
mami dan tante tantenya tertawa lepas melihat kepergian Wanda bersama Keyra.
"Keyra selalu kalem dan manis," puji Ruby-maminya Denish dan Naresh.
"Iya. Dira dan Vira klop juga dengan Keyra," sambung Sheren sambil memperhatikan Keyra yang membawa Wanda ke tempat Dira dan Vira menunggu.
"Akhirnya kita ketambahan perempuan lagi," kekeh Cassie-mami Keyra.
"Yang di luar negeri belum pulang. Kalo pulang bakalan tambah rame cewenya," kekeh Vina-istrinya Deva-maminya Zio dan Gio.
Tawa mereka kembali berderai.
Wanda yang merasa terselamatkan makin canggung karena sikap hangat Keyra yang biasanya terkenal dingin dan terkesan angkuh.
"Mami dan tante tante menyukai kamu," ucap Keyra sambil menatap Wanda ramah. Senyum yang jarang terukir itu kini nampak manis tersungging di bibir Keyra.
Wanda bingung mengartikan kalimat Keyra. Tapi dia terpesona melihat warna mata Keyra
Dia sangat cantik dengan bola matanya yang berwarna biru jernih, pujinya kagum dalam hati. Baru kali ini dia bisa melihat mata Keyra dalam jarak dekat. Dia yang perempuan saja terpesona, apalagi lawan jenisnya. Berbeda dengan Vira dan Dira. Bola mata mereka berwarna hijau, tetap sama indahnya.
Wanda sudah sadar sejak awal bersekolah di sini, ada beberapa temannya yang berrketurunan bule Eropa.
Wanda balas tersenyum kikuk.
"Halo," sapa Dira dan Vira hangat dan ramah.
"Wanita wanita cantik itu merepotkanmu, ya?" Dira tertawa lepas.
Wanda cepat menggelengkan kepala. Tidak, dia tidak merasa direpotkan. Malah hatinya sangat bahagia dan terharu karena mendapatkan perhatian sebanyak ini.
"Syukurlah," sahut Vira lega.
"Kalian ulang tahun?" tanya Wanda sambil menatap Dira dab Vira bergantian
Keduanya tertawa bersamaan. Bahkan Keyra juga ikut menyunggingkan senyumnya.
"Engga. Ini acara biasa, kumpul kumpul keluarga," jelas Dira setelah tawanya terhenti.
"Ooo ...." Wanda mengangguk mengerti.
"Lagi diliatin Kian, tuh," senggol Vira. Lengannya menyentuh lengan Wanda.
Wanda mengikuti arah lirikan Vira. Pipinya merona ketika tatap mata mereka bertemu. Kian melemparkan senyum hangatnya yang dibalas dengan malu malu oleh Wanda. Debar di dadanya makin keras.
"Sebaiknya kalian dinikahkan saja," usul Vira.
Nikah? Dia dan Kian? Debar di dada Wanda makin ngga menentu.
"SMA belum boleh. Ada syarat di undang undang pernikahan, kan?" larang Dira.
"Usia mereka juga masih belum cukup," komen Keyra menambahkan.
"Apalagi nanti kalo langsung hamil. Ngga disarankan," lanjut Keyra lagi yang membuat tawa Dira dan Vira berderai.
Wanda makin salah tingkah mendengarnya. Dia merasa malu.
Hamil? Wanda ngga bisa membayangkan itu bisa terjadi saat mereka masih berseragam abu abu.
Lagi pula, mereka seperti yakin kalo Kian akan menikahinya. Debar di dadanya makin sulit dia kendalikan ketika menyadari Kian sedang berjalan ke arahnya.
Jangan ke sini. Wanda beneran jadi salah tingkah.
*
*
*
"Satu rumah dengan calon istri bagaimana rasanya?" canda Alen kepo.
"Pasti tiap detik hatinya berbunga bunga." Denish yang menyahuti. Meledek Kian.
"Sebaiknya langsung nikah saja. Biar cepat halal," saran Dylan.
"Takutnya khilaf," lanjutnya lagi mengingatkan.
"Dengerin tuh kata calon ustad," kekeh Zio.
"Masih SMA ngga boleh nikah," protes Gio.
"Memang ngga boleh. Tapi kalo diam diam, kan, ngga apa apa," kilah Emil membantah lagi.
"Trus selama nikah mereka ngapain aja kalo ngga buat baby? Maen uno," seringai Naresh.
Mereka tergelak. Sementara Kian tetap santai diroasting kerabat dan sepupunya.
"Trus kalo Wanda hamil, bakalan ketahuan juga, kan," sanggah Gio.
"Dikeluarkan dari sekolah sudah pasti," tawa Zio ngakak.
"Ya, jangan hamil dulu," bantah Alen dengan seringai mengejeknya.
"Maen amanlah," sarannya.
Kian tetap santai menghadapi candaan sepupu dan kerabatnya.
"Lo, 'kali begitu, Len. Tunggu aja cewe cewe minta tanggung jawab kamu sama Om Sean ," ejek Denish menakuti.
"Mana bisa hamil. Cuma ngemil su-su aja." Tawa Alen meledak tanpa merasa gentar, tapi kemudian dia meringis ketika Reyhan menjewer salah satu daun telinganya.
"Aku mewakili Tante Ariella menghukum kamu," ucapnya kalem, tidak peduli dengan kesakitan di wajah sepupunya. Yang lainnya juga meledakkan tawa melihat penderitaan Alen.
"Puntir sampe putus kalo perlu, Rey;" kompor Azka.
"Biar kapok," timpal Emil sambil berkacak pinggang, masih dengan gelak tawanya.
"Aku nemuin Wanda dulu," pamit Kian di tengah kehebohan mereka.
"Yaah..... Padahal udah serumah masih juga ngga tahan kalo jauh jauh," ledek Zio.
"Dikekep terus," sorak Denish.
Kian acuh aja dan terus melangkah mendekati Wanda yang sudah diamankan sepupu dan kerabatnya. Mereka saling bertatapan. Kian sedikitpun tidak berniat melepaskan tautan itu hingga dia berada di depan Wanda.
"Mau dibawa kemana?" nyinyir Dira.
"Nyicip nyicip makanan yang lolos rekomendasi Tante Ariella dan Om Sean," jawab Kian santai.
"Alasan," cibir Vira tak percaya.
Kian tersenyum lebih lebar.
'Kebaca, ya," sahut Kian masih santai. Tapi tangannya tidak. Sekarang dia sudah menggenggam tangan Wanda, siap membawanya pergi.
"Tentu saja, sangat jelas," kekeh Dira.
Wanda hanya tersenyum malu. Dia melirik wajah Kian yang tenang.
"Kita pergi dulu." Kian sedikit menarik Wanda agar ikut bersamanya.
"Ya, udah bawa sana. Makan yang banyak," canda Vira tergelak.
Kian tertawa pelan.